NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:69.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pak Adjie menghela napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. Suasana ruang tamu kembali hening. Semua orang memperhatikan pria paruh baya itu, termasuk Arkana yang sejak tadi duduk dengan kepala tertunduk.

"Setelah tahu dirinya hamil, kami sebenarnya meminta Kanaya untuk lebih banyak istirahat," ujar Pak Adjie. "Apalagi waktu itu dia baru memulai usaha warung makan kecil-kecilan."

Bu Winda menoleh ke arah Kanaya. Wanita muda itu hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa.

"Tapi dia tidak pernah mau mendengarkan," sambung Bu Cantika sambil menggeleng pelan. "Pagi-pagi sekali dia sudah pergi ke pasar membeli bahan makanan. Setelah itu memasak, melayani pelanggan, mencuci peralatan, menghitung pemasukan, lalu menyiapkan kebutuhan untuk hari berikutnya."

"Itu memang pekerjaan saya, Bu," ucap Kanaya pelan.

"Itu pekerjaan untuk tiga orang, bukan satu orang yang sedang hamil," balas Bu Cantika cepat.

Kanaya langsung diam.

Bu Winda memandang Kanaya dengan perasaan yang semakin berat. Semakin banyak cerita yang ia dengar, semakin besar pula rasa kagumnya kepada perempuan itu.

Pak Adjie kembali melanjutkan ceritanya. "Kami sudah berkali-kali menyuruhnya mengurangi pekerjaan. Bahkan pernah menawarkan bantuan pegawai. Tapi Kanaya selalu menolak."

"Saya tidak punya cukup uang untuk menggaji pegawai saat itu," jawab Kanaya lirih.

"Padahal alasan sebenarnya bukan itu," kata Bu Cantika.

Kanaya menoleh.

Bu Cantika tersenyum sedih. "Kamu hanya takut usaha itu gagal."

Ruangan kembali hening. Kanaya tidak membantah. Karena memang itulah kenyataannya.

Saat itu Kanaya tidak memiliki siapa-siapa. Tidak ada tempat bergantung. Tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan ketika keadaan sulit. Yang ada hanya dirinya dan dua kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Karena itulah ia terus bekerja meskipun tubuhnya sering kelelahan.

Pak Adjie menatap Arkana sejenak sebelum melanjutkan. "Sampai akhirnya suatu hari Kanaya pingsan di dapur."

Bu Winda langsung terkejut. "Pingsan?"

Pak Adjie mengangguk pelan. "Waktu itu kami mendapat telepon dari salah satu pelanggan warung. Katanya Kanaya tiba-tiba jatuh saat sedang memasak."

Air muka Bu Cantika berubah sedih saat mengingat kejadian itu. "Saya masih ingat betul wajah Kanaya waktu itu pucat sekali. Tubuhnya lemas. Kami langsung membawanya ke rumah sakit."

Arkana yang sejak tadi diam perlahan mengangkat kepalanya. Dadanya mulai terasa sesak.

"Dokter bilang dia terlalu lelah," lanjut Bu Cantika. "Tekanan fisiknya terlalu berat untuk ibu hamil."

Kanaya menundukkan kepala. Meskipun peristiwa itu sudah berlalu lima tahun, rasa takut yang pernah ia rasakan saat itu masih tersimpan jelas di dalam ingatannya.

"Beberapa waktu kemudian, Abi dan Aya lahir lebih cepat dari perkiraan," ujar Pak Adjie.

Bu Winda refleks menutup mulutnya. "Mereka lahir prematur?"

"Iya." Suara Pak Adjie terdengar berat. "Berat badan mereka sangat kecil."

Bu Cantika mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Kedua bayi itu harus dirawat di inkubator."

Ruangan kembali sunyi. Anaya dan Abinaya yang sedang bermain tidak menyadari bahwa kisah hidup mereka sedang diceritakan.

Sementara Arkana merasa seperti ada sesuatu yang menekan dadanya semakin kuat. Ia membayangkan Kanaya berada sendirian di ruang bersalin. Membayangkan kedua bayinya harus berjuang di dalam inkubator. Sementara dirinya yang tidak mengetahui apa pun tentang semua itu.

"Saya pernah melihat Kanaya menangis di depan ruang perawatan bayi," lanjut Bu Cantika dengan suara bergetar. "Dia pikir tidak ada yang melihat."

Kanaya langsung memalingkan wajah. Namun semua orang bisa melihat matanya mulai memerah.

"Waktu itu dia terus meminta maaf kepada anak-anaknya," ujar Bu Cantika.

Bu Winda ikut berkaca-kaca.

"Dia bilang gagal menjaga mereka dengan baik selama di dalam kandungan," lanjut Bu Cantika.

Air mata yang sejak tadi ditahan Kanaya akhirnya jatuh juga. Bukan karena ia ingin menangis. Tetapi karena kenangan itu memang terlalu menyakitkan untuk diingat kembali.

Saat itu Kanaya benar-benar takut kehilangan kedua anaknya. Takut pulang dari rumah sakit tanpa melihat perkembangan mereka. Takut menjadi seorang ibu yang gagal bahkan sebelum sempat menggendong anak-anaknya.

Arkana menundukkan kepala lebih dalam. Tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak yang memenuhi dadanya semakin sulit ditahan.

