Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Berjanji
Jam enam pagi. Alina yang berjalan kaki dari terminal itu kini sudah hampir tiba di gerbang kompleks perumahan elit tempatnya dulu bekerja. Untungnya jarak antara terminal dan komplek perumahan itu tak begitu jauh.
Penampilannya sudah hampir layak dibilang lusuh. Ditambah lagi wajahnya yang terlihat murung, lelah, dan bengkak. Benar-benar berantakan.
Alina yang menyedihkan menyeberang ke sisi lain jalan raya, tempat dimana gapura tinggi komplek perumahan elit itu berada. Namun saat menyeberang jalan, tiba-tiba...
Tiiiiinnn.....
Ciiiiitt....
Braakk...
Bunyi klakson yang panjang dan memekik mengejutkan Alina yang setengah melamun. Belum sempat ia menoleh sebuah benda keras menghantam kakinya. Gadis itu ambruk. Kepalanya membentur aspal yang keras. Seketika penglihatannya kabur. Obyek pandangnya mulai tak jelas. Kepalanya pusing. Sesuatu serasa merayap di keningnya. Dalam sekejap, mata itu tertutup. Kesadaran itu hilang. Alina pingsan tepat di tengah jalan.
Dia orang pria keluar dari mobil itu.
"Tuan... perempuan Tuan!" ucap pria paruh baya itu, Supri, supir pribadi Vincent Louis Oliver.
Laki-laki gagah tinggi besar itu mengisyaratkan untuk supirnya mendekat. Pak Supri pun menurut. Ia berjongkok di samping gadis malang itu lalu menyingkapkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Alina??!" ucap Pak Supri terkejut.
"Tuan, ini Alina! Mantan pembantu penggantinya si Murni!" lanjut Pak Supri pada Vincent yang berdiri tak jauh darinya.
Vincent mendekat. Ia berjongkok di samping Pak Supri.
"Dia..." batin Vincent.
Laki-laki tertegun melihat gadis desa itu. Gadis polos yang malang. Gadis yang sudah dua kali ia jamah di bawah kendali alkohol. Gadis yang bahkan saat pulang kampung pun ia tak pamitan.
Vincent terdiam. Kenapa gadis ini masih ada di kota ini? Ngapain dia di sini? Dan wajahnya? Kenapa ada memar? Apa yang terjadi padanya?
"Bagaimana, Tuan?" pertanyaan Pak Supri berhasil memudarkan lamunan Vincent.
"Bawa ke rumah sakit sekarang!" ucapnya. Pak Supri pun mengangguk. Ia membopong wanita yang tak sadarkan diri itu masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
..
Beberapa jam kemudian.
Mata itu perlahan mulai terbuka. Kepala itu terasa sangat berat. Tubuhnya terasa sakit semua.
"Ssshh..." Alina berdesis menahan ngilu di sekujur tubuhnya. Dimana ini? Pikirnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sepertinya ini adalah rumah sakit. Tembok putih, lengkap dengan sofa panjang dan tirai hijau khas ruang rawat inap. Tas ransel miliknya juga tergeletak di sana.
Alina mencoba untuk duduk. Sedikit kesusahan karena semua badannya terasa remuk. Disandarkannya tubuh mungil itu. Ia menoleh ke arah jam. Pukul dua siang. Sedangkan di atas nakas jatah makan siang pasien masih belum tersentuh. Alina yang lemah memilih untuk tak memperdulikannya. Ia memejamkan matanya meskipun tak berarti tidur.
Ceklek...
Pintu kamar itu terbuka. Seketika mata itu pun ikut terbuka. Alina menoleh ke arah pintu. Sesosok pria berkemeja putih lengkap dengan celana panjang dan sepatu pantofel muncul dari balik sana.
Itu dia! Vincent Louis Oliver, perampas kehormatannya. Pria yang menjadi tujuannya kembali ke kota itu.
