NovelToon NovelToon
Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: nita.mamitha

Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Kadang, yang paling sulit bukan melepaskan.

Tapi… belajar hidup tanpa luka yang sama.

Hari-hari setelah keputusan itu terasa berbeda bagi Nara.

Bukan karena hidupnya tiba-tiba berubah menjadi sempurna.

Bukan juga karena semua rasa takutnya hilang begitu saja.

Tapi karena untuk pertama kalinya… ia tidak lagi hidup dalam bayang-bayang masa lalu.

Pagi itu, ia bangun tanpa beban yang sama seperti dulu.

Tidak ada lagi kebiasaan memeriksa ponsel dengan harapan tertentu.

Tidak ada lagi rasa cemas yang datang tanpa alasan.

Ia hanya bangun, menarik napas, dan menjalani hari seperti seharusnya.

Sederhana.

Tapi berarti.

Di kantor, Dina langsung menyadari perubahan itu.

“Kamu beda banget sekarang,” katanya sambil menatap Nara.

Nara tersenyum kecil.

“Lebih baik atau lebih aneh?”

“Lebih tenang,” jawab Dina tanpa ragu.

Nara tidak membantah.

Karena ia juga merasakannya.

Bukan tenang karena tidak merasakan apa-apa.

Tapi tenang karena ia akhirnya menerima semuanya.

Sore itu, seperti biasa, Nara pergi ke kafe.

Bukan lagi karena kebiasaan yang dipenuhi harapan.

Tapi karena ia ingin.

Dan itu perbedaan yang besar.

Saat ia masuk, Arga sudah ada di sana.

Seperti biasanya.

Tapi kali ini, perasaan Nara berbeda.

Ia tidak lagi ragu.

Tidak lagi menahan diri.

Ia hanya berjalan dan duduk di depannya, seperti seseorang yang sudah menemukan tempatnya.

“Kamu sekarang jadi pelanggan tetap,” kata Arga sambil tersenyum.

Nara tertawa kecil.

“Mungkin.”

Percakapan mereka berjalan lebih ringan dari sebelumnya.

Tidak ada lagi ketegangan yang tersisa.

Tidak ada lagi hal yang disembunyikan.

Semua terasa… lebih jujur.

“Kerjaan lagi banyak?” tanya Arga.

“Iya, tapi masih aman,” jawab Nara.

Arga mengangguk.

Beberapa detik hening.

Tapi kali ini, hening itu terasa nyaman.

Bukan karena mereka tidak punya bahan pembicaraan.

Tapi karena mereka tidak perlu terus berbicara untuk merasa dekat.

Dan itu… hal baru bagi Nara.

Sesuatu yang dulu tidak pernah ia rasakan.

“Kalau dipikir-pikir,” kata Nara tiba-tiba.

Arga menatapnya.

“Apa?”

“Aku dulu takut banget sama yang namanya ‘mulai lagi’.”

Arga tersenyum tipis.

“Sekarang?”

Nara mengangkat bahu.

“Masih takut.”

Arga tertawa kecil.

“Jujur.”

“Tapi… sekarang aku nggak lari,” lanjut Nara.

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Arga diam sejenak.

Karena ia tahu… itu bukan hal kecil.

Itu hasil dari proses panjang yang tidak mudah.

“Dan itu sudah cukup,” kata Arga.

Nara menatapnya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi kuat sepanjang waktu.

Ia boleh takut.

Ia boleh ragu.

Tapi ia tetap bisa melangkah.

Malam itu, setelah mereka keluar dari kafe, hujan turun perlahan.

Tidak deras.

Tapi cukup untuk membuat jalanan basah.

“Lari?” tanya Arga sambil tertawa kecil.

Nara menggeleng.

“Enggak. Santai aja.”

Mereka berjalan di bawah hujan kecil itu.

Tidak terburu-buru.

Tidak juga menghindar.

Dan di momen sederhana itu, Nara merasa sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya

ketenangan yang tidak dipaksakan.

Beberapa langkah kemudian, Arga membuka tasnya dan mengeluarkan payung kecil.

“Setidaknya biar nggak kehujanan banget,” katanya.

Nara tersenyum.

“Selalu siap, ya.”

Arga mengangkat bahu.

“Belajar dari pengalaman.”

Mereka berjalan lebih dekat di bawah payung itu.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada momen dramatis.

Tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.

Lebih dekat.

Lebih hangat.

Dan untuk pertama kalinya, Nara tidak merasa harus menjaga jarak.

Ia membiarkan semuanya berjalan.

Apa adanya.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih stabil.

Nara mulai terbiasa dengan kehadiran Arga dalam hidupnya.

Bukan sebagai seseorang yang harus ia miliki.

Tapi sebagai seseorang yang ia pilih untuk kenal lebih dalam.

Mereka mulai berbagi cerita lebih banyak.

Tentang masa lalu.

Tentang keluarga.

Tentang hal-hal yang sebelumnya terlalu pribadi untuk dibicarakan.

Dan di setiap cerita itu, Nara menyadari satu hal

Arga tidak mencoba menjadi sempurna.

Ia hanya menjadi dirinya sendiri.

Dan itu… cukup

Suatu sore, mereka duduk lebih lama dari biasanya.

Kafe hampir kosong.

Hanya ada mereka dan beberapa orang lain.

“Aku boleh tanya sesuatu?” kata Arga.

Nara mengangguk.

“Iya.”

“Kalau waktu itu aku datang lebih dulu…” Arga berhenti sejenak.

Nara menatapnya.

“Kamu pikir, semuanya akan beda?”

Pertanyaan itu membuat Nara terdiam.

Ia tidak langsung menjawab.

Karena ini bukan tentang siapa yang datang dulu.

Ini tentang siapa yang datang di waktu yang tepat.

“Aku nggak tahu,” jawabnya jujur.

Arga mengangguk.

“Jawaban aman.”

Nara tersenyum kecil.

“Tapi aku tahu satu hal.”

Arga menatapnya.

“Apa?”

“Aku ketemu kamu… di waktu aku sudah siap.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat semuanya terasa berarti.

Arga tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum.

Dan di dalam senyum itu, ada sesuatu yang tidak perlu dijelaskan lagi.

Malam itu, saat Nara pulang, ia berdiri sejenak di depan rumahnya.

Menatap langit yang gelap.

Dan tanpa sadar… ia tersenyum.

Bukan karena seseorang.

Bukan karena hubungan baru.

Tapi karena dirinya sendiri.

Karena ia berhasil sampai di titik ini.

Titik di mana ia tidak lagi dikuasai oleh masa lalu.

Tidak lagi takut untuk mencoba.

Dan tidak lagi merasa bahwa ia harus sempurna untuk dicintai.

Ia membuka pintu rumahnya.

Masuk.

Dan sebelum menutupnya, ia sempat berbisik pelan

“Aku baik-baik saja.”

Dan kali ini…

itu benar.

1
Hariyanti
kisah yg TDK biasa menurutku🤔 berat dan butuh renungan. mungkin ini ttg perjalanan orang yang introvert dlm berinteraksi dan menjalin hubungan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!