Kenapa dirinya tidak ada saat Kanaya menangis sendirian di depan inkubator. Tidak ada saat kedua anaknya berjuang untuk bertahan hidup. Tidak ada saat Kanaya membutuhkan seseorang untuk bersandar.

Arkana merutuki dirinya yang tidak peka dan berpikir jika kemungkinan Kanaya hamil saat pergi dahulu. Sehingga dia tidak tahu bahwa kedua anak itu ada.

Pak Adjie kemudian tersenyum kecil. "Untungnya Abi dan Aya anak-anak yang kuat."

Bu Cantika mengangguk. "Iya. Sedikit demi sedikit kondisi mereka membaik."

"Waktu pertama kali boleh pulang ke rumah, Kanaya sampai menangis semalaman karena bahagia," kenang Bu Cantika tersenyum lembut.

Kanaya tersipu malu. "Bu ...."

"Saya masih ingat," lanjut Bu Cantika sambil tertawa kecil di sela air matanya. "Kamu tidak tidur semalaman karena terus memastikan mereka bernapas."

Semua orang tersenyum tipis.

Di tengah cerita yang penuh luka itu, terselip kehangatan seorang ibu yang begitu mencintai anak-anaknya.

"Setelah itu warung makan milik Kanaya mulai berkembang," kata Pak Adjie. "Awalnya pelanggan hanya datang untuk makan. Saya dan istri sering meminta Kanaya untuk membuatkan hantaran makanan jika ada acara di kantor."

"Alhamdulillah, masakan Kanaya banyak yang suka. Lalu, ada yang meminta dibuatkan makanan untuk acara keluarga. Ada yang memesan untuk rapat kantor. Ada juga yang memesan dalam jumlah besar untuk acara pengajian," lanjut Pak Adjie senang.

"Pesanannya semakin banyak dari waktu ke waktu," sambung Bu Cantika dengan bangga. "Akhirnya warung kecil itu berubah menjadi usaha katering. Lalu lahirlah ketring Bunda Aya."

Bu Winda tersenyum kagum.

Kanaya menatap kedua anaknya yang sedang tertawa di atas karpet. Senyum kecil muncul di wajahnya.

Nama "BUNDA AYA" memang ia pilih karena dua anak itulah alasan terbesar dirinya bertahan dan bangkit setelah masa-masa paling sulit dalam hidupnya.

Arkana hanya bisa memandang kedua anaknya dalam diam. Kesedihannya semakin besar setelah ia mengetahui seluruh perjuangan yang telah dilalui Kanaya. Dia menyadari bahwa penyesalan terbesar dalam hidupnya bukan kehilangan Kanaya, melainkan kehilangan setiap momen berharga dalam perjalanan hidup wanita itu dan kedua anak mereka.

1
Sugiharti Rusli
perlahan tapi pasti semoga apa yang kamu impikan bersama keluarga kecil kalian yang utuh bisa segera terwujud yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
tapi melihat ketulusan Arkana menjaganya bersama sang bunda semalaman, akhirnya pertahanannya runtuh juga,,,
Sugiharti Rusli
mungkin selama ini sejatinya Abi juga merindukan sosok yang ingin dia panggil ayah, tapi masih menahan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata benar yah ikatan emosional itu sangat penting disamping kedekatan fisik
Sugiharti Rusli
ah ikutan melow bacanya sih😪😪😪
Sugiharti Rusli
apalagi di saat sekarang putra mereka sakit dan ternyata ga suka minum obat jadi proses pemulihannya jadi ga mudah,,,
Sugiharti Rusli
intinya si Arkana memang sabar saja nunggu proses Kanaya mau menerima diri nya lagi seutuhnya yah,,,
Sugiharti Rusli
etapi si Kanaya saat Arka panggil sayang dia reflek langsung menyahut donk😝😝😝
Sugiharti Rusli
Aya kamu peka dan jujur sekali sih bilang kalo ayahnya cemburu😅😅😅
Sugiharti Rusli
wah ternyata ada salah satu klien katering Kanaya yang menyapa mereka rupanya,,,
Sugiharti Rusli
Arkana juga bisa menjaga batasannya dan dia ga mau terlihat mendominasi yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang paling terpenting Kanaya tidak membatasi anak" saat akan menghabiskan bersama kedua buah hatinya dan dia tidak merasa insecure perhatian mereka jadi berat sebelah,,,
ken darsihk
Alhamdulillah Abi sudah membaik dan bisa menerima Arkana sebagai ayah nya 😍😍
Sugiharti Rusli
tapi membangun kedekatan itu bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional dan itu ga bisa dipupuk dalam waktu singkat
Sugiharti Rusli
biar kembar, mereka punya kehendak masing" sih dan Arkana ga mau memaksakan putranya juga langsung jadi dekat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diperhatiakn Anaya memang tipikal yang ekspresif yah, jadi paling tidak Arkana lebih mudah jadi dekat sama sang putri
Sugiharti Rusli
bahagia itu memang sederhana sih asal bersama orang" yang kita sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Kanaya berhasil mendidik mereka menjadi anak baik dan santun, meski masih anak",,,
Sugiharti Rusli
tapi di luar itu kehadiran si kembar, khusus nya Anaya yang sangat hangat dan menerima dengan tangan terbuka, itu yang jadi penyemangat kamu,,,
RosMa🌹🌹🌹
Alhamdulillah Abi sudah sembuh..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!