Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sejak kecil, kelahirannya Mita Mahira tak pernah diharapkan. Orang tuanya ingin memiliki anak lelaki, setelah dua anak sebelumnya adalah perempuan. Ketika tahu yang lahir adalah seorang anak perempuan, ayahnya Mita langsung pergi dari rumah sakit, tanpa mau menengoknya lebih dulu.
Masa kecilnya selalu dibandingkan, baik dengan saudara kandung, atau ke anak tetangga. Selalu mendapatkan barang bekas pakai dari kakaknya terdahulu. Ketika ibunya melahirkan adiknya yang perempuan, lagi. Ayah dan ibunya pun menyayangi anak tersebut.
Mita tahu cerita itu dari paman dan bibinya. Bagaimana dulu ia tidak diharapkan. Selalu dipilih kasih, seperti anak tiri. Mita juga pernah berpikir dulu, apakah ia anak angkat atau anak kandung? Karena untuk meminta hal sepele saja, ibu dan ayahnya selalu memberikan yang bekas pakai. Jika beli pun, harus menunggu dirinya merengek sampai sakit.
Kalian jangan heran. Di dunia ini tidak melulu cerita keluarga cemara dan bahagia. Banyak sekali hal yang tidak kita alami tapi justru dialami orang lain. Contohnya kehidupan Mita Mahira.
Ketika beranjak dewasa, Mita ingin kuliah seperti dua kakaknya yang lain. Namun, ia tidak diberikan kesempatan itu, dengan alasan ayahnya akan pensiun dan uangnya untuk si bungsu yang akan masuk sekolah menengah. Mita mengalah dan akhirnya memilih bekerja setelah lulus SMA.
Uang dari bekerja ia gunakan untuk nabung dan kuliah. Saat kuliah ia bertemu dengan Rio. Saat itu Rio sudah memasuki semester akhir dan sudah magang di perusahaan yang kini ia jalani.
Dua tahun bersama, Rio mengajaknya menikah. Saat itu Rio diangkat menjadi seorang pegawai negeri sipil. Mita yang masih bekerja dan kuliah pun, mengiyakan ajakan Rio. Karena saat itu mereka saling mencintai. Atau lebih tepatnya, Mita yang sangat mencintai Rio. Dan salah satu alasan ia menerima pinangan Rio adalah supaya ia segera keluar dari rumah orang tuanya.
"Maaf ya, Mas. Aku terlalu terbuka," ujar Mita saat mereka sedang makan malam.
Adrian menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Aku seneng kamu mau terbuka sama aku soal masalah mu sama Rio. Itu namanya kamu percaya sama aku."
Mita tersenyum, tidak semuanya yang ia ceritakan. Hanya dari bagaimana ia bertemu dengan Rio, lalu alasannya menikah.
"Aku juga nggak nyangka kalau Mas Rio akan melakukan hal itu padaku, setelah reuni waktu itu. Aku sampai nggak bisa nangis, nggak bisa ngomong apa-apa, cuma bisa nyesek dan gemeteran seluruh badan. Aku diceraikan karena aku katanya nggak bisa—hamil." Mita menekan kata terakhir dan menghela napas panjang.
Adrian tersenyum singkat dan ikut menghela napas panjang. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menyenangkan hati perempuan di depannya. Untungnya makanan mereka sudah habis. Kalau belum habis, bisa-bisa selera makan Mita lenyap karena teringat masa lalunya.
"Sejak itu... Aku nggak berani dekat-dekat sama laki-laki." Mita melanjutkan lagi.
"Hmm ... Ternyata gitu. Aku cuma mau bilang, kamu hebat, Ta. Kamu sendirian untuk menyembuhkan luka, nggak berisik sana sini. Aku aja kaget sih, saat kabar itu beredar di kantor. Karena beda divisi sama Rio, aku jarang banget ketemu sama dia. Kalau ketemu juga, nggak pengen ngomong apa-apa. Kalau sekarang, hatimu bagaimana?"
Mita menyesap air minumnya dan tersenyum manis. "Sekarang aku sudah nggak apa-apa. Aku udah menerimanya sebagai takdir, memaafkan untuk ketenangan diri sendiri. Ya... Meskipun memori itu nggak bisa luntur dari otak."
"Iya, kamu bertumbuh dari rasa sakit menjadi lebih tenang. Aku lihat, kamu lebih matang dan... Kalem. Oya, kamu mau tambah makanan apa gitu? Es krim di sini enak. Mau nyoba nggak?"
Sebenarnya perut Mita sudah kenyang. Tapi, mulutnya sulit menolak jika sudah mendengar kata es krim. Ia suka es krim, terutama rasa vanila.
"Boleh, Mas. Vanila ya," ucapnya lagi.
