NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 7 - SUARA MESIN

...Suara itu tidak berasal dari luar....

...Ia... bangun dari dalam....

...⚙⚙⚙...

Pagi datang seperti biasa. Cahaya matahari menyelinap di antara atap-atap kayu Brakenford, jatuh hangat di atas jalan tanah yang masih basah oleh embun. Asap tipis mengepul dari cerobong rumah-rumah, membawa bau harum roti bakar dan sup yang sedang dimasak. Dari kejauhan terdengar dentingan logam, tanda para penambang sudah mulai bersiap bekerja, persis seperti hari-hari sebelumnya.

Di pos gerbang, jumlah penjaga jauh lebih banyak dibanding biasanya. Tombak yang biasanya hanya disandarkan santai kini sudah dipegang erat. Pandangan mereka tak pernah diam, terus mengamati sekeliling terlalu sering untuk sekadar rutinitas biasa.

Suara bisik-bisik terdengar di antara warga. Tidak ada yang berani mengatakannya secara terang-terangan, tapi setiap orang sama-sama tahu, sesuatu memang sudah berubah.

Di sebuah rumah kecil di bagian pinggir desa, api di perapian menyala dengan tenang.

Mira berdiri di hadapannya, mengaduk isi panci dengan gerakan yang stabil. Wajahnya tampak biasa saja, tapi sesekali matanya melirik ke luar jendela, tepat ke arah lokasi tambang.

“Kalau kau terus diam seperti itu,” ucapnya tanpa menoleh sama sekali, “aku bisa mengira kau tidak berniat makan.”

Di belakangnya, Arven duduk diam di atas kursi kayu. Tangannya bersandar di atas meja, tapi pandangannya kosong, jelas pikirannya sedang melayang ke tempat lain. “Aku tidak lapar,” jawabnya pelan.

Mira sedikit mengangkat alisnya. “Kau selalu lapar.”

“Tidak hari ini.”

Gerakan sendok kayunya berhenti sejenak di dalam panci. “Kau merasakannya juga?” tanya Mira akhirnya.

Arven tidak segera menjawab. Ia ikut menatap ke arah jendela. “Ada yang berubah,” ucapnya. Bukan suara yang ragu, melainkan ucapan yang sudah ia yakini sendiri.

Mira menarik napas panjang perlahan. “Semalam para penjaga bergerak ke mana-mana, banyak orang dibangunkan dari tidurnya. Dan pagi ini, semua orang justru berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.”

Ia lalu menolehkan wajahnya sepenuhnya ke arah Arven. “Dan di tengah semua itu, kau bilang kau tidak lapar.”

Arven bangkit berdiri dengan gerakan pelan. “Aku mau ke tambang.”

Seketika Mira menatapnya dengan pandangan yang serius. “Untuk apa?”

“Astraeus,” jawab Arven singkat. “Sejak kemarin, ada yang tidak beres.”

Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara api yang berderak kecil di perapian.

Mira menatap wajahnya lama sekali. “Kau sendiri yang selalu bilang bahwa mesin itu tidak akan pernah bisa bergerak dengan sendirinya.”

“Aku masih percaya pada ucapan itu.”

“Lalu kenapa nadamu terdengar seolah kau justru ingin membuktikan sebaliknya?”

Arven tidak memberikan jawaban apa-apa lagi. Ia langsung melangkah menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Terdengar suara gesekan dan bunyi logam kecil saat ia membuka kotak peralatannya. Tangannya mulai bergerak sigap, mengambil satu per satu barang yang dibutuhkan, kunci pas, baut pengganti, alat ukur, semuanya disusun rapi di hadapannya.

Lalu... pintu rumah terbuka tanpa diketuk lebih dulu.

“Pagi.” Suara itu terdengar ringan, terasa terlalu santai mengingat suasana desa hari ini.

Liora masuk begitu saja. Di tangannya tergantung seekor burung hutan yang sudah diikat rapi.

Arven melirik sekilas, lalu sedikit mengangkat alisnya, “tumben kau datang pagi sekali.”

