NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Lantai marmer terasa dingin di pipi Seraphina, namun tubuhnya justru dipenuhi panas yang menyiksa. Napasnya tersengal, pendek dan tidak teratur, seolah setiap tarikan udara harus ia rebut dengan sisa tenaga yang semakin menipis. Jari-jarinya bergerak lemah di permukaan lantai, mencengkeram tanpa arah, sementara getaran di tubuhnya belum juga mereda.

Pandangan matanya mulai kabur, tetapi bayangan tiga sosok itu tetap tertangkap jelas. Darius berdiri paling depan, tegak seperti biasa, hanya saja tidak ada lagi kepura-puraan dalam sorot matanya. Kehangatan yang dulu selalu ia kenal kini benar-benar hilang, digantikan ketenangan dingin yang terasa asing dan jauh.

Di belakangnya, Lysandra berdiri dengan kedua tangan terlipat rapi di depan tubuhnya. Wajahnya tetap cantik, tetap tersusun sempurna, tetapi ekspresi itu kini kehilangan kelembutan yang dulu sering ia tunjukkan. Ada sesuatu yang tajam dalam tatapannya, sesuatu yang tidak lagi berusaha disembunyikan.

Kael masih di tempatnya, tidak tergesa, tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia mengamati dalam diam, seolah semua yang terjadi hanyalah bagian dari sesuatu yang sudah ia pahami sejak awal.

Seraphina mencoba mengangkat tubuhnya, namun usahanya gagal. Otot-ototnya seperti tidak lagi merespons, hanya menyisakan rasa berat yang menahan setiap gerakan. Ia terbatuk pelan, suaranya serak dan hampir tidak terdengar.

“Tolong…”

Kata itu keluar seperti sisa harapan yang belum sepenuhnya hilang.

Tidak ada yang bergerak.

Keheningan di ruangan itu terasa semakin tebal, menekan tanpa suara.

Darius akhirnya berjalan mendekat dengan langkah yang tetap tenang. Ia berhenti cukup dekat, lalu menunduk sedikit untuk melihat kondisi Seraphina dengan lebih jelas, seolah memastikan sesuatu yang penting.

“Masih bisa bicara.”

Kalimat itu keluar datar, seperti catatan yang tidak memiliki beban emosi.

Seraphina menatapnya dengan mata yang mulai dipenuhi air. “Kenapa…”

Suaranya pecah, tertahan di tenggorokan yang terasa semakin kering.

Darius tidak langsung menjawab, ia hanya memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya berjongkok. Posisi mereka kini sejajar, namun jarak yang terasa justru semakin jauh.

“Karena ini memang harus terjadi.”

Nada suaranya tenang, tanpa sedikit pun keraguan.

Seraphina menggeleng lemah, berusaha menolak kenyataan yang mulai terbentuk. “Tidak… aku… aku tidak mengerti…”

Darius tersenyum tipis, senyum yang terasa asing di wajah yang selama ini ia kenal. Tidak ada kehangatan di dalamnya, hanya bentuk yang tampak ringan tanpa makna.

“Tidak perlu mengerti semuanya,” katanya. “Tapi kalau kamu ingin tahu, aku bisa menjelaskannya.”

Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata yang ingin ia ucapkan.

“Atau mungkin ini memang waktu yang paling tepat.”

Seraphina menatapnya tanpa berkedip, menunggu dengan perasaan yang semakin berat. Ia tidak yakin ingin mendengar jawabannya, tetapi juga tidak mampu menahan dirinya untuk tidak mencari penjelasan.

Darius berdiri kembali, merapikan jasnya dengan santai sebelum melanjutkan. Gerakannya terlihat biasa, seperti seseorang yang sedang menyelesaikan percakapan ringan.

“Aku sudah lama menginginkan semua ini,” katanya. “Seluruh aset, seluruh kendali. Semua yang selama ini ada atas namamu.”

Setiap kata terdengar jelas, tidak tergesa dan tidak ragu.

Seraphina merasakan sesuatu di dadanya runtuh perlahan. “Kita… kita bisa bicarakan…”

Darius menggeleng pelan. “Kita sudah terlalu lama berbicara, Seraphina.”

Nada suaranya tetap datar, tidak menunjukkan emosi apa pun.

“Aku hanya menunggu waktu yang tepat.”

Seraphina menatapnya, mencoba menemukan sisa kehangatan yang dulu selalu ia yakini ada. “Kamu bilang… kamu mencintaiku…”

Darius tidak langsung menjawab, ia hanya menatap beberapa detik sebelum kembali tersenyum tipis.

“Itu membuat segalanya lebih mudah.”

Kalimat itu jatuh tanpa beban, seolah tidak memiliki konsekuensi apa pun.

Seraphina terdiam, air matanya mulai jatuh perlahan tanpa suara. Rasa sakit di tubuhnya masih ada, tetapi tidak lagi menjadi yang paling terasa.

Di belakang Darius, Lysandra melangkah maju. Gaun putihnya bergerak lembut mengikuti langkahnya, kontras dengan ekspresi wajahnya yang kini sepenuhnya berubah.

“Ibu masih tidak mengerti juga,” ucapnya pelan.

Seraphina menoleh dengan susah payah. “Lysandra…”

Nama itu keluar seperti sisa harapan yang masih ia genggam.

Namun yang ia temui hanyalah tatapan dingin yang tidak memberikan jawaban yang ia inginkan.

