Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarif Pembersihan di Lantai Delapan Puluh Delapan
Asap tipis berbau belerang dan bubuk mesiu langsung menyeruak masuk begitu pintu kaca tebal di lorong tangga darurat itu hancur berantakan. Tiga figur bertubuh raksasa melangkah masuk dengan santai, seolah-olah lantai delapan puluh delapan Menara Narendra adalah halaman belakang rumah mereka sendiri.
Dua di antaranya memegang senapan otomatis laras pendek yang moncongnya masih berasap. Sementara pria di tengah—si pemimpin dengan tatapan mata sedingin es Siberia—memiliki lengan kanan yang sepenuhnya terbuat dari logam titanium berwarna hitam dop. Jalinan kabel biosiber di lengan itu berdenyut dengan pendaran cahaya merah, mengeluarkan suara mendengung halus yang mengintimidasi.
"Nadia Narendra," pria berlengan logam itu berbicara dalam bahasa Indonesia yang patah-patah, suaranya berat dan serak
. "Volkov Syndicate mengirim salam hangat dari Moscow. Keberuntungan keluargamu berakhir hari ini."
Genta langsung pasang badan. Pria setinggi seratus sembilan puluh sentimeter itu bergeser ke depan Nadia, tangannya bergerak cepat menarik sebuah pistol taktis dari balik jas hitamnya.
"Nona, tetap di belakangku," bisik Genta, matanya tidak berkedip menatap tiga moncong senjata di depannya. Tensi di ruangan itu mendadak jadi begitu tipis hingga suara napas pun bisa terdengar.
Namun, di tengah atmosfer yang siap meledak itu, sebuah suara helaan napas panjang terdengar dari arah meja marmer.
Sruuup.
Nadia dan Genta secara refleks melirik ke samping. Di sana, Kenji malah sedang asyik meneguk sisa air mineral dingin dari botolnya sampai habis. Dia meletakkan botol kosong itu ke meja dengan bunyi plek yang pelan, lalu menepuk-nepuk celana jinsnya yang kotor karena noda pelumas.
"Kalian kalau mau bikin film aksi, jangan di sini dong," kata Kenji dengan nada suara yang teramat santai, seolah-olah dia cuma lagi terganggu oleh kucing liar di bengkel loaknya.
"Debu kacanya kena baju saya semua. Ini jaket satu-satunya yang belum dicuci minggu ini."
Pria berlengan logam dari Volkov Syndicate itu mengalihkan pandangannya ke arah Kenji. Alisnya bertaut. Dia melihat seorang pemuda berwajah kuyu, memakai hoodie pudar, dan memegang sebuah obeng berkarat yang ujungnya sudah agak bengkok. Sungguh sebuah lelucon yang buruk di tengah misi pembunuhan elite.
"Singkirkan kecoa ini,
" perintah si pemimpin dingin kepada anak buah di sebelah kirinya.
Salah satu algojo bertubuh besar langsung mengarahkan moncong senapan otomatisnya ke kepala Kenji tanpa ragu. Jarinya mulai menarik pelatuk.
"Kenji, awas!" teriak Nadia, refleks ingin menarik pemuda itu.
Namun, Kenji bahkan tidak berkedip. Di balik poni rambutnya yang agak berantakan, sepasang pupil matanya mendadak berkilat dengan pendaran cahaya biru siber yang sangat tipis. Jantungnya berdetak satu kali dengan ritme yang berat, memicu gelombang mikro yang tidak kasat mata dari Bio-Core Zeus di dalam saraf tubuhnya.
Klik.
Kenji cuma menjentikkan jempol dan jari tengah tangan kanannya ke udara.
BZZZZZZT!
Detik itu juga, ruangan terasa seperti dihantam badai magnet tak terlihat. Senapan otomatis di tangan si algojo mendadak mengeluarkan percikan api elektrik yang menyengat tangannya. Sistem pengunci elektronik pada senjata modern itu langsung terkunci total akibat overload arus pendek. Belum sempat si algojo menyadari apa yang terjadi, Kenji sudah bergerak.
Gerakan Kenji tidak terlihat seperti manusia yang sedang bertarung, melainkan seperti bayangan yang meluncur di atas lantai marmer. Dalam satu kedipan mata, Kenji sudah berada di jarak dekat, tepat di depan si algojo pertama.
Plak!
