Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Budi menawarkan ajakan kencan kedua dengan nada yang sangat percaya diri.
"Kita bisa nonton bioskop atau makan es krim sepuasnya, bagaimana."
Maya langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu ragu.
"Boleh banget Mas Budi, saya tunggu di depan kosan jam sepuluh pagi ya hari minggu besok."
"Beres Mbak Maya, sampai ketemu hari minggu pagi."
Budi melambaikan tangannya dan berpamitan pada Maya yang masih tersenyum bahagia.
Budi keluar dari minimarket dengan perasaan yang sangat berbunga bunga.
Namun perasaan bahagia itu mendadak menguap saat dia berbelok memasuki gang kosannya.
Di depan pintu kamar kos Budi yang tertutup, berdiri tiga orang pria berbadan besar.
Salah satu dari mereka adalah Bang Jali yang mengenakan jaket kulit hitam kebesarannya.
Namun kali ini Bang Jali tidak terlihat arogan seperti biasanya.
Bang Jali berdiri agak menunduk di belakang seorang pria paruh baya yang memiliki bekas luka sayatan di pipi kirinya.
Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik sutra dan menghisap cerutu dengan sangat santai.
Jantung Budi langsung berdegup kencang karena dia tahu siapa pria berkemeja batik itu.
Itu adalah Bos Toni, pimpinan tertinggi dari jaringan rentenir yang meminjamkan uang pada mendiang bapaknya.
Budi menarik napas panjang untuk menguasai dirinya dan berjalan mendekati kamarnya.
"Selamat sore Bang Jali, tumben datang membawa rombongan hari ini."
Budi menyapa dengan suara yang dibuat setenang mungkin.
Pria berkemeja batik itu menoleh dan menatap Budi dengan tatapan yang sangat dingin dan merendahkan.
"Jadi ini anak ingusan yang berani mendikte anak buahku soal bunga pinjaman."
Bos Toni berbicara dengan suara serak yang berat menghembuskan asap cerutu ke arah wajah Budi.
Huuuh.
Budi terbatuk kecil namun tetap berdiri tegak tanpa memalingkan wajahnya.
"Saya tidak mendikte siapa pun Bos Toni, saya cuma menawarkan penyelesaian utang yang masuk akal."
"Dan kebetulan hari ini saya sudah membawa sisa pelunasan pokoknya sebesar tujuh belas juta rupiah."
Bang Jali langsung mengangkat wajahnya dan menatap Budi dengan sangat terkejut.
"Tujuh belas juta."
"Kamu bilang butuh waktu tiga bulan Budi, dari mana kamu dapat uang sebanyak itu dalam beberapa hari."
Bos Toni mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan agar Bang Jali diam.
"Bagus kalau kamu sudah punya uangnya Budi."
"Tapi sayang sekali, kesepakatan pembekuan bunga itu batal mulai hari ini."
Bos Toni tersenyum licik memperlihatkan deretan giginya yang menguning karena nikotin.
"Utang bapakmu bukan lagi tujuh belas juta, tapi sudah naik menjadi lima puluh juta rupiah."
Mata Budi langsung membulat sempurna mendengar angka tidak masuk akal yang diucapkan bos rentenir itu.
"Apa maksud anda, kesepakatan kita jelas sisa utang pokoknya tujuh belas juta."
"Kalian tidak bisa mengubah angka seenaknya sendiri seperti ini."
Budi mulai mengeraskan suaranya merasa dipermainkan secara kotor.
Bos Toni membuang sisa cerutunya ke tanah dan menginjaknya dengan ujung sepatu kulitnya.
"Di dunia bisnisku, akulah yang membuat peraturannya anak muda."
"Aku dengar kamu sekarang jadi akuntan pintar di kedai nasi goreng baru yang sedang viral itu."
"Aku tidak mau uang lima puluh juta, aku mau kamu menyerahkan hak pembukuan kedai itu kepadaku."
Budi akhirnya mengerti apa tujuan sebenarnya dari kedatangan Bos Toni sore ini.
