NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan yang Tertunda, Luka yang Belum Selesai

Udara pagi akhir pekan terasa lebih sejuk dari biasanya.

Setelah dipaksa berganti pakaian oleh Naira yang tidak mau menerima penolakan apa pun, Alana akhirnya keluar dari kamar kontrakannya.

Ia kini mengenakan kemeja putih sederhana dan celana jeans panjang yang sudah cukup sering ia pakai.

Rambut panjangnya yang tadi berantakan kini sudah diikat rapi ke belakang.

Meski matanya masih sedikit sembab, setidaknya wajahnya tidak lagi terlihat sesuram tadi.

Naira yang berdiri bersandar di dekat pintu langsung menegakkan tubuh dan mengangguk puas.

"Nah, gini dong. Fresh!" seru Naira.

Alana mendengus pelan. "Lebay lo."

"Daripada tampang lo pas pertama gue buka pintu tadi?"

"Emang kenapa?" tanya Alana sambil merapikan ujung kemejanya.

Naira bersedekap, menatap Alana dari atas ke bawah. "Tadi lo beneran kayak pemeran utama sinetron yang habis dianiaya keluarga jahat. Merana banget."

Alana langsung melotot tajam. "Naira!"

Tawa Bu Ratna langsung pecah melihat interaksi kedua gadis itu. "Sudah, sudah. Naira, jangan digoda terus sahabatmu."

Pak Haris menggeleng geli sambil berjalan memimpin di depan. "Ayo, mumpung jalanan belum terlalu ramai."

Tidak lama kemudian, mereka berempat sudah berada di dalam mobil milik Pak Haris.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, suasana sengaja dibuat santai.

Tidak ada lagi pembicaraan soal Hendra. Tidak ada lagi pembahasan tentang uang modal yang dirampas.

Bu Ratna dan Pak Haris seolah sengaja mengalihkan pikiran Alana dari semua masalah yang membebaninya sejak pagi.

Dan Alana sangat bersyukur untuk itu. Karena jujur saja, ia benar-benar lelah memikirkan semuanya.

Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah makan keluarga yang cukup terkenal di kota mereka.

Begitu turun dari mobil, aroma makanan yang gurih langsung menyambut mereka. Perut Alana yang sejak pagi belum terisi apa pun langsung bergejolak.

Barulah ia sadar kalau dirinya benar-benar lapar.

"Sini," Naira langsung menarik tangan Alana agar berjalan bersisian masuk ke dalam. "Makan sebanyak yang lo mau hari ini. Papa yang bayar."

Alana terkekeh pelan. "Kalau aku habisin satu restoran gimana?"

"Ya syukur. Biar pemiliknya cepat kaya," sahut Naira asal.

Mereka pun memilih meja di dekat jendela yang menghadap ke taman kecil.

Setelah memesan makanan, suasana di meja kembali menghangat.

Naira sibuk membahas gosip-gosip terbaru di kampus, sementara Bu Ratna sesekali menimpali dengan nasihat keibuannya.

Pak Haris sendiri lebih banyak mendengarkan sambil menikmati kopi hitamnya.

Melihat bagaimana hangatnya keluarga ini memperlakukannya, Alana perlahan mulai merasa jauh lebih baik. Ternyata sesederhana ini rasanya memiliki orang yang peduli, batinnya dalam hati.

"Eh iya, Na," Naira mendadak menoleh, menopang dagu dengan satu tangan. "Pak Arsen masih nyebelin nggak di mata lo?"

Alana yang kebetulan sedang meminum air putih langsung tersedak. "Uhuk! Uhuk!"

Bu Ratna langsung tertawa kecil melihat reaksi Alana, lalu menatap putrinya bingung. "Siapa itu, Nai?"

Naira langsung bersemangat, matanya berbinar jenaka. "Dosen killer kampus kita, Ma. Musuh bebuyutannya Alana."

"NAIRA!" potong Alana cepat dengan wajah yang mulai memerah menahan malu.

"Apa? Kan emang bener," bela Naira tanpa dosa.

Alana langsung memejamkan matanya pasrah. Sudah. Selesai hidup gue kalau Naira mulai cerita, keluhnya dalam hati.

