"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."
Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.
"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."
Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.
"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."
"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."
Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEBAKAN ARSHINTA
Keesokan harinya, ponsel Keyla berdering dengan nada yang tidak dikenali. Ia mengangkatnya dengan hati yang masih terasa ringan setelah percakapan dengan Arsyad kemarin.
"Halo?" sapa Keyla lembut.
"Selamat pagi, Kak Keyla... maaf mengganggu waktu kamu," suara wanita muda terdengar di seberang sana, suaranya sedikit tergesa-gesa dan terlihat cemas. "Saya Arshita, adiknya Arsyad dan Arsenio. Saya butuh bantuan kamu, sangat mendesak!"
Keyla langsung duduk tegak, perasaannya berubah menjadi khawatir. "Arshita? Ada apa? Kenapa terlihat begitu cemas? Ceritakan perlahan."
"Saya sedang berada di hotel di pinggir kota. Saya datang ke sini untuk urusan pribadi, tapi tiba-tiba saya dikurung oleh sahabat-sahabat saya sendiri. Mereka berniat jahat, Kak! Mereka meminta uang dari keluarga, dan kalau tidak saya penuhi, mereka tidak akan melepaskan saya. Saya tidak ada siapa-siapa di sini selain kamu... tolong datang ke sini secepatnya, ya Kak! Saya sudah kirim alamatnya lewat pesan," pinta Arshita dengan suara yang hampir menangis.
Keyla langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari kantor. Ia tidak ragu sedikit pun. Meskipun baru bertemu Arshita beberapa kali, ia tahu Arsyad dan Arsenio pasti membesarkan adiknya dengan baik, dan permintaan tolong yang terdengar sangat mendesak ini tidak bisa diabaikan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, Keyla sampai di hotel yang disebutkan. Ia segera masuk dan menuju ke lantai yang dimaksud. Sesampainya di depan pintu kamar nomor yang diberikan, ia mengetuk pintu dengan cepat.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Tidak ada Arshita yang terlihat cemas, malah tidak ada siapa-siapa di luar kecuali Keyla. Ia masuk ke dalam kamar dan menoleh ke sekeliling, namun tidak ada tanda-tanda ada orang yang mengurung atau situasi yang berbahaya.
"Arshita? Dimana kamu? Tadi kamu bilang dikurung..." tanya Keyla dengan bingung.
Baru saja kata-kata itu terucap, pintu kamar tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Suara bunyi kunci yang berputar terdengar jelas, membuat Keyla semakin bingung dan sedikit cemas.
"Arshita! Apa ini maksudnya? Jangan bercanda seperti ini, ini tidak lucu!" seru Keyla sambil mencoba membuka pintu, tapi pintu tetap terkunci.
Tiba-tiba dari arah sudut kamar, seorang kakek tua yang tidak dikenali muncul. Kakek itu berjalan mendekat dengan langkah yang pelan dan wajah yang terlihat serius, bahkan sedikit menakutkan. Keyla mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang.
"Maaf, Nona Keyla. Ini bukan jebakan yang dibuat oleh Arshita, tapi rencana yang sudah disusun lama," suara kakek itu terdengar berat dan tegas.
"Apa maksudnya? Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Keyla dengan suara yang berusaha tetap tenang meski perasaannya mulai tidak nyaman.
"Saya adalah orang yang dipercaya oleh keluarga besar untuk menjaga rahasia yang tidak boleh diketahui sembarangan. Selama ini, Arsenio dan Arsyad menyembunyikan sesuatu dari kamu. Mereka takut kamu akan merasa terganggu atau sedih, tapi sekarang waktunya untuk kamu tahu," jelas kakek itu sambil terus berjalan mendekat.
Keyla berusaha menjaga jarak, namun tangannya tidak berhenti mencoba membuka pintu yang terkunci. "Saya tidak mau tahu apapun! Tolong buka pintunya sekarang juga! Saya akan memanggil orang dan polisi!"
Kakek itu tidak mempedulikan ancamannya. Ia melangkah lebih dekat, lalu dengan gerakan yang tiba-tiba, ia mendorong Keyla dengan kuat. Karena kaget dan tidak siap, Keyla terjatuh ke arah kasur yang ada di kamar. Ia berusaha bangun kembali, namun kakek itu berdiri di sampingnya dan menatapnya dengan pandangan yang membuatnya merasa tidak aman.
"Kamu harus dengar apa yang akan saya katakan, Nona. Ini demi kebaikan kamu juga," kata kakek itu dengan suara yang semakin berat.
Keyla berbaring di atas kasur, ia berusaha mundur ke belakang sambil menatap kakek itu dengan waspada. Wajahnya terlihat pucat dan matanya berkaca-kaca, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan mengapa semuanya bisa berubah seperti ini hanya dalam waktu singkat.
Di luar kamar, tidak ada suara yang bisa didengar. Hanya keheningan yang menyelimuti seluruh ruangan, dan Keyla hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya sambil berusaha tetap tenang dan mencari cara untuk menyelamatkan diri.