NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Sore hari, langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Jam dinding di kantor sudah menunjukkan pukul 16:00 tepat.

Sulthan tidak langsung pulang ke rumah besarnya. Ada satu tujuan penting yang ingin dia kunjungi. Dia ingin bertemu lagi dengan gadis yang terus memenuhi pikirannya, Nurlia.

"Pak Didik, arahkan ke Restoran Pak Hartono," perintah Sulthan singkat.

"Siap Tuan," jawab Pak Didik sigap memutar setir.

Di dalam mobil, Sulthan mengambil secarik kertas kecil berwarna putih bersih yang sudah dia siapkan sebelumnya. Dengan pulpennya, dia menuliskan beberapa baris kalimat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegak.

"Untuk Nurlia, wanita yang baik hati dan sederhana. Terima kasih telah hadir di dunia kni. Aku menyukaimu, lebih dari yang kau bayangkan. Tunggu kabar dariku. - Sulthan"

Sulthan melipat kertas itu dengan rapi, memasukkannya ke dalam saku jasnya dengan hati-hati. Dia berencana akan memberikan surat itu secara langsung pada Nurlia hari ini juga.

Tak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti di depan restoran. Sulthan turun dengan gaya yang sangat percaya diri dan memancarkan aura orang kaya lama atau old money.

Seperti biasa, dia langsung menuju area ruangan VIP yang tersedia khusus untuk tamu penting. Pelayan restoran yang mengenalinya langsung menyambut dengan hormat.

"Silakan masuk Tuan Sulthan, meja sudah disiapkan," ucap pelayan itu sopan.

Sulthan duduk dengan santai, matanya berkeliling mencari sosok yang dia cari. Namun, saat pelayan datang mencatat pesanan, yang muncul bukanlah wajah manis Nurlia, melainkan pelayan lain yang tak begitu dikenalnya.

"Saya pesan menu seperti biasa. Tapi... mana Nurlia? Biasanya kan dia yang melayani saya," tanya Sulthan santai namun tegas.

Pelayan itu tersenyum canggung lalu menjawab, "Oh, Mbak Nurlia sudah selesai shift-nya Tuan, mungkin sedang membereskan barang-barang dan ganti baju di ruang karyawan, mau pulang soalnya."

Mendengar itu, Sulthan sedikit kecewa tapi tidak mau menyerah. Dia ingin bertemu, harus bertemu.

"Begini saja, tolong panggilkan dia sebentar saja. Bilang ada tamu penting yang minta ditemui. Saya butuh bicara sedikit saja," pinta Sulthan dengan wibawa yang sulit ditolak.

"Baik Tuan, saya panggilkan sekarang," jawab pelayan itu lalu segera berbalik pergi menuju ruang ganti karyawan.

Sulthan menunggu dengan sabar, jantungnya berdegup kencang menanti saat-saat bertemu lagi dengan gadis pujaannya itu.

Beberapa menit berlalu. Pintu ruangan VIP terbuka perlahan, dan terlihat sosok yang sudah dinanti-nantikan.

Nurlia.

Gadis itu masih mengenakan seragam kerjanya yang rapi dan sopan. Rambutnya dikuncir kuda, wajahnya tampak segar tanpa riasan berlebihan dan sangat cantik alami. Sebenarnya tadi dia sudah berniat untuk segera berganti pakaian santai dan pulang, jam kerjanya kan sudah habis. Namun begitu mendengar ada tamu penting yang meminta bertemu, dan tahu bahwa tamu itu adalah Tuan Sulthan, tanpa pikir panjang dia langsung datang memenuhi panggilan itu.

"Selamat sore, Tuan Sulthan," sapa Nurlia sopan sambil membungkuk sedikit hormat. Wajahnya terlihat sedikit memerah, bercampur antara kaget, malu, dan senang bisa bertemu lagi.

"Sore, Nurlia," jawab Sulthan lembut, matanya menatap gadis itu dengan pandangan yang hangat dan tajam. "Silakan duduk dulu sebentar."

"Eh... saya duduk, Tuan?" tanya Nurlia bingung sambil menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah Tuan mau pesan makan? Biar saya catat pesanannya dulu."

Nurlia masih dalam mode pelayan, siap mengambil buku catatan dan pulpen. Tapi Sulthan justru menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Tidak perlu Nurlia. Aku tidak memanggilmu kesini untuk mencatat pesanan makanan," ucap Sulthan santai. "Duduklah. Kita ngobrol saja sebentar. Anggap saja ini istirahat."

Nurlia semakin bingung tapi tetap patuh. Dia pun duduk di kursi yang ada di hadapan pria itu dengan posisi yang sangat sopan, tangan saling bertaut di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan, rasanya aneh dan gugup sekali bisa duduk berdekatan dengan pria kaya yang dia sukai.

