NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Zona Abu-Abu dan Pasivitas Sang Penawar

​Hutan Jati di Lereng Timur Lembah Marapi bukanlah hutan yang diperuntukkan bagi mereka yang bernapas.

​Berbeda dengan rimbunnya hutan pinus yang beraroma getah segar, atau lebatnya Hutan Larangan yang diselimuti kabut dan lumut menyala, Hutan Jati memancarkan aura kematian yang gersang. Pohon-pohon jati yang berusia puluhan tahun menjulang tinggi seperti pilar-pilar krematorium alam. Di musim seperti ini, sebagian besar daunnya yang lebar telah meranggas dan gugur, menciptakan karpet cokelat mati yang menutupi tanah berbatu setebal mata kaki.

​Berjalan di atasnya menciptakan suara gemerisik yang berisik, membuat tidak ada satu pun manusia yang bisa bergerak tanpa suara. Namun ironisnya, kanopi cabang-cabang pohon yang saling berhimpitan di atas sana begitu rapat hingga menghalangi hampir seluruh cahaya matahari, menciptakan sebuah ruang bawah tanah beratap ranting yang terjebak dalam suasana senja abadi.

​Inilah Zona Abu-Abu. Tempat pembuangan. Kanvas kosong yang digunakan oleh kegelapan untuk melukis terornya.

​Dan siang ini, tiga puluh siswa-siswi SMA Nusantara Lereng Marapi berjalan beriringan masuk ke dalam perutnya.

​"Sumpah, aku nggak ngerti apa yang dipikirkan Pak Budi dan kepala sekolah," gerutu Santi sambil menepuk seekor nyamuk besar yang hinggap di lengannya. Gadis berambut ekor kuda itu merapatkan kerah jaketnya. "Tempat ini angker banget, Ra. Anak-anak desa tahu kalau Hutan Jati ini tempat buang jin. Kenapa kita harus observasi tanah di sini coba?"

​Dara yang berjalan di sebelah Santi hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyum tegang yang menyembunyikan kebenaran mematikan. Karena Willem van Deventer yang menginginkannya, San, batin Dara pedih.

​Dara mengenakan celana jins tebal dan jaket wol. Tangan kanannya masuk ke dalam saku, menyembunyikan perban dan gelang akar pasak serigala yang melingkar di sana. Sepanjang perjalanan menembus jalan setapak yang dipenuhi semak berduri, mata Dara terus bergerak liar.

​Ia tahu Bumi dan kawanannya sedang menyisir radius seratus meter di luar sana. Meski tidak terlihat, Dara bisa merasakan getaran sangat halus dari lolongan ultrasonik—komunikasi batin antar Ajag—yang bergaung di udara. Mereka menepati janji.

​Namun, perlindungan yang paling absolut bukanlah yang berada di balik pepohonan. Perlindungan itu berjalan tepat satu langkah di sebelah kanannya.

​Indra Bagaskara tidak mengenakan seragam praktik lapangan seperti murid lainnya. Pemuda itu hanya mengenakan kaus hitam polos yang dibalut oleh jaket denim berwarna gelap. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat, dan matanya yang berwarna hazel menatap ke depan dengan ketajaman yang membuat siapa pun secara otomatis menyingkir dari jalannya.

​Kehadiran Indra di tengah-tengah praktikum ini telah memicu gelombang bisik-bisik dan kebingungan massal di antara teman-teman sekelasnya.

​Pewaris Bagaskara? Ikut ke hutan bersama anak IPA biasa? Begitu narasi yang berputar di kepala mereka. Namun yang paling membuat siswi-siswi berbisik histeris adalah kenyataan bahwa Indra sama sekali tidak memedulikan keberadaan mereka. Pemuda yang biasanya berjalan layaknya dewa yang tak tersentuh itu kini terus memosisikan tubuhnya di sebelah Dara Kirana.

