Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
“Kau yakin mau pulang hari ini?” tanya Anna untuk kesekian kalinya.
“Ya, Ma. Aku ingin bertemu Emi. Lagi pula, kondisi tubuhku juga sudah lebih baik. Dokter bilang, aku bisa pulang hari ini,” jawab Amelia. Ia sudah mengatakan berkali-kali ingin pulang, tapi Anna seperti mencoba menghalangi kepulangannya.
“Apa Mama tidak ingin aku pulang?” tanya Amelia.
“Tentu saja, Mama ingin kau pulang. Hanya saja, Caelan …” Anna menggantung kalimatnya.
“Masih belum mengingatku?” tanya Amelia.
Anna mengangguk. “Dia juga tidak mengingat Emi.”
Amelia menahan tangis. Setiap kali ingat bahwa Caelan tidak mengingatnya dan Emi, Amelia ingin menangis. Bagaimana bisa dari begitu banyak ingatan yang tersimpan di otak Caelan, malah ingatan tentang Amelia dan Emi yang dilupakan?
“Jangan menangis, Sayang.” Anna menyapu air mata Amelia yang mengalir turun di pipi. “Caelan pasti akan mengingatmu.”
Amelia tersenyum. “Karena itu aku harus cepat pulang, Ma,” jawab Amelia optimis. “Semakin sering melihatku, Caelan akan semakin cepat mengingat kembali tentang kami.”
Anna menepuk pipi Amelia dengan sayang. “Kau harus kuat.”
Ya, Amelia harus kuat. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga demi Caelan dan Emi. Amelia akan berusaha mengembalikan keluarga kecilnya seperti semula.
“Baiklah, kalau kau ingin pulang. Bersiaplah, Mama akan urus administrasinya.”
Anna beranjak ke luar kamar. Tidak berapa lama, seorang perawat yang ternyata Marie datang untuk melakukan pemeriksaan terakhir. Infus Amelia dicabut dan setelah Marie menghubungi dokter untuk mengonfirmasi izin pulang Amelia.
Tidak sampai satu jam, Anna dan Amelia sudah berada di jalan menuju ke rumah Keluarga Harrison. Sepanjang perjalanan Amelia menyiapkan diri untuk menghadapi pertemuan dengan Caelan. Di kepala Amelia muncul berbagai skenario, tapi tidak ada satu pun yang sama dengan apa yang Amelia hadapi ketika sampai di rumah.
Amelia menemukan Caelan di ruang anak sedang bermain dengan Emi dan Clara. Lagi-lagi perempuan itu muncul.
“Mama …”
Emi melangkah menghampiri dan langsung mendekap kaki Amelia. Amelia berjongkok dan memeluk Emi.
“Apa kabarmu, Sayang? Mama sangat merindukanmu.”
Karena Emi memanggilnya Mama, Amelia juga mengikuti panggilan itu. Lagi pula, Amelia memang sudah menganggap Emi adalah anaknya, jadi panggilan itu sama sekali tidak masalah.
“Ma-in.” Emi yang berusia 16 bulan sudah bisa mengucapkan beberapa kata pendek dan bisa memberikan beberapa isyarat. Seperti sekarang ini, Emi menunjuk Caelan sambil mengatakan, “Ma-in” artinya sedang bermain dengan Caelan.
“Sedang main dengan Papa, ya?”
Emi mengangguk. “Mama … ma-in.”
“Baiklah, Mama akan temani main juga.”
Amelia duduk di playmat menemani Emi menyusun balok kayu berwarna-warni. Caelan duduk di hadapannya. Amelia memerhatikan gips di kaki Caelan.
“Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Amelia. Ia berusaha berinteraksi santai dengan Caelan meskipun dalam hati bertanya-tanya mengapa Clara ada di dalam ruangan itu bersama Caelan dan Emi.
“Sudah lebih baik,” jawab Caelan.
Kehadiran Amelia jelas membuat keadaan menjadi canggung. Namun, Amelia sudah bertekad untuk sering muncul di depan Caelan agar suaminya bisa segera mengingatnya kembali.
“Kapan periksa lagi?” Amelia bertanya lagi.
“Lusa.”
“Mau kutemani?”
“Aku yang akan mengantarnya.” Clara menjawab pertanyaan Amelia dengan cepat.
Amelia hanya menggumamkan “Oh” tanpa melirik sedikit pun pada Clara. Lalu Amelia menanyakan beberapa hal lagi pada Caelan, mencoba membuka obrolan. Caelan hanya menyahut dengan jawaban pendek, bahkan sesekali Clara juga ikut menyahut. Namun, Amelia mengabaikan Clara, fokus berbicara dengan Caelan dan Emi saja.
Anna yang memahami kalau Amelia perlu diberikan waktu bersama Caelan, beberapa kali mencoba mengajak Clara pergi, tapi wanita itu bergeming, tetap berada dalam ruangan walau kehadirannya sama sekali tidak Amelia inginkan.
“Kau mengantuk ya?” ujar Amelia saat melihat Emi mulai terlihat bosan dan mengucek mata beberapa kali.
Emi merangkak ke pangkuan Caelan dan berbaring. Caelan terlihat kaget melihat hal itu, pria itu menatap Amelia meminta pertolongan.
