NovelToon NovelToon
Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Status: tamat
Genre:CEO / Janda / Duda / Romantis / Kehidupan di Kantor / Office Romance / Tamat
Popularitas:598.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septira Wihartanti

Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baper

Mengaji.

Pada mikir apa hayoooo.

Dia sedang duduk di lantai, di atas sajadahnya, dan dia sedang membaca Al-Quran.

Kudengarkan lantunannya,  Wa lammaa barazuu lijaaluuta wa junuudihii qooluu Rabbanaaa afrigh 'alainaa sabran wa sabbit aqdaamanaa wansurnaa 'alal qawmil kaafiriin.

Penggalan surat Al Baqarah.

.

Aku berdiri di sana sambil mengamatinya. Merasa terharu saja bagaimana manusia yang wajahnya kebarat-baratan sepertinya dengan kalem duduk di lantai sambil mengaji.

Suaranya indah dengan Qalqalah yang jelas.

Namun, aku merasakan getaran di nadanya.

Hati Felix sedang tidak tenang.

Mungkin itu sebabnya ia memilih membaca ayat itu.

Apa yang membuatnya gelisah?

Kulihat ia sekilas melirik padaku, tersenyum tipis khasnya. Dan melanjutkan kegiatannya.

Aku pun mundur, masuk ke kamarku di depan. Lalu kututup pintunya.

Aku menolak Nikah Siri.

Tapi sekarang aku merasa pernikahan kami sangat lama terjadi.

Rasanya ingin sekali aku jadi makmumnya.

Dengan perasaan gelisah, aku duduk di pinggir ranjangku dan menatap pantulan wajahku di cermin meja rias di depanku.

Pantaskah aku bersanding dengan Felix?

Bagaimana mungkin ada laki-laki yang se-sempurna ini di mataku?

Ku pikir dulu Tommy yang begitu sudah sempurna di mataku. Saking aku sangat mencintainya, semua kekurangannya tidak tampak di mataku. Tapi saat muncul Rani, yang ada di mataku malah berbalik, yang ada hanya kekurangan. Tak ada bagus-bagusnya sampai aku merasa kok aku mau dibodohi sama dia dulu?!

Tapi Felix... saat aku merasa dia banyak kurangnya, aku segera ditunjukkan kelebihannya. Seakan aku sedang diberitahu kalau inilah jodoh untukku. Bahkan melebihi kriteria sempurnaku.

Tunggu Chintya... tunggu!

Jangan terburu-buru!

Aku tidak ingin jatuh di lubang yang sama, sepercaya itu dengan orang lain akhirnya aku menyakiti diri sendiri!

Aku tidak-

“Bu Cin,”  Astaga, dia sudah berdiri di depan pintuku. Sejak kapan ia membukanya? Kok aku tak dengar apa-apa?!

“Tumben cepat nongki cantiknya?” tanyanya padaku.

Aku masih kaget dengan kehadirannya.

Jadi aku hanya bisa mengangkat tehku dan menyeruputnya sedikit untuk mengatasi rasa kagetku.

Felix menghampiriku dan duduk di sebelahku.

Wangi kayu... sabun mandi di kamar mandinya memiliki wangi yang tak biasa. Seakan diracik khusus untuknya.

Terkesan hangat dan tenang, sekaligus menunjukkan kemaskulinannya. Aku mulai bertanya-tanya siapa yang memasok segala kebutuhan toiletries Felix? Ia tak pernah terlihat berbelanja di supermarket. Mungkin akan kutanyakan pada mama sebentar lagi.

Aku diam saja waktu dia duduk di sebelahku sambil menatap ke arahku. Felix mode setelah ngaji, wajahnya jadi bersinar, atau aku saja yang terpukau?

“Skinker kamu apa?” lah kenapa aku jadi bertanya begini? Apa coba hubungannya sama skincare?! Sepertinya kau sedang kebingungan

“Dapat paketan dari Dior,”

“Dapat?” Kenapa skincarenya lebih mahal dari punyaku?!