​Setiap kali ada dahan yang menjuntai terlalu rendah, tangan Indra akan terulur lebih dulu untuk menyingkirkannya sebelum dahan itu sempat menyentuh wajah Dara. Setiap kali langkah Dara sedikit gontai karena menginjak batu yang tidak stabil, suhu udara di sekitar mereka mendadak memanas sedetik, bersiap untuk menangkap gadis itu.

​"Ssst, Ra," bisik Santi seraya menyikut lengan Dara pelan. Ia melirik takut-takut ke arah Indra yang berjalan di sisi lain Dara. "Kamu... sejak kapan akrab sama Kak Indra? Maksudku... dia kayak bodyguard pribadimu sekarang."

​Dara menelan ludah, bingung harus menjawab apa tanpa terdengar seperti orang gila. "Kebetulan arah jalan kita sama, San. Nggak ada apa-apa."

​Jawaban itu jelas tidak memuaskan, namun suara ketukan tongkat kayu milik Pak Budi pada batang pohon jati memotong percakapan mereka.

​"Baiklah, anak-anak, perhatian semuanya!" seru Pak Budi, berdiri di atas sebuah gundukan tanah yang cukup lapang di tengah Hutan Jati. Guru paruh baya itu tampak sedikit gugup, terus mengusap keringat di lehernya dengan sapu tangan, padahal udara di sana sangat sejuk. Sesuatu di tempat ini jelas membuatnya tidak nyaman, namun perintah atasan membuatnya tak punya pilihan.

​"Kita akan berhenti di sektor ini," lanjut Pak Budi. "Tugas kalian adalah mengambil tiga sampel berbeda: sampel tanah humus di dekat akar pohon jati, sampel jamur epifit, dan sampel dedaunan yang sedang mengalami dekomposisi. Buat kelompok beranggotakan tiga orang. Jangan menyebar terlalu jauh. Maksimal radius dua puluh meter dari titik saya berdiri. Tiga puluh menit dari sekarang, kumpulkan sampel kalian."

​Kerumunan siswa langsung pecah. Mereka mulai ribut mencari teman kelompok dan mengeluarkan botol-botol kaca serta kantong plastik.

​Santi baru saja membuka mulutnya untuk mengajak Dara, ketika sebuah hawa panas yang sangat mengintimidasi mendadak menyapu punggungnya. Santi menoleh perlahan dengan kaku.

​Indra menatap Santi. Mata pemuda itu tidak memancarkan kemarahan, namun intensitas dominasinya membuat oksigen di sekitar Santi seolah tersedot habis. Pesan tanpa kata itu tersampaikan dengan brutal dan mutlak: Menjauhlah. Gadis ini adalah urusanku.

​Santi menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang. "E-eh... Ra, aku... aku gabung sama kelompoknya Dinda dan Rina aja ya! Mereka kelebihan botol sampel katanya. Kamu... kamu sama Kak Indra aja."

​Sebelum Dara sempat menahannya, Santi sudah berlari terbirit-birit menjauh, bergabung dengan kerumunan siswi lain yang menatap Dara dengan pandangan campur aduk antara iri dan kasihan.

​Kini, hanya tersisa Dara dan Indra. Mereka berdiri sedikit terpisah dari kelompok utama yang berisik membolak-balik dedaunan.

​"Kau menakutinya," tegur Dara pelan, namun tanpa nada marah. Ia justru merasa sedikit lega karena setidaknya Santi berada jauh dari garis tembak jika seandainya pasukan Willem benar-benar menyerang.

​Indra tidak membantah. Pemuda itu memutar tubuhnya, berdiri menghadap Dara dengan membelakangi keramaian murid. Postur tubuh Indra adalah perisai hidup.

​"Temanmu tidak memiliki indra untuk mencium bahaya," jawab Indra dengan suara baritonnya yang berat, mengusir dinginnya udara Hutan Jati. "Ada sesuatu yang salah dengan tempat ini, Dara. Tanah di bawah kaki kita berbau busuk. Mayat hidup kolonial itu mungkin tidak bisa menembus kanopi hutan ini di siang hari untuk menyerangmu secara langsung, tapi dia telah menaburkan racunnya di sini."

