Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Dikendalikan
Yvone terpaku untuk beberapa saat. Ia tidak menyangka bahwa ayah dari Rose ini tahu banyak hal. Padahal ia sudah berusaha untuk menyembunyikan masalah ini, tetapi Matheo justru mengungkapnya sendiri.
“Papa, jangan buat Rose cemburu,” tegur Merlin, istrinya. “Mana mungkin Arsen tergoda dengan ulat bulu macam dia. Arsen kan sangat mencintai Rose-ku. Lagi pula si asistennya itu tidak terlalu cantik dibandingkan dirimu, Sayang.” Merlin mencolek dagu Yvone, membuatnya tersipu malu.
“Bukan begitu, Ma. Asistennya itu, memiliki pengaruh buruk. Aku tidak tahu kenapa Arsen terus mempertahankannya. Padahal dia sering melakukan kesalahan,” ujar Matheo.
Obrolan sore itu terasa sangat menarik bagi Yvone saat membahas masalah Renata. Sepertinya wanita itu benar-benar memiliki reputasi yang buruk.
“Benar, dia itu tidak becus bekerja,” timpal Merlin.
Tatapan Matheo lurus ke depan, seolah mencoba menggali ingatan masa yang sudah terlewat. “Aku ingat sekali, dia menumpahkan kopi di jas yang dibelikan oleh mamamu. Lalu terakhir kali, dia juga menumpahkan tinta di surat kontrak dari investor luar negeri, yang paling parah, dia hampir membuat suamimu kalah tender.”
Yvone cukup kaget. Apa yang dikatakan oleh Matheo sangat berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan oleh Brighita. Bahwa Renata adalah pegawai terbaik. Lalu berkat Renata perusahaan Arsen jadi berkembang pesat.
Tidak hanya itu, Arsen juga turut memuji kinerja Renata. Yvone mendecak, ia semakin yakin bahwa Arsen memang memiliki perasaan terhadap Renata. Kedua tangan Yvone mengepal tanpa sadar.
“Sepertinya kalian sangat mengenal Renata?” tanya Yvone sembari menatap kedua orang tua Rose.
“Tentu saja, wanita itu selalu menempel pada Arsen saat acara pesta penting. Dan itu terjadi setelah kau berubah menjadi gendut, Sayang. Tapi karena kau sudah kembali ke bentuk tubuhmu yang semula, aku yakin Arsen pasti sangat menyayangimu,” ujar Merlin.
Ucapan Merlin harusnya membuat Yvone senang, tetapi sebaliknya ia justru merasa kesal. Kenyataannya, Arsen sama tidak seperti yang dikatakan Merlin. Pria itu bahkan ingin menikahi Renata, entah bagaimana reaksi orang tua Rose bila mengetahui soal ini.
Mungkin saja akan terjadi perang dunia ketiga.
“Oh ya, karena kau sudah kembali seperti dulu. Apa kau juga akan kembali terjun ke dunia model lagi?” tanya Matheo tiba-tiba.
Yvone sama sekali tidak terpikirkan hal itu. Yvone tidak memiliki bakat seperti Rose. Ia hanya bisa memegang senjata dan menghajar orang. Rencana awal, ia ingin merubah bentuk tubuh, lalu memberi pelajaran pada orang-orang yang menindas Rose.
Selanjutnya Yvone tidak tahu harus berbuat apa. Kembali ke tubuh aslinya itu jelas tidak mungkin, karena mungkin saja tubuhnya sudah hancur membusuk dan dimakan ikan.
“Jika kau ingin kembali berkarir, Papa akan membukakan jalan untukmu, Nak.” Belum juga Yvone menjawab, Matheo sudah memberi penawaran.
Yvone terdiam, Rose sebenarnya termasuk orang yang beruntung karena memiliki keluarga yang menyayanginya. Hanya saja ia kurang beruntung dalam hal asmara. Sama seperti Yvone Faranes.
Dua wanita ini sama-sama dikhianati oleh pasangan masing-masing.
Yvone menghela napas panjang, lalu berkata, “Aku akan pikirkan nanti.”
Di sisi lain, Arsen merasa panik karena tidak mendapati Rose di kamarnya. Ia ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
Kepalanya masih sedikit pusing, tetapi ia tetap memaksa langkahnya mencari wanita itu. Arsen memeriksa setiap penjuru ruangan, namun ia tidak menemukan siapa pun. Bahkan Ibu dan adiknya tidak ada.
“Di mana Ibu dan adikku?” tanya Arsen pada pelayan yang melintas.
