NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Kucing

Collins membuka mata. Ia bisa melihat wajah Aida begitu dekat. Alis, hidung dan bahkan matanya terlihat sempurna. Bahkan sapuan tangannya pada wajah begitu sangat mengoda. Akankah ia bisa memiliki? Hidupnya begitu rumit. Penuh kepalsuan. Setidaknya bersama wanita ini ia ingin hidup jujur.

Angin malam mulai terasa dingin. Keduanya kemudian kembali ke motor yang membawa mereka pulang.

***

"Mbak ada apa?" Collins melihat seekor kucing kecil mengelilingi kaki Aida. Warnanya putih belang hitam.

"Aku gak tau. Kucing ini gak mau pergi." Aida tampak cemas, karena itu ia berdiri sedikit tegang. Aida tak berani melangkahkan kaki karena takut terinjak.

Collins turun dari motor dan mematikan mesin. Ia mengambil kucing kecil itu dan mengusap punggungnya. "Tadi sudah dikasih makan?"

"Sudah. Roti."

"Mungkin karena Mbak kasih makan, jadi dia begitu."

"Jadi bagaimana? Aku tidak tahu itu kucing siapa. Tahu-tahu dia ada depan pintu," ujar Aida mengigit bibir bawahnya.

"Mbak mau memeliharanya?"

"Aku tidak tahu." Aida tampak bingung.

"Kalau dia datang padamu. Piara saja, biar ada teman." Kembali Collins mengusap-usap punggung kucing itu.

"Gitu ya?"

"Mbak tidak mau?" Collins kembali mendongak menatap Aida.

"Apa tidak apa-apa? Nanti apa tidak dicari pemiliknya?"

"Kucing, biasanya kalau keluar berarti dia ingin mandiri. Piara saja, sampai dia bosan dan pergi. Mbak tidak punya kewajiban untuk mencarinya lagi."

"Mmh ...." Aida tampak ragu.

"Bagaimana?" Collins mengusap-usap kepala kucing kecil itu.

"Aku sekarang mau berangkat kerja, Bang. Aku tak bisa pergi kalau dia terus mengitari kakiku."

Collins melihat sekitar. Ia menemukan sebuah kotak kardus mi dan memasukkan kucing itu ke sana. "Ini sudah Abang masukkan kardus. Abang taruh saja di depan pintu kontrakanmu. Nanti, kalau Mbak mau piara atau tidak, itu terserah Mbak." Ia membuka pintu pagar dan meletakkan kotak kardus itu di depan pintu kamar Aida. Kemudian ia keluar. "Ayo, berangkat!"

***

"... Be, tolong berikan saja toko itu untukku," pinta Collins.

"Kagak bisa!" Babe berkeras.

Collins melirik Enyak. Ia meraih lengan wanita itu dan membujuknya. "Nyak, bujuk Babe, Nyak. Biar Bara bisa tinggal di sini ngurus kalian berdua. Bara ngak akan ke mana-mana lagi, Bara janji. Bara mau tinggal di sini sama Enyak dan Babe aja." Ia memberi garansi.

Enyak mengerut dahi. Ia menoleh pada suaminya. "Udehlah, Bang. Kasih aje ame Bara buat maskawin die ama Ustadzah." Ia memohon pengertian Babe.

Namun pria paruh baya itu tetap bergeming. "Enggak!" Sebentar, ia menghela napas pelan dan mengusap wajah untuk meredakan emosi. "Bukan babe perhitungan ame elu, Bara. Tapi Babe rasa elu mesti kasih tahu pernikahan elu ame orang tua elu dulu, sebab orang tua elulah yang lebih berhak daripada babe. Kalo masalah maskawin mah gampang, nanti babe bisa bantu."

Collins menegakkan punggungnya. "Babe ... babe kok gak ngerti-ngerti sih? Udah Bara bilang, Bara gak berani bilang ke orang tua Bara, soal ini. Bagaimana kalau mereka tidak setuju?"

"Elu berjuanglah!"

"Ck, babe ...." Collins memalingkan wajah sendu.

"Kalo kalian nanti menikah dan orang tua elu tahu, pegimane? Lebih parah lagi, karena elu gak ngasih tahu mereka. Bukankah tugas seorang anak untuk ngasih tahu orang tuanye kalau mereka akan menikah?"

"'Kan aku pihak laki, Be! Urusan nanti, ya urusan nanti ajalah," ucap Collins acuh.

Babe kembali kesal. Suaranya kembali meninggi. "Ape jadinye kalau misalnye Ipah menikah tanpa izin dan sepengetahuan babe? Ape elu pikir babe gak marah?" Babe mendengus kasar. "Begini ye, Bara. Babe emang berharap elu anak babe. Demikian juga Enyak, tapi kenyataan pan enggak! Lu punya orang tua, Bara. Jadi, hargailah!"