​"Racun apa?" Dara mulai merasa tidak nyaman. Insting Pawangnya yang baru bangkit ikut menangkap gelombang energi negatif yang membuat perutnya mual.

​"Willem telah merusak keseimbangan zona buangan ini," mata Indra menyipit, memindai kegelapan di balik pilar-pilar pohon jati. "Siluman-siluman rendah dan binatang liar buangan yang biasanya menghindari manusia... kini mereka kelaparan. Willem sengaja memicu insting membunuh mereka, menggunakan mereka sebagai pion untuk menciptakan 'kecelakaan'."

​Dara mengepalkan tangannya di dalam saku. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau kita hanya berdiam diri di sini tanpa melakukan tugas, Pak Budi akan curiga."

​"Kau lakukan tugas konyolmu itu," Indra melirik ke arah tas kain kecil yang dibawa Dara. "Menunduklah, ambil tanah atau apapun itu. Tapi jangan pernah berjarak lebih dari satu meter dariku. Kau mengerti?"

​Dara mengangguk. Ia berjongkok di dekat akar sebuah pohon jati raksasa yang menonjol dari tanah berbatu. Suara gemerisik daun jati yang kering dan lebar bergema saat ia menyibaknya.

​Indra berdiri menjulang di sebelahnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denimnya. Namun, Dara tahu postur santai itu adalah ilusi. Otot-otot di kaki dan punggung Indra setegang tali busur yang siap melesatkan anak panah.

​Dara membuka sebuah kantong plastik transparan dan menggunakan sekop kecil untuk mengeruk tanah humus. Saat sekopnya menembus lapisan tanah teratas, sebuah bau yang sangat amis menguar, menyerbak ke udara.

​Itu bukan bau kompos. Itu adalah bau darah yang sudah menghitam.

​Di saat yang bersamaan, keheningan yang sangat ganjil tiba-tiba turun menyelimuti Hutan Jati. Suara obrolan dan tawa murid-murid lain yang berada lima belas meter di belakang mereka seolah dikecilkan volumenya secara paksa. Suara gemerisik dedaunan tertiup angin mendadak berhenti.

​Ini adalah The Zone of Silence. Kesunyian absolut yang selalu mendahului terkaman predator mematikan.

​Bulu halus di tengkuk Dara meremang serempak.

​"Indra..." bisik Dara tanpa berani menoleh. Jantungnya berdegup kencang.

​"Tetap di posisimu. Jangan bergerak," balas Indra. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia. Itu adalah geraman tertahan, bergetar di pangkal tenggorokan sang Cindaku.

​Dari balik rimbunnya semak pakis mati di sebelah kiri mereka, yang berbatasan langsung dengan area terdalam hutan yang tak terjamah cahaya, sebuah bayangan merayap keluar.

​Bukan vampir berjas kolonial. Bukan pula manusia.

​Itu adalah seekor Ajag liar. Monster serigala hutan buangan yang bentuk fisiknya jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari yang pernah Dara temui di halaman belakang rumahnya.

​Bulu makhluk itu rontok di banyak tempat, memperlihatkan kulit kemerahan yang dipenuhi borok. Rahangnya memanjang secara tidak wajar, meneteskan air liur hitam pekat yang mendesis saat menyentuh dedaunan mati. Matanya membelalak, berwarna kuning keruh dengan urat-urat darah yang pecah. Ia tidak bergerak dengan kewarasan seekor predator; ia bergerak dengan gerakan patah-patah layaknya boneka rusak yang ditarik oleh benang sihir hitam. Willem telah menyuntikkan darah vampiri nya ke dalam tubuh binatang malang ini, mengubahnya menjadi mesin pembunuh tanpa rasa sakit.

​Ajag liar itu tidak memedulikan puluhan murid yang ada di belakang. Matanya yang mati terkunci sepenuhnya pada Dara. Aroma murni Sang Pawang adalah satu-satunya insting yang tersisa di otaknya yang membusuk.

​Makhluk itu merendahkan tubuhnya, otot-otot di kaki belakangnya menegang, bersiap untuk melenting di udara dan merobek kerongkongan Dara dalam satu gigitan telak.

