Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
BAB 32: Kobaran Api Unggun dan Batas Tegas sang Penguasa
Malam semakin larut melingkupi kawasan agrowisata Bogor, membawa serta suhu udara yang kian merosot hingga menusuk tulang. Kabut tebal khas pegunungan perlahan turun dari puncak bukit, menyelimuti area perkemahan utama dengan lapisan putih yang dingin. Namun, dinginnya malam itu seolah menguap di sekitar lapangan tengah. Sebuah tumpukan kayu jati kering berukuran raksasa telah disulut, menciptakan kobaran api unggun yang membumbung tinggi, memercikkan bara-bara merah yang menari-nari ke langit malam.
Ratusan murid kelas tiga SMA Pelita duduk melingkar di sekeliling api unggun, beralaskan tikar pandan besar. Suasana malam akrab itu begitu riuh. Suara petikan gitar akustik dari beberapa murid berbaur dengan gelak tawa kasual, aroma jagung bakar, dan kepulan asap tipis dari cangkir-cangkir berisi wedang jahe hangat. Namun, di salah satu sudut lingkaran—tepatnya di barisan kelas IPS-1—terdapat sebuah area yang seolah memiliki atmosfer tersendiri.
Elva Ileana duduk dengan posisi sangat dekat di sebelah Zayn Dominic. Tubuh mungil Elva malam ini dibungkus rapat oleh sweter rajut putih tebal, namun yang paling mencolok adalah jaket kulit hitam andalan Zayn yang kini tersampir longgar menutupi bahunya. Zayn sendiri hanya mengenakan kaos lengan panjang hitam polos, seolah hawa dingin pegunungan sama sekali tidak mampu menembus kulitnya yang kokoh.
Zayn duduk dengan santai, sebelah kaki panjangnya ditekuk, sementara tangan kirinya bertumpu di belakang punggung Elva—sebuah gestur posesif yang sangat kentara, menegaskan hak kepemilikannya yang mutlak atas gadis itu. Setiap kali angin gunung berembus agak kencang, Zayn akan menarik jaket kulitnya agar lebih merapat membungkus tubuh Elva.
"Minum airnya. Jangan dipandangi terus," ketus Zayn rendah, suara baritonnya yang berat terdengar begitu dalam di sela-sela riuh suara gitar. Tangannya bergerak menyodorkan sebuah termos kecil berisi air jahe hangat ke depan Elva.
Elva mendongak, menatap wajah tampan Zayn yang diterangi oleh pendaran cahaya kemerahan dari kobaran api unggun. Garis wajah Zayn tampak begitu tegas, dengan sepasang mata elang yang tidak sedetik pun lengah menyapu sekeliling lapangan. Elva tersenyum murni, sebuah senyuman manis yang selalu berhasil meredakan ketegangan di wajah kaku cowoknya. Dia menerima termos tersebut dengan kedua tangan kecilnya.
"Iya, Zayn" bisik Elva lembut sebelum menyesap air hangat itu perlahan.
Saat Elva mendongak dan membetulkan letak kerah sweater yang sedikit longgar, pendaran cahaya api unggun langsung mengekspos leher putih bersihnya seutuhnya. Di sana, tepat di sebelah rantai kalung perak berliontin inisial 'Z' dan 'E', tercetak jelas sebuah tanda merah pekat yang baru dan tebal—mahakarya yang dibuat Zayn di dalam tenda komando sore tadi sebagai bentuk proklamasi wilayah kekuasaan yang mutlak.
Kevin yang duduk di seberang mereka bersama Arkan langsung menyenggol lengan Leo sambil terkekeh pelan.
"Gila ya si Zayn, tandanya makin baru aja tiap hari. Kayaknya dia beneran mau ngasih tahu satu angkatan kalau ada yang berani nyenggol Elva, urusannya langsung sama masa depan yayasan sekolah," bisik Kevin dengan cengiran lebarnya yang khas.
Leo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah posesif sahabatnya. Namun, pandangan mata Leo mendadak terarah ke sisi seberang di barisan kelas mereka sendiri, IPS-1, di mana sesosok cowok jangkung sedang memperhatikannya.
