Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zaenab cemburu
Malam di Jepara tiba - tiba terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu gantung di ruang tengah berdengung pelan, menemani napas Mbah Sidik yang terdengar lebih berat dari hari-hari sebelumnya.
Di atas amben kayu jati tua, sang mantan prajurit yang dulu dikenal sebagai "Singa Margarana" itu kini tampak begitu ringkih, terbungkus selimut tebal yang rajutannya mulai dimakan usia.
Zaenab, istrinya, duduk di sampingnya dengan ketel hangat dan handuk kecil di tangan. Wajahnya yang keriput menyimpan kecemasan yang ia sembunyikan di balik senyum yang paling tegar yang ia miliki.
"Jangan terlalu dipaksakan, Nyai," bisik Mbah Sidik dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Aku cuma demam biasa. Besok juga sudah bisa bangun dan memarahi kambing-kambing itu kalau mereka tidak mau masuk kandang."
Zaenab mengelap keringat di dahi suaminya dengan lembut. "Bicara saja kau masih seperti komandan saja, Sidik.
Sudahlah, hari ini kau bukan prajurit, kau hanya suamiku yang sedang perlu istirahat. Minum dulu teh jahenya."
Mbah Sidik mencoba duduk, namun bahunya gemetar. Zaenab sigap menahan tubuh suaminya, memeluknya dengan erat seolah ingin mentransfer seluruh kekuatannya.
Dalam pelukan itu, Mbah Sidik yang gagah perkasa justru menangis dalam diam. Bukan karena rasa sakit di tubuhnya, tapi karena ia melihat tangan Zaenab yang kini gemetar saat memegang sendok.
"Zae," panggil Mbah Sidik pelan,
"Kau ingat saat kita pertama kali bertemu di Benteng Portugis?"
Zaenab tertawa kecil, meski matanya berkaca-kaca. "Ingat. Ada kejadian Kau datang dengan seragam penuh debu dan sepatu lars yang tak pernah bersih. Kau bilang kau mau meminangku, tapi kau malah lupa membawa cincin karena sibuk menenangkan warga yang bertengkar."
"Waktu itu aku bodoh sekali," Mbah Sidik ikut tertawa, suara tawanya yang khas—serak namun berwibawa—memenuhi ruangan. "Aku bahkan lebih berani menghadapi bom NICA daripada harus berhadapan dengan bapakmu yang galak itu."
Mereka berdua terdiam, tawa mereka perlahan mereda menjadi keheningan yang syahdu. Keheningan yang berbicara tentang puluhan tahun perjuangan, tentang anak-anak yang tumbuh besar, tentang ketakutan akan kehilangan, dan tentang cinta yang sudah melampaui sekadar kata-kata.
Zaenab menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Mas, jangan pergi dulu. Anak kita, Ahmad, masih butuh cerita-cerita tentang keberanianmu. Aku... aku juga masih butuh kau di sini untuk berdebat soal siapa yang lebih dulu memberi makan kambing."
Mbah Sidik menggenggam tangan Zaenab dengan jari-jarinya yang sudah kaku. "Nyai, jika pun nanti aku harus berangkat ke medan laga yang terakhir, aku tidak akan takut. Karena di medan yang paling berat sekalipun dalam hidupku, kau adalah rumah yang selalu menungguku pulang."
Zaenab tak tahan lagi. Air matanya jatuh menetes di baju Mbah Sidik. Ia menangis bukan karena takut akan kematian, tapi karena haru melihat cinta mereka tetap tumbuh subur di sela-sela penuaan.
Tiba-tiba, Mbah Sidik memecah suasana haru itu dengan suara yang tiba-tiba ceria. "Tapi, Zae... kalau aku benar-benar dipanggil sekarang, tolong jangan cari suami baru ya. Kalau kau cari yang lebih muda, nanti aku cemburu, dan aku akan menghantui dia dengan seragam veteran ini sampai dia ketakutan!"
Zaenab tertawa terpingkal-pingkal di tengah air matanya yang masih mengalir. Ia memukul bahu suaminya dengan pelan. "Dasar tua bangka! Sudah sakit pun masih saja cemburuan. Siapa juga yang mau sama nekek-nekek cerewet sepertiku?"
"Banyak! Kamu saja yang tidak tahu!" balas Mbah Sidik dengan mata yang berbinar jenaka.
Keduanya tertawa, sebuah tawa yang tulus dan murni. Di luar, suara jangkrik seolah ikut menari mengikuti kegembiraan pasangan tua itu.