“Sejak kecil, ibu selalu mengatur semuanya,” lanjut Lysandra. “Apa yang harus aku pelajari, siapa yang boleh aku temui, bagaimana aku harus bersikap.”

Nada suaranya tidak meninggi, justru terlalu tenang, seperti seseorang yang sudah lama menyimpan semua itu tanpa pernah mengungkapkannya.

“Aku hanya ingin hidup dengan caraku sendiri,” katanya lagi. “Tapi selama ibu ada, itu tidak akan pernah terjadi.”

Seraphina menggeleng lemah, napasnya semakin berat. “Ibu… aku melakukan itu karena ibu ingin yang terbaik…”

Lysandra tertawa kecil, suara itu ringan namun kosong. Tidak ada kehangatan di dalamnya, hanya gema dari sesuatu yang sudah lama berubah.

“Yang terbaik untuk siapa?” tanyanya.

Pertanyaan itu menggantung, tidak membutuhkan jawaban karena jawabannya sudah jelas bagi Lysandra.

“Aku punya ambisi,” lanjutnya. “Aku punya rencana. Tapi ibu selalu menjadi penghalang.”

Tatapannya semakin tajam saat menatap Seraphina.

“Dan sekarang… tidak lagi.”

Setiap kata yang keluar terasa menekan, menambah beban di dada Seraphina yang sudah kesulitan bernapas. Ia mencoba menoleh ke arah Kael, berharap masih ada sesuatu yang berbeda.

“Kael…” suaranya lirih. “Kamu… tidak seperti ini…”

Kael akhirnya berdiri dan berjalan mendekat dengan langkah tenang. Ia berhenti di samping Darius, menatap Seraphina dari atas tanpa perubahan ekspresi.

“Ini bukan soal perasaan,” katanya singkat.

Suara Kael rendah dan stabil, tanpa getaran sedikit pun.

“Ini keputusan logis.”

Seraphina membeku, mencoba memahami kata-kata itu.

“Dengan semua yang ada sekarang, hasil ini adalah yang paling efisien,” lanjutnya. “Tidak ada konflik berkepanjangan, tidak ada pembagian yang merugikan.”

Ia berhenti sejenak, tetap menatap lurus.

“Semua selesai dalam satu langkah.”

Kata-kata itu terasa lebih tajam karena disampaikan dengan tenang. Tidak ada emosi yang melembutkan maknanya.

Seraphina menatap mereka bertiga, satu per satu. Pria yang pernah ia cintai dan anak-anak yang ia besarkan kini berdiri seperti orang asing.

“Aku… aku keluarga kalian…” suaranya pecah.

Darius menghela napas pelan, seolah sedikit lelah.

“Ya,” katanya. “Dan itu membuat semuanya lebih sederhana.”

Seraphina mengerutkan kening, tidak mampu memahami sepenuhnya.

Darius melanjutkan, “Kita tahu rutinitasmu. Kita tahu kebiasaanmu. Kita tahu bagaimana membuat semuanya berjalan tanpa gangguan.”

Jantung Seraphina berdetak lebih cepat, sesuatu dalam kalimat itu terasa salah.

“Bukan hanya hari ini,” tambahnya.

Lysandra tersenyum tipis, kali ini dengan makna yang jelas terlihat.

“Ibu pikir ini pertama kalinya?” katanya.

Dunia Seraphina seakan berhenti.

“Apa… maksudmu…” suaranya bergetar.

Kael menjawab tanpa ragu. “Dosis kecil.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Diberikan secara bertahap.”

Seraphina membelalak, napasnya semakin tidak teratur.

“Beberapa minggu terakhir,” lanjut Kael. “Itu sebabnya ibu sering merasa lelah, pusing, atau kehilangan fokus.”

Potongan ingatan mulai bermunculan, menyatu dengan cepat. Hari-hari ketika tubuhnya terasa tidak enak, malam-malam ketika ia merasa lebih lelah dari biasanya, semuanya kini memiliki arti yang berbeda.

“Ini hanya tahap akhir,” ucap Darius pelan.

Kalimat itu menutup semuanya tanpa sisa.

Seraphina merasakan air matanya mengalir lebih deras. Pandangannya semakin kabur, tetapi wajah-wajah mereka masih terlihat jelas.

Terlalu jelas untuk diabaikan.

“Aku mempercayai kalian…” bisiknya.

Tidak ada yang menjawab, karena tidak ada yang ingin menjawab.

Tangannya bergetar saat mencoba meraih sesuatu, tetapi tidak ada yang bisa ia genggam. Tubuhnya semakin lemah, napasnya semakin tipis.

Namun rasa sakit yang paling dalam tidak berasal dari tubuhnya.

Melainkan dari dalam dirinya sendiri, dari tempat yang selama ini ia isi dengan cinta, kepercayaan, dan harapan.

Semua itu runtuh dalam satu malam.

Seraphina menatap mereka sekali lagi, mencoba menyimpan wajah-wajah itu dalam ingatannya. Namun bukan dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya.

Air matanya jatuh tanpa henti.

Bukan karena ia takut mati.

Bukan karena rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.

Melainkan karena kenyataan yang tidak bisa ia ubah.

Bahwa orang-orang yang paling ia cintai adalah orang-orang yang menghancurkannya.

Tangisnya pecah tanpa suara, sementara tubuhnya terus gemetar di lantai. Perlahan, kekuatan yang tersisa benar-benar menghilang, meninggalkan dirinya dalam keadaan yang semakin lemah di tengah keheningan yang tidak lagi terasa hangat.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!