Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUPPORT SYSTEM
Tania menangis haru, sebelum jam 6 pagi, dua orang perempuan berbeda usia sudah berdiri di depan pagar, bahkan Salman dari balik pagar rumahnya ikut melihat bidan tersebut datang. Ia tersenyum sembari melambaikan tangan pada Tania, saat membuka pagar.
"Makasih dokter," jawab Tania sembari tersenyum. Salman hanya mengangguk dan memberikan acungan jempol lalu masuk ke rumah. Tania pun mempersilahkan dua orang itu masuk ke rumahnya. Rumahnya memang tampak rapi, tapi belum tersapu setelah baby K datang.
"Terimakasih atas kedatangan Bu Bidan dan Mak E," ucap Tania masih belum percaya bahwa di hari kedua Baby K pulang, sudah ada bantuan dari orang luar. Tadi sudah sempat berkenalan, dan Mak E malah sudah paham tugas yang harus dilakukan. Sedangkan Bu Bidan pun menyodorkan aturan dari rumah sakit terkait bidan home care dan juga pembayaran paket yang telah dipilih Tania. Semua dipelajari dan ada hitam di atas putih.
Mak E, langsung ke dapur sudah dipersilahkan Tania untuk segera membersihkan rumah dan mencuci baju. Beliau sangat cekatan, karena memasak sambil mencuci baju.
Sedangkan Bu Bidan bersama Tania, menuju kamar Baby K, menunjukkan keberadaan bayi cantik itu. Tak lupa, lemari penyimpanan dan barang si bayi.
"Saya itu masih belum bisa handle perasaan kalau sedang menyiapkan ini itu sedangkan Kavya sudah bangun dan menangis, rasanya langsung stres!" ucap Tania curhat pada Bu Bidan yang mulai mengambil printilan baju Kavya sebelum memandikan.
"Wajar, Bunda. Untuk new mom itu belum punya pengalaman, jadi seiring berjalannya waktu akan belajar dengan sendirinya," ucap Bu Bidan ramah. Tania melihat Bu Bidan sangat cekatan, menata semua keperluan lalu air hangat untuk mandi si baby K, setelah selesai Baby K langsung digendong, dan dibasahi kakinya, barulah bayi tersebut bergerak. Tania melihat kinerja Bu Bidan, karena tak selamanya Tania memperkerjakan bidan juga.
Tania juga menceritakan saat dia tak langsung pakaikan diapers, sampai dia menangis, Bu Bidan tersenyum, dan menganggap hal yang wajar bagi ibu baru.
"Bunda mau menyusui sekarang?" tanya Bu Bidan saat urusan memakaikan baju sudah beres. Tania mengangguk.
"Kadang saya merasa peletakan kurang pas, Bu Bid," curhat Tania pada sang ahli. Bu Bidan pun dengan baik hati mengajarkan posisi peletakan yang benar agar Baby K optimal saat menyusu.
"Bibirnya sampai ndoweh ya, Bunda, agar Aerolanya bisa dihisap optimal oleh si dedek," ucap Bu Bidan sembari menatakan posisi yang pas. Tania mengangguk, ia mengingat-ingat, kalau posisi benar, rasanya Baby K menyusu seperti apa. Otak Tania sedang merekam semua.
Prot...prot...prot....
Sedang asyik minum ASI, bunyi dari area bawah Baby K terdengar, Tania langsung tertawa begitu juga dengan Bu Bidan. "Biarkan saja, Bunda. Lanjutkan menyusuinya, nanti kalau sudah Baby K lepas, baru urus diapersnya," Bu Bidan memberikan arahan, agar Tania belajar prioritas mana yang harus dikerjakan.
Tania takjub, setelah kenyang menyusu, Baby K melepas sendiri. Barulah, diapers diurus oleh Bu Bidan, anehnya meski dibersihkan Baby K masih merem, karena perutnya kenyang. Bu Bidan pun memasang bedong, agar Kavya tidurnya semakin tenang karena hangat. Tania merekam semua kinerja Bu Bidan.
"Baby K sudah tidur. Kalau kondisi sudah tenang begini, Bunda bisa mandi, dan makan tak lupa pumping juga!" ucap Bu Bidan mengarahkan.
"Bu Bidan, sebenarnya sebagian besar sudah saya lakukan, cuma karena saya gak tenang akhirnya terasa sangat berat," ucap Tania.
"Ibu muda memang sangat rawan emosinya, Bunda. Memang sangat butuh support system, dari orang terdekat."