Adrian tersenyum lebar dan langsung memesan es krim vanila untuk Mita juga kopi untuk dirinya sendiri.
Sabtu itu membuat Adrian sibuk, pagi menjemput dan mengantar Mita ke tempat kerja, malamnya pun ia menjemput dan mengajaknya makan malam dulu. Dan momen itulah yang membuat Adrian lebih percaya diri untuk lebih dekat dan mengenal Mita lagi. Ia berusaha hati-hati sebelum benar-benar yakin dengan tujuannya. Karena, ia tidak ingin menyakiti Mita dan membuka trauma masa lalunya.
◉‿◉
Hampir dua Minggu berlalu setelah malam mingguan bersama antara Adrian dan Mita, mereka belum bertemu lagi. Karena Adrian sedang ada perjalanan dinas ke Surabaya dan Semarang. Saat itu pula dimanfaatkan oleh Adrian untuk meyakinkan dirinya, bahwa niat dirinya ke Mita itu apa sebenarnya.
Hingga suatu malam, tepatnya di malam Jum'at pertama, ia bermimpi melamar Mita. Kabar bahagia, bahwa Mita pun menerima lamarannya. Namun, itu hanya mimpi. Lalu, datang lagi, ketika di dua malam terakhir ia di Semarang. Tiba-tiba ia bermimpi sedang berhubungan badan dengan Mita.
Sontak saja Adrian terbangun, ternyata waktu masih menunjukkan pukul tiga subuh. Ia mengusap wajahnya dan lekas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajjud.
Setelah sholat, Adrian beristighfar banyak-banyak.
"Masa iya, Mimpi itu jawaban dari istikharah yang gue jalanin? Astaghfirullah," ucapnya lagi. Kali ini Adrian sambil mengusap dadanya dan wajahnya.
Tidak bisa tidur lagi, ia pun akhirnya menunggu subuh dan matahari terbit. Setelah agak terang, acara sarapan pun dimulai. Adrian turun ke restoran dan sudah ramai rekan kerjanya, termasuk Tiara.
"Pak, sini kosong," ajaknya.
Adrian tersenyum singkat lalu mengambil sarapan dan memilih duduk dengan teman-teman pria yang ada di bagian luar.
Tiara cemberut melihat Adrian justru menjauh darinya.
"Lo kenapa dah, Dri?" tanya Bagas sejawatnya.
"Kenapa apanya?" bukannya menjawab, Adrian malah balik bertanya.
"Itu asisten Lo udah cakep bener, nyiapin kursi buat Lo, eh Lo malah kesini."
"Jadi gue nggak boleh duduk di sini?" Adrian menanggapi dengan datar sambil mengunyah bubur ayamnya.
"CK, bukan gitu. Baper banget nih duda kembang," sindir Bagas. "Lo paham lah maksudnya. Tiara itu lagi nyari perhatian Lo, Dri. Dia kayaknya demen banget sama Lo."
"Biarin aja, itu perasaan dia. Gue nggak bisa kontrol. Perasaan gue ke dia biasa aja," jawab Adrian masih datar.
"Yaelah, itu gue yakin dia mau aja dah diapa-apain sama Lo," sambar Rio yang membawa lontong sayur dan duduk di hadapan Adrian juga Bagas.
"Nyamber aja Lo kaya kompor meleduk." Bagas geleng-geleng. "Otak Lo selangkangan mulu."
Rio cengengesan, "kaya Lo nggak aja! Maksud gue diapa-apain kan bukan berarti mengarah kesitu. Elo aja yang ngeres." Rio menatap Adrian yang sejak tadi menikmati buburnya. "Semalam gue lihat Lo lagi video call sama cewek. Senyam senyum sendiri lagi, cewek Lo? Kenalin dong."
Mendengar dirinya tertangkap basah sedang melakukan video call dengan Mita. Membuat Adrian berhenti mengunyah.
"Masih pendekatan. Doain aja ya," jawab Adrian.
"Oh, jadi beneran Lo udah ada calon?" Bagas ikut penasaran. Suaranya agak keras supaya Tiara yang duduknya tidak jauh dari mereka, bisa dengar.
Adrian mengangguk pelan.
"Siapa, Bro? Orang mana? Cakep nggak? Bohay nggak?" Rio mencecar Adrian.
"Tetangga kok. Adik kelas waktu SMA," jawab Adrian dengan malas.
"Wih, mantep nih! Kerja dimana dia?" Bagas makin penasaran.
Selera makan Adrian menguap karena terus dicecar tanpa ampun oleh kedua temannya. Sebenarnya ia juga bisa langsung menjawab. Tapi, ia akan merahasiakan sampai hatinya benar-benar mantap.
"Pokoknya dia perempuan."
[]