Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Jebakan
Suara Yvone seketika menyentakkan Renata. Wanita itu segera bangun lalu merapikan pakaiannya.
Sementara Yvone merasa rahangnya mengeras. Terlebih ketika melihat Arsen yang hanya bertelanjang dada. Yvone tidak yakin, di balik selimut itu, Arsen masih mengenakan celana.
“Rose…maaf, tadi Arsen yang memintaku…”
Plakkk
Satu tamparan mendarat di pipi Renata. Membuat wanita itu seketika tertoleh ke samping. Bukannya marah, Renata justru menyembunyikan senyumnya.
‘Jebakan berhasil.’
“Beraninya kau tidur dengan suamiku!” Yvone menunjuk-nunjuk wajah Renata. Kemarahan ini bukanlah hal yang bisa dibuat, tetapi keluar dengan sendirinya.
Saat melihat Renata berada dalam pelukan Arsen. Yvone sangat marah, padahal ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan pria itu. Hanya saja kebetulan ia menumpang di raga istri pria itu. Harusnya semua ini tidak berarti apa pun.
Siapa sangka, ia merasa cemburu.
Ia merasa marah.
“Rose, kau jangan marah. Arsen yang memintaku untuk menemaninya. Jika kau tidak percaya, kau bisa memeriksa CCTV di kantor,” ucap Renata.
“Tutup mulutmu!” Entah mengapa Yvone tidak percaya dengan ucapan wanita ini. “Wanita ular.”
Mendengar suara keributan, Brighita dan Alexa muncul. Alexa berjalan terseok karena kakinya yang terluka akibat terinjak oleh Yvone.
“Ada apa ini?” tanya mereka secara bersamaan.
“Lihat kelakuan mereka!” Yvone menunjuk ke arah ranjang.
Brighita menatap Arsen yang masih terlelap, lalu beralih kepada Renata yang mengenakan kemeja dalam kondisi berantakan. Brighita hanya mendecak saja. Seolah apa yang ia lihat adalah hal yang biasa.
“Bibi, maafkan aku. Arsen yang memintaku untuk menemaninya karena ia sangat kesepian. Aku dengar Rose selalu menolak tidur bersama,” ujar Renata.
“Benar-benar wanita ular! Beraninya kau menumpahkan kesalahan pada orang lain.” Yvone tidak habis pikir, bagaimana Arsen bisa berteman dengan wanita selicik Renata. Lebih parahnya lagi, ibunya mendukung.
“Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Renata memang sudah meminta izin membawa Arsen ke kamar. Apa kau tahu? Suamimu itu kelelahan, bukannya diam di rumah merawat, malah keluyuran,” omel Brighita.
Yvone memutar tubuh ke belakang, tatapannya menghunus tajam. Melihat wajah Brighita, mengingatkan Yvone pada kejahatan yang dilakukan wanita itu pada Rose.
Ia harus memberi pelajaran pada wanita itu.
Yvone berjalan cepat ke arah nakas, meraih jus jeruk lalu menyiramkan ke wajah Brighita.
Pyashhh
“Arrghhh! Apa yang kau lakukan?” Brighita berteriak marah. Tangannya spontan mengusap wajahnya yang basah kuyup.
Renata dan Alexa yang melihat itu tampak kaget. Mereka refleks menutup mulutnya yang terbuka.
“Bibi!”
“Mama!”
Teriak dua wanita itu secara bersamaan. Alexa segera menghampiri ibunya, dengan sedikit kesulitan menyeret langkahnya.
“Mama tidak apa-apa?” tanya Alexa khawatir. Ia lantas menatap Rose tajam. “Beraninya kau melakukan ini pada Mama!” maki Alexa.
Yvone memutar bola mata malas. Lalu meletakkan gelas dengan santai. “Jangankan hanya menyiram dengan jus. Aku bahkan berani menyiram kalian dengan bensin. Lalu menyulut api.”
“Apa?” Alexa dan Brighita melotot.
“Jangan keterlaluan, Rose. Bagaimanapun Bibi adalah ibu mertuamu. Dia ibumu juga,” tegur Renata.
Yvone tergelak. Tawanya menggema di ruangan. “Seorang Ibu tidak akan meracuni anaknya,” sindir Yvone.
“Apa maksudmu?” tanya Brighita.
Yvone melangkah maju. “Kau pikir aku tidak tahu, kau menukar resep obat yang diberikan Dokter Darwis dengan obat lain, dan menyuruhku meminumnya selama bertahun-tahun.”
