Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan mereka
Pagi hari di restoran lantai bawah hotel butik itu terasa begitu segar. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui dinding-dinding kaca besar, menerangi jajaran menu prasmanan yang tertata rapi. Aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan wanginya roti panggang dan bubur ayam hangat.
Di salah satu meja bundar dekat taman buatan, Rania, Aris, Ibu Lastri, dan Bapak Suprapto sedang menikmati sarapan pagi mereka. Rania yang tampak jauh lebih segar setelah tidur nyenyak, perlahan menyuap potongan buah segar ke dalam mulutnya. Namun, ketenangan sarapan pagi itu mendadak riuh ketika Ibu Lastri meletakkan garpunya dan kembali memulai topik yang tampaknya belum selesai sejak semalam.
"Ih, beneran lho, Ran, Ris... Ibu itu kalau ingat perempuan semalam di lobi, rasanya masih bergidik ngeri," ujar Ibu Lastri sambil menggidikkan bahunya dramatis, memperagakan rasa geli yang ia rasakan. "Dandanannya itu lho, astagfirullah... tebalnya minta ampun. Lipstiknya merah menyala seperti habis makan ayam hidup-hidup. Mana bajunya... hih! Kurang bahan sekali. Perempuan jaman sekarang kok ya tidak punya rasa risih dandan berlebihan seperti itu di tempat umum."
Ibu Lastri terus mengomel dengan nada mencibir, menumpahkan segala pandangan kolot khas orang desanya tanpa tahu kenyataan yang sesungguhnya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sosok yang sedang ia hina, ia cemooh, dan ia anggap mengerikan itu sebenarnya adalah anaknya sendiri. Anak laki-laki yang dulu ia timang, kini telah bertransformasi menjadi wanita simpanan pengusaha kaya demi sebuah pelarian ego.
Melihat ekspresi wajah Ibu Lastri yang sangat ekspresif hingga matanya melotot-melotot, Rania dan Aris tidak bisa menahan tawa. Rania tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tisu, sementara Aris terkekeh renyah hingga bahunya terguncang.
"Ibu ini ada-ada saja. Mungkin itu memang tren fesyen orang kota jaman sekarang, Bu," sahut Aris sambil memotong dadar gulungnya.
Bapak Suprapto yang sejak tadi diam menikmati kopinya, akhirnya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Ia meletakkan cangkirnya ke tatakan dengan denting pelan, lalu menatap Ibu Lastri dengan pandangan menegur.
"Sudah, Bu, sudah. Berhenti bercerita tentang orang itu lagi," potong Bapak Suprapto dengan suara beratnya yang tegas. "Dari semalam setelah masuk kamar, mau tidur, sampai subuh tadi, lalu sekarang sarapan... Ibu tidak ada hentinya membahas perempuan itu. Tidak baik mengurus selera baju orang lain. Ayo dihabiskan makanannya, keburu dingin."
Ibu Lastri mengerucutkan bibirnya, namun akhirnya patuh dan kembali meraih sendok buburnya, memancing senyum geli di wajah Rania yang merasa terhibur dengan kedinamisan kedua mertuanya.
Tabrakan yang Membuka Petunjuk
Di tengah-tengah obrolan, Aris meletakkan serbetnya di atas meja. "Pak, Bu, Ran... Aris pamit ke kamar mandi sebentar ya? Perut agak kurang bersahabat setelah minum es semalam."
"Oh nggih, Le. Jangan lama-lama, habis ini kita mau siap-siap pulang," pesan Ibu Lastri.
Aris bangkit dari kursi dan melangkah keluar dari area restoran menuju lorong toilet yang terletak di dekat lobi. Koridor tersebut agak menikung tajam di dekat pilar. Karena berjalan sambil membetulkan posisi jam tangannya, Aris tidak memperhatikan arah depan dengan jeli.
BUK!
Di tikungan koridor, tubuh tegap Aris berbenturan cukup keras dengan seorang pria yang berjalan sangat terburu-buru dari arah berlawanan. Benturan itu membuat pria tersebut hampir kehilangan keseimbangan, dan beberapa lembar kertas struk dari sakunya sempat terjatuh.
"Ah, maaf, maaf... saya tidak melihat jalan," ujar pria itu dengan nada panik dan napas yang sedikit memburu.
Aris segera membungkuk, membantu mengambilkan kertas yang terjatuh. "Oh, tidak apa-apa, Mas. Saya juga yang salah karena kurang memperhatikan depan—" Kalimat Aris mendadak terhenti ketika ia melihat nama di beberapa Carikan kertas itu, dia mendongak dan menatap wajah pria di hadapannya.
