Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pernikahan
Ketika janji suci sudah diucapkan dan keduanya dinyatakan sah sebagai suami istri, kotak beludru biru berisi sepasang cincin disodorkan oleh staff wedding organizer kepada Shane.
Shane mengambil kotak itu, sementara staff tersebut mundur perlahan, membiarkan panggung kembali menjadi milik mereka. Shane berbalik penuh menghadap Aiena, pandangannya sangat dalam.
"Aiena," panggilnya, suaranya sedikit bergetar namun terdengar sangat mantap. Ia meraih tangan kiri Aiena, merasakan betapa dinginnya jemari gadis itu karena gugup. Shane tersenyum, mencoba menyalurkan ketenangan lewat sentuhannya.
Aiena mendongak, menatap mata suaminya dari balik veil yang masih belum terbuka. Ia dapat melihat binar kebahagiaan dan ketulusan Shane disana.
"Dengan cincin ini, aku mengikrarkan janji setiaku padamu, selamanya," ujar Shane pelan namun jelas. Ia mengambil cincin pernikahan pria, sebuah cincin emas putih dengan hiasan batu berlian di atasnya, lalu perlahan menyematkannya di jari manis tangan kanan Aiena.
Aiena menahan napas, matanya tak lepas dari cincin yang baru dipasangkan suaminya itu. Air mata haru akhirnya jatuh membasahi pipinya yang sudah dirias sempurna dengan gaya natural.
Kini giliran Aiena. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengambil cincin pernikahan untuk Shane dari kotak beludru. Cincin emas putih yang lebih lebar tanpa mata, hanya dihias lekuk sederhana. Aiena meraih tangan kiri Shane yang hangat.
"Dan dengan cincin ini," Aiena berhenti sejenak untuk menstabilkan suaranya, "aku bersumpah untuk selalu mencintaimu, menghormatimu, dan menemanimu dalam suka maupun duka, selamanya."
Ia menyematkan cincin itu di jari manis Shane yang menatap cincin di jarinya, sebuah simbol bahwa ia kini bukan lagi hanya atasan atau tunangan bagi Aiena, melainkan suaminya, pelindungnya, dan pasangan hidupnya. Shane meremas pelan tangan Aiena, matanya berkilau penuh rasa bangga dan cinta.
Suasana kapel yang sebelumnya hening karena ketegangan janji suci, kini berubah menjadi sorakan kecil yang tak sabar menanti momen selanjutnya. Pemimpin acara tersenyum dan berkata, "Dan sekarang, Shane, Anda boleh membuka veil dan mencium istri Anda."
Shane tidak menunggu lama. Ia kembali menatap Aiena, matanya seolah bicara bahwa wedding kiss ini akan jauh lebih berarti daripada sekadar ciuman biasa. Aiena mendongak, matanya bertemu dengan mata Shane, dan ia bisa melihat kelegaan dan kebahagiaan yang sama di sana.
Perlahan Shane membuka veil yang sedari tadi menutupi wajah cantik Aiena dan menyampirkannya ke belakang. Setelah memastikannya rapi, Shane mencondongkan tubuhnya, melingkarkan lengannya di pinggang Aiena untuk menariknya lebih dekat.
Ciuman itu lembut, penuh hormat, dan lama. Itu bukan ciuman yang vulgar di depan publik, melainkan ciuman suci yang menandai awal dari babak baru kehidupan mereka. Tepuk tangan dan sorakan meriah kembali membuncah, jauh lebih keras dari sebelumnya. Shane melepaskan ciumannya, lalu ia mendaratkan satu ciuman lembut di kening Aiena, sebuah ciuman sayang yang selalu disukai Aiena.
"Terima kasih, Aiena," bisik Shane di telinga Aiena.
Aiena tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Shane. "Terima kasih sudah milih aku, Shane."
Keduanya berbalik menghadapi para tamu, tangan mereka saling bertautan erat. Mereka adalah suami istri, siap menghadapi dunia bersama.
***
Musik yang membawakan lagu-lagu romantis mengalun indah, sesekali bersahutan dengan riuh rendah obrolan dan tawa dari ribuan tamu undangan yang hadir. Pernikahan itu benar-benar digelar dengan skala yang luar biasa meriah, sebuah perayaan besar yang mempertemukan teman-teman lama Shane, kalangan pebisnis kolega Shane, teman-teman sekantor dari divisi pemasaran digital, hingga keluarga besar kedua belah pihak.
Setelah lebih dari satu berdiri di pelaminan untuk prosesi pembukaan resepsi mulai dari sambutan, doa, potong kue, bersulang hingga satu kali lagi wedding kiss, Shane dan Aiena akhirnya diberikan waktu sejenak untuk turun dan duduk menikmati hidangan di meja khusus mempelai.
