NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Pertemuan Dua Dunia di Reruntuhan

Pengajar Kekaisaran tiba-tiba mengisyaratkan berhenti dengan lambaian tangan tegas. Seluruh 300 pasukan elitnya yang bergerak tanpa suara segera patuh, menghentikan langkah mereka di perbatasan wilayah Desa Mushan.

"Tetap di sini," perintahnya, suaranya pelan tapi penuh otoritas.

"Jaga jarak lima ratus meter dari desa. Aku tidak ingin keberadaan kita mengganggu kedamaian mereka, atau lebih buruk, menimbulkan kepanikan yang tidak perlu."

Alasannya jelas: kehadiran pasukan elit dalam jumlah besar pasti akan memicu ketakutan atau bahkan perlawanan dari penduduk desa. Terlebih lagi, Pengajar Kekaisaran sadar bahwa lukisan misterius itu datang dari desa ini.

Siapa tahu, mungkin ada sesuatu yang luar biasa, atau bahkan berbahaya, bersembunyi di balik ketenangan Desa Mushan. Dia tidak ingin ada kejadian tak terduga yang melibatkan pasukannya.

Dengan kewaspadaan tinggi, Pengajar Kekaisaran kemudian melenggang sendiri, menapakkan kakinya di jalan setapak menuju Desa Mushan. Aura anggunnya tetap terpancar, namun di balik itu, setiap indranya diasah, siap menghadapi apa pun yang mungkin ia temukan di desa yang menjadi asal mula kehancuran ibu kota itu.

Pengajar Kekaisaran melangkah lebih dalam ke Desa Mushan. Pemandangan yang menyambutnya adalah deretan puluhan rumah bobrok, dinding-dindingnya retak dan atapnya bolong, diselimuti oleh rumput, ilalang, dan pepohonan yang tumbuh liar, seolah alam telah merebut kembali tempat ini. Tak ada tanda-tanda kehidupan, hanya keheningan yang memilukan.

Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar hampa di tengah desa mati itu. Sedikit kilatan nostalgia tampak di matanya yang biasanya dingin, sebuah jejak kenangan yang tak terduga.

Entah bagaimana, tanpa perlu memetakan wilayah atau bertanya arah, langkahnya menuju ke suatu arah pasti, seolah ada magnet tak terlihat yang menariknya. Ia berjalan terus, melewati rumah-rumah kosong dan jalan setapak yang nyaris tertutup semak belukar.

Akhirnya, ia berhenti. Di hadapannya berdiri sebuah bangunan yang sama hancurnya dengan rumah-rumah warga yang ditinggalkan, namun ada sesuatu yang berbeda. Itu adalah sebuah kuil, yang kini tinggal puing-puing, atapnya runtuh dan dindingnya ambruk. Namun, di antara reruntuhan itu, sebuah plakat masih jelas terbaca: Kuil Mukui.

INI

Pengajar Kekaisaran melangkah masuk ke dalam kompleks Kuil Mukui yang hancur. Pemandangan di dalamnya sama memilukan dengan bagian luarnya; sebagian besar bangunan kuil telah runtuh, puing-puing berserakan, dan debu tebal menyelimuti segalanya. Namun, di tengah kehancuran itu, ada dua struktur yang menonjol.

Di satu sisi, sebuah bangunan tempat tinggal terlihat jauh lebih baik dibandingkan yang lain. Meskipun usang, atapnya masih utuh dan dindingnya kokoh, seolah seseorang masih menjaganya. Lalu, di sisi lain, yang lebih mengejutkan, adalah sebuah bangunan kuil yang sangat terawat.

Plakatnya bersih, jendelanya tidak pecah, dan bahkan ada sedikit aroma dupa yang tersisa di udara. Kontras yang mencolok ini mengisyaratkan bahwa meskipun seluruh desa dan sebagian besar kuil telah ditinggalkan, ada kehidupan, atau setidaknya perhatian, yang masih tercurah pada tempat ini.

"Sungguh memilukan," desah Pengajar Kekaisaran, suaranya mengalun pelan di antara puing-puing.

"Nasib keluarga Lin diruntuhkan oleh peradaban sehingga menyisakan remah-remah bangunan yang tersebar di seluruh tanah. Bahkan ditinggalkan oleh para warga desa."

Ia memainkan kipasnya dengan anggun, gerakan tangannya lembut namun penuh makna. Tatapannya tertuju pada sebuah sosok tua yang sedang menyapu halaman kuil yang terawat itu. Seolah tak melihat keberadaan Pengajar Kekaisaran, pria tua itu terus membersihkan daun-daun kering dengan sapu lidi.

"Sepertinya," lanjut Pengajar Kekaisaran, nadanya sedikit meledek,

"Ada seseorang yang masih setia menjaga kenangan pahit ini, bukan begitu, kakek tua?"

Pria tua itu berhenti menyapu. Perlahan, ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah keriput yang penuh kebijaksanaan dan sedikit terkejut.

Kakek Zhou menghentikan sapuannya. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya yang bungkuk dan menoleh, matanya yang sudah buram menatap lurus ke arah Pengajar Kekaisaran. Di hadapannya berdiri pemuda rupawan dengan pakaian kebesaran yang mewah, dihiasi sulaman emas dan kain sutra terbaik, memancarkan aura keagungan yang tak terbantahkan.