Jantung Aris berdesir tajam. Ingatan visualnya sebagai seorang pria yang terbiasa menganalisis dokumen langsung bekerja dengan cepat. Nama di beberapa kertas itu Dara dan Pria berjas biru navy tanpa dasi dengan rambut yang sedikit acak-acakan ini adalah Mario. Pemilik Langkah Jaya, pria yang namanya tertera di seluruh berkas investigasi penggelapan identitas Damar yang dipegangnya di Jakarta.
Mario yang tidak mengenal Aris secara pribadi, segera menerima kertas-kertasnya dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan yang teramat sangat. "Terima kasih, Mas. Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar sedang terburu-buru," ucap Mario formal.
Aris yang ingin menggali informasi tanpa menimbulkan kecurigaan, sengaja menahan Mario dengan nada suara yang ramah dan penuh empati. "Sama-sama, Mas. Tapi kalau boleh tahu, sepertinya Mas kelihatan panik sekali? Ada masalah penting?"
Mario menghela napas pendek, meremas kertas di tangannya. Rasa frustrasi dan khawatirnya tampaknya sudah tidak bisa ia bendung sendiri. "Iya, Mas. Pacar saya yang menginap di atas mendadak sakit dari semalam. Badannya lemas sekali, menangis terus, dan sama sekali tidak mau makan dari semalam sampai pagi ini. Ini saya mau ke apotek hotel atau cari dokter panggilan. Saya sangat khawatir terjadi apa-apa dengannya."
Aris mendengarkan penuturan itu dengan kilat mata yang menajam di balik ekspresi tenangnya. Pacarnya sakit? Menangis terus dari semalam dan tidak mau makan? Pikiran Aris langsung menghubungkannya dengan kejadian di lobi semalam. Aris sadar, pacar yang dimaksud Mario pastilah 'Dara' alias Damar. Apakah dia bertemu dengan ibu semalam?
"Oh, begitu. Semoga pacarnya cepat sembuh ya, Mas. Di klinik depan hotel sepertinya ada apotek yang buka," ujar Aris memancing.
"Ah, ya, terima kasih banyak informasinya. Mari, Mas," pamit Mario, lalu bergegas berlari kecil meninggalkan Aris di koridor sepi tersebut.
Aris berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Mario yang kian menjauh. Kecurigaannya kini seratus persen terbukti. Damar berada di atas bangunan ini, sedang meratapi nasibnya yang telah berubah wujud. Aris mengepalkan tangannya. Ternyata kamu menangis, Damar. Kamu menangis setelah melihat ibumu sendiri tertawa bahagia tanpa kehadiran mu, batin Aris dengan senyum getir. Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Aris kembali ke meja makan dengan ekspresi wajah yang kembali ia normalkan agar tidak membuat Rania curiga.Dia tidak ingin kabar yang dia tau, membuat wanita yang di pujanya itu kembali bersedih.
Canda Tawa di Pusat Perbelanjaan
Siang harinya, setelah proses check-out selesai, Aris dan keluarga kecil itu tidak langsung bertolak kembali ke Kendal. Aris sengaja membelokkan mobilnya menuju salah satu mall terbesar di pusat kota Semarang.
"Kita belanja sebentar ya, Bu, Pak. Mumpung di Semarang, koleksi baju di sini lebih lengkap dibanding di Kendal," ujar Aris bersemangat saat mereka memasuki area department store.
Suasana belanja itu berlangsung sangat menyenangkan. Aris membelikan Ibu Lastri beberapa potong gamis baru, dan Bapak Suprapto sebuah kemeja formal. Namun, destinasi utama Aris sebenarnya adalah area perlengkapan bayi. Mereka berempat berdiri di depan jajaran pakaian bayi yang mungil, lucu, dan berwarna-warni.
"Ran, lihat ini. Lucu banget tidak kalau anakmu nanti pakai baju kodok gambar jerapah ini?" seru Aris dengan ceria, mengambil sebuah jumper bayi berukuran mini.
Rania tertawa renyah, matanya berbinar melihat keimutan baju tersebut. "Aris, kandunganku baru masuk bulan-bulan awal, belum tahu juga jenis kelaminnya apa. Kok kamu sudah seheboh ini pilih baju jerapah."
"Tidak apa-apa, buat persiapan," balas Aris tak mau kalah.
Dengan sifatnya yang jenaka, Aris mendadak mengambil sepotong gaun bayi perempuan berwarna merah muda yang sangat menggemaskan, lalu menempelkan gaun mini tersebut tepat di depan perut buncit Rania yang sedang berdiri bersandar di rak pajangan. Aris membuat wajah lucu seolah-olah sedang berbicara dengan bayi di dalam kandungan Rania.
"Halo Dedek bayi, nanti kalau sudah lahir, pakai baju pink ini ya? Biar cantik seperti Ibumu," ucap Aris dengan nada kekanak-kanakan yang dibuat-buat.
