Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Dari Laura
2 Bulan Kemudian
Tak terasa waktu berjalan cepat hari-hari yang di jalani Amara dan Glen di penuh dengan saling membantu walaupun di selingi perdebatan dan Amara yang suka mengejek .
Seperti hari ini Amara sudah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Wisnu, namun Glen malah santai-santai rebahan di kasur sementara jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi, padahal sebelumnya Glen yang antusias banget menunggu hari ini tiba.
"Hay manusia lemah, bangun. Gue gak mau yah jadi sorot mata orang-orang karena telat datang," gerutu Amara yang kini panggilan nya sudah berganti tidak seperti biasanya memanggil nama.
"Lo bilang katanya mau bikin kejutan, malah malas-malasan begini.Bangun atau gak Gue siram nih," lanjut nya dengan emosi yang sudah di atas rata-rata.
"Masih ngantuk, My istri." Glen bukan nya bangun malah hanya menggeliat saja, membuat Amara merasa sangat begitu marah.
Byuur
"Banjir-banjir," pekik Glen terkaget-kaget langsung beranjak dari sofa tidur nya.
"Rasakan akibatnya, makan nya jangan ingkar janji, bikin bad mood aja," ketus Amara langsung berjalan ke arah balkon karena merasa kesal.
"My istri, sory gak bermaksud, semalam begadang ngantuk banget, jadi gak bermaksud kesiangan," bujuk Glen yang tahu jika Amara mode dingin, maka dirinya tidak bisa melakukan apapun selain membujuk wanita itu agar tidak marah lagi.
"Hmmm, mandi saja sana, jangan banyak bicara," jawab Amara dengan dingin, sorot mata nya sangat begitu tajam, membuat Glen menciut lalu langsung cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.
*****
Kini acara sudah begitu meriah dan mewah, acara pernikahan nya di adakan di gedung pernikahan karena acaranya sekalian ijab qobul.
Amara dan Glen datang agak siang, ternyata sudah heboh terutama Laura yang dengan sengaja nya menyiarkan rumor bahwa Glen menghilang dan Wisnu lah yang akan menjadi penerus perusahaan.
Karena selama dua bulan ini, Glen bersembunyi untuk meyakinkan bahwa Laura berpikir diri nya beneran celaka dan membuat nya berhenti berulah, faktanya ibu tirinya itu tidak jera untuk melakukan cara licik.
"Lihat, Dia semakin di biarkan semakin menjadi, bahkan Mama mu itu juga malah diam saja tidak melakukan apa-apa," Gerutu Amara saat melihat Melani yang berada di sana tapi diam saja tidak melakukan apa-apa.
"Bertindak sekarang, sebelum semuanya semakin rumit," lanjut nya saat Glen diam saja.
"Apa perlu? menghancurkan pernikahan Tante Dewi segala?" tanya Glen tiba-tiba menjadi ragu, Dia melihat Dewi dan suaminya yang tampak terlihat bahagia.
"Mereka sudah menikah hampir 30 tahun, tapi belum punya anak, gak tahu sehancur apa Tante Dewi saat tahu bahwa suaminya, cuma mengincar harta nya dan bahkan berkhianat," lanjut nya sambil menatap dua orang yang terlihat mesra itu.
"Jadi Mahendra itu cuma pria mocondo? Bukan saudara asli dari keluarga Jonson?" tanya Amara yang selama ini cuma beranggapan bahwa Mahendra lah yang sepupu dari Jonson.
"Bukan, Tante Dewi lah yang asli, Dia cuma seorang menantu yang di pungut oleh Tante Dewi," jawab Glen panjang lebar masih menatap sekeliling.
"Mulai hari ini, karena Glen menghilang selama dua bulan, maka posis CEO Bintang Group akan jatuh ke tangan cucu laki-laki pertama saya Wisnu Jonson," ucap Wardan dengan lantang membuat Laura sangat begitu bahagia, Dia merasa menang tanpa tahu itu adalah akhir dari segalanya.
Semua orang ada yang ragu ada yang tidak setuju, namun tidak ada yang berani berkomentar apapun karena jika Wardana sudah memberi keputusan tidak bisa di ganggu gugat.
Glen dan Amara langsung berjalan ke arah belakang panggung, Dia berbisik ke tukang pemutar video untuk menyalahkan video yang direkam oleh nya tentu di edit dulu biar menjadi satu.
"Para tamu yang Budiman, kita dapat hadiah dari seseorang yang tidak bisa di sebut, mari kita simak bersama," ucap MC menginterupsi membuat orang-orang langsung fokus ke arah layar.