"Jadi... gimana kabarmu hari ini, Nur? Sehat kan?" tanya Sulthan memulai pembicaraan dengan nada yang sangat lembut, jauh dari kesan dingin seperti saat di kantor.

"Alhamdulillah sehat Tuan. Terima kasih," jawab Nurlia.

"Bagus. Kemarin aku lihat kamu sama adikmu di toko pakaian. Senang sekali rasanya melihat kalian bahagia," lanjut Sulthan basa-basi, matanya tak lepas menatap wajah gadis itu.

"Iya Tuan... kami juga sangat berterima kasih sekali atas kebaikan Tuan," jawab Nurlia tulus, matanya menunduk sedikit karena malu.

"Itu hal kecil kok. Tidak perlu dibesar-besarkan. Yang penting adikmu bisa sekolah dengan nyaman," sahut Sulthan santai.

Obrolan pun mengalir. Sulthan bertanya tentang pekerjaannya di restoran, bagaimana seharian melayani pembeli, sampai hal-hal kecil seperti cuaca hari ini dan macetnya jalanan.

Sulthan sengaja mengajak ngobrol banyak, menikmati setiap detik melihat wajah polos Nurlia yang berbicara dengan nada suaranya yang lembut. Dia ingin memperlama momen kebersamaan ini, meski hanya sekadar berbasa-basi, karena rasanya damai sekali berada di dekat gadis itu.

Obrolan mereka semakin akrab. Sulthan tampak sangat menikmati setiap cerita yang keluar dari mulut Nurlia. Perlahan, dia mulai bertanya hal-hal yang lebih pribadi untuk semakin mengenal gadis itu.

"Ngomong-ngomong Nur, alamat rumahmu di mana sebenarnya? Aku jadi penasaran, rumahnya di daerah mana?" tanya Sulthan santai.

Nurlia pun menjawab dengan jujur dan sopan, menyebutkan nama jalan dan daerah tempat tinggalnya yang cukup jauh dari pusat kota namun masih masuk wilayah Surabaya. Tepatnya di Jl. Kenjeran Lama, Gang Damai No. 15, Kel. Sidorame, Kec. Bulak, Surabaya.

"Oh, di sana ya... Jauh juga ya," gumam Sulthan sambil mengangguk-angguk mencatat alamat itu di ingatannya. "Terus... orang tuamu bagaimana? Mereka di rumah kan yang jagain adikmu?"

Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Nurlia perlahan memudar. Gadis itu menunduk sedikit, tangannya memainkan ujung bajunya dengan gugup.

"Orang tua saya... sudah meninggal dunia, Tuan. Sudah setahun yang lalu," jawab Nurlia, suaranya terdengar sedikit bergetar menahan kesedihan. "Jadi sekarang hanya tinggal saya dan Adelia saja di rumah. Saya yang berusaha keras menafkahi dan menyekolahkan adik saya."

Mendengar pengakuan itu, mata Sulthan terbelalak sedikit, lalu wajahnya berubah menjadi sangat prihatin.

"Ya Allah... Turut berduka cita ya Nur," ucap Sulthan tulus, nadanya menjadi sangat lembut. "Pantas saja kamu sangat dewasa dan mandiri. Ternyata kamu memikul beban yang berat sendirian. Kasihan sekali kamu..."

Hati Sulthan terenyuh. Ternyata di balik senyum manisnya, gadis ini menyimpan perjuangan hidup yang sangat keras. Justru hal ini membuat Sulthan semakin kagum dan semakin ingin melindungi Nurlia.

"Tapi kamu hebat Nur. Kuat sekali. Banyak cewek di posisi kamu mungkin sudah menyerah atau memilih jalan yang salah. Tapi kamu tetap bekerja keras dan jujur. Saya salut sama kamu," puji Sulthan tulus.

"Makasih Tuan," jawab Nurlia sambil tersenyum tipis meski matanya sedikit berkaca-kaca. "Sudah menjadi kewajiban saya sebagai kakak."

Setelah mendengar cerita menyedihkan itu, Sulthan pun tidak mau memperpanjang suasana. Dia ingin membuat gadis itu bahagia.

Dengan santai, Sulthan merogoh saku jasnya, mengambil dompet kulit mahal miliknya. Dibukanya dompet itu, lalu dengan gerakan cepat dia mengambil lima lembar uang merah.

Jleb!

Uang senilai lima ratus ribu rupiah itu disodorkannya tepat ke hadapan Nurlia.

"Ini buat kamu, Nur. Peganglah buat tambahan belanja atau keperluan sekolah adikmu," kata Sulthan santai seolah memberi recehan.