Kenji menghantamkan ujung obeng berkaratnya tepat ke arah pergelangan tangan si algojo. Bukan tusukan mematikan, melainkan sebuah ketukan taktis pada titik saraf biologis yang sudah terintegrasi dengan sensor siber pakaian taktisnya. Arus listrik liar dari Zeus melompat masuk, membuat seluruh otot tubuh pria raksasa itu kaku seketika seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Pria itu tumbang ke lantai dengan mata mendelik, kejang-kejang tanpa bisa mengeluarkan suara.
"Satu," gumam Kenji santai.
Algojo kedua yang panik langsung membuang senjatanya yang mati total dan menarik sebilah pisau taktis militer. Dia mengayunkan pisaunya dengan kecepatan yang sanggup membelah udara, mengincar leher Kenji.
Kenji hanya memiringkan kepalanya beberapa sentimeter ke kiri dengan gerakan yang sangat malas. Sabetan pisau itu meleset tipis. Menggunakan momentum tersebut, Kenji memutar tubuhnya, lalu menyodorkan pangkal obengnya ke ulu hati lawan.
BUM!
Pukulan itu tidak keras, tapi gelombang kejut elektromagnetik yang dilepaskan Zeus membuat sistem saraf pusat si algojo kedua mengalami crash total. Pria raksasa kedua itu langsung muntah cairan bening dan terkapar pingsan dengan tubuh gemetar di atas lantai.
"Dua," kata Kenji lagi, masih dengan nada malas yang sama.
Nadia Narendra yang menyaksikan hal itu dari balik meja marmer hanya bisa membeku dengan mulut sedikit terbuka. Genta, yang merupakan mantan instruktur pasukan khusus, bahkan menjatuhkan pistol di tangannya karena syok. Dia tahu betul arti dari gerakan Kenji tadi. Itu bukan sekadar bela diri. Pemuda itu memanipulasi arus listrik dan bio-energi di sekitarnya seolah-olah seluruh ruangan ini adalah perpanjangan dari tubuhnya sendiri.
Kini, tersisa si pemimpin berlengan logam hitam. Pria Rusia itu melangkah mundur satu langkah, wajahnya yang tadi sedingin es kini dipenuhi rona ketakutan yang luar biasa. Dia menyadari satu hal yang mengerikan. Pemuda di depannya ini bukan manusia biasa. Dia adalah anomali.
"Kau... siapa kau sebenarnya?!" teriak si pemimpin. Lengan logam titaniumnya mendengung keras, mengumpulkan seluruh sisa daya reaktor mini di bahunya untuk menembakkan pukulan berkekuatan hidrolik yang bisa hancur sekelas dinding beton.
"Kan tadi sekertaris bosmu sudah bilang," Kenji berjalan mendekat dengan langkah santai, memutar-mutar obeng berkarat di jemarinya dengan gerakan anggun.
"Saya cuma montir. Dan tugas montir itu... adalah membetulkan barang-barang rongsokan."
Pria Rusia itu meraung, melayangkan pukulan tangan kanan logamnya dengan kecepatan penuh ke arah dada Kenji.
Kenji tidak menghindar. Dia malah mengangkat tangan kirinya yang telanjang, menyambut hantaman tinju logam seberat ratusan pon itu dengan telapak tangan terbuka.
BANG!
Benturan itu menghasilkan suara dentuman yang memekakkan telinga. Nadia memejamkan matanya, mengira tangan Kenji akan hancur berkeping-keping. Namun saat dia membuka mata, pemandangan di depannya justru membuat bulu kuduknya berdiri.
Kenji menahan tinju titanium itu dengan satu tangan telanjang tanpa bergeser satu milimeter pun dari posisinya. Aliran listrik biru siber murni merambat dari telapak tangan Kenji, membungkus seluruh lengan logam si pemimpin Volkov. Suara gesekan logam dan sirkuit yang terbakar mulai terdengar nyaring.
"Teknologi dari Moscow ini agak kasar ya arsitekturnya. Kurang rapi," kritik Kenji sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kecewa.
"Lepas... Lepaskan!" pria Rusia itu menjerit kesakitan saat merasakan saraf biologis di pangkal bahunya mulai dipanggang oleh panasnya data siber Zeus yang memaksa masuk, menghapus seluruh program penggerak mekanis di lengannya.
"Sesuai permintaanmu," ucap Kenji datar.
KRETEK... BOOM!