Hidangan demi hidangan dari menu catering premium mulai disajikan di hadapan mereka, mulai dari makanan pembuka yang estetik hingga menu utama berupa daging panggang premium yang aromanya begitu menggugah selera.
Shane menghembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi yang dihiasi pita berwarna merah muda. "Na, kakiku rasanya mau copot. Pegel banget."
Aiena, yang sedang berusaha menata gaun pengantinnya yang mekar agar tidak terlipat, tertawa kecil mendengarnya. "Ini belum apa-apa. Setelah ini masih ada sesi berputar bagi roti sambil menyalami tamu dan sesi foto bersama. Makanya, sudah aku bilang dari kemarin, jangan terlalu banyak memasukkan daftar undangan tambahan. Tapi kamu keras kepala, semua kenalan dari luar kota malah diundang."
"Ya, mau bagaimana lagi? Aku kan harus pamer pada dunia kalau Aiena yang cantik ini sekarang sudah resmi jadi istriku," sahut Shane santai, matanya melirik jenaka ke arah istrinya yang sedang mengambil potongan kecil jamur menggunakan garpu.
"Sudah, cepat makan. Mumpung dekorasinya bagus dan makanannya masih hangat. Setelah ini kita masih jalan dan berdiri lagi," ucap Aiena.
Shane tidak langsung menyentuh alat makannya. Pria itu justru mencondongkan tubuhnya ke samping, mendekatkan wajahnya ke arah Aiena hingga jarak mereka mengikis habis. Di tengah keriuhan suara band pengiring di depan, Shane berbisik dengan nada bariton yang rendah, sarat akan nada nakal yang langsung membuat gerakan tangan Aiena terhenti di udara.
"Makan yang banyak, Sayang. Habiskan dagingnya juga. Kamu butuh energi yang banyak buat nanti malam," bisik Shane, matanya berkilat penuh arti.
Detik itu juga, wajah Aiena terasa panas. Pipinya yang dilapisi riasan natural merona merah padam seketika. Ia buru-buru meletakkan garpunya kembali ke piring, lalu menoleh ke arah Shane dengan tatapan melotot yang dibuat-buat, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang mendadak menyerang jantungnya.
"Shane! Jangan mulai deh," desis Aiena pelan, melirik ke kanan dan kiri, takut kalau-kalau ada kru wedding organizer atau tamu yang lewat dan mendengar ucapan barusan. "Ini masih di tengah-tengah acara resepsi, bisa nggak pikirannya ditahan dulu?"
Shane justru tertawa lepas, tawa renyah yang selalu berhasil membuat Aiena terpaku. Ia bersandar kembali ke kursinya, tampak sangat puas karena telah berhasil menggoda istrinya hingga sekaku itu. "Kenapa? Aku kan cuma mengingatkan sebagai suami yang baik biar istrinya nggak kelaparan. Memangnya kamu mikir apa, hm?"
"Kamu sengaja menekankan kata 'nanti malam' dengan nada seperti itu, aku tahu ya!" balas Aiena, memutar bola matanya kesal, meski sebuah senyuman tipis tak bisa disembunyikan dari bibirnya. Ia tahu benar Shane hanya sedang menggodanya untuk mencairkan ketegangan setelah berjam-jam berdiri di atas panggung pelaminan. Tidak ada kesan kotor di sana, hanya keintiman sepasang suami istri baru yang sedang menikmati euforia hari bahagia mereka.
"Iya, iya, maaf, Sayang." Shane meraih tangan kanan Aiena di bawah meja, menggenggamnya erat dan memberikan usapan lembut di punggung tangannya. "Tapi aku serius soal makan. Kamu tadi subuh cuma makan sedikit waktu sarapan. Aku nggak mau istriku sakit."
Aiena menatap mata Shane yang kini melunak, memancarkan rasa sayang dan perlindungan yang begitu besar. Rasa hangat kembali menjalar di dadanya, mengusir sisa-sisa rasa gugup yang sempat mampir. Di tengah ribuan pasang mata yang memadati ruangan malam itu, Aiena tahu bahwa fokus Shane tidak pernah beralih darinya.
"Iya, ini aku makan," ujar Aiena akhirnya, kembali mengambil garpunya dengan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya. "Kamu juga makan. Jangan sampai malah kamu yang nanti malam langsung tumbang duluan."
Shane menaikkan satu alisnya, menerima tantangan kecil itu dengan senyuman penuh percaya diri. "Kita lihat saja nanti, Nyonya Besar."
Sambil menikmati makanan premium mereka di tengah riuhnya resepsi, keduanya saling melempar senyum rahasia, sebuah bahasa tanpa suara dari dua orang yang tahu bahwa setelah malam ini, lembaran baru kehidupan mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai.
***