Kontras di antara mereka begitu mencolok, seolah melompat dari dua dunia berbeda. Pengajar Kekaisaran adalah lambang kemewahan dan kekuasaan, sementara Kakek Zhou, dengan pakaiannya yang usang dan kotor karena debu, tampak seperti sosok sederhana di hadapan kemegahan yang bersinar.

Namun, di mata Kakek Zhou, tidak ada rasa takut atau gentar, hanya sorot mata yang penuh pertanyaan dan sedikit kelelahan.

"Kamu?" tanya Kakek Zhou, suaranya serak karena usia, memecah keheningan yang canggung.

Pengajar Kekaisaran tak langsung menjawab. Dengan gerakan anggun, ia menggerakkan kipasnya, lalu membukanya lebar dengan suara 'plop' yang renyah. Kipas itu kini menutupi bagian bawah wajahnya, hanya menyisakan mata tajamnya yang memandang lurus ke arah Kakek Zhou.

"Aku adalah Pengajar Kekaisaran Tianlong, Zhang Yi," ucapnya dengan kemantapan, suaranya jelas dan berwibawa, memenuhi ruang kuil yang bobrok itu. Sebuah perkenalan yang singkat, namun mengandung bobot otoritas yang tak terbantahkan.

Pelipis Kakek Zhou berkedut-kedut hebat. Ekspresi kagetnya sirna, digantikan oleh kerutan dalam yang menandakan kemarahan dan rasa muak. Dalam hatinya, ia bergumam,

KAMU

"Nama terkutuk itu... keluarga Zhang... Rupanya lintah-lintah ini masih eksis dan berkuasa!"

Tanpa ragu, ia mengacungkan sapunya yang kotor ke arah Pengajar Kekaisaran, seolah itu adalah pedang yang siap menebas.

"Ohoooo," desisnya dengan nada mencemooh yang tajam,

"Keluarga Zhang rupanya masih memiliki keahlian pandai menjilati kaki kaisar untuk nangkring bersama kebesaran kekaisaran! Rupanya warisan itu tidak punah!"

Nada bicaranya jelas mengandung hinaan dan sejarah kelam, mengisyaratkan bahwa hubungan antara keluarga Zhang yang adalah klan Pengajar Kekaisaran dan keluarga kekaisaran memiliki akar yang lebih dalam dan mungkin lebih busuk dari yang terlihat.

Mendengar hinaan Kakek Zhou, Pengajar Kekaisaran Zhang Yi tidak menunjukkan kemarahan. Justru sebaliknya, ia terkekeh geli, suara kekehannya menggema di antara puing-puing kuil yang hancur. Kipasnya kembali bergerak pelan, menutupi bibirnya yang melengkung geli.

"Hahaha! Bahkan jika itu benar, kakek tua," katanya, suaranya mengandung nada ejekan yang jelas,

"Kaisar masih memerlukan keluarga Zhang untuk mengukuhkan pondasi kekaisaran. Kekaisaran yang kokoh berdiri, berkat kami."

Kekeh Zhang Yi mereda, digantikan oleh senyum sinis. Ia menunjuk sekeliling dengan kipasnya, ke arah reruntuhan desa dan kuil.

"Lalu, bagaimana dengan keluarga Lin? Direduksi menjadi pengemis miskin dengan ketidakberdayaan, hidup di antara sisa-sisa kemegahan masa lalu. Bukankah itu yang lebih menyedihkan?"

Mata Kakek Zhou menyipit, bibirnya bergetar menahan amarah.

"Kata-katamu tajam," desisnya tajam, suaranya dipenuhi kebencian yang mendalam.

"Racun kata-katamu mencemari pikiran Kaisar, membuatnya seolah keluarga Zhang adalah anak emas kekaisaran."

Ia meludah ke samping, ekspresinya jijik.

"Percayalah, jika seumur hidup ini Kaisar menerima penjilatanmu, dia sudah mengumpulkan satu kolam penuh air liur Zhang! Kalian hanya parasit yang pandai memutar lidah!"

Pengajar Kekaisaran, alih-alih marah, justru kembali tergelak, suara tawanya semakin keras dan menusuk telinga di tengah reruntuhan. Ia seolah menikmati gejolak kemarahan Kakek Zhou. Sambil memainkan kipasnya, ia membalas dengan kalimat yang bahkan lebih pedas dari sebelumnya.

"Ah, kakek tua," katanya, suaranya mengandung ejekan yang tajam,

"Rasanya kalian yang terlalu sibuk menjilati debu reruntuhan ini sampai melupakan rasanya berkuasa. Sementara kalian meratapi nasib, kami membangun kekaisaran ini lebih kuat dari sebelumnya. Jadi, siapa sebenarnya yang parasit?" Senyumnya sinis.

"Lihatlah sekelilingmu. Ini bukan lagi masa lalu gemilangmu. Ini adalah kebangkrutan yang memalukan!"

Wajah Kakek Zhou merah padam. Ia semakin muntap, urat-urat di lehernya menonjol. Tak mampu lagi menahan amarah, cacian yang seharusnya tidak keluar dari bibir seorang penjaga kuil berhamburan dari mulutnya.

Ia mengumpat, menghina, dan memaki keluarga Fang serta seluruh kekaisaran dengan segala sumpah serapah yang ia tahu, seolah ingin melampiaskan seluruh frustrasi dan kepahitan hidupnya dalam satu luapan kemarahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!