"Gara-gara kamu, sekarang Wisnu bahkan gak bisa datang ke perusahaan, semua nya malah membuat Glen untung,"
"Itu semua Aku lakukan demi menyenangkan Dewi, kalo Dewi senang bisa jadi Sahara Group, bisa Dia serahkan kepada ku,"
"Cih, mana buktinya? sampai sekarang bahkan Wanita itu belum menyerahkan Sahara Group kepada mu,"
"Sabar Sayang, tinggal selangkah lagi, kalo kamu berhasil melenyapkan anak tiri mu, maka posisi Wisnu putra kita akan aman, dan Aku juga pelan-pelan merebut Sahara Group dari tangan si Dewi itu,"
"Glen sudah pasti lenyap, tadi sore mobil nya nabrak pohon besar, sama seperti Ayahnya yang bodoh itu saja berhasil Aku lenyapkan,"
"Yakin? Sebelum nya selalu gagal?"
"Tentu saja, kali ini pasti berhasil,"
Video itu kini di putar di layar besar, lalu setelah itu adegan panas kedua nya membuat semua orang tercengang begitu pula dengan Laura dan Mahendra yang tampak terkejut melihat itu, semua orang menjadi gaduh suasana di pesta itu menjadi kacau, terutama besan Laura yang menjadi malu juga.
"Tidak itu tidak benar, matikan video nya, itu pasti cuma editan," ucap Laura dengan marah berusaha untuk menutupi ketakutan nya.
"Dasar Jal*ng, Aku selalu anggap kamu sahabat yah, tapi kamu malah nusuk dari belakang, sampai punya anak dengan suamiku," Dewi yang marah langsung menjambak rambut Laura dengan membabi buta lalu mencakar wajah wanita itu.
"Sayang, itu pasti cuma editan, itu palsu," ucap Mahendra berusaha untuk menghentikan tingkah istri nya.
"Kamu juga dasar brengsek, mocondo, ku naikin derajat mu, biar jadi orang sukses malah berkhianat, kita cerai, Aku pastikan kamu gak dapat sepeser pun," sarkas Dewi menatap Mahendra dengan tatapan tajam.
"Gak begitu dong, ini gak benar,itu palsu, Aku paling setia sama kamu." Mahendra berusaha untuk membela diri dengan berucap lembut.
"Setia apa? Setiap tikungan ada, bisa-bisanya Aku jatuh cinta sama pria seperti mu," umpat Dewi sambil memukul-mukul kepala Mahendra menggunakan tas nya.
"Saudara Laura dan Mahendra, kalian di duga melakukan pembunuhan berencana atas saudara Wira dan juga Glen, jadi ikut kami untuk penyelidikan," ucap polisi yang tiba-tiba datang.
"Tidak aku tidak bersalah, itu cuma fitnah," ucap Laura dan Mahendra berusaha untuk mengelak.
"Wisnu, tolong Ibu, Ibu gak mau di penjara," ucap Laura berusaha untuk minta tolong pada putranya.
"Ibu yang minat melakukan itu, Aku tidak mau ikut campur yah, Aku kecewa sama Mama gak nyangka bakal berbuat seperti itu," ucap Wisnu berpura-pura tidak peduli, karena dia tidak ingin di tahan juga karena membela ibu nya.
"Ayah, tolong Laura." Laura kini akhirnya memohon pada Wardana karena tidak punya pilihan lain.
Plaaaak
Satu tamparan keras mendarat di pipi Laura membuat wanita itu terhuyung.
"Dasar wanita tidak tahu di untung, bisa-bisanya menipuku, kau layak mendapatkannya, ku pastikan kau akan mendekam di penjara," ucap Wardana dengan tersulit emosi, Dia masih sangat begitu syok dengan berita itu, merasa bersalah juga terhadap Melani karena selama ini Dia juga sudah membuat wanita itu sakit hati dengan menyuruh putranya Nikah lagi.
"Bagaimana rasanya hancur? Ibu tiri itu tidak seberapa dengan apa yang kau perbuat?" ucap Glen bertepuk tangan membuat Laura menoleh.
"Kau masih hidup?" tanya Laura merasa terkejut.
"Yah ini akhir dari segalanya," jawab Glen sambil tersenyum smirk.
"Pak, bawa dia sekarang juga, pastikan Dia di hukum seberat-beratnya," perintah nya pada Pak polisi membuat Polisi dengan sigap membawa Laura pergi dari tempat itu.
"Glen, sialan, kenapa kau tidak mati saja?" umpat Laura saat di bawa pergi dari tempat itu, Dia terus meronta-ronta merasa marah.
BERSAMBUNG