​Dara terkesiap. Ia refleks melepaskan sekopnya dan mengangkat tangannya yang berbalut perban untuk melindungi wajahnya.

​Namun, sebelum makhluk menjijikkan itu sempat melepaskan pijakannya dari tanah, Indra bertindak.

​Pemuda itu tidak bertransformasi. Ia tidak mengubah kukunya menjadi cakar obsidian, dan ia tidak memperpanjang taringnya. Melakukan hal itu di dekat puluhan mata manusia sama saja dengan bunuh diri massal bagi klannya.

​Indra hanya mengambil satu langkah ke depan, menempatkan tubuhnya persis di antara Dara dan Ajag buangan tersebut.

​Lalu, Indra melepaskan penutup emosinya.

​BZZZZZZZZT!

​Sebuah ledakan aura predator (Alpha Aura) yang luar biasa masif dan terkonsentrasi menyapu udara ke arah depan, seperti gelombang kejut ultrasonik yang tak kasat mata.

​Hawa panas yang mendidih meledak dari tubuh Indra. Bukan panas yang menguap ke udara, melainkan panas tekanan tinggi yang menekan tanah. Dedaunan jati kering yang berada dalam radius setengah meter di depan sepatu Indra mulai mengerut, menghitam, dan mengeluarkan asap tipis, nyaris terbakar oleh radiasi murni dari Sang Harimau Putih.

​Indra menatap Ajag liar yang terinfeksi itu dengan mata hazel-nya yang seketika menyala menjadi warna emas terang.

​Pemuda itu mengembuskan napas panjang melalui hidungnya, menciptakan sebuah dengusan sub-vokal—HHRRNGGGG—suara frekuensi sangat rendah yang hanya bisa dirasakan di rongga dada, bukan di telinga. Itu adalah raungan dominasi absolut dari penguasa tertinggi rantai makanan. Perintah mutlak yang menghancurkan jiwa mangsanya tanpa perlu menyentuh fisiknya.

​Dampaknya pada Ajag liar itu sangat brutal.

​Monster buangan yang tadinya tidak memiliki rasa takut itu seketika lumpuh. Lentingannya batal. Tubuh makhluk itu menghantam tanah dengan keras, bergetar hebat layaknya terkena kejang (seizure). Telinganya terlipat rapat ke belakang tengkoraknya. Suara rintihan dan lengkingan memilukan keluar dari moncongnya yang berbusa. Teror kemurnian dari Sang Raja Hutan telah menembus sihir hitam Willem, menghancurkan sisa-sisa keberanian palsu yang disuntikkan ke dalam nadinya.

​Dengan sisa tenaga yang didorong oleh ketakutan absolut, Ajag buangan itu berbalik arah. Sambil terus melolong ketakutan, ia menyeret tubuhnya yang gemetar kembali ke dalam kegelapan pekat Hutan Jati, berlari secepat mungkin menjauhi zona kematian yang dipancarkan oleh Indra.

​Keheningan yang mencekam kembali pudar, digantikan oleh kembalinya suara tawa dan obrolan dari kelompok murid di belakang, yang sama sekali tidak menyadari bahwa maut baru saja mengintip mereka dari jarak dua puluh meter.

​Indra masih berdiri mematung. Urat-urat di lehernya menonjol, dan uap panas mengepul tipis dari kerah jaket denimnya. Mengeluarkan aura dominasi murni tanpa menyertakannya dengan transformasi fisik membutuhkan pengendalian diri yang luar biasa menyiksa bagi seorang Cindaku, terutama setelah siklus Bulan Baru baru saja berlalu.

​Dara yang masih berjongkok di tanah, menelan ludah dengan susah payah. Kakinya lemas. Kejadian itu berlangsung dalam hitungan detik, namun adrenalinnya telah melonjak hingga ke ubun-ulun.

​Melihat ancaman telah lenyap, Indra menghela napas kasar. Pendar emas di matanya meredup, kembali menjadi hazel manusia. Pemuda itu menunduk menatap Dara. Gurat kekhawatiran melintasi wajah kerasnya.