Kenji meremas tinju logam itu. Detik berikutnya, lengan mekanis canggih seharga miliaran rubel itu meledak dari dalam, hancur menjadi serpihan baut dan kabel yang meleleh. Si pemimpin Volkov terpental ke belakang, menghantam dinding kaca Menara Narendra hingga retak seribu, sebelum akhirnya jatuh terduduk dengan napas tersengal-sengal dan kesadaran yang hampir hilang.
"Tiga. Selesai," Kenji meniup ujung obengnya yang sedikit mengeluarkan asap tipis, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana jinsnya.
Keheningan kembali menguasai lantai delapan puluh delapan. Sirene darurat masih berputar merah, tapi tidak ada satu pun suara yang berani keluar dari mulut Nadia maupun Genta. Mereka menatap tiga unit pemukul elite Eropa Timur yang kini terkapar tak berdaya di lantai hanya dalam waktu kurang dari dua menit, di tangan seorang pemuda yang bahkan belum berkeringat.
Kenji membalikkan badannya, berjalan santai mendekati meja marmer Nadia. Dia mengambil helm motor bebeknya yang tergeletak di sana, lalu menatap langsung ke arah mata Nadia yang masih dipenuhi rasa syok yang mendalam.
"Nona Nadia," panggil Kenji, membuat wanita tangguh itu sedikit tersentak.
"Sesuai kesepakatan awal dengan orang-orangmu di bengkel tadi. Tarif saya sepuluh kali lipat. Ditambah... biaya kompensasi karena baju saya kena debu kaca dan ketenanganku diganggu."
Kenji mengeluarkan selembar kartu ATM usang yang warnanya sudah memudar dari dompet kulitnya yang tipis, lalu meletakkannya di atas meja marmer.
"Transfer ke sini sekarang juga. Saya mau langsung pulang. Kalau kelamaan, tukang mi instan langganan adik saya di dekat kosan keburu tutup."
Nadia Narendra menelan ludahnya dengan susah payah. Pengusaha wanita yang biasanya sanggup mendikte para menteri dan konglomerat itu kini merasa lidahnya mendadak kelu. Dia melirik ke arah Genta, yang hanya bisa memberikan anggukan pasrah dengan tangan yang masih gemetar.
Dengan jemari yang sedikit kaku, Nadia mengambil ponsel privatnya, mengetik beberapa perintah enkripsi tingkat tinggi, dan melakukan transfer kilat ke nomor rekening yang tertera di kartu ATM usang milik Kenji.
Ting.
Ponsel jadul di saku Kenji bergetar pendek. Kenji mengambilnya, melihat layar monokromnya yang menampilkan notifikasi SMS banking dengan angka nominal yang memiliki deretan angka nol teramat panjang di belakangnya.
Kenji tersenyum puas, memasukkan kembali kartu ATM dan ponselnya ke saku.
"Terima kasih atas bisnisnya, Nona Narendra. Saran saya, pecat tim keamanan basemenmu. Kerjanya kurang bersih."
Kenji memakai helm motornya, mengklik
penguncinya dengan bunyi klik yang santai, lalu berjalan melewati pecahan kaca menuju lift privat yang kini pintunya sudah terbuka lebar karena sistemnya telah "dibersihkan" oleh Zeus sejak awal pertarungan.
"Tunggu, Kenji!" panggil Nadia sebelum pemuda itu melangkah masuk ke dalam lift.
"Apakah... apakah Aliansi Hitam global akan berhenti setelah ini?"
Kenji menghentikan langkahnya di ambang pintu lift, namun tidak menoleh ke belakang. Di balik kaca helmnya yang hitam, pandangan matanya tampak menembus batas dinding beton menara, mendeteksi tiga alamat IP dari Eropa Timur yang tadi sempat dia pantau lewat sistem Olympus OS. Mereka sedang bergerak panik menjauhi area pusat kota setelah melihat sinyal kehidupan tim pemukul mereka padam.
"Mereka tidak akan berhenti," jawab Kenji dengan suara yang terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mutlak. "Tapi katakan pada mereka, jika mereka berani mengacaukan Jakarta lagi... aku tidak akan cuma meremukkan lengan logam mereka. Aku akan menghapus seluruh eksistensi faksi mereka dari jaringan dunia dalam satu malam."
Pintu lift privat menutup perlahan dengan bunyi wuss, membawa sang Dewa Siber kembali turun ke dunia bawah yang membumi, meninggalkan Nadia Narendra yang kini tahu bahwa dunia siber internasional baru saja menyaksikan kebangkitan kembali sang penguasa absolut yang sesungguhnya.