Liora mengangkat burung itu ke atas seolah sedang memamerkan barang yang biasa saja. “Ya,” jawabnya santai. “Aku membawakan kalian burung hutan hasil buruanku semalam.”

^^^*gambar buatan AI^^^

Gerakan tangan Mira yang sedang mengaduk sup terhenti sebentar.

Arven menatap burung itu lama, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Liora. “Oh,” katanya pelan. Hanya berlangsung sedetik, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit. “Jadi kau yang membuat satu desa heboh semalam.”

Liora hanya tersenyum lepas. “Hehehe, aku cuma tidak suka kalau tidak tahu.” Baginya hal itu memang sudah menjadi hal yang wajar terjadi.

Mira menghela napas pelan, namun nada bicaranya jelas menunjukkan ia tidak benar-benar marah. “Setidaknya kali ini kau pulang,” gumamnya.

Arven menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Apa kau tidak punya kesibukan hari ini?”

Liora berjalan masuk lebih jauh ke dalam ruangan, lalu meletakkan burung itu di atas meja tanpa perlakuan khusus yang berlebihan.

“Harusnya ada,” jawabnya ringan. “Latihan dengan Ayah.” Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu bersandar ringan di tepi meja kerja milik Arven.

“Tapi sepertinya hari ini semua orang lebih sibuk dari biasanya.”

Arven sedikit mengangkat alisnya.

“Rogan?”

“Di gerbang,” jawab Liora. “Bantu menyiapkan pertahanan.”

Arven mengangguk kecil tanda mengerti.

“Bram?”

Liora mendengus pelan. “Seperti biasa... sibuk dengan suratnya.”

“Surat?”

“Dari orang tuanya di Valtoros,” lanjut Liora. “Madam Elara memberinya kemarin sore. Dia yang bawa.”

Arven terdiam sejenak. Nama itu bukanlah nama yang asing baginya. “Pedagang keliling itu?”

“Iya.”

Suasana menjadi hening sejenak. Dari arah dapur, Mira hanya melirik sekilas namun memilih untuk tidak ikut menyela percakapan mereka.

Arven tidak langsung memberikan tanggapan apa-apa.

“...dan Ayahmu?” tanyanya akhirnya.

Liora hanya mengangkat bahu dengan santai. “Sedang bicara dengan Nan & Nun.”

Arven sedikit mengerutkan keningnya. “Penjaga Madam Elara itu?”

“Iya.” Nada suara Liora kini menjadi sedikit lebih rendah dari sebelumnya. “Empat mata.”

Ia kembali menghela napas pelan, “dan aku yakin itu bukan soal dagang biasa.”

“Siang ini mereka akan meninggalkan Brakenford lagi.” Liora melanjutkan.

“Disaat seperti ini?”

“Ya... karena kondisi desa sudah tidak kondusif lagi, mereka tidak ingin mengambil resiko.”

Ruangan kembali sunyi senyap, hanya terdengar suara api di perapian yang berderak kecil sesekali. Dari luar, kehidupan desa masih berjalan seperti biasa, namun di dalam sini, setiap ucapan yang terucap menggantung di udara. Seolah semua potongan kecil yang ada perlahan mulai mengarah pada satu kenyataan yang sama, meski belum ada seorang pun yang berani menyebutkannya secara terang-terangan.

Akhirnya Liora menepuk badan burung yang ada di meja dengan ringan.

“Ya sudah,” katanya kembali dengan nada santai seolah baru saja tidak membicarakan hal yang berat dan penting. “Aku bawa ini bukan buat dipajang saja.”

Ia mengalihkan pandangan menatap Arven. “Jadi kita makan, atau kau mau terus berpikir sampai lupa kalau dirimu itu lapar?”

Arven tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap burung itu sebentar, lalu berbalik kembali menuju meja kerjanya. Tangannya mulai bergerak lagi, membuka tutup kotak peralatan. Terdengar bunyi kecil saat benda-benda logam saling bersentuhan satu sama lain.