Collins merengut. "Apa aku tak bisa menikah tanpa orang tuaku?" ucapnya setengah bergumam.

Babe kembali menghela napas pelan dan menoleh ke samping. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Babe merasa ada sesuatu yang membuat Collins tak ingin menemui orang tuanya dan itu pasti bukan hal yang sederhana. "Sebenernye kenape sih elu kabur dari rumah?" Tak tahan ia terpaksa menanyakannya. Ia melihat wajah Collins yang tampak menahan berjuta emosi. Namun mulut Collins tetap terkunci.

Tiba-tiba Collins meraih tangan babe dan memohon. "Be, tolong ...."

Untuk ke sekian kalinya babe kembali menghela napas. Ia kemudian menatap Collins tepat di kedua matanya. Ia mengangkat telunjuknya. "Baek, babe akan nikahkan elu, tapi ... babe gak akan ngasih elu toko itu, ye! Lu harus cari sendiri dah, maskawinnye untuk Ustadzah."

"Babe ...." Collins terlihat kecewa.

Enyak menyentuh lengannya. "Babe lu bener, Bara, karena resikonye gede buat die. Kalo orang tua lu tau, babe bakalan disalahin."

Collins menghela napas pelan. Setidaknya babe mau menikahkannya. Kalau tidak, Aida pasti curiga. Ia dan babe tidak ada pertalian darah dan kalau babe tidak mendukungnya, posisinya akan semakin sulit.

"Seenggaknya lu udah dapet restu dari keluarga Ustadzah, Enyak udeh lega," ujar Enyak lagi.

"Mmh." Collins mengangguk. Ia tak perlu lagi memaksa babe. Mulai sekarang ia harus mulai bekerja keras dan menabung untuk kepentingannya sendiri. Ia tak gentar.

***

"Bara, lu mau ke mane?"

Collins yang sudah melangkah ke luar toko, berhenti dan menoleh pada Babe. "Main ke tempat Mbak Aida, Be."

"Kagak boleh!"

Collins merengut. "Ck, kenapa sih, Be? Kan cuma sebentar doang. Lagian kosong ini ...."

"Gak boleh! Denger kagak lu? Sekali babe bilang gak boleh, GAK BOLEH!!"

"Ck, kenapa sih!? 'Kan aku gak pacaran? Cuma main sebentar aja. Aku juga udah niat kok, nikah sama ustadzah." Collins memicingkan mata memberikan argumen.

"Gak ade. Balik!" Tegas babe.

Collins menghentakkan kakinya ke lantai, karena kesal. "Kenapa sih, apa-apa gak boleh!"

"Lu harusnye jaga harga dirinye sebagai perempuan, bukan ngerusaknye."

"Babe ngomong apa sih, Bara gak ngerti!"

"Entuh pan kontrakan perempuan, Baraa ...! Duh, gemes. Babe lempar juga nih ame sendal jepit." Pria paruh baya itu setengah membungkuk, menakut-nakuti. "Ye lu tau pan, buat perempuan, bukan buat elu!!"

Collins akhirnya kembali dengan wajah dongkol. "Padahal aku cuma mau main sama si Mono aja," gumamnya.

"Siape entuh Mono?" Alis Babe naik satu.

"Kucing, Be! Kucing!" teriak Collins dongkol. "Kenapa segalanya mesti dicurigain, sih?" ucapnya bermonolog.

"Emang kalo di sana ade kucing doang, gak ade Ustadzah, lu mau nongkrong lama di sono!? Ape pun alesannye, kagak boleh! Inget, Mpok lu juga perempuan. Ape pikiran lu kalo die main di kamar sama pacarnye?!"

"Main di kamar?" Collins mengerut dahi. Barulah ia tahu maksud perkataan Babe. "Oh, Bara gak gitu, Be. Pintu kamar Ustadzah nanti dibuka."

"Mmh! Sape yang percaye ...." Babe mendengus sambil bertelak pinggang dengan membuang wajah ke samping.

"Masa Babe gak percaya sih, sama anak sendiri?"

"Kapan gue ngelahirin elu!? Tuh, emak lo tuh!"

"Eh, iya ...." Collins hampir tertawa.

"Pokoknye halalin dulu anak orang, baru main kamar-kamaran. Mau sampai tlekdung kek juga gak pape."

Collins tersenyum dengan ocehan Babe. "Babe ... Bara 'kan gak gitu ...."

Mata babe melotot. "Mending jangan, daripada kepercayaan babe lu rusak! Babe gak mau tau, lu bisa dipercaye atau kagak karena lebih baek cari aman. Awas aja lu coba lagi, sendal babe bisa melayang ke jidat lu biar jenongan dikit, ngerti kagak lu!"

Collins terkekeh.

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!