Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ucapan Axel
Hari ini Kania dan karyawan lainnya sudah mendapatkan gaji kedua dan semuanya merasa senang, begitu juga dengan Kania. Meski gajinya tidak sama dengan yang lain, tapi dia cukup senang karena itu adalah hasil kerjanya selama magang di kafe Axel.
"Kita jalan yuk setelah selesai kerja, gue pengen beli baju adik gue."
"Tapi pulangnya kan malam, sekarang belum ada shift kerja. Pulang-pulang capek, ngga mau ah."
"Yaah, bentar aja. Pulang jam sepuluh."
"Pulang dari kafe aja jam sepuluh, pulang ke rumah jam berapa?"
Semua diam, Kania mendengarkan percakapan ketiga karyawan kafe Axel. Dia tidak tertarik dengan ajakan setelah pulang kerja langsung jalan, karena setiap kafe tutup pasti dia sengaja menunggu semua pulang dan tinggal dia sendiri di kafe meski dengan alasan merapikan bangku dan meja pelanggan.
Padahal hanya untuk bicara dengan Axel, namun akhir-akhir sepertinya Axel sibuk ke Jerman. Tapi minggu-minggu ini Axel selalu stanby di kafe sampai semua karyawan pulang, kecuali Kania.
Sementara itu, Axel di ruangan kantornya sedang duduk menghadap laptop. Dia sedang memeriksa laporan pemasukan kafe yang baru dia buka selama beberapa bulan.
Cukup lumayan pemasukan bulan ini, dia sangat senang meski tidak banyak. Namun tetap senang karena meski baru buka sudah bisa mendapatkan laba yang lumayan.
Tangannya di renggang kan dan kepala di gelengkan ke kanan dan ke kiri, pandangannya ke depan kaca hitam di sebelahnya berjarak dua setengah meter.
Kaca hitam itu tembus pandang dari sisi dalam kantornya, sehingga dia tahu keadaan kafenya dari dalam kantornya.
Saat pandangannya ke arah meja pelanggan, sosok Kania sedang membersihkan meja dan merapikan kursi satu persatu. Axel memandang Kania cukup lama dari balik kaca jendela tersebut, memperhatikan apa yang di lakukan gadis itu.
Dia tersenyum tipis melihat tingkah Kania, sesekali gadis itu menghentikan kegiatannya lalu menatap ke arah Axel. Laki-laki itu membuang wajahnya ke arah lain, namun dia menunduk dan tersenyum lucu. Kenapa dia merasa malu ketika pandangannya beradu dengan Kania.
"Kenapa aku malu? Bukankah dia tidak bisa melihatku?" gumamnya.
Kemudian Axel kembali melihat Kania sudah melakukan kegiatannya mengelap meja dan merapikan kursi.
Dia bangkit dari duduknya dan menutup laptopnya setelah semuanya selesai, dia berjalan ke arah pintu hendak keluar. Dia berdiri di depan pintu, tangannya memegang handel berpikir sejenak kemudian membuka pintu kantor.
Berjalan menuju lorong yang jika di teruskan akan menuju dapur, dia berhenti sejenak dan kembali menatap Kania.
Gadis itu berbalik dan hampir bersitatap dengan Axel jika laki-laki itu tidak segera menoleh ke depan lalu berjalan lurus menuju dapur.
Sedangkan Kania, gadis itu tersenyum senang melihat Axel keluar dari ruangannya dan pergi ke dapur. Dengan cepat gadis itu berjalan cepat mengejar Axel ke dapur.
Dia melihat Axel berdiri di depan kitchen set, tangannya sedang menuangkan serbuk kopi. Kania heran kenapa Axel membuat kopi di dapur. Bukankah di depan ada tempat pembuatan kopi ketika pelanggan memesan.
Tapi Kania tidak peduli meski penasaran, dia cukup senang akhirnya bisa melihat Axel lagi dan akan bicara dengan laki-laki yang dia kagumi selama ini.
"Om Axel lagi apa?" tanya Kania mendekat berdiri di samping Axel.
"Yang kamu lihat apa?" Axel balik bertanya, dia mengambil susu cair ke dalam gelas lalu mengambil panci dan menuangkan air panas ke dalam gelas berisi serbuk kopi dan susu cair.
"Om Axel bikin susu kopi? Kenapa ngga bikin kopi di depan aja?"