“Aku tidak lupa lapar,” katanya dengan nada datar.

Liora menyipitkan matanya. “Itu jelas terlihat seperti orang yang lupa.”

Ia mengambil kembali burung yang tadi diletakkannya, lalu menggoyangkannya perlahan ke arah Arven.

“Ini burung hutan. Segar. Gratis. Dibawakan langsung.”

Arven tetap tidak menoleh sedikit pun. “Aku tahu itu burung.”

“Dan kau tetap tidak tertarik?” tanya Liora.

“Aku tertarik,” jawab Arven dengan tenang. “Hanya saja tidak sekarang.”

Liora menghela napas panjang. “Arven...” Ia meletakkan kembali burung itu di atas meja, kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. “Aku bahkan belum sarapan.”

“Aku juga belum,” jawab Arven.

“Bagus,” kata Liora cepat. “Berarti kita bisa makan sekarang.”

“Nanti.”

Liora langsung menatapnya tajam. “Nanti?”

Ia melangkah mendekat satu langkah, meraih kembali burung itu lalu mengangkatnya lebih tinggi hingga posisinya hampir sejajar dengan wajah Arven. “Kalau kita bakar sekarang, ini bakal enak.”

Akhirnya Arven menghentikan seluruh gerakan tangannya. Ia pun menghela napas. “...Liora.”

“Apa?”

“Aku lagi serius.”

Liora terdiam sejenak. Sesaat kemudian bibirnya mengerucut. “Serius, serius, serius...”

Ia berjalan menuju kursi lalu duduk di sana sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. “Kau selalu begitu kalau sedang bekerja.”

Ia menatap Arven dengan ekspresi yang sedikit kesal. “Padahal aku datang mau makan bareng.”

Suasana kembali hening sejenak. Arven tidak segera bergerak. Tangannya masih berada di dalam kotak peralatan, namun kini ia berhenti mencari apa-apa lagi. Lalu dengan gerakan perlahan, ia menutup kembali tutup kotak itu.

“...baiklah.”

Seketika Liora langsung menegakkan tubuhnya. Alisnya terangkat, tatapannya dipenuhi rasa curiga. “Baiklah yang bagaimana?”

Arven berdiri dari tempatnya. Ia mengambil sebuah kunci logam kecil yang tergeletak di atas meja, lalu menggenggam benda itu dengan erat.

“Kau tadi bilang tidak suka tidak tahu, kan?”

Liora tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan berubah menjadi lebih fokus.

“Iya.”

Arven berjalan menuju arah pintu. Langkahnya tidak tergesa-gesa, namun terasa mantap dan pasti. “Aku mau ke tambang.”

Kalimatnya terdengar sederhana, namun cukup untuk membuat suasana di dalam ruangan berubah seketika.

Liora pun berdiri perlahan. “...sekarang?”

Arven hanya mengangguk kecil. “Ada yang tidak beres dengan Astraeus.”

Sejak tadi hanya diam mendengar, Mira akhirnya menolehkan wajahnya sepenuhnya. “Arven?”

“Aku cuma mau memastikan, Bu,” potong Arven. Suaranya tidak keras, namun tegas dan tak terbantahkan.

Ia membuka daun pintu lebar-lebar. Cahaya matahari pagi langsung masuk menerangi seluruh isi ruangan, dan bersamaan dengan itu terdengar kembali suara dari luar desa, suara kehidupan yang terdengar ramai, bergerak, dan tampak begitu normal.

Namun...

“Arven.”

Langkahnya langsung terhenti. Ia menoleh ke belakang.

Mira masih berdiri di dekat perapian, tangan masih memegang sendok kayu. Wajahnya tampak tenang seperti biasa, tapi tatapannya hari ini terasa berbeda. Bukan sekadar rasa khawatir, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

“Hati-hati.”

Arven tidak segera menjawab.

“...aku tahu.”

Mira menggeleng pelan. “Tidak.”

