NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Melawan Gravitasi Kantuk

Kabut pagi di Pegunungan Awan Mengalir biasanya membawa hawa sedingin es yang mampu menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, di pelataran tanah padat di depan Dapur Luar, udara terasa hangat dan dipenuhi oleh keheningan yang sangat ganjil.

Ratusan murid—mulai dari murid luar yang mengenakan jubah abu-abu kusam hingga beberapa murid dalam berjubah putih berpelisir perak—berdiri membentuk antrean panjang yang meliuk seperti tubuh naga yang sedang berhibernasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Tidak ada suara pedang yang bergesekan dengan sarungnya. Bahkan langkah kaki mereka sengaja diseret dengan sangat pelan agar sol sepatu mereka tidak menghasilkan bunyi gesekan di atas kerikil.

Di bagian tengah antrean tersebut, berdirilah Bai Ling.

Sang 'Viper Tak Terlihat', pembunuh bayaran tingkat Pendirian Fondasi dari Sekte Gagak Hitam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya telah diolesi abu kayu bakar dan getah pohon pinus untuk menyamarkan kulit pucatnya yang terawat, membuatnya terlihat seperti pelayan rendahan yang kekurangan gizi. Jubah abu-abunya sengaja dibuat compang-camping di bagian ujungnya.

Namun, di balik penyamaran yang sempurna itu, emosi Bai Ling sedang mendidih.

Urat-urat halus menonjol di punggung tangan kanannya yang tersembunyi di balik lengan jubah yang kebesaran. Jari-jarinya mencengkeram sepuluh keping batu roh tingkat rendah begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

*Penghinaan macam apa ini?* batin Bai Ling meradang, matanya bergerak cepat dan tajam (saccadic) di balik poni rambutnya yang lepek, merekam setiap sudut bangunan Dapur Luar. *Aku telah merayap melewati lahar mendidih, menyusup ke dalam benteng yang dijaga oleh monster tingkat lima, dan membunuh targetku dalam kegelapan mutlak. Tapi hari ini... aku harus mengantre seperti pengemis kelaparan dan membayar tiket masuk hanya untuk melihat sasaranku?!*

Bai Ling mengendus udara perlahan. Insting pembunuhnya yang telah diasah selama dua puluh tahun secara otomatis mencari jejak racun, dupa halusinogen, atau formasi pengendali pikiran. Namun, yang ia cium hanyalah aroma kaldu tulang ayam yang direbus perlahan, wangi daun bawang segar, dan aroma kayu bakar. Kemurnian udara ini justru membuat jantungnya berdegup lebih cepat karena kewaspadaan ekstrem. Monster yang tidak menggunakan racun biasanya menggunakan manipulasi mental murni.

Antrean bergerak maju dengan lambat. Beberapa murid yang keluar dari pintu dapur memiliki ekspresi yang membuat punggung Bai Ling merinding. Mata mereka setengah terpejam, senyum lebar dan bodoh terukir di wajah mereka, dan mereka berjalan terhuyung-huyung seperti pemabuk yang baru saja meminum arak surga.

*Mereka semua telah dicuci otaknya,* analisis Bai Ling, rahangnya mengeras. *Kultivator aliran lurus ini benar-benar munafik. Mereka menyebut kami sekte hitam, padahal mereka membiarkan monster kuno ini menghisap kewarasan murid mereka secara massal.*

Akhirnya, tiba giliran Bai Ling.

Ia melangkah mendekati meja kayu usang di depan pintu masuk. Zhao Er duduk di sana dengan kepala yang ditopang oleh tangan kirinya. Pemuda kurus itu menguap begitu lebar hingga rahangnya berbunyi *krek* pelan, matanya berair karena menahan kantuk yang teramat sangat.

Bai Ling meletakkan sepuluh batu roh itu di atas meja. Ia sengaja membuat tangannya bergetar hebat, menunjukkan bahasa tubuh seorang pelayan yang ketakutan.

"N-nama hamba Xiao Ling... pelayan pindahan dari Puncak Anggrek," bisik Bai Ling, suaranya dibuat serak dan bergetar.

Zhao Er bahkan tidak menatap wajahnya. Ia hanya menggeser batu roh itu ke dalam laci kayu dengan sapuan tangan yang sangat loyo. "Hm. Masuklah. Duduk di area yang sudah ditandai dengan kapur putih. Jangan berisik. Jangan batuk. Kalau kau merasa ingin bersin, telan kembali bersinmu. Master Lin benci suara bising."

Bai Ling menunduk hormat, menyembunyikan kilatan membunuh di matanya. Ia melangkah melewati ambang pintu kayu ganda yang terbuka.

*Deg.*

Pada detik ujung sepatu bot kainnya menyentuh lantai batu di dalam Dapur Luar, Bai Ling merasa seolah-olah ia baru saja menabrak dinding air yang tak kasat mata.