Tania tersenyum memaklumi, apa yang dikatakan Bu Bidan sangat benar. Beres ASI, dan Kavya tidur. Giliran Tania mengisi perutnya, sungguh ia bahagia pagi ini. Makanan ada yang masak, cucian sudah dijemur, printilan Kavya sudah disiapkan bu Bidan, tugasnya sekarang hanya pumping.
Ia memotret Mak E dan Bu Bidan yang sedang mengerjakan pekerjaan masing-masing. Support system tak harus dari keluarga. Adanya Mak E dan Bu Bidan telah menjauhkanku dari Baby Blues. Terimakasih semua 😘😘😘.
Mak E cekatan kan, Tan? Pak Yovi mengomentari status Tania.
Cekatan banget, Pak. Terimakasih banyak, saya gak bingung order makanan. Jawab Tania lega.
Pak Yovi membalasnya pun dengan jempol saja. Pumping masih berlangsung, Tania mulai mengecek tokonya, sungguh dia fokus sekali, padahal suara tangisan Kavya tadi sempat terdengar, Bu Bidan sudah stand by dan memberi ASIP yang telah direndam dengan air hangat, Bu Bidan tak memberikan ASIP via dot, melainkan pipet, agar nanti saat DBF tidak bingung puting.
Beres packing, dan menyimpan hasil perahan. Tania menuju ke Bu Bidan dan Kavya yang sedang bergoler di ruang tengah, ternyata Bu Bidan melatih Kavya tummy time.
"Memang sudah boleh ya Bu Bidan?" tanya Mak E sembari menyodorkan es kopyor yang baru saja beliau buat. Tania menatap Bu Bidan juga, penasaran.
"Boleh, Mak E. Bayi baru lahir kan sudah tummy time saat IMD," Tania mengangguk paham, tapi dia tidak merasakan IMD karena Kavya prematur. Bu Bidan pun menjelaskan manfaat tummy time pada newborn, meski tak lama tapi perlu dilatih. Tania tersenyum, ada ilmu baru dari sumbernya yang bermanfaat bagi perkembangan sang putri.
Mak E pun mengangguk saja, cara merawat bayi zaman dulu dengan sekarang tentu berbeda. Dulu anak Yovi yang pertama dipegang langsung Mak E ya dirawat sesuai pengetahuan Mak E, pakai gurita sampai saat imunisasi langsung dibuka oleh sang dokter, Mak E sampai mendengar penjelasan dari dokter langsung, bahaya pakai gurita, bedak tabur untuk area lipatan bayi.
"Terimakasih ya Bu Bidan, hari ini sangat membantu saya. Dagangan saya bisa terkirim, Kavya pun tak banyak menangis juga," ucap Tania saat Bu Bidan beranjak pamit, karena sudah sore.
"Sama-sama Bunda, sudah tugas saya," ucap Bu Bidan ramah. "Saya pamit dulu, dan terimakasih pisang gorengnya," ucap Bu Bidan, karena dibawakan pisang goreng oleh Mak E.
Tania tertawa, saking cekatannya, mulut Tania tak berhenti mengunyah sejak tadi, Mak E selalu di dapur, membuat camilan, meski begitu setrikaan dan baju Kavya pun sudah beres. Sungguh, Tania merasa seperti diratukan dengan kehadiran dua perempuan ini.
"Mak E sudah Mak E, Mak E istirahat dulu," ucap Tania yang sekarang, sedang menyusui Kavya lagi.
"Menyiapkan makan malam dulu, Mbak!" ucap Mak E yang sekarang membuat tumis cumi hitam, dan cah kangkung. Sesuai saran Bu Bidan, menu makanan Tania harus ada sayur dan protein, tidak ada pantangan makanan. Makanya Mak E memasak apa yang ada di kulkas Tania.
"Besok, Mak E bisa belanja ke pasar?" tanya Tania.
"Bisa Bunda, Bunda Tania hanya fokus pada si dedek saja. Urusan rumah serahkan pada saya," ujar Mak E, dan Tania memberikan jempol pada perempuan paruh baya tersebut, tak lupa mengucapkan terimakasih..
buat calista jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan untuk merangkak pun ga bisa thor,,, buat pak dokter carikan jodoh yg lain yg lbh baik dri tania toh ibunya pak dokter jg udh menjauh dri tania kasian klo harus dipaksakan berjodoh dgn pak dokter... sekian terima gajih
GO go Tania semangat