Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Namun, suasana hangat dan penuh tawa itu mendadak menjadi tidak enak
"Oh, aku pikir mataku yang sudah tua ini salah lihat. Ternyata memang benar kalian berdua, ya!"
Alneo dan Riani spontan menoleh ke arah sumber suara.
Seorang wanita paruh baya dengan perhiasan emas yang agak mencolok di pergelangan tangannya berjalan mendekat.
"Ibu Sahida? Ada apa, Bu?" tanya Alneo penasaran.
"Ada apa, ada apa? Kamu masih berani tanya ada apa?! Bayar utang bapakmu! Dasar keluarga tidak tahu diri!" semprot Ibu Sahida mendadak.
Riani tersentak, wajahnya seketika memucat. Ia refleks mundur selangkah, bersembunyi di belakang punggung Alneo.
"Maaf, Bu, utang apa yang Ibu maksud?" Alneo berusaha menahan suaranya agar tetap tenang dan sopan.
"Jangan pura-pura amnesia ya, Alneo! Ini sudah lewat dua tahun, lho! Bapak kalian datang ke rumah saya, mengemis-ngemis pinjam uang katanya untuk biaya sekolah Riani. Katanya kasihan adiknya tidak bisa ujian kalau tidak bayar sekolah! Tapi sampai detik ini, sepeser pun tidak dibayar! Dan sekarang? Kalian malah bersenang-senang, belanja baju mahal di butik begini? Hebat betul mental pengemis kalian!" maki ibu Sahida.
"Dua tahun lalu... Ayah pinjam uang buat sekolahku?" bisik Riani lirih, suaranya bergetar.
Ia menatap Ibu Sahida dengan tatapan tidak percaya. "Itu... itu pasti bohong! Sekolahku tidak pernah nunggak biaya sampai harus pinjam uang ratusan ribu!"
"Eh, enak aja kamu bilang saya bohong, anak kecil! Saya ada bukti catatannya, ya! Jangan coba-coba mengelak!" bentak Ibu Sahida sambil menunjuk wajah Riani dengan jarinya yang dihiasi cincin batu akik.
Alneo langsung melangkah maju, memasang badan dan menepis pelan tangan wanita itu
"Ibu Sahida, tolong jaga bicara dan sikap Ibu. Jangan menunjuk-nunjuk adik saya," kata Alneo, suaranya merendah namun penuh penekanan.
"Lho, kenapa? Saya bicara kenyataan, kok!" tantang Ibu Sahida.
"Maksud adik saya tadi, yang bohong itu bukan Ibu. Tapi bapak saya," jelas Alneo.
Ibu Sahida mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Sudah tujuh tahun terakhir ini bapak saya kecanduan judi, Bu Sahida. Ibu pasti juga tahu tabiat dia di lingkungan kita. Jadi, bisa dipastikan uang yang dia pinjam dari Ibu dua tahun lalu itu dipakai untuk meja judi. Dia hanya menjual nama Riani sebagai alasan agar Ibu kasihan dan memberikan pinjaman," jelas Alneo dengan nada datar.
"Karena sejak saya mulai bekerja, seluruh biaya sekolah Riani, dari buku, seragam, sampai uang SPP bulanan, semuanya saya yang tanggung sendiri. Saya tidak pernah meminta atau menerima sepeser pun uang dari bapak saya untuk keperluan Riani, justru saya yang harus mengeluarkan uang buat ayah untuk dia berjudi," kaya Alneo lagi.
Ibu Sahida tertegun sejenak mendengarkan penjelasan Alneo. Tapi ia tak peduli.
"Mau dipakai judi, mau dipakai beli beras, saya tidak mau tahu! Yang jelas, bapakmu itu pinjam uang atas nama kalian! Utang tetap utang, Alneo. Hukumnya wajib dibayar! Memangnya kamu pikir mencari uang itu gampang?" seru Ibu Sahida, tidak mau kalah.
Alneo yang menyadari adiknya di lihat oleh banyak orang. Ia tidak ingin harga diri adiknya diinjak-injak.
"Berapa, Bu?" tanya Alneo pendek.
"Apa?" Ibu Sahida mengerutkan alisnya.
"Berapa total uang yang dipinjam oleh bapak saya dua tahun lalu?" ulang Alneo, kali ini sambil merogoh ponsel dari saku celananya.