Transisi lingkungannya terjadi begitu brutal tanpa ada peringatan. Hantaman **Aura Kelesuan Menular** menyergap seluruh sistem saraf pusatnya. Udara di dalam ruangan itu terasa jauh lebih padat, kental, dan berat, seolah-olah gravitasi di tempat ini telah dilipatgandakan secara khusus untuk menarik tubuh manusia ke bawah.

Lutut Bai Ling langsung goyah. Ia harus memundurkan kaki kanannya setengah langkah untuk menahan berat tubuhnya yang tiba-tiba terasa seperti terbuat dari timah cair.

*Formasi gravitasi?!* Bai Ling panik dalam hati. Namun, saat ia memeriksa aliran Qi di tubuhnya, meridiannya sama sekali tidak tertekan. Tidak ada paksaan magis. Yang terjadi adalah otot-ototnya sendiri yang tiba-tiba melepaskan ketegangannya. Adrenalin yang sedari tadi mendidih di pembuluh darahnya menguap, digantikan oleh hormon melatonin (hormon tidur) yang diproduksi otaknya dalam jumlah yang sangat masif.

Bai Ling menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga. Rasa amis darah yang mengalir di lidahnya memberikan sensasi sakit yang ia butuhkan untuk tetap sadar. Ia memaksakan kakinya melangkah maju, tangannya mencengkeram erat lipatan jubahnya untuk menyembunyikan tremor hebat yang melanda lengannya.

Ia berjalan menuju radius lima meter di depan sudut barat laut, dan perlahan menjatuhkan diri dalam posisi duduk bersila di antara lima belas murid lainnya.

Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dengan liar untuk melawan rasa kantuk yang tidak wajar ini. Napas Bai Ling menjadi terengah-engah dan memburu.

Ia memusatkan pandangannya ke arah tirai sutra biru yang sedikit tersingkap. Di balik sana, melalui celah Jendela Kekosongan yang menyaring sinar matahari dengan Payung Nirwana, ia melihat objek yang menjadi target utamanya.

Di atas sebuah Ranjang Awan Mengambang yang memancarkan pendaran cahaya mutiara, berbaringlah sang "Monster Kuno".

Lin Fan dibalut oleh Jubah Penolak Gangguan abu-abu yang membuat siluet tubuhnya terlihat membaur dengan latar belakang. Pemuda itu meringkuk menghadap ke luar, satu tangannya menjuntai malas ke tepi kasur, sementara tubuhnya tenggelam ke dalam tumpukan sutra awan yang sangat empuk. Dengkurannya terdengar halus, berpadu dengan ritme ayunan ranjang anti-gravitasi tersebut.

Bai Ling memicingkan matanya, mengaktifkan teknik 'Mata Elang Pembelah Jiwa' miliknya. Ia mencari titik buta. Ia mencari fluktuasi Qi yang melindungi organ vitalnya. Ia mencari celah kelengahan yang biasa dimiliki oleh para kultivator saat mereka tertidur.

Namun, yang ia lihat hanyalah kehampaan yang absolut.

Tidak ada perisai energi yang agresif. Tidak ada titik lemah karena seluruh tubuhnya... seolah-olah tidak ada. Ranjang itu sendiri dan Batu Giok Yin Yang di bawah kakinya menciptakan sebuah ekosistem sirkulasi energi yang memutar tanpa henti.

*Sialan!* Bai Ling mencubit keras pahanya sendiri dari balik jubah. Kuku jarinya menancap hingga menembus kulit. *Aura kelesuan ini... ini bukan ilusi! Dia mengubah frekuensi alam semesta di sekitarnya menjadi frekuensi istirahat! Jika aku diam di sini lebih lama lagi, jantungku akan lupa cara berdetak karena tubuhku mengira ia sedang tidur!*

Perlawanan Bai Ling menciptakan anomali di ruangan tersebut. Di saat semua murid lain bernapas dengan ritme yang sangat panjang dan pelan, napas Bai Ling terdengar pendek, kasar, dan penuh dengan kepanikan. Suara degup jantungnya—*deg-deg, deg-deg*—terdengar sangat kontras, layaknya seseorang yang sedang memukul drum fana di tengah pertunjukan harpa surgawi.

Di atas Ranjang Awan, kelopak mata Lin Fan berkedut.

Alam bawah sadar Lin Fan yang sedang asyik menjelajahi padang rumput kasur air dalam mimpinya, merasa terganggu oleh kebisingan ritmik tersebut. Ia merasa ada sebuah getaran udara yang mengusik ketenangan audiotorinya.

Lin Fan menghela napas panjang dan berat. Ia tidak berniat bangun, namun ia juga tidak bisa mentolerir polusi suara dari pelayan yang sedang mengalami krisis asma di luar tirainya.