Rentenir serakah ini rupanya mencium bau uang yang besar dari Kedai Pak Mamat dan ingin mengambil alih keuangannya lewat Budi.
'Orang ini benar benar lintah darat yang tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali.'
'Kalau aku menurut, Pak Mamat pasti akan hancur diperas olehnya.'
"Saya tidak bisa melakukan itu Bos Toni."
"Kedai itu milik orang lain dan saya cuma bertugas merapikan catatannya saja, bukan pengambil keputusan."
Budi menolak dengan sangat tegas sambil mempererat genggamannya pada tali tas selempangnya.
Satu orang anak buah Bos Toni langsung melangkah maju dan menarik kerah kemeja Budi dengan kasar.
Srekk.
"Jangan banyak alasan kamu anak miskin."
"Kalau bos bilang serahkan, ya serahkan sekarang juga atau kamu mau mati di sini."
Preman itu membentak tepat di depan wajah Budi dengan napas yang bau minuman keras.
Keadaan menjadi sangat tegang dan Budi menyadari nyawanya sedang berada dalam ancaman serius.
Dia tidak bisa menyelesaikan ini hanya dengan adu mulut.
Budi segera mengingat Lencana Aura Bos Besar yang masih tersimpan di laci meja belajarnya di dalam kamar.
"Baiklah, saya mengerti posisi saya sekarang."
Budi mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
"Biarkan saya masuk ke dalam kamar sebentar untuk mengambil salinan dokumen keuangan kedai itu."
Bos Toni memberikan isyarat dengan anggukan kepala dan preman itu melepaskan cengkeramannya dari kerah Budi.
"Jangan coba coba kabur atau berteriak minta tolong Budi."
"Kami akan menunggu di luar pintu, kamu cuma punya waktu dua menit."
Budi segera membuka gembok pintunya dengan tangan yang sedikit gemetar lalu masuk ke dalam.
Dia langsung mengunci pintu itu dari dalam.
Klak.
Napas Budi tersengal sengal saat dia berlari kecil menuju meja belajarnya.
Dia membuka laci terbawah dan mengambil sebuah pin emas gelap berbentuk kepala singa.
Itu adalah Item Ajaib Lencana Aura Bos Besar.
"Sistem, aku sangat berharap benda ini benar benar bekerja seperti deskripsinya."
Budi langsung menyematkan lencana emas itu di kerah kemeja birunya.
Wusss.
Seketika itu juga Budi merasakan sebuah aliran energi yang sangat pekat dan berat mengalir ke seluruh saraf tubuhnya.
Rasa takut, panik, dan gemetar yang tadi dia rasakan tiba tiba menguap tanpa sisa.
Pikirannya menjadi sangat tajam, dingin, dan penuh perhitungan.
Postur tubuhnya otomatis berubah menjadi jauh lebih tegap dengan sorot mata yang setajam elang pemangsa.
Budi melangkah menuju pintu dengan ketenangan absolut layaknya seorang raja yang sedang meninjau wilayahnya.
Cklek.
Pintu kayu itu dibuka lebar lebar oleh Budi.
Bos Toni yang sedang bersandar di dinding langsung menoleh bersiap untuk melontarkan ancaman baru.
Namun saat mata Bos Toni bertatapan dengan mata Budi, kata kata itu tertahan di tenggorokannya.
Deg.
Sebuah gelombang tekanan yang tidak kasatmata langsung menghantam mental Bos Toni dan kedua anak buahnya.
Aura Budi saat ini terasa sangat mengerikan, jauh melampaui aura bos mafia mana pun yang pernah mereka temui.
Hawa di depan kamar kos itu mendadak terasa sangat dingin dan mencekik.
Bang Jali bahkan tanpa sadar memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur tiang jemuran.
"Budi, mana dokumen yang bos minta tadi."
Preman yang tadi menarik kerah Budi mencoba bersuara namun nadanya terdengar sangat ragu dan bergetar.