"Vin, Ar... awasi arah jam dua. Angin dari London mulai bergerak," ucap Leo dengan nada yang mendadak serius dan penuh kewaspadaan.
...----------------...
Christian Narendra melangkah dengan sangat tenang memutari lingkaran besar murid-murid IPS-1 di sekeliling api unggun. Kedua tangan Christian terbenam jabat di dalam saku jaket bomber tebal berwarna biru dongker yang dikenakannya. Pembawaannya yang elegan, postur tubuhnya yang tinggi atletis, serta ketenangannya yang matang membuat beberapa siswi yang dilewatinya diam-diam menahan napas.
Sebagai teman sekelas baru di IPS-1, Christian memiliki hak penuh untuk berada di area ini. Sejak awal acara dimulai, sepasang mata hazel milik Christian tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Elva. Taktik halusnya pasca-insiden di hutan pinus siang tadi telah tersusun rapi di otaknya yang cerdas. Dia tahu Zayn sengaja memperketat benteng pertahanannya, namun Christian bukan tipe cowok yang mudah terintimidasi oleh gertakan fisik. Dia melangkah maju dengan tujuan yang jelas: mendekati Elva.
Christian menghentikan langkah tegapnya tepat beberapa meter di belakang barisan tempat Elva dan Zayn duduk. Kehadirannya yang mendadak seketika membuat riuh obrolan Kevin dan Arkan terhenti total. Atmosfer di sudut itu langsung anjlok hingga ke titik beku dalam hitungan mili sekon.
"Hai, malam semuanya," sapa Christian dengan suara bariton British-nya yang sangat jernih dan ramah, seolah-olah mengabaikan ketegangan pekat yang mendadak mencekat udara di sekitar mereka. Dia melangkah satu sekon lebih dekat, lalu mengulurkan sebuah kotak kecil berisi biskuit cokelat premium yang dibawanya.
"Gue denger beberapa anak di kelas kita mengeluh lapar karena sesi bakar jagungnya agak lama. Ini ada sedikit camilan dari London, mungkin Elva mau coba?"
Christian sengaja mengarahkan pandangannya langsung ke arah Elva. Namun, sebelum Elva sempat merespons atau menggerakkan tubuhnya, pergerakan Christian langsung terhenti sempurna oleh sebuah perubahan visual yang sangat intimidatif.
Zayn Dominic berdiri dari posisi duduknya dengan gerakan yang sangat cepat dan bertenaga. Kursi atau tempat duduk di sekitarnya seolah bergetar saat tubuh tingginya yang tegap melangkah maju satu sekon, memposisikan dirinya tepat di depan Elva. Zayn menyembunyikan tubuh kecil gadisnya seutuhnya di balik punggung bidangnya yang kokoh—sebuah tameng hidup yang tak tertembus.
Sepasang mata elang Zayn berkilat memancarkan api cemburu murni yang luar biasa mengerikan, mengunci lurus manik mata hazel Christian. Rahang tegas Zayn mengeras sempurna, dan gumpalan otot di leher serta lengannya menegang kuat. Sifat kepemilikan mutlaknya yang ekstrem terusik seutuhnya malam ini.
"Gue rasa telinga lo beneran perlu dioperasi ya, anak baru," desis Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, berat, dan sarat akan ancaman membunuh yang sangat berbahaya. Zayn melangkah satu sekon lebih dekat hingga jarak dada tegap mereka hanya tersisa beberapa senti.
"Gue udah billing berkali-kali dari kemarin. Jangan pernah berani taruh pandangan lo atau kaki lo di dekat wilayah gue. Terutama di depan cewek gue."
Zayn sengaja memiringkan sedikit kepalanya, membiarkan pendaran cahaya api unggun menyinari leher Elva yang berada di belakangnya, memperlihatkan tanda merah pekat yang baru dia buat sore tadi dengan sangat jelas ke depan wajah Christian.
