Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kantor Pengacara
Rendra keluar dari ruang kerja beberapa menit setelah suara pintu utama terbuka. Di ruang tengah, Thalia baru saja masuk dengan kotak putih berpita hitam di satu tangan.
Langkah Rendra terhenti. Thalia tersenyum saat netranya menemukan sosok suaminya.
“Kamu sudah pulang?" tanya Thalia.
Tatapan Rendra turun pada kotak di tangan istrinya tanpa menjawab. “Itu apa?”
Thalia menurunkan pandangan, baru sadar Rendra memperhatikan kotak yang ia bawa. “Kue.”
“Kue?”
“Iya.” Thalia berjalan mendekat, mengangkat kotak itu sampai hampir sejajar dengan wajah. “Kue ulang tahunmu. Kamu lupa?"
Rendra terdiam. Kecurigaan yang sejak tadi menegang di dadanya mendadak kehilangan arah. “Jadi kamu keluar untuk ini?”
"Tentu saja." jawab Thalia seraya berjalan menuju meja sembari satu tangannya menarik tangan Rendra.
Ia metelakkan kotak yang ia bawa di meja, membuka pita kotak kue itu perlahan hingga aroma manis kue mangga menguar di udara begitu kotak itu terbuka sempurna.
“Tapi, aku juga bertemu dengan Nyonya Miranda sebentar.” Thalia mengangkat wajah dengan raut yang dibuat hati-hati. “Dia yang merekomendasikan tempat ini. Katanya kue di sana tidak terlalu manis, itu sesuai dengan selaramu kan?”
Rendra menatap tajam istrinya. “Kenapa harus bertemu langsung dengannya?”
“Karena aku tidak yakin pilihan rasanya.” Thalia tersenyum kecil. “Apalagi ini untuk ulang tahunmu, tentu saja aku ingin yang terbaik."
Kalimat itu menyentuh sesuatu yang ingin Rendra dengar. Thalia mengingat ulang tahunnya, dan pergi diam-diam bukan untuk membangkang, melainkan untuk membuat kejutan.
Rendra mengangkat satu tangannya untuk mengusap puncak kepala istrinya. “Kamu tidak perlu repot seperti ini.”
“Mana bisa begitu. Ini kan ulang tahunmu," sambut Thalia.
Untuk beberapa detik, Rendra hanya menatap kue itu dalam diam. Dadanya terasa aneh. Panas yang tadi muncul karena Thalia pergi tanpa izin perlahan berubah bentuk. Bukan hilang sepenuhnya, tetapi tertutup oleh rasa puas yang lebih mudah ia terima.
Tangannya bergerak turun menyentuh pipi Thalia. “Kamu membuatku khawatir.”
Thalia menahan diri agar tidak mundur. “Maaf.”
“Jangan biasakan tidak mengangkat teleponku,” ucap Rendra lagi
“Iya.”
Jawaban itu lembut, patuh, dan hampir seperi dulu.
Rendra tersenyum tipis, lalu menarik Thalia ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Sangat," bisik Rendra di telinga istrinya.
Thalia membeku sepersekian detik, tetapi segera menunduk, membiarkan dirinya berada dalam pelukan itu. Di balik bahu Rendra, matanya tertuju pada pintu ruang kerja yang tertutup.
Di ruangan itu, surat kuasa palsu masih tersimpan. Dan di dalam ponselnya, bukti yang sama sudah berada di tempat aman.
“Terima kasih,” bisik Rendra lagi.
Thalia memejamkan mata sebentar. “Sama-sama.”
Rendra mengira kue itu tanda bahwa istrinya masih ingin memperbaiki rumah tangga mereka.
Ia tidak tahu, kue itu hanyalah penutup manis untuk menyembunyikan langkah paling berani yang sudah Thalia ambil hari ini.
Beberapa saat kemudian, Thalia menarik diri. “Aku akan siapkan teh.”
“Tidak perlu. Aku bisa minta Bu Ratmi,” tolak Rendra lembut.
“Aku saja,” jawab Thalia cepat, lalu tersenyum. “Hari ini biar aku yang menyiapkan.”