​Indra berjongkok di hadapan Dara. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya yang besar dan menyentuh sebelah bahu gadis itu, berniat menariknya berdiri dan menjauhkannya dari gundukan tanah berbau darah tersebut.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Indra serak.

​Saat telapak tangan Indra bersentuhan dengan kain jaket wol di bahu Dara, sebuah reaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul.

​Dara memejamkan mata, bersiap merasakan hawa panas ekstrem yang selalu menyertai sentuhan pemuda ini setiap kali emosinya sedang bergolak. Ia mengingat betapa melepuhnya baja bullbar truk itu, dan betapa membakarnya udara di dalam gua batu tempo hari. Indra baru saja mengeluarkan aura mematikannya; suhu tubuhnya pasti sedang berada di titik didih.

​Namun... panas itu tidak membakar.

​Saat tangan Indra mencengkeram bahu Dara, hawa panas mendidih itu seketika mereda dalam sekejap mata. Layaknya secangkir kopi mendidih yang tiba-tiba dituangkan air es ke dalamnya, suhu tubuh Indra anjlok, menyesuaikan diri menjadi kehangatan yang sangat normal, sangat manusiawi, dan luar biasa menenangkan.

​Dara membuka matanya dengan terkejut. Ia menatap tangan Indra di bahunya, lalu mendongak menatap wajah pemuda itu.

​Indra sendiri tampak sedikit tersentak. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap tangannya dengan rasa takjub yang disembunyikannya di balik ekspresi datarnya. Siksaan konstan dari Nafsu Rimba-nya—rasa terbakar yang selalu ia rasakan setiap detik seumur hidupnya—hilang tak berbekas begitu kulitnya merasakan kontak dekat dengan tubuh gadis ini.

​Dara menatap telapak tangannya sendiri yang masih tertutup perban. Segel kelopak bunga itu tidak menyala. Ia tidak mengaktifkan energi Pawangnya secara sadar. Ia tidak melakukan teknik pernapasan untuk 'menjadi es di dasar samudra'.

​Aku tidak melakukan apa-apa, batin Dara, pikirannya berputar cepat mencerna teori baru ini. Kekuatanku... ia bekerja secara pasif? Jika sebelumnya aku harus memaksakan energi untuk memadamkan apinya yang meledak... kini, setelah ikatanku dengannya terbentuk di dalam gua itu, kehadiranku saja sudah cukup untuk mendinginkannya secara otomatis.

​Mereka adalah sirkuit tertutup. Sebuah yin dan yang purba yang akhirnya menemukan pasangannya. Api Sang Harimau tak lagi membakar Sang Penengah; api itu justru mencari perlindungan di dalam dekapan air murninya.

​"Suhumu..." bisik Dara pelan, matanya mengunci tatapan Indra. "Panasmu hilang, Indra."

​Indra menatap gadis itu lekat-lekat. Pemuda itu tidak menarik tangannya dari bahu Dara. Ia justru merapatkan genggamannya, membiarkan ibu jarinya mengusap pelan pangkal leher Dara yang tertutup kerah jaket. Sentuhan itu tidak lagi memancarkan bahaya, melainkan sebuah fiksasi protektif yang begitu intim hingga membuat dunia di sekitar mereka terasa menghilang.

​"Sudah kubilang semalam, Ratu Penengah," jawab Indra dengan suara rendah yang membuat udara di Hutan Jati terasa bergetar, "kau adalah satu-satunya entitas di dunia ini yang membuatku merasa menjadi manusia."

​Tatapan mereka terkunci di antara dedaunan jati yang mengering. Di balik kehangatan sentuhan itu, sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar kutukan darah maupun Perjanjian Kesunyian telah dipatrikan. Sesuatu yang akan menjadi senjata pamungkas mereka, sekaligus titik lemah paling mematikan yang siap dieksploitasi oleh Willem van Deventer dalam peperangan yang akan segera meledak di Lembah Marapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!