Mata Nurlia membelalak lebar melihat jumlah uang yang begitu besar. Wajahnya langsung berubah panik dan dia mengangkat kedua tangannya menolak.

"Eh, tidak Tuan! Tidak bisa! Saya tidak terima!" tolak Nurlia cepat. "Sudah terlalu banyak bantuan Tuan pada kami. Saya merasa sangat tidak enak hati, sungguh Tuan. Ini terlalu besar..."

Nurlia benar-benar merasa berat hati menerima lagi. Dia sudah sangat banyak berhutang budi pada pria ini. Tapi Sulthan justru tersenyum, lalu dia meraih tangan kecil Nurlia, memaksanya untuk menggenggam uang itu erat-erat.

"Ambil saja Nur, jangan menolak. Untuk orang sebaik kamu, jumlah segini tidak ada apa-apanya buatku," bujuk Sulthan lembut namun tegas. "Lagipula kan kamu yang harus biayai hidup berdua, pasti butuh banyak pengeluaran. Terimalah, demi Adelia juga."

Kata-kata manis dan perhatian itu membuat pertahanan Nurlia runtuh. Dia menatap wajah Sulthan yang begitu teduh. Akhirnya dia pun menerima uang itu dengan tangan yang gemetar.

"Ba-baiklah Tuan... kalau Tuan memaksa. Te-terima kasih banyak," ucap Nurlia terbata-bata, wajahnya berseri-seri campur aduk antara malu dan bahagia yang luar biasa.

"Sama-sama... pakailah sebaik-baiknya ya," jawab Sulthan lembut, hatinya senang sekali bisa melihat gadis itu tersenyum bahagia.

Setelah Nurlia menerima uang pemberian itu dengan hati yang berbunga-bunga, Sulthan pun kembali merogoh saku jasnya. Kali ini, dia mengeluarkan sebuah secarik kertas kecil yang dilipat rapi dan simpel. Kertas itu dia sodorkan tepat ke hadapan Nurlia.

"Ini apa lagi Tuan?" tanya Nurlia bingung sambil menerima kertas itu. Tangannya membalik-balik kertas tersebut, mencari tahu isinya.

"Itu surat kecil buatmu, Nur," jawab Sulthan santai namun tatapannya terlihat sangat serius dan dalam.

"Surat?" Nurlia semakin penasaran. Jari-jarinya sudah siap untuk membuka lipatan kertas itu saat itu juga di tempat.

Namun, Sulthan segera menahan tangan Nurlia. "Jangan dibuka di sini dulu, Nur. Nanti saja dibacanya pas kamu sudah sampai di rumah," larang Sulthan lembut. "Baca sendirian, tenang, baru kau paham maksudnya. Sekarang jangan dibuka, janji ya?"

Nurlia menatap mata pria itu, lalu mengangguk patuh. "I-iya Tuan... Baiklah, saya baca nanti di rumah saja," jawab Nurlia sambil menyelipkan surat itu dan uang tadi ke dalam saku bajunya dengan sangat hati-hati, seolah itu adalah barang berharga paling mahal di dunia.

"Pintar," puji Sulthan sambil tersenyum tipis.

"Sudah, sekarang kamu boleh pulang. Hati-hati di jalan ya," ucap Sulthan mengizinkan.

"Iya Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu. Selamat menikmati makanan nanti," kata Nurlia sambil membungkuk hormat, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah ringan dan hati yang penuh tanda tanya sekaligus bahagia.

•••

Setelah kepergian Nurlia, Sulthan pun memanggil pelayan lain untuk mencatat pesanannya.

"Mbak, tolong siapkan menu spesial terbaik kalian ya. Nasi campur komplit, sate, sop buntut, dan minumannya es jeruk hangat dan teh tawar," pesan Sulthan lengkap.

"Siap Tuan, ditunggu sebentar ya," jawab pelayan itu sigap.

Sulthan pun duduk santai menunggu makanannya datang. Wajahnya tampak sangat puas dan tenang. Rencananya berjalan lancar. Dia sudah bertemu Nurlia, sudah tahu alamat rumahnya di Jl. Kenjeran Lama, Gang Damai No. 15, sudah memberikan bantuan, dan yang paling penting... surat pernyataan cintanya sudah sampai di tangan gadis itu.

Sekarang tinggal menunggu waktu, apa jawaban yang akan diberikan Nurlia nanti.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
Cimut (Kelinci Imut): Soalnya harus ada proses pendekatan dulu dong, gak tiba-tiba langsung pacaran, nanti kesannya alurnya maksa..
••
Apalagi Nurlia dan Sulthan awalnya orang asing yang belum kenal dekat.🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!