Rendra menatap istrinya dengan kepuasan yang semakin jelas. “Baiklah.”
Thalia membawa langkahnya ke arah dapur. Wajahnya tetap lembut sampai ia berbalik dari pandangan Rendra. Baru setelah itu senyumnya perlahan menghilang.
.
.
.
Keesokan paginya, Thalia meninggalkan rumah setelah Rendra berangkat ke kantor.
Maya datang menjemput. Thalia masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara dan duduk di jok penumpang dengan map di pangkuan.
"Kau sudah bawa semuanya?" tanya Maya saat mobil sudah menjauh dari rumah.
Tahlia mengangguk. "Sudah. Semua ada di sini." jawabnya menepuk map di pangkuan.
Maya melirik sekilas, tersenyum. "Bagus."
Di dalam map di pangkuan Thalia, ada beberapa salinan dokumen. Bukti perselingkuhan. Catatan nama Clara pada revisi proyek. Foto surat kuasa palsu yang sempat ia ambil. Dan beberapa potongan percakapan yang selama ini ia simpan diam-diam.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung kantor tidak terlalu besar di pusat kota. Bangunannya tampak sederhana, tetapi setiap arsitektur di bangunan itu seolah mencerminkan pemiliknya.
Mereka masuk ke gedung bersama. Lift membawa mereka ke lantai lima, lalu berhenti di depan lorong sunyi dengan dinding berwarna krem. Di ujung lorong, sebuah papan nama terpasang di samping pintu kaca.
Merry & Rekan — Konsultan Hukum.
Ruang tunggu kantor itu tidak besar. Hanya ada dua sofa panjang, meja kaca, dan rak berisi beberapa majalah hukum. Seorang staf menyambut mereka dengan sopan, meminta nama, lalu mempersilakan mereka duduk.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan di sisi kanan terbuka.
Seorang wanita berusia sekitar empat puluhan keluar dari dalam. Rambutnya dipotong sebahu, wajahnya tenang, dan sorot matanya tajam tanpa terasa mengintimidasi.
Dia tersenyum, alisnya sedikit terangkat. “Bu Maya?”
Maya segera berdiri, mengangguk sopan. “Bu Merry.”
Wanita itu tersenyum singkat, lalu tatapannya beralih pada Thalia. “Bu Thalia?”
Thalia menganggu. “Benar.”
“Saya Merry.” Wanita itu mengulurkan tangan. “Silakan masuk.”
Jabat tangan Merry terasa tegas di tangan Thalia. Namun cukup membuat Thalia merasa bahwa wanita di hadapannya bukan orang yang mudah digoyahkan.
Mereka masuk ke ruang kerja Merry. Ruangan itu tertata rapi, dengan meja besar di tengah dan beberapa map tersusun di rak belakang. Tidak ada dekorasi berlebihan. Hanya jam dinding, komputer, dan satu bingkai kecil berisi kalimat sederhana.
-Bukti tidak berteriak. Bukti menunggu waktu yang tepat.-
Thalia menatap kalimat itu beberapa detik sebelum duduk.
Merry duduk di balik meja, membuka buku catatan, lalu menatap Thalia tanpa basa-basi panjang. “Bu Maya sudah memberi gambaran umum. Tapi saya ingin mendengar langsung dari Anda.”
Thalia menggenggam map di pangkuannya. “Dari bagian mana saya harus mulai?”
“Dari yang sangat ingin Anda bicarakan," jawab Merry.
Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih sunyi.
Thalia menarik napas dalam, membuka map, lalu meletakkan beberapa lembar salinan di atas meja.
“Suami saya memakai nama keluarga saya untuk proyek perusahaan. Awalnya saya pikir hanya sebatas membawa nama saya dalam pembicaraan bisnis. Tapi kemarin saya menemukan ini.”
. . . .
. . . .
To be continued...
Hello sahabat pembaca tersayang Author...😘😘
Author cut di sini yaa. Karena akan terlalu panjang kalau dijadikan satu bab... Jangan kabur loh... Karena diri ini tak punya kereta buat ngejar... 😭😭