Alina tak bergerak. Vincent mendekat dengan langkah tenang sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Kau sudah bangun?" tanya pria itu. "Kau pingsan. Supri tidak sengaja menabrak mu. Makanya aku membawamu ke sini."
Laki laki itu berdiri di samping ranjang. Ia berbicara dengan sangat tenang selayaknya seorang Vincent Louis Oliver.
Alina tak menjawab. Ia hanya diam dengan hati yang bergejolak tak menentu. Laki-laki itu, Alina melihatnya lagi. Alina bertemu dengannya lagi. Satu-satunya laki-laki yang pernah menyentuh kulitnya. Satu-satunya laki-laki yang ia harap tak pernah lagi ia temui setelah tragedi kedua yang ia alami di rumah pria itu.
Wajahnya tak berubah. Sama seperti ketika ia sedang tidak mabuk dulu. Terlihat gagah, segar, wangi parfum mahal yang terasa nyaman masuk ke dalam rongga hidung Alina. Tak seperti saat pria itu menjamahnya di malam nahas itu. Kacau, bau alkohol, kasar, dan menjijikkan.
"Ku kira kau sudah pulang kampung. Ternyata masih di kota ini? Makan lah! Kau mungkin lapar. Aku akan......."
"Aku hamil!" Suara itu keluar dari mulut Alina. Memotong ucapan Vincent yang tenang. Seolah tidak peduli dengan basa basi yang Vincent lontarkan. Suaranya terdengar dingin dan rendah. Vincent terdiam. Ia menatap wanita dengan wajah lebam dan mata bengkak itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Aku sudah pulang kampung. Aku sudah pernah mencoba menjalani hidup yang normal di sana. Tapi kemudian semua berubah saat aku merasakan ada sesuatu yang salah dalam diriku."
"Aku hamil. Aku tidak tahu berapa usia kandungan ini. Sekarang aku ditinggal pergi oleh pacarku. Aku diusir oleh keluargaku, karena mereka tahu aku akan punya bayi tanpa suami," ucap Alina dengan sorot mata tak lepas dari mata Vincent.
"Lalu?" tanya Vincent. Terlihat tak se-tenang sebelumnya. Ia terlihat tegas.
"Aku sudah tidak punya apapun. Masa depanku hancur. Harapanku musnah. Keluargaku menjauh. Aku tidak memiliki apapun selain nyawaku dan nyawa janin dalam kandunganku. Anakmu!" ucap Alina lagi.
Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Suasana di ruangan itu terasa tak nyaman. Vincent menatap wanita itu diam namun terlihat sangat angkuh di mata Alina.
"Lalu, apa maumu?" tanya laki-laki itu lagi. "Uang? Rumah? Atau apa?"
Alina tersenyum getir. "Uang katamu? Memangnya rumah bisa mengembalikan keperawanan ku?" ucapnya.
"Tidak ada!" lanjutnya kemudian. "Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya sekedar ingin memberitahumu tentang ini. Aku tidak mau dan tidak butuh apapun darimu! Bahkan seharusnya kau tidak perlu menolongku saat mobilmu menabrakku."
Vincent diam. Keputusasaan terlihat jelas dari raut wajah Alina. Bahkan matanya nampak mengembun ketika ia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Untuk beberapa saat suasana nampak hening. Alina menahan tangisnya, sedangkan Vincent hanya diam tanpa menunjukkan reaksi apapun. Hingga...
"Kau mau apa?" tanya Vincent saat Alina bergerak hendak menarik selang infus yang menempel di tangannya. Seolah berusaha melepaskan benda itu dari tubuhnya.
"Aku mau pergi. Aku sudah sembuh!" ucapnya. Vincent meraih tangan Alina, mencegah wanita itu bertindak konyol.
"Jangan bodoh kamu! Kondisimu masih lemah!" ucap pria yang kini duduk di tepi ranjang.
Alina tak menjawab. Ia masih mencoba melepaskan infus itu dengan tenaganya yang tak seberapa. Sedangkan lengan itu masih pegang erat oleh Vincent.