Felix menaikkan bahunya, “Aku tanam investasi ke sana melalui Garnet Retail,” katanya. “Setiap bulan mereka mengirimkan sepaket. Belum habis sudah dikirim lagi, jadi lemariku penuh kotak-kotak lotion,”

“Minta,”

“Ambil aja,” lalu bahunya menyenggol bahuku, sengaja ia goyangkan, “Udah ngambeknya?” ia menggodaku.

Aku bahkan lupa kalau aku ngambek masalah Felicia.

Dan saat ini aku tersulut oleh perkataan teman-teman arisan Mama.

“Felix...”

“Ya?”

Aku mencium pipinya, “Aku harap kamu tidak menyesal memilihku,”

Dia melihatku dengan seutas senyum sinisnya, “Aku tidak memilihmu. Karena tidak ada orang lain selain dirimu. Lagi pula, kamu bukan pilihan.”

Astaga...

Aku langsung deg-degan.

Felix mengelus pipiku dengan lembut, “Tiba-tiba kamu bertanya hal seperti itu, Kamu barusan mengalami apa? Aku yakin tidak sesederhana ngopi-ngopi cantik,”

“Boro-boro ngopi, baru pesen minum aja udah kita tinggal. Nggak sempat minum di sana makanya ini bikin teh! Haus!” gerutuku.

“Kenapa?”

“Biasa, teman-teman mama kamu julid. Aku sih santai saja sebenarnya. Tapi sepanjang jalan Mama tak henti-hentinya minta maaf padaku. Aku sampai merasa tak enak karena gara-gara aku dia jadi kehilangan teman-temannya,”

Aku menceritakan secara singkat bagaimana perlakuan teman-teman Mama kepadaku. Ia tidak menginterupsiku. Hanya mendengarkan dengan tenang.

Aku juga bercerita dengan santai, karena kuanggap hal itu bukan hal serius.

Itu semua karena aku mempercayai Mama dan Felix. Mereka bukan jenis yang berbicara buruk di belakang.

“Bukannya kamu sudah biasa dengan makian? Teman-teman kamu bahkan lebih parah kalau ngomongin orang loh,”

“Iya, mereka menjuluki kamu Ketua Sambal Cobek,”

“Eh? Bukan Beruk-Kutub ya?”

“Hah? Kenapa kamu bisa tahu?!”seruku kaget.

“Dari sumber terpercaya dong. Katanya aku dapat julukan itu soalnya kalau aku ngomong, mereka pasti memakiku dalam hati bilang ‘mo-nyet lu dasar nyebelin’ hehe. Terus aku dianggap misterius dan dingin, seperti di kutub,”

“Kamu dengar begitu dari mana?”

“Dimas lah, siapa lagi,”

“Kenapa Pak Dimas bisa tahu sih julukan itu?! Panggilan itu kan hanya rahasia di antara kami para karyawan yang tersakiti hatinya. Aku saja tak tega memanggilmu begitu, loh,”

“Dimas itu kayak gipsum, bisa menyerap suara orang sebelah. Termasuk Gosip dan skandal,”

“Pak Dimas sama kamu itu bedanya 15 tahun loh, seenaknya kamu panggil-panggil pakai nama,”

“Dia memang tua tapi tingkahnya suka sok GenZ. Jadi aku terbiasa memanggilnya hanya dengan nama saja. Kamu tahu Pak Sebastian memanggilnya Boyo-Kethek?”

Kami sama-sama terkekeh membayangkan Pak Dimas.

“Jadi... Chintya aku ingin meluruskan beberapa hal,” desisnya.

Aku duduk menghadap padanya.

Ia menatapku dengan sendu dan meletakkan tangan berjari panjangnya di pipiku. Hangat dan menenangkan rasanya.