Satu kata saja, diucapkan dengan suara rendah, namun cukup membuat Arven mengerutkan keningnya.

“Kau belum tahu.”

Suasana menjadi hening sejenak. Liora melirik ke arah keduanya, alisnya sedikit terangkat. Nada bicara seperti ini bukanlah hal yang biasa keluar dari mulut Mira.

Arven menatap ibunya lebih lama dari biasanya. “Apa maksud ibu?”

Mira tidak langsung memberikan jawaban. Pandangannya beralih ke luar ruangan, menatap ke arah kejauhan, ke arah tambang, ke arah sesuatu yang tidak bisa dilihat mata biasa dari tempat mereka berdiri.

“...kadang,” ucapnya pelan, “sesuatu tidak bergerak karena rusak.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “...tapi karena menunggu waktu yang tepat.”

Udara terasa berat. Kalimat itu menggantung di antara mereka, membawa makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kata-kata.

Arven tidak menyanggah maupun bertanya lagi. Namun jari-jarinya yang menggenggam kunci logam itu semakin mengeratkan genggamannya.

Mira kembali menatap wajah putranya.

“Jangan pulang terlalu malam Nak.”

Nadanya kini menjadi lebih lembut, tapi justru itu yang membuat rasa khawatirnya terasa semakin jelas.

Liora mengembuskan napas pendek, lalu tersenyum tipis. “Kalau dia lupa waktu, aku yang akan menyeretnya pulang, Bibi.”

Mira menoleh ke arahnya. “Pastikan kau juga ikut pulang.”

“Selalu,” jawab Liora santai.

Arven menggeleng kecil. Kali ini senyumnya tidak setenang biasanya. “Tenang saja.”

Ia berbalik badan, lalu melangkah keluar sepenuhnya. Cahaya matahari pagi langsung menyinari jalanan di hadapan mereka.

Setelah keluar, Arven baru berhenti lagi. Ia menatap lurus ke arah utara.

“...aku merasakannya sejak kemarin,” ucapnya pelan.

Bukan ditujukan pada siapa-siapa, lebih seperti ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Liora bergerak mendekat, lalu ikut memandang ke arah yang sama.

“...yang memanggil?” tanyanya.

Arven menggeleng pelan. “Bukan.”

Ia terdiam sebentar. “...lebih seperti,” lanjutnya dengan suara rendah, “suara yang... mencoba merespon.”

Liora menyipitkan matanya. Ia belum sepenuhnya mengerti maksud ucapan itu, tapi ada satu hal yang ia yakini, Arven tidak sedang bercanda.

Ia hanya mengangkat bahu dengan santai. “Baiklah.”

Lalu seperti biasa, ia kembali mengangkat burung yang dibawanya tadi. “Tapi setelah ini...” Ia mengarahkan burung itu tepat ke hadapan Arven. “...kita tetap makan.”

Arven menatapnya dalam beberapa detik, lalu akhirnya tertawa kecil. “Deal.”

Liora tersenyum puas. “Bagus. Karena aku tidak mau buruan semalam jadi sia-sia cuma gara-gara kau lagi sok misterius.”

“Ini bukan misterius.”

“Semua yang kau lakukan di bengkel itu misterius.”

“Karena kau tidak pernah mau belajar.”

“Karena kau selalu menjelaskannya dengan cara membosankan.”

Arven kembali menggelengkan kepalanya.

“Sudah, ayo.”

Keduanya pun mulai berjalan meninggalkan rumah itu, menuju arah yang sama.

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
Muqimuddin Al Hasani
ini mah benar terinspirasi dari lord of the ring, yang satu panah yang satu gada
alicea0v
"Aliceee!!!" teriak Xena histeris. "Ada penduduk sebelah mau matiii!!" wanita penyihir itu berlari memutar panik, disetiap langkahnya membuat debu mengepul ke udara.

Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.

"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.

"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)
alicea0v: 🤣🤣🤣🤣 aku ngakak sumpah..
total 2 replies
alicea0v
sabar-sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!