Di rumah sederhana itu, di bawah temaram lampu minyak, penyakit hanyalah tamu yang tak diundang, sementara cinta adalah tuan rumah yang tak akan pernah beranjak pergi.
Di sini, di atas amben kayu yang menua,
Dua jiwa bersandar, menyatukan doa yang menyala.
Kau adalah kompas saat aku kehilangan arah,
Pelabuhan tempatku bersandar dari segala lelah.
Jangan tangisi waktu yang mulai memutihkan rambut,
Sebab cinta kita telah tumbuh, meski dunia kalut.
Jika nanti tiba saatnya untukku pulang ke sana,
Aku akan menunggu di gerbang surga, Nyai, dengan penuh makna.
Mbah Sidik memejamkan mata, napasnya perlahan menjadi teratur dan tenang. Zaenab tetap terjaga, mengelus rambut suaminya dengan penuh kasih.
Malam itu, di Jepara, waktu seolah berjanji untuk melambat, memberi ruang bagi dua hati yang masih setia berdetak dalam satu irama yang sama.
"Tidurlah, Mas," bisik Zaenab. "Besok, aku akan buatkan bubur ayam yang lebih enak dari masakanmu dulu."
Mbah Sidik tersenyum dalam tidurnya, sebuah senyum yang menunjukkan bahwa ia tidak lagi merasa sakit. Ia tahu, selama ada Zaenab, setiap hari adalah kemenangan, dan setiap detik adalah anugerah yang tak terhingga.
***
Tiga hari setelah demam Mbah Sidik reda, suasana rumah mendadak berubah menjadi medan pertempuran dingin. Semuanya bermula ketika seorang wanita paruh baya dari desa sebelah, yang merupakan janda sesama pensiunan guru, datang bertamu membawa sepanci sayur lodeh dan sebungkus kerupuk udang kesukaan Mbah Sidik.
Wanita itu, Bu Lastri, menatap Mbah Sidik dengan tatapan yang sedikit lebih lama daripada yang seharusnya. "Mas Sidik, kata orang, Bapak kemarin sakit? Saya sengaja buatkan lodeh, resepnya khusus saya kurangi santannya supaya tidak memicu kolesterol," ucapnya sambil menyentuh lengan baju Mbah Sidik dengan alasan memperbaiki letak kain.
Di sudut ruangan, Zaenab yang baru keluar dari dapur dengan nampan teh, mematung. Matanya menyipit.
"Terima kasih, Lastri. Baik sekali kau," jawab Mbah Sidik ramah, berusaha bersikap sopan pada tamu.
Namun bagi Zaenab, keramahan itu adalah tindakan makar! Begitu Bu Lastri pulang, Zaenab tidak langsung marah. Ia justru mulai melakukan gerilya.
Ia mulai membersihkan rumah dengan gerakan yang jauh lebih bertenaga dari biasanya—menyapu lantai sampai debunya terbang ke mana-mana, menggeser kursi kayu hingga menimbulkan suara decitan yang memekakkan telinga.
Mbah Sidik, yang sudah hafal tabiat istrinya, mulai berkeringat dingin. "Nyai, kopi tadi enak sekali, tapi kenapa gelasnya sekarang kau taruh di meja dengan dentuman sekeras meriam?"
"Tidak apa-apa," jawab Zaenab singkat, wajahnya lurus menatap jemuran di luar. "Hanya ingin memastikan bahwa meja ini masih cukup kuat menahan beban, atau mungkin perlu diganti dengan yang baru, yang lebih segar dan tidak terlalu banyak kolesterol."
Mbah Sidik menahan tawa, namun ia tahu ini bukan saatnya bercanda. "Zae, itu hanya tetangga. Dia membawakan lodeh, bukan surat cinta."
"Ah, iya, lodehnya memang enak," sindir Zaenab sambil melipat sarung Mbah Sidik dengan cara yang sangat rapi, hampir seperti melipat bendera upacara. "Mungkin mulai besok aku harus belajar masak lodeh tanpa santan, atau mungkin tanpa sayuran sama sekali, supaya tidak perlu ada bantuan dari luar untuk memastikan suami saya tidak kolesterol."
Mbah Sidik akhirnya bangkit dari kursi, mendekati istrinya, dan mencoba mengambil alih lipatan kain di tangan Zaenab. "Nyai, dengar. Dulu, aku hanya takut pada peluru musuh. Tapi sekarang, musuh yang paling kutakuti adalah ketika kau marah dan diam seribu bahasa."
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?