Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Fragmen yang Hilang
Namun, pemandangan itu membuat para penjaga rumah ini melongo. Sepuluh pria itu mengenakan seragam jas slim fit berwarna shocking pink menyala dengan sapu tangan sutra di saku mereka.
"Aduh, Tuan Arnoldy! Kenapa nggak bilang kalau penjaganya nakal-nakal begini? Kan eikeh jadi gemas!" seru salah satu pria kekar itu dengan suara yang melengking manja, namun tangannya sudah bersiap dengan gaya mereka masing-masing.
"Bereskan," perintah Arnold dingin.
"Siap, Tuan! Yuk, Sista, kita kasih pelajaran buat mas-mas galak ini biar tahu cara menyambut tuan rumah."
Hanya dalam hitungan menit, halaman mansion itu berubah menjadi arena "pertobatan". Pasukan khusus bentukan Dev dan Arnold, merupakan mantan-mantan waria dalam proses tobat. Menghajar para penjaga sesuai dengan keimanan dan keyakinan masing-masing.
Ada yang dibelai manja, membuat penjaga geli. Ada yang dijepit dalam ketek, bahkan sampai menangis minta ampun karena aroma minyak sinyongnyong menguar memabukkan. Ada yang berusaha kabur dari kejaran manja ala-ala India, om-om pinky tersebut. Bukan karena takut, tetapi lebih tepatnya karena jijik.
Arnold melangkah melewati keributan itu seolah sedang berjalan di atas catwalk. Ia berhenti tepat di depan pintu jati raksasa mansion tersebut.
"Beib, ayo turun! Kita jemput Mama dulu," panggil Arnold lembut tanpa menoleh.
Lova keluar dari mobil dengan ragu, matanya membelalak melihat para penjaga yang tadi tampak sangat sangar kini sudah kocar-kacir dikejar om-om pinky.
"Kamu harus kuatkan diri. Karena yang akan kita temui ini bukan lah manusia," ucap Arnold dingin, mengulurkan tangan.
Lova mengangguk menyambut uluran tangan itu dan ketika itu juga langsung ia genggam. Lova mengikuti langkah Arnold menaiki anak tangga satu per satu. Langkah itu terlihat sungguh berat. Lova merasakan ada yang berubah begitu saja dari pria yang menawarkan diri menjadi suaminya ini.
Pintu rumah yang begitu tinggi, tak lagi ia ketuk. Dengan satu tendangan tegas, pintu mansion itu terbuka lebar. Sosok dr. Arnoldy Darmawan kini berdiri di sana, mematung menyisir semua sudut rumah ini, yang pernah menjadi bagian dirinya.
Arnold terhenti tepat di tengah aula luas yang lantainya terbuat dari marmer impor. Aroma kayu cendana dan pembersih lantai mahal menyeruak, tetapi bagi Arnold, udara di sini bagai berbau besi berkarat yang penuh air mata.
Lova merasakan tangan Arnold yang menggenggamnya mulai basah dan dingin. Tatapan pria itu kosong, seolah sedang menembus dimensi waktu.
Tiga puluh tahun yang lalu, ketika usia Arnold belum genap sepuluh tahun
Arnold kecil, meringkuk di balik pilar besar rumah ini. Badannya yang ringkih bergetar hebat saat mendengar suara pecahan guci porselen menghantam dinding bersama sang adik. Di depan benda yang tercerai berai, sang ayah berdiri seperti raksasa yang murka, wajahnya merah padam.
"Wanita tidak berguna! Kamu hanya bisa menghabiskan uang dan menangis saja!" bentak ayahnya pada sang ibu yang sudah terduduk lemas di lantai.
Arnold yang tadinya memeluk sang adik, berlari cepat ke arah Betris, melindungi sang ibu yang menjadi sasaran amukan ayahnya.
"Papa, jangan marah-marah sama Mama." Lalu Arnold sejenak memutar kepala melihat Arinda, adiknya.
Adik perempuan Arnold, malaikat kecil yang menjadi dunianya, mulai menangis tanpa suara saat ditinggal sang kakak. Wajahnya sangat pucat, tangannya mencengkeram dada dengan napas yang memburu. Penyakit jantung bawaan itu kumat di saat yang paling salah.
"Kau itu anak kecil! Jangan coba ikut campur dengan urusan orang tua!" bentak Ayahnya.
Melihat keadaan adiknya yang semakin buruk, ia memberanikan diri memeluk pinggang Charless, ayahnya.
"Papa, aku mohon, Papa berhenti ... Adik sakit, Pa ... Tolong!" jerit Arnold kecil mulai berusaha menarik tangan pria itu agar segera menolong adiknya yang telah meringkuk di sudut ruangan.
Namun, tak sesuai harapan, ayahnya justru mendorong Arnold dengan kasar hingga kepalanya membentur sudut meja.
"Arnold, anakku!" pekik Betris, ibu Arnold berlari mencoba menghentikan Charless. "Jangan sakiti anak-anakku!" tangis Betris, terduduk memeluk pinggang suaminya.
"Aaaahhh!" Pria tak berperasaan itu mendorong istrinya dan pergi.
Betris beralih pada Arinda, yang meringkuk. "Dek ... Dek ... Ini Mama, Nak ...."
Sementara Arnold dalam keadaan pandangan yang berputar, meringkuk menggantungkan tangan ingin menggapai adiknya. Ia hanya bisa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri; adik yang semakin lemah, yang mulai terbatuk dan terengah dalam pelukan sang ibu.
Betris mencoba menggendong Arinda, tetapi melihat putra sulungnya dengan kepala yang mengalirkan darah segar, menggendong putri kecil, dan mendekati putranya itu.
"Arnold? Arnold?" ucap Betris menggoyang tubuh kecil itu benerapa kali.
"Ma, Adik, Ma ..." rintihnya yang lemah tak sanggup untuk bangkit, tetapi tangannya bergetar untuk menggapai dan menggenggam lengan Arinda.
"Kamu tunggu sebentar, Mama akan membawa kalian ke rumah sakit." Tak terpikirkan oleh sang nyonya besar memanggil pelayan dan ia segera mengeluarkan ponsel menghubungi rumah sakit.
Namun, di saat panggilan darurat sedang tersambung, tangan Arinda jatuh terkulai tak berdaya. Dunia mendadak hening.
"Dek ..." rintih Arnold.
"Dek ..."
Namun tak ada respon.
"Ma ... Adek, Ma ..."
Di saat ketegangan itu, tanpa mereka sadari, seorang pembantu bernama Tania mengintip dari balik pintu dapur dengan senyum licik.
*bersambung*
Boleh bantu aku Kakak-Kakak semua? Bantu rate dan jika masih ada Vote, bagi ke cerita ini ya. Biar semakin berkembang dan dibaca banyak pembaca Noveltoon. Terima kasih ❤️
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