"Lo liat tanda itu? Itu bukti kalau lo udah kalah telak bahkan sebelum lo punya rencana bodoh apa pun di kepala lo. Mundur sekarang sebelum gue sendiri yang patahin kaki lo di lapangan ini."
Mendengar ancaman otoritas yang begitu dingin dan kaku dari Zayn, suasana di sekitar barisan IPS-1 mendadak senyap total. Beberapa murid yang berada di dekat mereka mulai menahan napas ketakutan.
Namun, Christian Narendra tidak mundur satu senti pun. Dia menurunkan kotak biskuitnya dengan sangat tenang, lalu menegakkan tubuh tegapnya untuk menatap balik mata tajam Zayn dengan ketenangan seorang anak diplomat yang sangat matang. Senyuman tipis yang sarat akan tantangan tersembunyi kembali terukir di sudut bibirnya.
"Gue cuma mau menawarkan camilan secara sopan sebagai teman sekelas, Zayn. Nggak ada hukum sekolah yang melarang hal itu," jawab Christian, nadanya tetap santai dan jernih, tidak menunjukkan indikasi tunduk sedikit pun pada intimidasi fisik sang penguasa sekolah. Dia melirik sedikit melewati bahu tegap Zayn, menatap leher Elva yang dihiasi tanda merah pekat tersebut, lalu kembali menatap mata elang Zayn dengan kilat mata yang cerdas.
"Tanda fisik itu emang kelihatan tegas, Zayn. Tapi penguasa yang hebat biasanya tahu kalau kesetiaan itu nggak bisa dipaksakan hanya dengan mengurung atau memberi batas tanda teritorial. Kadang... tembok yang terlalu mengekang justru bikin orang di dalamnya lelah."
Provokasi verbal yang sangat berani dari Christian bener-bener menyulut sumbu ledak di kepala Zayn. Seluruh kendali emosi dan akal sehat sang penguasa sekolah putus seutuhnya dalam hitungan mili sekon.
"BACOT LO!" bentak Zayn keras.
BUGH!
Satu pukulan mentah, cepat, dan luar biasa bertenaga dari kepalan tangan kanan Zayn meluncur telak, menghantam rahang kiri Christian dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi benturan fisik yang memilukan telinga. Tubuh tinggi atletis Christian terhuyung ke belakang dua langkah, membuat kotak biskuit premium di tangannya terlempar jatuh dan isinya hancur berantakan di atas tanah merah basah.
Ratusan murid di sekeliling api unggun seketika menjerit histeris. Suara petikan gitar langsung berhenti total, digantikan oleh kepanikan massal.
Christian menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar dengan punggung tangan kirinya. Sepasang mata hazel-nya yang semula tenang kini berkilat memancarkan amarah dan insting bertarung yang juga tersulut hebat. Sebagai cowok yang terlatih dalam olahraga basket dan bela diri mandiri di London, Christian tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak begitu saja.
Christian merangsek maju dengan kecepatan kilat, memanfaatkan momentum tubuhnya untuk membalas serangan.
BUGH!
Pukulan balasan dari Christian mendarat telak di pipi kanan Zayn, membuat kepala sang penguasa sekolah terhentak ke samping. Namun, Zayn Dominic bukanlah tipe cowok yang mudah goyah. Alih-alih mundur, rasa sakit itu justru mengubah Zayn menjadi seekor singa yang mengamuk total. Zayn melayangkan sikut kirinya, menerjang dada tegap Christian, lalu mencengkeram jaket bomber biru dongker cowok itu dengan kasar.
BUGH! BAGG!
Kedua cowok dominan itu bener-bener terlibat perkelahian fisik yang sangat sengit dan brutal di bawah pendaran cahaya api unggun yang berkobar. Mereka bergulingan di atas tanah merah, saling melayangkan bogem mentah tanpa belas kasihan. Pukulan demi pukulan bertukar dengan cepat, meninggalkan memar dan luka robek di wajah tampan keduanya. Aura membunuh di antara mereka begitu pekat hingga tidak ada satu pun murid yang berani mendekat untuk memisahkan.
