Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: UNDANGAN KOTAK DONAT
Setelah kepergian Bianca ke "pembuangan" indahnya di Bogor yang menurut laporan Dimas, wanita itu kini sedang mengeluh karena sinyal ponsel di kebun teh tidak cukup kuat untuk mengunggah reels, Toko akhirnya kembali ke ritme normalnya.
Namun, normal bagi Reihan dan Laluna berarti sesuatu yang sedikit berbeda.
Pagi itu, ruko belum resmi dibuka, tetapi suasana di lantai bawah sudah sangat sibuk. Bukan karena pesanan pelanggan, melainkan karena tumpukan contoh kertas undangan yang menutupi hampir seluruh meja marmer dapur.
"Reihan, ini terlalu formal," keluh Laluna sambil mengangkat sebuah undangan dengan ukiran emas tebal yang beratnya mungkin hampir sama dengan satu loyang donat.
"Ini terlihat seperti undangan pelantikan presiden, bukan pernikahan."
Reihan, yang sedang asyik mencicipi selai stroberi langsung dari wadahnya, mengangkat bahu.
"Kakek Surya yang mengirimkan itu. Dia bilang, pernikahan pewaris Arta Wiguna harus memiliki 'bobot' sejarah."
Laluna meletakkan undangan itu dan menghampiri Reihan. Ia mengambil spatula dari tangan suaminya dan menggunakannya untuk mencolek hidung Reihan dengan sisa selai.
"Tapi ini bukan hanya pernikahan pewaris Arta Wiguna. Ini pernikahan koki 'Khay Bakery'. Aku ingin sesuatu yang terasa seperti kita."
"Sesuatu yang terasa seperti kita?" suara datar Dimas muncul dari balik tumpukan kotak kemasan.
"Apakah itu berarti saya harus mengirimkan undangan dalam bentuk kotak donat dengan QR code di atas lapisan gula?"
Laluna menjentikkan jarinya.
"Dimas! Itu ide jenius!"
Reihan langsung menatap Dimas dengan pandangan tajam. "Jangan beri dia ide-ide aneh, Dimas. Aku tidak mau tamu-tamu kita datang dengan tangan lengket karena memakan undangan mereka sendiri."
Dimas hanya mengangguk sedikit.
"Saya hanya memberikan opsi efisiensi, Tuan. Lagipula, Nyonya Ratna menelepon lagi. Beliau bersikeras agar resepsi dilakukan di London agar relasi internasional kita bisa hadir."
Suasana mendadak hening.
Reihan menatap Laluna, mencoba membaca ekspresi istrinya. London adalah tempat yang penuh kenangan pahit bagi Reihan, dan bagi Laluna, itu adalah dunia yang sangat asing.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" Laluna memecah kesunyian sambil melingkarkan lengannya di leher Reihan, menarik perhatian pria itu sepenuhnya.
"Kita adakan syukuran sederhana di ruko ini untuk teman-teman dekat dan karyawan, lalu kita buat resepsi yang 'sedikit' lebih besar di kebun Bogor untuk keluarga. Soal London... kita bisa ke sana untuk bulan madu saja. Hanya kita berdua, tanpa dewan direksi, tanpa audit, dan tanpa Bianca."
Reihan tersenyum, menarik Laluna lebih dekat hingga kening mereka bersentuhan.
"Hanya kita berdua di London? Itu terdengar seperti rencana pelarian yang sangat manis."
Namun, kemesraan itu terganggu ketika pintu depan ruko terbuka perlahan. Seorang pria muda dengan pakaian santai kaos oblong dan celana kargo masuk sambil membawa ransel besar.
Wajahnya terlihat sangat mirip dengan Laluna, namun dengan versi yang lebih berantakan.
"Permisi... apakah ini toko roti milik Sari Wijaya?" tanya pria itu.
Laluna melepaskan pelukannya dari Reihan, jantungnya berdegup kencang.
"Iya... saya putrinya. Siapa Anda?"
Pria itu tersenyum lebar, memperlihatkan lesung pipit yang identik dengan milik Laluna.
"Aku Bumi. Sepupumu dari desa di Jawa Tengah. Ayahku adalah adik bungsu mendiang ibumu. Kami baru mendengar kabar tentang 'Khay' dari berita di televisi."
Laluna terpaku. Ia tidak tahu ia masih memiliki keluarga dari pihak ibunya yang masih hidup.
Selama ini, ia mengira ia sendirian di dunia ini setelah kakeknya tiada.
"Sepupu?" tanya Reihan dengan nada protektif, meskipun matanya menunjukkan rasa penasaran.
"Iya, Mas CEO," jawab Bumi dengan gaya santai yang membuat Dimas mengernyitkan dahi.
"Aku datang bukan untuk minta saham, tenang saja. Aku cuma disuruh Bapak mengantarkan ini."
Bumi mengeluarkan sebuah bungkusan kain berisi bibit rempah-rempah langka dan sebuah foto tua yang memperlihatkan ibu Laluna sedang menggendong seorang bayi di depan sebuah pohon besar.
Malam harinya, setelah ruko ditutup dan Bumi diizinkan menginap di kamar tamu paviliun belakang, Reihan dan Laluna duduk di balkon studio lantai atas.
Laluna menatap foto tua itu dengan air mata yang mengembang.
"Reihan... ternyata duniaku tidak sekecil yang kukira."
Reihan memeluknya dari samping, menyelimuti bahu Laluna dengan jaketnya.
"Duniamu baru saja menjadi lebih besar, Luna. Dan aku senang kau memiliki lebih banyak orang yang mencintaimu sekarang."
"Tapi Bumi sepertinya sangat... liar," Laluna tertawa kecil mengingat bagaimana sepupunya itu mencoba memakan adonan mentah dan hampir meledakkan mikser karena terlalu bersemangat.
"Dia mengingatkanku pada seseorang," gumam Reihan.
"Siapa?"
"Aku. Versi yang tidak harus memakai jas setiap hari," Reihan mengecup puncak kepala Laluna.
"Besok, mari kita ajak Bumi berkeliling. Dan mungkin... kita bisa memasukkan rempah-rempahnya ke dalam resep baru kita."
Laluna mendongak, menatap mata suaminya yang berkilau di bawah lampu kota.
"Kau tahu, Reihan? Sepertinya resepsi pernikahan kita nanti akan sangat ramai."
"Apapun itu, asalkan kau yang menjadi pengantinnya, aku tidak keberatan jika ada satu desa yang datang," sahut Reihan manis sebelum menarik Laluna ke dalam sebuah ciuman hangat yang menutup hari yang penuh kejutan itu.