Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di pinggiran kota Stuttgart, sebuah rumah dua lantai yang dikelilingi taman kecil tampak sunyi di bawah siraman cahaya bulan. Rumah itu milik keluarga Miller, orang-orang yang pernah mengenal Selena sebelum sang dewi bangkit, di masa ketika ia masih menjadi umat manusia biasa
Mereka adalah tetangga, rekan, dan manusia-manusia malang yang menyimpan potongan memori tentang masa lalu Sang Pencipta sebagai makhluk yang rapuh.
Pintu depan rumah itu tidak terkunci. Angin malam yang membawa aroma dingin dan hampa meniup kelambunya saat sosok anggun bergaun putih melangkah masuk tanpa menimbulkan suara tunggal. Selena berjalan menyusuri koridor dan mengabaikan foto-foto berbingkai di dinding yang menampilkan potret dirinya dalam senyuman manusia yang palsu.
Di ruang tengah, Thomas Miller, seorang pria paruh baya yang merupakan kepala keluarga tersebut sedang duduk di sofa sembari membaca laporan berita mengenai The Great Exposure di tabletnya.
Ia tampak gelisah, sesekali memijat keningnya, dan mencoba mencocokkan wajah dewi yang menghancurkan stratosfer dengan wajah gadis yatim piatu yang dulu sering dibantunya.
"Wajah itu sangat mirip," gumam Thomas pada dirinya sendiri.
"Wajah siapa, Thomas?" sebuah suara jernih mendadak menyapa dari kegelapan sudut ruangan.
Thomas tersentak dan hampir menjatuhkan tablet di tangannya. Ia menoleh dan mendapati Selena berdiri di sana. Pancaran energinya diredam, namun keindahan simetrisnya yang tidak manusiawi seketika membuat atmosfer ruangan terasa sangat menekan.
"S-Selena?"
Thomas berdiri dengan lutut bergetar. Rasa takut langsung menyergap sanubari pria itu.
"Kamu, benar-benar kamu? Apa yang terjadi di langit? Berita bilang ...."
"Berita hanya menceritakan apa yang dipahami oleh pikiran fana yang sempit, Thomas," potong Selena lembut dan melangkah mendekat dengan ritme yang begitu konstan. "Aku datang ke sini untuk memberikanmu kedamaian. Kedamaian dari beban ingatan yang tidak seharusnya kamu tanggung."
"Apa maksudmu?"
Thomas melangkah mundur hingga punggungnya membentur sandaran sofa.
Selena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengulurkan tangan kanannya dan membiarkan jemarinya yang pucat mendarat di pelipis Thomas.
Kontak fisik itu instan memicu keajaiban yang mengerikan. Pendar cahaya perak-keunguan yang redup merayap dari ujung jari Selena, menembus tengkorak Thomas dan langsung mengunci simpul-simpul saraf memorinya.
Thomas membeku dan matanya membelalak kosong, menangkap kilasan masa lalu yang mulai ditarik keluar secara paksa dari otaknya. Potret Selena saat memasak di dapurnya, tawa fana yang pernah mereka bagi, dan kesadaran bahwa wanita di depannya adalah monster supernatural semuanya hancur, melebur menjadi abu perak di dalam kesadarannya.
Selena sedang melakukan fragmentasi ingatan global. Untuk menjadi juru selamat di mata kultus barunya, setiap saksi yang mengetahui asal-usul manusianya harus dihapus. Ia tidak bisa membiarkan ada manusia yang mengingatnya sebagai sosok yang pernah gagal, menangis, atau hidup berdampingan dengan kaum fana.
Sejarah tentang dirinya harus dimulai sebagai mukjizat yang turun dari langit bukan dari bumi. Proses itu tidak membunuh raga Thomas, namun membunuh eksistensi masa lalunya. Udara di dalam ruangan itu mendadak dipenuhi aroma yang aneh, aroma yang menyerupai kertas tua yang terbakar bercampur ozon yang pekat. Itulah aroma kematian dari sebuah memori.
Setelah beberapa detik, Selena menarik tangannya. Thomas terhuyung sejenak sebelum akhirnya mengerjapkan mata. Sorot matanya yang tadi dipenuhi ketakutan sekarang berubah menjadi hampa dan tenang, seperti air telaga yang mati.
"Siapa Anda?" tanya Thomas, menatap Selena dengan rasa hormat yang kosong dan sama sekali kehilangan ingatan tentang nama Selena.
Selena memberikan senyum kecil yang terukur.
"Aku adalah ibumu, pelindungmu. Kembali tidurlah, Anakku! Esok hari, dunia akan terasa jauh lebih teratur bagimu."
Thomas mengangguk patuh, seperti sebuah robot yang diprogram ulang, lalu berjalan pelan menuju kamarnya tanpa mempertanyakan kehadiran wanita asing di rumahnya.
Selena berjalan menuju meja tengah dan menatap foto keluarga Miller. Dengan sapuan jarinya di atas permukaan kaca bingkai, bayangan dirinya di dalam foto itu memudar secara magis dan digantikan oleh ruang kosong seolah ia tidak pernah berdiri di sana. Hal yang sama terjadi pada dokumen, catatan digital, dan sisa-sisa pakaian fana yang pernah ia tinggalkan di kota itu.
Semuanya terurai menjadi partikel nano yang lenyap ditiup angin malam.
Pembersihan ini tidak hanya terjadi di rumah keluarga Miller. Di seluruh penjuru distrik, orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya terbangun dalam keadaan linglung, kehilangan sebagian kecil dari fragmen hidup mereka. Selena bergerak seperti wabah tak kasat mata dan menghapus jejak kaki manusianya dari lembar sejarah dunia.
Saat ia melangkah keluar dari rumah itu kembali ke dalam kegelapan malam, ia menatap ke arah utara, ke arah Black Forest di mana ia bisa merasakan riak energi hibrida Joan yang baru saja meledak untuk menyelamatkan Jessy.
Selena tahu Joan sedang berusaha keras menjadi benteng bagi klan serigala dan menjaga kestabilan dengan militer. Namun, Joan tidak memahami bahwa perang ini tidak lagi dimenangkan dengan kekuatan taring atau gelombang elektromagnetik. Perang ini dimenangkan dengan menguasai narasi di dalam kepala umat manusia.
"Berlarilah sesukamu, Joan!" bisik Selena pada angin malam. "Saat kamu selesai mengumpulkan serigala-serigala liarmu, kamu akan mendapati bahwa seluruh manusia di dunia ini telah melupakan siapa dirimu, dan mereka hanya akan mengingatku sebagai satu-satunya alasan mengapa mereka harus tetap hidup."