"Lebih suka buat kopi mendadak begini, di panaskan langsung dari api. Kenapa kamu belum pulang?" tanya Axel menoleh pada Kania.
"Nunggu om Axel," jawab Kania dengan senyum mengembang menatap Axel.
Laki-laki itu mengaduk kopinya tanpa menanggapi ucapan Kania.
"Kamu sebaiknya cepat pulang, jangan sampai mama dan papamu khawatir." ucap Axel lagi.
"Aku udah biasa pulang malam om, papa dan mamaku ngga masalah." kata Kania.
"Meski begitu, itu tidak baik membuat orang tua khawatir. Aku tidak menyuruhmu membereskan meja dan kursi itu, untuk kamu kamu lakukan?"
"Om udah tahu kan kenapa aku melakukan itu," ucap Kania.
Axel memposisikan tubuhnya menghadap pada Kania, menatap datar pada gadis yang selama ini menyukainya. Bahkan kini sepertinya gadis itu sedang mengejarnya dengan modus magang di kafenya.
"Kania, kamu tahu usiaku berapa?" tanya Axel masih menatap datar.
"Tahu, tiga sembilan kan?"
"Dan kamu? Kamu masih berusia sama dengan Bella, sembilan belas tahun. Tidak bagus seorang gadis mengejar laki-laki matang sepertiku, itu seperti seorang...." ucapan Axel terhenti menatap ragu pada Kania.
"Seperti apa om? Orang tidak tahu diri?"
"Bukan begitu, sudahlah jangan pikirkan ucapanku. Sebaiknya kamu cepat pulang," kata Axel menghentikan rasa penasaran Kania.
"Aku ngga bawa motor om, apa boleh aku ikut om pulaa..."
"Tidak, kamu pulang sendiri. Nanti aku akan pesankan ojek online, cepat bereskan barang-barangmu di loker." kata Axel mengambil kopinya lalu membawanya pergi.
Dia tidak mau Kania terus ikut dengannya atau dia mengantarkan gadis itu.
Kania mengejar Axel, dia mensejajari langkah laki-laki itu namun langkah Axel terlalu lebar.
"Om, tunggu. Kenapa ngga mau antar aku pulang?" tanya Kania.
"Kamu tahu jawabannya, jangan tanya lagi." ucap Axel.
"Apa jawabannya? Aku ngga tahu om."
Axel berhenti dan menatap Kania lagi, gadis itu kaget tapi kemudian tertawa kecil senang melihat Axel berhenti dan menatapnya. Itu seperti hujan bunga-bunga bagi Kania jika Axel menatapnya.
"Kamu tahu? Om hanya menganggapmu hanya anak ingusan Kania."
Ucapan Axel tersebut membuat Kania mengatupkan bibirnya, masih menatapnya tapi tatapan itu berubah jadi sebuah kekecewaan.
"Aku permisi om," ucap Kania melangkah pergi.
Axel kaget dengan sikap Kania yang tiba-tiba berubah itu, dia tidak tahu jika gadis itu marah dengan ucapannya tadi.
"Kania tunggu," Axel mengejar Kania.
Tapi gadis itu pergi ke tempat loker karyawan, dia tidak peduli dengan ucapan Axel tersebut. Axel menyesal kenapa bisa mulutnya mengatakan seperti itu, padahal dia tahu Kania selama ini tidak pernah marah jika di marahi oleh Sinta dan yang lainnya yang tidak suka pada Kania.
Setelah mengambil tasnya, Kania pun menoleh pada Axel lalu pergi. Dia sangat kecewa dengan ucapan Axel tadi.
"Kania, biar om antar kamu pulang," ucap Axel.
"Tidak usah om, aku cuma anak ingusan yang selalu mengganggu om Axel di sini." ucap Kania.
Axel mencegah lengan tangannya tapi Kania menarik lagi lengan tangannya dan berlalu dari hadapan Axel. Gadis itu segera keluar dari kafe Axel, entah kenapa dia merasa kecewa dengan tanggapan Axel tentang dirinya yang selalu mengejarnya.
Axel, laki-laki itu terdiam menatap kepergian Kania dan sudah keluar dari kafenya. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung apa yang dengan sikapnya sendiri.
"Kenapa aku jadi bingung? Haish, kenapa dia marah?"
_
_
*****
tapi gak apa-apa cuekin dan jutekin ajah si bela nya terus ... balas dendam kecil2an