“Nyonya dan Nona Alexa pergi bersama Nona Renata,” jawab pelayan itu.
Arsen menghela napas panjang. Arsen tidak memiliki urusan dengan mereka, tetapi istrinya.
“Lalu Nyonya? Apa kau melihatnya?” tanya Arsen lagi.
“Nyonya Rose…beliau pergi sejak tadi, Tuan.” Pelayan menjawab ragu-ragu.
Arsen melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 20.00 waktu setempat.
“Sudah jam segini, kenapa dia belum juga pulang?” gumam Arsen. Ia mulai resah, pikirannya berkecamuk. Ia ingat kemarahan istrinya itu, tetapi entah mengapa ia tidak bisa melakukan banyak hal.
Ia teringat dengan Daniel, kemudian segera menghubungi pria itu.
Satu panggilan tersambung, dan wajah Arsen berubah ketika mendengar suara di seberang.
“Ya, Tuan.”
“Daniel, apa kau tahu di mana istriku?” tanya Arsen langsung pada tujuannya menelpon pria itu.
“Nyonya sedang berada di rumah orang tuanya, sepertinya beliau akan menginap di sini,” jawab Daniel.
Arsen menghela napas lega. Setidaknya istrinya itu berada di tempat yang aman.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Tuan, Nyonya sangat marah, sebaiknya Anda segera selesaikan masalah Anda dengan Nona Renata. Anda bisa kehilangan Nyonya jika terus membiarkan Nona Renata berada di sisi Anda,” tegur Daniel.
Selain orang kepercayaan, selama ini Daniel adalah tempat Arsen berbagi cerita.
“Aku tahu, Daniel. Tapi aku tidak bisa melakukannya sekaligus. Kau tahu sendiri kehidupan Renata tidak seberuntung Rose. Aku harus memastikan dia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, dan juga mencarikan tempat tinggal yang jauh dari ayahnya yang pemabuk itu.”
“Serahkan itu pada saya. Anda segera jemput Nyonya. Tuan, bisa bahaya jika Tuan Matheo dan Nyonya Merlin mengetahui masalah ini.”
Yvone baru saja selesai makan malam, ia berniat untuk keluar rumah mencari udara segar, sekaligus mencari Daniel untuk memberinya makan. Siapa sangka ia justru melihat pria itu sedang berbicara dengan seseorang melalui panggilan telepon.
“Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Kalau begitu, Tuan segera kemari dan jemput Nyonya,” kata Daniel.
Yvone menyipitkan matanya. Ia mendekati Daniel. Tapi panggilan itu telah berakhir. Yvone memperlambat langkahnya.
“Jadi kau mengadu pada Arsen jika aku ada di sini?”
Mendengar itu, Daniel terlihat tenang. Itu karena ia sudah memiliki jawaban. “Karena masalah harus diselesaikan. Nyonya masalah tidak akan selesai dengan Nyonya menghindar.”
Yvone memicingkan matanya. “Sepertinya kau lebih pandai dari pada Tuanmu.”
“Terima kasih, Nyonya.”
Yvone melipat kedua tangan di perut. “Tapi asalkan kau tahu, aku sedang tidak menghindar. Aku hanya butuh ketenangan sejenak. Menyusun rencana untuk membalas mereka,” kata Yvone.
“Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, Nyonya. Justru akan menimbulkan masalah baru,” ujar Daniel tenang.
Mendengar itu, Yvone jadi kesal. “Sebenarnya. Kau ini ada di pihak siapa? Ha?”
Kali ini Daniel tidak menjawab. Jelas saja, Daniel memihak keduanya. Daniel akan memihak siapa pun yang benar. Yang jelas Daniel tidak akan berada di pihak yang salah. Tetapi kali ini Arsen salah karena tidak bertindak tegas. Itu sebabnya ia memutuskan untuk ikut bersama Rose.
“Nyonya, apa Anda tidak merasa bahwa Tuan sedang dikendalikan?”
Pertanyaan Daniel membuat Yvone seketika menatap pria itu. “Dikendalikan? Kau pikir dia boneka?”
Daniel hendak menyanggah, namun suara dering ponsel milik Yvone mengurungkan niatnya.
Yvone segera meraih ponselnya dan melihat layar.
“Yuna?” Kening Yvone berkerut. Dengan cepat ia segera menjawab panggilan itu. “Halo, Yuna.”
“Rose, ada kabar baik,” ucap wanita di seberang dengan singkat.
“Kabar baik apa?”
“Anak buahku menemukan Sui.”