Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain gitar : 14
“Lanira?!” betapa terkejutnya ia, mendapati adik sepupu seumuran dengan Sabiya menerima panggilan ponsel sang tunangan. “Mengapa dirimu yang menjawab? Dimana Kamal?”
Suara diseberang sana terdengar tenang, tidak panik maupun gugup. “Aku dan bang Fatan tengah bertamu di hunian bang Kamal, ada perlu. Mau membeli salah satu ruko ayah tua hendak dijadikan klinik kesehatan, suamiku berkeinginan membuka tempat praktek, Kak.”
"Ponsel bang Kamal tertinggal di dapur, kebetulan aku sedang buat teh, maka dari itu tak angkat panggilan dari kakak,” lanjut Lanira memberikan penjelasan masuk diakal, tapi tidak dinalar Intan Rasyid.
Sayup-sayup Intan mendengar obrolan dua orang pria. Dia mengenali suara itu milik Nuha, dan suaminya Lanira.
“Oh … ya sudah, nanti saja aku hubungi lagi. Assalamualaikum,” ia sedang malas bertanya banyak, hatinya terlanjur menaruh rasa curiga, takut malah terjadi selisih paham.
Sebelum Intan mematikan sambungan ponsel, terdengar jawaban salam dari Lanira, baru ia tekan tombol merah.
“Semakin kesini, kau semakin kesana Nuha. Aku yakin ada yang dirimu sembunyikan, entah apa itu … jangan sampai diri ini tahu dari orang lain,” gumamnya seorang diri, duduk di teras.
Lamunan Intan tercerai-berai, pendengarannya terusik oleh suara motor berisik.
Tak perlu berdiri guna mencari tahu siapa pembuat onar itu, suaranya sudah dikenali lewat nyanyian lebih jelek dari teriakan para primata penghuni kebun sawit.
Di atas gerobak yang biasanya digunakan mengangkut air galon, Anggara bermain gitar seraya menembangkan sebuah lagu.
🎶 Jadikan aku yang kedua
Buatlah diriku bahagia
Walau pun kau
Takkan pernah
Kumiliki selamanya ....
Sementara Sarwanto mengendarai motor gerobak tanpa plat nomor, knalpot brong menghasilkan suara yang apabila melewati orang sakit gigi, bakalan dilempar batu.
Pria berkaos singlet, celana kolor selutut bergambar astronot, melompat turun. Anggara memanggul gitar, berlari kecil menuju teras …
“Dek Intan, malam mingguan kecil, yuk?” ajaknya di malam Kamis, sering disebut juga malam minggu kecil.
Ponsel dalam genggaman dimasukkan ke dalam saku baju tidur, Intan berdiri sambil berkacak pinggang. “Selain merusuh, apa kau tak punya pekerjaan lain, hah?!”
Tanpa dipersilahkan, dia naik ke teras. “Ada, ini lagi menjalankan misi menaklukkan hati bu bidan desa.”
‘Astaghfirullah,’ batinnya beristighfar.
“Ayo, mau kemana kita? Apa perlu gedor-gedor kantor KUA, biar nanti bisa malam mingguan betulan setelah jadi pasangan halal?” Gitar diturunkan, lalu diletakkan di depan dada. Senar dipetik menghasilkan nada tak ramah masuk gendang telinga.
“Cukup, Gondrong! Yang ada pekak telingaku!” Intan menghentak kakinya.
Sarwanto menutup telinga, dia duduk di atas motor, mesinnya sudah dimatikan, menonton dua manusia beda jenis yang tak pernah bisa akur apabila berdekatan.
Irda dan Ririn mengintip lewat jendela depan. Sama-sama terkikik seraya membekap mulut. Pertemuan bu bidan dengan pria aneh tapi tampan itu sungguh hiburan tersendiri bagi mereka.
“Eits, jangan salah ya … sudah banyak wanita kejang-kejang mendengar aku bernyanyi. Tadi itu cuma pemanasan, sekarang mau betulan.” Jemari menjepit plektrum kembali hendak digerakkan memetik senar gitar.
“Berani kau jreng jreng itu gitar, kulempar pakai sandal ini!” Intan membuka alas kaki swallow.
