NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:27.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Tidak... tidak...!" teriak Lusi membuat semua orang yang ada di dalam rumah berhamburan keluar, termasuk Arya dan keluarganya.

Suasana yang tadinya penuh suara percakapan haru, langsung berubah menjadi hening, saat semua mata tertuju pada satu wanita yang berdiri di depan rumah sana. Beberapa tamu undangan saling berpandangan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Dan beberapa detik kemudian… Arya muncul di ambang pintu.

Pria itu tampak rapi dengan setelan jas putih yang masih melekat di tubuhnya sama persis yang ada di foto Adinda satu jam yang lalu. Di sampingnya berdiri Luna dengan wajah sedikit pucat, sementara di pelukannya, Arya menggendong seorang bayi laki-laki.

Tangisan kecil bayi itu terdengar pelan, seolah ikut merasakan ketegangan yang terjadi. Sementara Mata Arya langsung tertuju pada satu sosok.

Adinda.

Tubuhnya seketika membeku. Raut wajahnya berubah. Tidak lagi tenang seperti beberapa menit yang lalu. Ada keterkejutan yang jelas terlihat di matanya.

"Di... Dinda?" suaranya tercekat.

Luna yang berdiri di sampingnya langsung menegang. Tangannya refleks memegang lengan Arya, seolah takut pria itu akan menjauh darinya.

  "Mas jangan," bisiknya lirih.

Sementara itu, ibu Arya yang berdiri tak jauh dari pintu langsung mengerutkan kening. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun, justru terlihat tidak senang, melihat menantunya menyusul di acara pernikahan anaknya yang kedua.

"Kamu ke sini untuk apa, Din?" ucapnya dingin.

Kalimat itu seperti tamparan keras, Adinda menanggapi dengan senyuman pahit lalu menatap satu per satu wajah di hadapannya.

Arya. Luna. Dan bayi yang ada di pelukan suaminya. Lalu matanya beralih ke ibu mertua dan adik iparnya, orang-orang yang selama ini ia anggap keluarga justru hari ini mereka ikut mendukung dan menutupi pernikahan ini darinya.

Air mata kembali jatuh di pipi Adinda, tapi kali ini ia tidak menunduk, tatapannya lurus berusaha kuat, di tengah-tengah badai yang memporak-porandakan perasaannya.

"Mas…" suaranya bergetar, "jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku selama ini?"

Arya tidak langsung menjawab, ia hanya diam, dan diamnya itu seolah menjelaskan segalanya tanpa harus berbicara.

Adinda melangkah mendekat satu langkah. Matanya tertuju pada bayi yang berada di pelukan Arya, bayi itu terlihat begitu kecil dan tenang tanpa semua orang sadari keberadaannya justru menghancurkan seluruh hidup Adinda.

"Itu… anakmu?" tanya Adinda lirih.

Arya menelan ludahnya. Dan tanpa sadar, pelukannya pada bayi itu justru semakin erat, dari itu semua Adinda sudah bisa menyimpulkan sendiri, jawaban itu tidak harus diucapkan.

Empat belas tahun ia menunggu kehadiran anak di tengah-tengah keluarga kecilnya, dan hari ini Tuhan seakan menjawab dengan cara yang lain. Suaminya memang selalu menjalankan peran yang baik, tapi ditempat lain dia juga sedang menjadi ayah dari anak wanita lain.

Bukan dirinya.

  Jelas bukan, karena memang benar apa kata orang sekitar, rahimnya memang kosong, bahkan ada yang menyebutnya gabug istilah jawanya.

  "Hari ini kamu benar-benar membuktikan pada semua orang," ucapnya dengan nada seperti menahan amarah.

  "Nis," sahut Arya dengan cepat.

  "Jangan sebut namaku lagi, sudah puas kau memberi tahu pada seluruh dunia jika istrimu ini benar-benar mandul, sudah puas!" gertaknya penuh dengan kepedihan.

  Arya tidak bisa mengelak, tangannya mencoba untuk meraih lengan Adinda namun wanita itu menepisnya dengan cepat.

  "Nis, bukan maksud aku seperti itu, aku tidak ada maksud," jelas Arya dengan nada terbata.

  "Tidak ada maksud, lalu yang kamu lakukan apa?" tanya Adinda lirih. "Dan kamu tahu wanita yang kamu nikahi itu?"

 Arya masih terdiam, seolah tidak ada tenaga untuk menjawab semua pertanyaan dari istrinya itu.

  "Kau tahu, perempuan itu yang selalu menghina aku tidak mempunyai keturunan, dan juga meragukan kejantananmu pada waktu, tapi sekarang, kau juga ikut menghina dan menertawakan ku ... Selamat ya sudah berhasil menghancurkan hatiku," ucap Adinda.

  Arya tidak bergeming entah kenapa hatinya merasa sakit saat tahu istrinya pernah disakiti oleh madunya namun sebelum Arya menuntut jawaban Luna segera mengambil alih pertanyaan itu.

  "Mas, cerita yang kau dengar dari Mbak Dinda itu tidak sepenuhnya benar, dia salah paham, dan kamu bisa tahu sendirikan, bahkan kamu tidak menghinanya pun dia merasa terhina, padahal kamu hanya ingin keturunan," sahut Luna dengan tenang. Seolah membenarkan perbuatannya.

"Luna jangan lancang," tegur Arya.

"Tapi memang benar kenyataannya Mas, kamu menginginkan keturunan, dan aku sudah bisa mengasih itu padamu," balas Luna.