Air di pelupuk mata itu akhirnya jatuh juga. Stress, frustasi, putus asa, kehilangan semangat, sedih, kecewa, marah, semua bercampur jadi satu. Tangis yang sejak kemarin memang sudah sering pecah kini akhirnya kembali meledak. Alina menangis lagi, kini di hadapan Vincent. Sesenggukan. Sesekali meraung-raung tanpa kalimat berarti menandakan betapa remuk redamnya hati Alina yang kotor.
"Lepaskan tanganmu! Jangan bodoh!" ucap Vincent tegas.
"Minggir kamu!" jawab Alina.
"Jangan gila, kau! Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan hal bodoh pada calon keturunanku?! Singkirkan tanganmu!" Vincent menghempaskan satu lengan Alina yang terus mencoba mencabut selang infus itu. Diraihnya tubuh mungil nan malang tersebut, lalu mendekapnya dengan hangat seolah ingin memberikan ketenangan pada gadis malang itu.
"Tenanglah," ucapnya dengan suara yang lebih rendah. Alina menangis. Ia coba berontak namun Vincent memeluknya erat.
"It's okey. Menangislah kalau itu bisa membuat kamu lebih tenang. Nggak apa-apa," ucapnya lembut seraya mengusap-usap punggung dan kepala Alina.
Alina memberikan beberapa pukulan tak berarti ke dada Vincent.
"Ini semua salahmu!" Vincent memejamkan matanya. "Ya, ini salahku. Ini semua karena kebodohanku. Maafkan aku. Jangan sakiti anakku"
Adegan itu terus berlanjut. Vincent berkali-kali mengucap maaf dan mengakui kesalahannya pada Alina. Tangisan itu tumpah seperti menemukan tempatnya. Kemeja yang semula kering itu basah di bagian dadanya. Vincent mendekap erat wanita itu hingga tangisannya mereda.
"Dimana tempat tinggalmu sekarang?" tanyanya kemudian.
Alina yang sesenggukan itu lantas menjauhkan tubuhnya. Tanpa kata-kata ia hanya menggelengkan kepalanya.
Vincent menghela nafas. "Aku akan menepati janjiku. Aku akan bertanggung jawab atas semua yang kulakukan padamu."
"Kau mau aku berbuat apa?" tanyanya lagi. Dan lagi-lagi, Alina tak memiliki jawaban. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Pikirannya seolah sudah buntu. Ia tak tahu harus apa dan bagaimana.
Vincent menghela nafas lagi.
"Baiklah. Untuk sementara aku akan memberikanmu tempat tinggal. Kau bisa tinggal di apartemenku untuk sementara waktu. Aku akan menjagamu dan memastikan kamu dan bayimu aman dan sehat sampai anak ini lahir."
"Kalau kau tidak menginginkan bayi ini nantinya, maka aku akan merawatnya. Atau jika kamu ingin aku bertemu dengan pacar dan orang tuamu untuk meminta maaf, aku juga akan melakukannya. Tapi tunggu nanti saat kondisimu sudah membaik," ucap Vincent.
"Aku tahu semua ini salahku. Aku tahu kamu begini juga karena aku. Aku akan bertanggung jawab, dan memastikan kamu tidak akan kehilangan apapun karena menanggung hasil dari kecerobohanku."
"Sekarang yang terpenting kamu istirahat dulu. Nanti aku akan meminta dokter kandungan untuk memeriksa kehamilanmu."
"Ingat, jangan terlalu lelah dan banyak pikiran. Walaupun aku salah, tapi aku juga menuntut agar kau menjaga baik-baik calon bayiku. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa karena kesedihanmu. Paham?" pungkas Vincent. Alina mengangguk.
"Bagus! Sekarang istirahatlah. Aku mau keluar sebentar!" jawab pria itu yang kemudian bangkit dari posisinya dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/