"Ya ….” Anggara menghempaskan bokong di kursi plastik, memeluk gitar. Ekspresinya dibuat semenyedihkan mungkin. “Padahal aku lagi ingin mempersembahkan sesuatu, membuatmu terkesan.”
“Kau diam, tak berulah, jangan datang kemari, aku sudah amat sangat terkesan,” ucapnya tajam, menatap tegas.
Bukan Anggara namanya jika menyerah meskipun sudah ditolak lebih dari tujuh puluh kali.
“Aku akan diam saat kau kelelahan dalam dekapan setelah kita iya iya semalaman.” Matanya mengedip nakal.
“Aku takkan datang lagi kemari, jika kita telah tinggal dalam naungan atap yang sama,” lanjutnya melancarkan rayuan.
“Kau mau apa kesini?!” ketus Intan.
“Bernyanyi untukmu.”
“Suaramu jelek! Lebih bagus nyanyian Monyet bergelantungan di pelepah pohon sawit,” hinanya tanpa sungkan.
“Bagus ya. Makanya kau dengar dulu baru boleh kasih penilaian, ya, ya, ya …?”
“MOHH!” Intan berteriak sampai urat leher menegang.
“Dimana ada Lembu?” Anggara tidak paham kata ‘moh’ yang bisa diartikan tidak mau. Dia melihat ke halaman luas.
Gadis berhijab instan itu terlanjur kesel, merebut gitar dari tangan Anggara, lalu menendang bangku plastik sampai bergeser hampir satu meter dari tempat duduk pria mengikat tinggi-tinggi rambut gondrongnya.
“Lagu apa yang mau kau dengar? Cepat katakan!” Intan menumpukan kaki kanan, memangku gitar.
Anggara tidak langsung menjawab, kinerja otaknya teramat lambat. “Maksudnya kau mau mengamen?”
“Astaghfirullah … daripada telingaku pekak, lebih baik aku yang nyanyi. Kemarikan alat petik senar itu!”
“Kau bisa main gitar?”
Hem.
“Bernyanyi juga?
Hem.
Anggara bertepuk tangan, tersenyum sumringah. “Bagus. Kita bisa jadi pasangan saling menguntungkan. Kau bernyanyi sambil main gitar, aku yang membawa kantong plastik bekas permen. Kemudian kita cegat bus umum, dimulai lah mencari uang lewat jalur mengamen.”
Sebuah sandal swallow putih melayang, tapi melesat dikarenakan gerakan cepat Anggara dalam menghindari.
“Damai, bu bidan. Damai itu indah.” Dia ambil sandal terbang tadi, memberikan ke wanita menatap seperti bola api. “Ini.”
Intan melirik maut, menarik benda datar tanpa bersentuhan kulit dengan Anggara. “Duduk di bangkumu sana!”
Kali ini Anggara menurut, berjalan mundur, lalu duduk bersila di lantai keramik bukan bangku plastik.
Intan tidak peduli, lelah hati menghadapi makhluk satu ini.
Senar gitar dipetik mengalunkan nada lembut, lalu disusul suara merdu wanita yang memejamkan mata menyanyikan sebuah lagu ungkapan hatinya.
Diam-diam Anggara mengeluarkan ponsel berharga puluhan juta warna oranye, merekam sang pujaan hati bernyanyi, lalu mengupload pada story WhatsApp.
Dia benar-benar tidak menyangka Intan bisa bernyanyi sambil main gitar. Suaranya juga merdu, mampu menghipnotis, membuatnya semakin gila ingin mendapatkan wanita ini.
***
“Pa, lihat ini, Pa!” Bunda Selina berjalan tergesa-gesa mendekati suaminya tengah bermain catur seorang diri.
“Suara siapa itu, Sayang?” pria tampan, mapan dan hartawan bergegas melihat ponsel istrinya. “Lah, mana orangnya? Kok cuma suara dan tanda hati sebesar truk tronton?”
Bunda Selina duduk di kursi malas pada halaman samping hunian keluarga Pangestu. “Entahlah si Angga, masa tega buat kita penasaran.”
Papa Kafka mengeluarkan ponsel lipat keluaran terbaru, membuka aplikasi hijau, dan melihat bagian story. “Loh, di tempat papa kenapa nggak ada?”
.
.
Bersambung.
aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