“Hanya kamu yang ada di pikiranku. Aku bisa dengan mudahnya membayangkan bagaimana berumah tangga bersamamu, aku bahkan bisa membayangkan bagaimana sosokmu kalau sedang mencuci piring. Atau menyambutku sepulang kerja di teras. Aku bahkan bisa tahu bagaimana wajah perpaduan anak kita berdua,”

“Sampai segitunya?” kenapa dia jadi romantis begini?!

“Ya pakai aplikasi di hape dong,”

Sialan kamu!” Aku menggetok dahinya. Nggak jadi baper.

“Bercanda, Bu Cin. Serius amat...” gumamnya sambil mencubit pipiku.

“Heeem, jadi yang ‘hanya ada aku dipikiranmu’ itu juga hanya bercanda toooh?” aku memancingnya, pura-pura mutung lagi.

“Yang itu beneran. Menjadikan kamu sebagai istriku jauh lebih sulit dibanding membuat Felicia jadi istriku’,”

“Karena aku insecure,”

“Iya. Banyak rintangan, dan cibiran. Sebagian mengataiku sudah gila, yang lain bilang kalau aku hanya mengincar tubuhmu yang semok ini. Banyak juga yang bilang kalau aku terlanjur menghamili kamu waktu jadi pengalih perhatian, sudah ala-ala novel gosipnya.”

“Kamu dengar semua itu dari mana sih Felix? Kok kamu jadi lebih tahu dari pada aku?!”

“Orang ku di mana-mana...” gumam Felix.

“Memang dulu bagaimana pernikahan kamu dan Felicia?’

“Semua bilang kami pasangan serasi, dua keluarga setuju dan semua proses berjalan cepat. Saking cepatnya aku tak ingat apa saja yang kulalui,”

Aku menatapnya lalu tersenyum nakal, “Hey, aku mau tanya doooong...”

“Nggak ah, pasti aneh pertanyaannya,” dia beranjak dari duduknya, aku menarik tangannya menyuruhnya duduk kembali.

“Nggak Bu Ciiiiin, aku  berniat tetap suci sampai minggu depan! Kalau kamu tanya-tanya pasti ke hal ‘itu’ bisa-bisa aku main tangan terus habis ini!” ia menepis tanganku.

Aku terbahak mendengar keluhannya.

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Main tangan katanya.

Dasar Felix absurd.

Dia sudah lari ke kamarnya.

Aku pun menghela nafas, tanda kelegaanku. Lalu kembali menyeruput tehku.

Aku tidak sabar menunggu minggu depan.

Bagaimana kalau di episode berikutnya kita persingkat saja?

1
Heni Umami
👍👍👍👍
Bakul Lingerie
kangen Geng Putus/Kiss/
Bakul Lingerie
Ga papa,, ribut aja di kantor.. dlu CEO kamu juga sering bikin heboh kantor . penggemarnya banyak yg dtg bikin rusuh🤣🤣🤣🤣
Bakul Lingerie
aku kesini lagi..
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
Dede Maesaroh
ikut nangis😭
Maya Ratnasari
ayat 250
sukensri hardiati
ngulang baca ah....
Risma Wati
bagus ceritanya..to the point,ga banyak drama.,sukaaaa
Reni Novitasary
so sweet
Nining Chili
😁😁😁
Ena Ariani
kerenn
Febi Chan😍
aq baca lagi di bulan Mei 2025
sesuka itu aq pada karyamu thor
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wkwk bu cin mikir apaan sih 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
buset dah mokondo pedofil pula
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
njirr beda ye perlakuan cowok mateng ama abg tanpa babinu langsung hap
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
sekali" merakyat pak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
dunia kerja keras say, diatas difitnah dibawah di injek, yang tau kerja keras kita cuma diri sendiri
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
goblok tom, si Rani juga gendeng banget dikibulin mau aja gusti 🤦🏼‍♀️
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lah malah main ancem"an belom tau kebenarannya kek gitu
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wow gini cara mainnya kek, pak artha ye di lepas semua dulu kalau kelilit tinggal di ambil lagi 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!