Mendengar itu, Brighita tertegun untuk beberapa saat. Ia tentu saja kaget, meski begitu ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya itu.
“Jangan mengada-ada, tidak mungkin Mama melakukan itu!” sergah Alexa membela ibunya.
“Iya benar, Rose. Bibi Brighita selama ini sudah baik membantumu untuk diet dan juga memberimu vitamin kesuburan. Kau saja yang tak kunjung hamil. Jangan-jangan kau mandul!”
“Tutup mulutmu!”
Plakkkkk
Satu tamparan kembali didapatkan Renata. Kali ini lebih keras hingga menyebabkan sudut bibirnya pecah.
Sebuah keributan membuat Arsen seketika terbangun. Dengan cepat ia membuka mata, lalu mendudukkan dirinya.
“Ada apa ini?”
Suara Arsen membuat ketiga wanita itu menoleh secara bersamaan.
Renata melirik ke arah Yvone, mengulas senyum licik, kemudian berlari kecil mendekati Arsen.
“Arsen, lihatlah! Rose menamparku!” adu Renata.
Arsen menatap wajah Renata, pipinya tampah merah. Sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. Arsen membulatkan mata.
“Rose, apa yang kau lakukan?” cecar Arsen.
Yvone melangkah mendekat, tatapannya tajam. “Kau sudah bangun rupanya. Lihatlah dirimu. Apa yang kau lakukan dengan perempuan ular ini?!” Suara Rose menggelegar, menyadarkan Arsen dari posisinya.
Ia melihat dirinya sendiri lalu segera mencari jas dan kemeja yang ia kenakan. Arsen mencoba mengingat, terakhir kali ia berada di kantor. Lalu kenapa sekarang berada di rumah?
“Apa yang terjadi?” tanya Arsen linglung.
Yvone mendecak. “Kalian semua membuatku muak. Dengar Arsen, semua cukup sampai di sini. Kita cerai!”
Setelah mengatakan itu, Yvone segera membalik diri, dan melangkah menuju pintu keluar.
Melihat itu, Arsen melompat turun, dan menghadang Yvone. “Rose, tunggu. Aku bisa jelaskan.”
Yvone melirik ke arah Arsen. Sedikit lega, setidaknya pria itu masih mengenakan celana. Meski begitu, hal itu sama sekali tak meredakan amarahnya.
“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Minggir!”
Rose mendorong Arsen ke samping, tetapi pergelangan tangannya malah dicekal.
“Rose, ini tidak seperti yang kau lihat. Aku dan Renata…”
“Sudah kubilang aku tidak ingin dengar apa pun. Aku tunggu surat cerainya.”
Dengan kuat Rose menarik tangannya, dan secara otomatis jeratan tangan Arsen terlepas. Rose berlalu begitu saja meninggalkan Arsen dan ketiga wanita di dalam ruangan.
Dengan hati meradang, Rose meninggalkan rumah. Ia memasuki mobil. Ia hendak menyalakan mesin mobil saat tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang masuk ke dalam mobilnya.
“Biar saya yang menyetir, Nyonya,” tawar Daniel.
“Tidak, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku akan bercerai dengan Arsen, dan aku bukan lagi majikanmu.”
“Apa pun yang terjadi, saya akan tetapi ikut ke manapun Anda pergi.”
Mendengar itu, Yvone menghela napas panjang. Kepergian Sui membuat Yvone sedikit kesepian, dan ia butuh teman. Pada akhirnya ia mengizinkan David untuk ikut dengannya.
“Jadi ke mana kita akan pergi, Nyonya?” tanya David.
Awalnya Yvone tidak tahu ke mana ia akan pergi. Mengingat ia tidak mengenal siapa pun di sini. Tetapi, ia ingat Rose masih memiliki orang tua, sehingga ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Rose.
“Kita pergi ke rumah orang tuaku.”
“Baik.”
Di sisi lain, Arsen segera menghampiri Renata. Wajahnya tampak dipenuhi amarah. Rahangnya mengeras. Jantungnya berdegup kencang. Kepalanya serasa ingin meledak.
“Renata, sebenarnya apa yang terjadi? Cepat katakan? Kenapa Rose bisa semaran ini?!” Nada bicara Arsen meninggi.
Renata menundukkan kepalanya. Ia melirik sekilas ke arah Alexa dan Brighita sebelum akhirnya menjawab, “Rose melihat kita tidur bersama.”
“Apa?”