Namun, Naira justru semakin semangat bercerita kepada kedua orang tuanya. "Coba Mama bayangin. Ada dosen yang tiap ketemu Alana di kelas, pasti bawaannya nyindir terus."

"Wah, masa?" Bu Ratna terlihat mulai tertarik dengan topik ini. "Kenapa bisa begitu?"

"Karena Alana hobi bikin masalah di kelas dia, Ma!" seru Naira tertawa.

"HEI! Mana ada gue hobi bikin masalah!" protes Alana tidak terima.

Pak Haris sampai ikut menurunkan cangkir kopinya, tertarik dengan perdebatan kedua gadis itu. "Memangnya Alana bikin masalah apa saja, Naira? Coba Papa mau dengar."

Naira langsung mengangkat tangan, menghitung dengan jari-jarinya. "Pernah ketiduran di kelasnya Pak Arsen, terus..."

Alana langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Naira, stop..."

"Terus pernah terlambat juga," lanjut Naira tanpa ampun. "Dan yang paling parah, dia pernah ketahuan gambar karikatur beliau bertanduk di buku catatan!"

Uhuk!

Kali ini bahkan Pak Haris hampir tersedak kopinya sendiri karena menahan tawa. Sedangkan Bu Ratna tertawa sampai matanya sedikit berair.

"Ya ampun, Alana. Kamu nekat juga ya," ujar Bu Ratna di sela tawanya.

Alana rasanya ingin menghilang dari bumi saat ini juga. "Itu... itu cuma salah paham kok, Ma. Pak Arsen-nya aja yang dendam sama aku."

...----------------...

Sementara itu, di tempat lain, suasana sama sekali tidak sehangat meja sarapan Alana.

Di dalam rumah megah milik Arsen, Axel sedang duduk diam di dalam kamarnya.

Sejat kejadian kaburnya sebulan lalu, hidupnya kembali berjalan seperti biasa. Atau setidaknya, terlihat biasa dari luar.

Ia tetap berangkat sekolah tepat waktu, tetap pulang tepat waktu, dan tetap menjalani hari-harinya dalam aksi tutup mulut.

Namun, jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang telah berubah.

Dan perubahan itu, entah bagaimana, berawal dari seorang gadis cerewet pemilik warung ayam geprek bernama Alana.

Sudah satu bulan. Tiga puluh hari. Axel membatin sambil menatap kosong ke arah jendela kamar.

Namun entah kenapa, wajah gadis itu masih sering muncul di kepalanya secara tiba-tiba.

Cara Alana berbicara dengan nada ngegas, cara gadis itu memaksanya menghabiskan makanan, hingga cara Alana mengusirnya dengan ketus.

Semuanya masih terekam sangat jelas di memorinya. Padahal, mereka hanya bertemu dua kali.

Aneh. Kenapa gue jadi sering mikirin dia? pikir Axel, merasa kesal pada dirinya sendiri.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan lamunan panjang Axel.

"Kak."

Suara kecil dari balik pintu membuat Axel mengangkat kepala. "Masuk aja. Nggak dikunci."

Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Elio, adiknya. Anak itu melangkah masuk sambil membawa sebuah mobil-mobilan kecil di dekapannya. Langkahnya terlihat ragu-ragu seperti biasa.

Axel memperbaiki posisi duduknya di tepi kasur. "Kenapa?"

Elio berjalan pelan, lalu memilih duduk di tepi sofa dekat kasur Axel. "Tadi Papa pergi."

Axel hanya mengangguk datar. "Oh."

Bagi Axel, Arsen pergi atau berada di rumah tidak ada bedanya. Rumah ini tetap terasa asing dan dingin bagi mereka berdua.

Elio memainkan roda mobil-mobilannya pelan, menunduk dalam. "Apa Papa... tadi marah-marah lagi sebelum pergi?"

Axel menatap adiknya yang tampak cemas. Anak itu terlalu pintar untuk usianya, ia pasti bertanya karena sempat mendengar suara bentakan Arsen tadi pagi dari arah ruang kerja.

Axel mengembuskan napas pelan, lalu menjawab dengan nada suara yang melembut, "Nggak usah dipikirin. Papa cuma lagi sibuk sama urusan pekerjaannya."

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!