Sementara itu Adinda yang dari tadi berdiri kini mulai menatap wajah Luna dengan tatapan berani. "Kau merasa bangga sudah bisa menikah dengan pria beristri," ucap Adinda.

Luna tersenyum tipis. "Ya seperti yang Mbak, lihat, dan ingat di sini aku tidak merebut Mas Arya dari siapapun, nyatanya aku tidak menyuruh dia menceraikan Mbak, bahkan jika mau aku bisa melakukan itu," sahut Luna serasa melambung diatas awan.

Adinda tersenyum samar, dia tidak gentar ataupun mundur dengan hinaan yang dilontarkan oleh wanita itu terhadap dirinya. "Baik, kalau memang seperti itu kemauan mu, sekarang coba suruh suamimu itu untuk menceraikan aku," tantang Adinda.

Luna menelan ludahnya sendiri mana mungkin wanita itu berani berbicara seperti itu pada Arya, bahkan pernikahan ini terjadi karena ia yang memaksanya.

"Ayo, jika memang sekarang kau merasa mempunyai kendali, coba suruh pria itu untuk menceraikan aku," desaknya tapi Luna masih tetap tidak bergeming.

"Sudah Din," ucap Arya akhirnya.

"Kenapa, bukannya istri barumu itu merasa memegang kendali atas semua ini," sahut Dinda dengan tatapan tidak bersahabat.

"Tidak ... sampai kapanpun kamu masih tetap istriku Din," ucap Arya menegaskan.

"Istri," ulang Adinda. "Setelah kamu menikahi perempuan lain kau masih bilang aku istrimu? Egois kamu Mas."

"Din, dengar aku dulu, sampai kapanpun aku tidak mau menceraikan mu, kamu masih istriku," jelasnya kembali.

Tapi sayang hati Dinda seolah sudah tertutup, hidupnya sudah hancur saat menyaksikan sendiri suaminya di pelaminan bersama wanita lain, namun di sisi lain Dinda tidak bisa meninggalkan semua ini begitu saja, ia harus tetap ada untuk bisa menyaksikan sendiri kehancuran suaminya.

"Maaf Mas, hatiku terlalu rapuh untuk menerima semua ini," ujarnya sambil melangkah pergi meninggalkan rumah akad.

"Din, jangan pergi sendiri biar aku yang antar," kata Arya.

"Tidak usah," sahutnya dingin.

Entah kenapa Luna yang mendengar ucapan itu pipinya langsung memerah menahan malu apalagi dihadapan orang banyak seperti ini, ternyata Adinda bisa membuktikan jika ia benar-benar tidak bisa mengendalikan Arya.

"Sial!" geram Luna.

Bersambung

Pagi menjelang siang .... Semoga suka ya

1
Dew666
🔮🔮🔮
Sugiharti Rusli
eh rumah itu termasuk harta gono-gini si Arya dan Dinda bukan yah, kan selama ini lebih banyak Adinda yang membiayai rumah tangga mereka tuh🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
yah ga salah Dinda juga kalo pada akhirnya dia lebih memilih berpisah dari si Arya, apalagi selama ini dia juga kurang diterima oleh ibu mertua dan iparnya, kecuali dimanfaatkan uangnya saja,,,
Sugiharti Rusli
dan dia tidak tahu seberapa kaya putri kandungnya itu, yang mewarisi sebagian besar harta sang kakek,,,
Sugiharti Rusli
bahkan si Arya sepertinya tidak menganggap penting anak kandung dari rahim Dinda yah, sepertinya dia lebih condong ke anak yang dari si Luna,,,
Sugiharti Rusli
tapi yang dia mungkin belum dia sadari sekarang Adinda memiliki kakuatan lain yang didapat dari sang putri,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Arya kalopun masih mau mempertahankan si Dinda karena tahu dulu masih bisa dimanfaatkan sih,,,
gina altira
bener tinggalin aja tuh Arya yg menye"
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Valen paham apa maksud Adinda menitipkan map itu ke tangan orang yang tepat seperti dirinya
Sugiharti Rusli
ga kebayang kalo yang jadi orangtua asuh Alesia bukan sekelas Valen, pasti warisan putrinya akan dimanfaatkan buat kepentingan pribadinya orang yang merawatnya,,,
Sugiharti Rusli
ga kebayang kalo yang membawa putrinya orang yang jahat dan putrinya hanya dimanfaatkan mengeruk uang,,,
Sugiharti Rusli
dan juga yang merawat dan mengasuh sang putri juga orang berpunya dan menyayanginya dengan tulus
Sugiharti Rusli
di luar nasib anaknya yang ternyata 'dijual' oleh ibu sambung dan ibu mertua Adinda, beruntung Tuhan mempertemukan mereka secara ga sengaja,,,
Mundri Astuti
lah kan ikatan ibu dan anak Valen, lagi kamu klo ga percaya adinda hilang ingatan, kan bisa menyelidiki dng kuasa yg kamu punya valen
cinta semu
semangat thor 💪💪buat adinda bahagia ...hempaskan Arya & keluarga ny
cinta semu
lanjut Thor ....
gina altira
Klo menurutku Alesia mending sama Valen dulu sampai keadaan aman.
Sugiharti Rusli
entah apa mereka akan berkompromi tentang status mereka masing" demi seorang bocah kecil tanpa dosa,,,
Sugiharti Rusli
begitupun sebaliknya, meski Adinda adalah ibu yang melahirkan Alesia tapi secara hukum dia orang lain bagi putrinya,,,
Sugiharti Rusli
karena yang dia panggil papa meski bukan ayah kandungnya, tapi memiliki hak atas dirinya sejak bayi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!