"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Magnet yang Kehilangan Daya
Magnet yang Kehilangan Daya
Sore itu, suasana di kafetaria kampus yang mulai sepi jadi saksi betapa kerasnya usaha Bella untuk menarik kembali perhatian Raka. Bella merasa seperti sedang memeluk gunung es; dingin, keras, dan tak tersentuh.
"Rak, kamu kok dari tadi liatin HP terus sih? Liat aku dong," rengek Bella dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat.
Bella menggeser kursi plastiknya hingga benar-benar menempel pada kursi Raka. Dia mulai melancarkan serangan "mautnya". Tangan Bella yang lentur merayap masuk ke bawah kaus Raka, mengusap punggung suaminya—eh, calon suaminya itu—dengan gerakan melingkar yang seharusnya memicu gairah.
"Kamu wangi banget hari ini, aku suka..." bisik Bella tepat di telinga Raka.
Bella tidak berhenti di situ. Dia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang garis rahang Raka, lalu turun ke leher. Tangannya yang lain sengaja meraba paha Raka, memberikan remasan-remasan kecil yang cukup berani di tempat umum. Bella bahkan sengaja membuka satu kancing kemejanya sendiri, lalu menarik tangan Raka agar menyentuh pinggangnya yang terbuka.
"Rak... kamu nggak kangen sama aku?" tanya Bella, suaranya parau, matanya menatap Raka dengan tatapan lapar.
Raka hanya diam. Tubuhnya memang ada di sana, tapi pikirannya sedang memutar ulang kejadian di ruang fotokopi bersama Arum semalam. Saat Bella mencium lehernya, Raka malah membayangkan itu adalah bibir Arum. Saat Bella meremas pahanya, Raka malah teringat gesekan kaki Arum di bawah meja.
"Eh... iya Bel, kangen kok," jawab Raka datar. Dia mencoba membalas ciuman Bella, tapi gerakannya kaku, hambar, seperti robot yang kekurangan oli. Tidak ada setruman, tidak ada gairah, tidak ada "basah-basahnya".
"Kok gitu doang sih balasnya? Kamu sakit?" Bella mulai kesal. Dia menarik diri, wajahnya memerah karena frustrasi. "Aku udah dandan cantik, aku udah kasih kode segini banyak, kamu malah kayak patung! Kamu sebenernya masih sayang nggak sih sama aku?!"
"Sayang kok Bel, cuma... aku lagi banyak pikiran soal tugas," bohong Raka. Dia bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa sentuhan Bella yang dulu bikin dia melayang, sekarang malah kerasa "berisik" dan mengganggu?
Bella menghentakkan kakinya. "Terserah! Aku mau ke toilet dulu. Awas ya kalau aku balik kamu masih bengong!"
Di Gerbang Depan Kampus - Pukul 17.30
Sementara itu, Tiara sedang berdiri dengan gelisah di dekat gerbang. Dia sudah memakai parfum paling mahal yang dia punya. "Duh, Mas Misterius gue udah mau nyampe," gumamnya sambil terus berkaca di layar HP.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik—yang sangat familiar bagi keluarga Arum—berhenti tepat di depan Tiara. Kaca jendela yang gelap perlahan turun, memperlihatkan sosok pria matang yang sangat berwibawa, memakai kemeja batik sutra yang sangat rapi.
"Hai, Mas—" Tiara membeku. Kalimatnya tertelan bulat-bulat.
"Tiara? Kamu temannya Arum kan?" ucap pria di balik kemudi itu dengan nada kaget yang sama besarnya.
Tiara nyaris pingsan. Jantungnya serasa melompat keluar dari tenggorokan. "B-Bapak?! Maksud saya... Om Wirawan?!"
Pria itu adalah Wirawan, papanya Arum. Pria yang selama ini di chat oleh Tiara dengan panggilan "Mas Misterius" karena profil fotonya yang menggunakan siluet hitam.
"Jadi... selama ini yang kirim-kirim pesan puitis itu... kamu?" Wirawan melepas kacamatanya, menatap Tiara dengan pandangan tak percaya.
"Om... saya... saya nggak tahu kalau itu Om! Di aplikasi kencan itu namanya 'W-Shadow'!" Tiara ingin rasanya bumi terbelah saat itu juga. Dia baru saja menggoda ayah dari sahabatnya sendiri selama berminggu-minggu dengan kata-kata yang... aduh, sangat tidak pantas untuk diucapkan pada orang tua.
"Masuk dulu, Tiara. Kita bicarakan ini di dalam. Jangan sampai ada yang lihat, apalagi Arum," ucap Wirawan dengan nada tegas namun ada sedikit nada gugup yang terselip. Rupanya, Papanya Arum pun cukup menikmati "percakapan" itu sebelum tahu siapa sosok di baliknya.
Tiara masuk ke mobil dengan muka yang sudah seperti kepiting rebus. Begitu pintu tertutup, mobil itu langsung tancap gas meninggalkan area kampus.
Di Parkiran - Sudut Lain
Aku berjalan menuju mobilku dengan santai, menenteng tas laptop. Aku melihat mobil Papa baru saja melesat pergi, tapi aku tidak curiga.
"Lho, itu kan mobil Papa? Tumben Papa lewat sini? Mungkin mau jemput Mama di mall deket sini kali ya," gumamku tanpa rasa curiga sedikit pun. Aku sama sekali tidak tahu kalau di dalam mobil itu, sahabat sengklekku sedang gemetar hebat karena baru saja "terciduk" hampir mengencani Papaku sendiri.
Aku masuk ke mobilku, lalu melirik ke arah kantin. Aku melihat Raka sedang duduk sendirian dengan wajah frustrasi, sementara Bella berjalan menjauh dengan muka cemberut.
Aku tersenyum licik. "Kasihan ya Raka... makin digoda Bella, malah makin keinget gue. Kayaknya gue harus kasih 'suplemen' lagi nih biar dia makin nggak bisa tidur."
Aku mengambil HP-ku, lalu mengetik pesan singkat ke Raka.
Arum: "Rak, tadi gue liat Bella nyium lo di kantin. Kasihan Bella, dia kayak lagi nyium batu nisan ya? Dingin banget. Mau gue angetin nanti malem lewat video call?"
Aku melihat dari kejauhan Raka langsung tersedak air minumnya saat membaca pesanku. Dia celingukan mencari keberadaanku, tapi aku sudah lebih dulu menyalakan mesin mobil dan pergi sambil tertawa puas.
Hari ini benar-benar penuh kejutan. Bella yang zonk, Tiara yang kena 'jackpot' Papa, dan Raka yang makin basah kuyup karena paranoia. Dunia memang sebercanda itu
jngan y thor