Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Terlambat Menyadari
Bab 33 — Terlambat Menyadari
Alisha duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangannya, tapi layar itu tidak benar-benar ia lihat. Pikirannya masih dipenuhi kejadian kemarin. Rasa diawasi itu belum hilang. Bukan lagi sekadar perasaan aneh, melainkan sesuatu yang nyata dan terus mengikuti.
Ia mengangkat kepala pelan.
Tatapannya kosong beberapa detik sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.
“Ini bukan kebetulan…” gumamnya lirih.
Semakin ia mengingat, semakin jelas pola yang ia rasakan. Tatapan di kafe.
Langkah yang terasa mengikuti. Keheningan di gang yang membuatnya tidak nyaman. Semua terasa seperti dirancang.
Alisha berdiri. Ia tidak ingin lagi hanya diam. Kalau memang ada yang mengincarnya, ia tidak bisa terus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia mengambil tasnya. Hari ini, ia akan keluar lagi.
Helena yang berada di ruang tengah langsung menoleh ketika melihat Alisha turun dengan langkah mantap.
“Kamu mau keluar lagi?” tanyanya, nada khawatir tidak bisa disembunyikan.
Alisha mendekat. “Sebentar saja.”
Helena berdiri. “Masih belum aman.”
“Aku tahu,” jawab Alisha pelan, “justru karena itu aku tidak bisa terus di dalam.”
Helena menatapnya lama. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Alisha berbicara. Tidak lagi ragu seperti sebelumnya.
“Aku hanya ke tempat biasa. Tidak jauh,” lanjut Alisha.
Helena menghela napas. Ia ingin menahan, tapi ia juga tahu tidak mungkin mengurung Alisha selamanya.
“Aku akan tetap mengawasi dari jauh,” katanya akhirnya.
Alisha mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Di tempat lain, Alvaro berdiri di depan meja kerjanya. Wajahnya tegang saat mendengar laporan dari Damar.
“Mereka masih ada di sekitar,” kata Damar singkat.
Alvaro mengatupkan rahangnya. “Berarti mereka menunggu.”
“Target keluar,” lanjut Damar.
Alvaro langsung mengangkat kepala. “Dia keluar lagi?”
“Iya.”
Beberapa detik Alvaro terdiam. Lalu ia berkata tegas, “Ikuti dari jauh. Jangan sampai mereka mendekat duluan.”
Damar mengangguk. “Sudah bergerak.”
Alvaro menatap ke luar jendela. Perasaannya tidak tenang. Kali ini ia yakin, mereka tidak akan hanya mengawasi.
Alisha berjalan di trotoar dengan langkah yang terlihat normal. Ia berusaha tidak menunjukkan kegelisahan. Matanya sesekali bergerak, memperhatikan sekitar tanpa menarik perhatian.
Ia berhenti di depan kaca toko. Sekilas seperti melihat barang, padahal ia memperhatikan pantulan di belakang.
Bayangan seseorang terlihat.
Ia tidak langsung bereaksi. Ia kembali berjalan.
Beberapa langkah kemudian, ia mengulang hal yang sama.
Bayangan itu muncul lagi.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Alisha menelan ludah. Ia mencoba tetap tenang. Ia tidak ingin terlihat panik.
Ia mempercepat langkah sedikit.
Langkah di belakangnya ikut berubah.
Sekarang ia yakin.
Ia diikuti.
Ia membelok ke jalan yang lebih sepi. Keputusan itu berisiko, tapi ia ingin memastikan.
Suasana langsung berubah. Lebih sunyi.
Langkah di belakangnya semakin jelas.
Alisha berhenti mendadak.
Ia berbalik.
Seorang pria berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya datar.
“Apa kamu mengikuti saya?” tanya Alisha langsung.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru mendekat.
Naluri Alisha langsung bergerak. Ia berbalik dan mencoba pergi, tapi tangan pria itu lebih cepat, menangkap lengannya.
“Lepaskan!”
Alisha tidak diam. Ia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga. Tubuh pria itu sedikit goyah.
Kesempatan itu ia gunakan untuk kabur.
Ia berlari.
Langkahnya cepat. Napasnya mulai tidak teratur.
Di belakang, suara langkah mengejar semakin dekat.
“Berhenti!” teriak pria itu.
Alisha tidak peduli.
Ia terus berlari sampai tiba-tiba seseorang muncul dari arah samping.
Ia hampir menabrak pria kedua itu.
Refleks, ia langsung mendorong dada pria itu keras. Tubuh pria itu mundur satu langkah.
Alisha mencoba melewati, tapi tangannya ditarik dari belakang.
“Lepaskan aku!”
Ia menendang kaki pria itu. Tendangannya mengenai tulang kering. Pria itu meringis dan cengkeramannya melemah.
Alisha menarik tangannya dengan cepat.
Ia hampir berhasil kabur lagi—
sampai seseorang menariknya lebih keras dari belakang.
Tubuhnya terhuyung.
Ia tidak menyerah. Tangannya bergerak liar. Ia mencakar, mendorong, bahkan menggigit tangan yang mencoba membekapnya.
“Diam!” bentak salah satu dari mereka.
Alisha justru melawan lebih keras. Tenaganya mulai habis, tapi ia tidak berhenti.
Untuk beberapa detik, ia berhasil membuat mereka kesulitan.
Salah satu pria bahkan terdorong ke samping.
Alisha memanfaatkan itu untuk bergerak.
Ia berhasil melangkah dua langkah—
lalu sebuah pukulan mengenai bahunya.
Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan.
Pegangan mereka kembali menguat.
Kali ini ia benar-benar kesulitan lepas.
Tidak jauh dari sana, dua orang yang ditugaskan Damar melihat situasi itu.
“Itu dia!”
Mereka langsung berlari.
Tapi jarak sudah terlalu jauh.
Alisha masih berusaha melawan saat tubuhnya didorong ke dalam mobil. Tangannya ditahan kuat. Kakinya menendang tanpa arah.
“Lepaskan aku!”
Salah satu pria menahan kepalanya. Kain basah ditekan ke wajahnya.
Alisha menahan napas. Ia menggeleng kuat, berusaha menjauh.
Ia masih berusaha.
Ia tidak ingin menyerah.
Pandangan mulai kabur.
Suara di sekitarnya terasa menjauh.
Di tengah sisa kesadarannya, ia memaksa membuka mata.
“Siapa… yang menyuruh kalian…?” suaranya lemah.
Tidak ada jawaban.
Ia menggigit bibirnya, berusaha tetap sadar.
“Apa… Alisha Mahendra lagi…?” bisiknya.
Salah satu pria itu hanya diam.
Tidak menyangkal. Tidak juga membenarkan.
Mobil mulai bergerak menjauh.
Di luar, dua orang yang mengejar hanya bisa melihat kendaraan itu menghilang di tikungan.
Di dalam mobil, tubuh Alisha mulai melemah. Kepalanya terjatuh ke samping.
Kesadarannya perlahan hilang.
Pertanyaan itu masih menggantung di pikirannya.
Kalau bukan dia…
lalu siapa yang sebenarnya menginginkannya hilang?
#bersambung
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~