"ZAYN! STOP! AKU MOHON JANGAN BERANTEM!" jerit Elva histeris dari pinggir lapangan, air mata ketakutan langsung meluncur deras membasahi pipi polosnya. Tubuh mungilnya gemetar hebat menyaksikan kekerasan fisik yang terjadi di depan matanya.
Leo, Arkan, dan Kevin yang menyadari situasi sudah lepas kendali langsung berlari kencang menerobos kerumunan murid.
"Zayn, lepas! Lo bisa dihukum skorsing kalau keterusan!" teriak Leo kuat, langsung mengunci kedua lengan kekar Zayn dari arah belakang dengan sekuat tenaga, mencoba menarik tubuh sahabatnya yang sudah kesetanan.
Di seberang, Arkan dan Kevin juga dengan susah payah memegangi tubuh Christian yang masih berusaha merangsek maju untuk membalas pukulan Zayn.
"Udah, anak baru! Tahan emosi lo! Jangan bikin keributan massal di sini!" bentak Arkan sambil menahan dada tegap Christian.
Zayn yang napasnya memburu hebat dengan darah yang mengalir dari sudut bibir dan pelipis kanannya bener-bener mengamuk, mencoba melepaskan diri dari kuncian Leo.
"Lepasin gue, Yo! Biar gue habisin anak ini sekarang juga!" raung Zayn dengan suara baritonnya yang serak dan mengerikan.
Namun, gerakan mengamuk Zayn seketika terhenti total saat sebuah tubuh mungil mendadak berlari memeluk tubuh tegapnya dari arah depan. Elva menjatuhkan dirinya di pelukan dada bidang Zayn, menangis histeris dengan kedua tangan kecilnya memeluk erat pinggang cowoknya.
"Zayn... aku mohon stop... jangan berantem lagi... aku takut..." bisik Elva di sela-sela tangisnya, tubuh mungilnya bergetar hebat di dalam dekapan Zayn.
Merasakan pelukan hangat, getaran ketakutan, dan air mata mentari kecilnya yang membasahi kaos hitamnya, seluruh amarah dan kegilaan di dalam otak Zayn seketika padam tanpa sisa dalam satu kedipan. Sifat pelindung posesifnya langsung mengambil alih kendali tubuhnya seutuhnya.
Zayn menurunkan kedua tangannya. Tanpa memedulikan sisa darah yang mengalir di wajah tampannya, dia membungkuk sedikit, lalu menyusupkan sebelah lengan kekarnya di balik punggung Elva dan lengan lainnya di bawah lipatan lutut gadis itu. Dengan satu gerakan yang bertenaga, Zayn mengangkat tubuh mungil Elva ke dalam gendongan ala bridal style yang sangat kokoh.
Elva terpekik kecil karena terkejut, refleks mengalungkan kedua lengan kecilnya di sekeliling leher tegap Zayn untuk mencari keseimbangan. Dia menyembunyikan wajah sembabnya di ceruk leher hangat cowok itu, meresapi aroma mint campur keringat maskulin yang menenangkan jiwanya. Gendongan posesif Zayn begitu erat, seolah mendekap erat satu-satunya harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini.
Zayn membawa Elva melangkah membelah kerumunan ratusan murid yang menatap mereka dengan takjub sekaligus tegang. Sebelum melangkah menjauh sepenuhnya dari area lapangan tengah, Zayn menghentikan langkah sepatunya sejenak. Dia melayangkan satu tatapan mata elang yang sangat tajam, sedingin es, dan mematikan ke arah Christian yang masih ditahan oleh Arkan dan Kevin dari kejauhan.
"Urusan kita belum selesai, anak baru," desis Zayn rendah dengan nada suara penuh ancaman mutlak. Tanpa menunggu jawaban, Zayn kembali melangkah lebar, menggendong mentari kecilnya menjauhi pendaran api unggun menuju ke arah keheningan tenda komando pribadi mereka. Perang dingin di antara dua cowok dominan ini dipastikan telah berubah menjadi perang terbuka yang jauh lebih berbahaya demi memperebutkan hati sang mentari kecil.