Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — AKU TIDAK AKAN HANCUR LAGI
Hujan turun deras sepanjang jalan.
Wiper mobil bergerak cepat.
Tapi tetap saja pandanganku buram.
Entah karena hujan…
atau karena air mata yang terus jatuh tanpa izin.
Tanganku masih menggenggam setir terlalu kuat.
Sampai jemariku terasa sakit.
Tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding yang sekarang memenuhi dadaku.
Arkan berbohong.
Tidak.
Lebih tepatnya—
dia menyembunyikan sesuatu.
Dan entah seberapa besar bagian dirinya terlibat…
tetap saja namanya ada di sana.
Di dokumen yang menghancurkan hidupku.
Aku tertawa kecil.
Pahit.
Lucu ya…
musuh paling berbahaya ternyata bukan orang yang jelas-jelas membencimu.
Tapi orang yang membuatmu merasa aman…
lalu menjatuhkanmu saat pertahananmu hilang.
Mobil berhenti mendadak di pinggir jalan.
Aku menunduk.
Napas mulai berat.
Kepalaku kacau.
Sial.
Kenapa sesakit ini?
Bukannya aku memang sudah siap dikhianati?
Bukannya sejak awal aku tahu tidak ada siapa pun yang benar-benar bisa dipercaya?
Tapi kenapa…
kenapa bagian ini terasa berbeda?
Karena aku mulai mencintainya lagi.
Kesadaran itu menghantamku lebih keras dari apa pun.
Dan aku langsung membenci diriku sendiri.
“Brengsek…”
Bisikku pelan.
Aku memukul setir sekali.
Keras.
Lalu buru-buru menghapus air mata.
Cukup.
Aku tidak akan menangis lagi karena laki-laki itu.
Ponselku terus bergetar dari tadi.
Nama Arkan muncul lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Aku langsung mematikan ponsel.
Sunyi.
Hanya suara hujan.
Dan di tengah semua
kekacauan ini—
satu hal perlahan muncul di kepalaku.
Kalau Arkan benar terlibat…
maka semua ini lebih buruk dari yang kubayangkan.
Artinya—
aku selama ini tidur di samping orang yang ikut menghancurkan hidupku.
Dadaku kembali terasa sesak.
Tidak.
Aku tidak boleh lemah sekarang.
Aku menyalakan mobil lagi.
Melaju lebih cepat.
Aku tidak kembali ke apartemen.
Tidak mungkin.
Aku belum siap melihat wajahnya lagi.
Aku berhenti di sebuah hotel kecil di pusat kota.
Tempat yang jarang diketahui orang.
Setelah masuk kamar—
aku langsung melempar map hitam itu ke meja.
Tatapanku jatuh lagi pada tanda tangan Arkan.
Aku masih berharap ini semua salah.
Masih berharap ada penjelasan yang masuk akal.
Tapi bukti tetaplah bukti.
Aku membuka semua dokumen lagi.
Membaca lebih teliti.
Lebih detail.
Dan semakin aku membaca—
semakin ada sesuatu yang terasa aneh.
“Tunggu…”
Bisikku pelan.
Aku mengambil satu lembar lebih dekat.
Tanggal.
Kode transaksi.
Nama perusahaan.
Semuanya cocok.
Tapi…
ada satu bagian yang janggal.
Tanda tangan Arkan memang asli.
Tapi isi dokumen…
terlihat seperti ditambahkan belakangan.
Aku langsung mengambil dokumen lain.
Membandingkan.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
“Ini… dimanipulasi?”
Aku menyipitkan mata.
Membaca ulang.
Sial.
Kalau aku tidak teliti—
aku tidak akan sadar.
Seseorang sengaja membuat dokumen itu terlihat seperti kesalahan Arkan.
Tapi kenapa?
Kalau memang dia mau dijebak…
berarti ada orang lain yang bermain lebih dalam.
Dan orang itu—
sangat pintar.
Ponsel hotel tiba-tiba berbunyi.
Aku langsung menegang.
“Ya?”
“Maaf mengganggu, Nona.”
Suara resepsionis terdengar gugup.
“Ada seseorang mencarimu.”
Jantungku langsung berdetak keras.
“Siapa?”
“Dia tidak bilang nama.”
Sial.
Aku langsung berdiri.
“Jangan kasih tahu saya di sini.”
Aku memutus sambungan cepat.
Mengambil map.
Ponsel.
Dan—
suara ketukan tiba-tiba terdengar di pintu kamar.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku membeku.
“Alena.”
Napas langsung tertahan.
Arkan.
Tentu saja dia menemukanku.
“Pergi.”
Jawabku dingin.
Sunyi beberapa detik.
“Aku tahu kamu masih di dalam.”
Aku tertawa kecil.
“Hebat. Naluri mantan pengkhianatmu masih bagus.”
Sunyi lagi.
Lebih lama kali ini.
Dan saat Arkan bicara lagi—
suaranya jauh lebih pelan.
“Aku pantas dimarahin.”
Aku langsung memejamkan mata sebentar.
Sial.
Kenapa dia harus terdengar setulus itu?
“Tapi tolong buka pintunya.”
“Buat apa?”
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Aku menatap pintu lama.
Berpikir cepat.
Bagian logisku bilang jangan buka.
Tapi bagian lain…
ingin melihat wajahnya.
Ingin tahu apakah dia benar-benar berbohong.
Aku membenci diriku sendiri.
Perlahan—
aku membuka pintu.
Arkan langsung berdiri di sana.
Basah karena hujan.
Napas berat.
Dan matanya…
terlihat kacau.
Beberapa detik kami hanya saling diam.
Lalu aku berbalik.
“Lima menit.”
Dia masuk perlahan.
Menutup pintu.
Tatapannya langsung jatuh ke map hitam di meja.
“Aku tahu kamu pasti lihat semuanya.”
Aku menyilangkan tangan.
“Dan?”
“Aku memang tanda tangan dokumen itu.”
Dadaku kembali terasa nyeri.
Walau aku sudah tahu jawabannya.
“Tapi aku tidak pernah tahu identitasmu akan dihapus.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu pikir itu mengubah sesuatu?”
Arkan mendekat.
“Buatku iya.”
Aku menatapnya tajam.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku tahu…”
Dia berhenti sebentar.
Rahangnya mengeras.
“…aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.”
Aku langsung memalingkan wajah.
Karena bagian paling menyebalkan dari semua ini adalah—
aku percaya dia.
Dan itu membuatku marah.
“Aku capek terus dibohongi.”
Bisikku pelan.
“Aku juga.”
Aku langsung menoleh.
Tatapan Arkan berubah.
Lebih gelap sekarang.
“Ada sesuatu yang belum kamu tahu.”
Jantungku berdetak lagi.
“Apa?”
Dia mengeluarkan satu amplop dari jasnya.
Meletakkannya di meja.
“Aku baru dapat ini malam ini.”
Aku membuka cepat.
Dan dalam sekejap—
tubuhku langsung menegang.
Foto.
Foto lama.
Foto ayahku.
Dan—
ayah Arkan.
Bersama seseorang yang sangat kukenal.
Ibunya Arkan.
Mereka bertiga berdiri bersama.
Tersenyum.
Seperti keluarga.
“Apa ini…”
Bisikku pelan.
Tatapan Arkan langsung ke mataku.
“Orang tua kita…”
Suaranya rendah.
“…tidak pernah benar-benar bermusuhan.”