“Tepuk-tepuk saja punggungnya sebentar, dia akan tertidur,” ujar Amelia pada Caelan.
“Apa tidak sebaiknya dipindahkan ke tempat tidur?” tanya Caelan kebingungan.
“Nanti kalau dia tertidur, aku akan memindahkannya,” ujar Amelia.
“Apa tidak masalah?” Caelan masih terlihat tidak tenang. Membuat Amelia tersenyum teringat masa-masa pertama kali Caelan mengurus Emi. “Kenapa kau tertawa?”
“Kau dulu juga begini, saat pertama mengurus Emi kau juga takut-takut,” jawab Amelia. “Kau takut Emi akan remuk saat pertama kali menggendongnya.”
“Benarkah seperti itu?” Caelan berusaha mengingat-ingat, lalu menggeleng. “Aku tidak mengingatnya.”
“Tidak masalah, kau akan ingat pelan-pelan,” kata Amelia.
“Benar, kau akan mengingatnya nanti. Jangan paksakan dirimu.” Clara menyambar, seolah tidak ingin ketinggalan obrolan. “Kepalamu akan sakit jika memaksakan diri mengingat.”
Caelan diam sambil memandangi Emi, lalu mata pria itu menatap Amelia. Setelah beberapa saat Caelan tertunduk dengan tangan yang memijit pelipis. Terlihat menahan sakit.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Amelia khawatir.
“Ini salahmu, Amelia!” terikan Clara. “Harusnya kau tidak memaksa Caelan! Kau menyakitinya!”
Suara nyaring Clara membuat Emi terbangun dan menangis. Amelia langsung menggendong Emi dan menenangkannya.
“Sudah. Jangan memaksakan diri. Kau tidak harus mengingatnya.”
Ucapan Clara membuat Amelia marah. Apalagi Clara memeluk Caelan di depan Amelia, dan menambahkan, “Tenanglah, jangan memaksakan diri. Tidak perlu mengingat hal tidak penting.”
“Tidak penting?” ucap Amelia marah. “Aku adalah istri Caelan, dan Emi keponakannya, kami bukan hal tidak penting.”
“Bisakah kau diam?” Clara balas marah pada Amelia. “Kau hanya bisa menyakiti Caelan!”
“Aku tidak menyakitinya,” sanggah Amelia.
“Kau memaksa Caelan mengingat padahal dia masih belum siap. Kau seharusnya tidak egois, Amelia.” Clara berdiri berhadapan dengan Amelia.
“Aku hanya membantunya mengingat hal yang dia lupakan,” sahut Amelia. Di pelukannya Emi menangis makin kencang, membuat Amelia mengoyang-goyang Emi agar lebih tenang.
“Sebaiknya kau pergi dan tenangkan anak itu, kau membuat Caelan tidak nyaman.”
Amelia tidak bisa menahan emosi ketika Clara mengusirnya. “Bukankah kau yang seharusnya pergi? Kau tidak punya urusan di sini.”
“Apa? Kau berani mengusirku?”
Amelia sangat muak ketika melihat Clara berakting. Wanita itu memegangi dada dan memasang ekspresi sedih, seolah sangat terluka.
“Tante Anna, apa kau juga ingin aku pergi?”
Anna tidak bisa berkata-kata. Mertua Amelia itu semenjak tadi diam, tak bicara. Hanya menjadi penonton.
“Begini, Clara, sebaiknya kau-“
Belum selesai Anna berbicara, Clara sudah menyela. “Aku hanya ingin membantu. Aku tidak tega melihat Caelan terluka. Dia sudah seperti kakak bagiku.”
Amelia ingin tertawa. Mengingat bagaimana Clara bersikap sebelumnya, tidak mungkin wanita itu hanya menganggap Caelan sebagai kakak.
“Seorang kakak yang ingin kau nikahi?” Amelia menyuarakan isi hatinya.
“Tidak. Bukan seperti itu.” Clara berakting di depan Caelan dan Anna, meminta simpati. “Caelan, Tante Anna, aku hanya ingin membantu kalian.”
“Kau memang sangat membantu,” sahut Amelia.
“Amelia, kau jahat sekali.” Mata Clara berkaca-kaca. Akting Clara terlihat sangat meyakinkan.
“Miss Cammeron, hentikan.”
Ucapan Caelan membuat Amelia terdiam. Caelan lebih memilih menegurnya daripada menegur Clara, membuat Amelia benar-benar kecewa.
“Emi menangis,” ujar Caelan. “Bawalah dia pergi dan tenangkan. Kau tidak seharusnya bertengkar di depan anak kecil.”
Kata-kata Caelan menyadarkan Amelia. Ia memandangi Emi, wajah Emi memerah, penuh air mata.
“Maaf, Sayang,” ucap Amelia lalu mengecup dahi Emi. Amelia menatap Caelan sekali lagi. Pria itu masih kesakitan, tapi tidak terlihat marah. Sepertinya, maksud Caelan menyuruh Amelia berhenti karena khawatir pada Emi, tapi Amelia terlanjur kecewa pada Caelan.
Dengan marah Amelia berderap keluar dari ruang bermain. Mengapa dari sekian banyak ingatan, Caelan malah melupakan Amelia dan Emi?