Aksi konyol Aris itu spontan membuat Rania tertawa terpingkal-pingkal. Ibu Lastri yang berdiri di dekat mereka pun ikut tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, sementara Bapak Suprapto hanya tersenyum lebar melihat pemandangan yang begitu hangat dan penuh warna itu. Ruangan itu dipenuhi oleh energi kebahagiaan yang murni.
Kalimat yang Membekukan Senyuman
Namun, tawa riang itu mendadak terhenti dalam satu detik yang tak terduga. Seorang wanita paruh baya mengenakan seragam petugas toko yang sejak tadi memperhatikan mereka dari balik meja kasir, melangkah mendekat sambil membawa sebuah tas belanja tambahan.
Petugas toko itu tersenyum sangat manis, menatap Aris dan Rania bergantian dengan pandangan penuh kekaguman.
"Aduh, silakan Ibu, Bapak... pakaian bayinya sedang ada diskon. Saya dari tadi melihat ke sana, senang sekali rasanya. Suaminya humoris dan perhatian sekali ya, Bu? Masih muda, tampan, istrinya juga cantik anggun sekali. Kelihatan sangat harmonis rumah tangganya. Semoga persalinannya nanti lancar ya, Bu," puji petugas toko itu dengan sangat tulus, mengira bahwa Aris adalah suami dari wanita hamil di hadapannya.
Seketika itu juga, tawa di bibir Rania membeku. Tangannya yang tadinya memegang baju bayi perlahan turun. Kalimat "suaminya humoris" dan "harmonis rumah tangganya" menghantam kesadaran Rania layaknya gada besi yang tak kasat mata.
Dunia Rania mendadak hening. Senyumnya lenyap berganti dengan tatapan mata yang kosong. Kenyataan pahit yang sempat ia lupakan selama beberapa jam ini kembali datang menagih tempat. Aris bukanlah suaminya. Suaminya yang sah adalah Damar—pria yang telah mencampakkannya dan menyisakan luka menganga di hatinya.
Aris yang menyadari perubahan raut wajah Rania, langsung berdehem canggung untuk mencairkan suasana. "Ah... nggih, Mbak, terima kasih atas doanya. Tapi saya ini—"
"Iya, Mbak, terima kasih. Kami ambil yang ini saja," potong Rania dengan suara yang mendadak berubah menjadi datar dan pelan, memotong kalimat Aris karena ia tidak ingin memperpanjang kecanggungan di depan umum.
Ibu Lastri dan Bapak Suprapto yang mendengar ucapan petugas itu pun seketika terdiam. Ada rasa sesak yang kembali merayapi dada mereka, teringat akan anak kandung mereka yang tidak bertanggung jawab.
Kesunyian dalam Perjalanan Pulang
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka akhirnya melangkah keluar dari mall dan memulai perjalanan pulang menuju Desa Kendal. Di dalam mobil, suasana yang tadinya riuh dengan canda tawa sepanjang berangkat, kini berubah menjadi kesunyian yang pekat.
Bapak Suprapto dan Ibu Lastri yang duduk di kursi tengah memilih untuk memejamkan mata, pura-pura tertidur karena kelelahan, meski pikiran mereka sebenarnya mengembara pada nasib pelarian anak mereka. Sementara Aris, sesekali melirik ke arah kursi penumpang di sampingnya melalui sudut matanya.
Rania hanya terdiam sepanjang perjalanan. Wajahnya dipalingkan ke arah jendela, menatap deretan pohon, aspal jalanan, dan hamparan sawah yang bergerak mundur dengan pandangan yang kosong. Jari-jemarinya bertaut erat di atas perutnya, seolah sedang memeluk erat janin yang dikandungnya dari kejamnya kenyataan dunia.
Pikiran Rania terus berputar, terpaku pada selintas ucapan pegawai toko tadi. Sangat harmonis rumah tangganya... Kalimat itu memicu sebuah pertanyaan besar yang menyiksa batinnya. Mengapa takdir begitu kejam? Mengapa kehangatan, perlindungan, dan kebahagiaan yang ia rasakan akhir-akhir ini justru datang dari sosok Aris, sahabatnya, dan bukan dari Damar, suaminya? Di mana Damar sekarang saat anaknya membutuhkan sentuhan seorang ayah?
Rania tidak pernah tahu, bahwa suaminya yang ia rindukan kehadirannya itu, saat ini sedang berada di dalam kamar hotel di Semarang, menangis terisak di pelukan Mario karena dihantam rasa bersalah setelah penyamarannya dinilai mengerikan oleh ibunya sendiri. Dua kutub kehidupan itu kembali bergerak menjauh, meninggalkan Rania dalam kesunyian jalan pulang menuju Kendal, membawa sejuta tanya yang belum menemukan jawaban.