Dengan gerakan yang begitu loyo hingga terlihat seperti orang yang sedang kehabisan nyawa, Lin Fan mengangkat tangan kanannya. Ia meraba-raba sisi bantalnya dan menemukan gagang kipas bulu spiritualnya.

Mata Bai Ling membelalak lebar. Setiap helai rambut di tubuhnya berdiri tegak.

*Dia bergerak! Dia akan melancarkan serangan!* Insting pembunuh Bai Ling mengambil alih. Tangan kirinya diam-diam meluncur ke balik lengan jubah kanannya, menggenggam gagang belati beracun. Otot betisnya menegang, bersiap untuk melompat membelah tirai dan menusuk leher pemuda itu sebelum serangan baliknya keluar.

Namun, apa yang dilakukan Lin Fan sama sekali tidak menyerupai serangan.

Lin Fan hanya mengibaskan kipas bulu itu satu kali ke arah celah tirai, semata-mata untuk mengusir hawa "berisik" yang ia rasakan, dengan gerakan mengayun yang lemah dan tanpa tenaga.

*Wuuusss...*

Sebuah hembusan angin sejuk melesat keluar dari balik tirai. Angin itu tidak membawa bilah angin yang mematikan. Ia tidak membawa elemen api atau es. Angin itu murni membawa gelombang partikel Qi Pendirian Fondasi tingkat dua yang telah tersaring oleh esensi kemalasan tingkat dewa.

Angin itu menerpa wajah Bai Ling.

Seketika itu juga, pertahanan mental yang dibangun Bai Ling selama puluhan tahun di neraka pelatihan Sekte Gagak Hitam, runtuh menjadi serpihan debu.

Belati di tangan kirinya terlepas, jatuh tanpa suara ke atas pangkuannya. Rasa sakit dari gigitan di bibirnya dan cubitan di pahanya mendadak terasa sangat tidak relevan. Adrenalinnya benar-benar habis tak bersisa.

Hembusan angin itu terasa seperti usapan lembut seorang ibu di ubun-ubun anaknya setelah seharian menangis kelelahan. Udara yang masuk ke paru-parunya membawa kehangatan yang mencairkan seluruh ketegangan di tulang belakangnya.

"Ah..." sepotong desahan lemah tanpa daya lolos dari bibir Bai Ling.

Ia tidak bisa melawan lagi. Sebenarnya, ia *tidak ingin* melawan lagi. Mengapa ia harus lelah-lelah menjadi pembunuh bayaran, membunuh orang demi batu roh, bersembunyi di dalam lumpur, jika ia bisa merasakan kedamaian absolut hanya dengan menyerah pada gravitasi?

Otot bahu Bai Ling merosot. Kepalanya terkulai perlahan ke samping. Kelopak matanya, yang sedari tadi ditahannya terbuka lebar hingga urat merahnya menonjol, kini jatuh menutup dengan kelegaan yang tak terlukiskan.

Tubuh rampingnya miring ke kanan, dan Bai Ling pun jatuh berbaring di atas lantai batu Dapur Luar. Sebuah dengkuran halus segera menyusul, diiringi sebaris air liur kecil yang menetes dari sudut bibirnya, menodai lantai yang kotor.

Sang Viper Tak Terlihat telah berhasil dijinakkan secara total, bukan oleh pedang atau segel iblis, melainkan oleh usapan angin dari kipas orang yang sedang mengigau kepanasan.

Di atas ranjang, mendengar napas yang memburu itu akhirnya digantikan oleh dengkuran yang seirama dengan murid lainnya, Lin Fan mengangguk kecil dalam tidurnya.

"Nah... begitu lebih baik..." igau Lin Fan samar, melepaskan kipasnya yang jatuh ke kasur, dan kembali menarik selimut awannya menutupi bahu.

Di ambang pintu dapur, Wang Ta, yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari kejauhan, meneteskan air mata hangat. Ia menyeka matanya dengan ujung celemeknya, terharu melihat pemandangan tersebut.

"Lihatlah kemurahan hati Master Lin..." bisik Wang Ta kepada Zhao Er yang sedang menguap di sampingnya. "Gadis pelayan miskin itu terlihat sangat menderita dan memikul trauma yang berat. Master Lin melihat rasa sakit di jiwanya, dan beliau memberikan 'Hembusan Angin Pencerahan' untuk melepaskannya dari beban duniawi. Beliau bahkan tidak meminta tambahan batu roh untuk pemberkatan tingkat tinggi itu. Hati Master kita sungguh seluas samudra."

Sementara kesalahpahaman kosmik itu terus berkembang subur di benak para pengikutnya, Dapur Luar kembali diselimuti oleh melodi dengkuran massal yang harmonis, mengubur dalam-dalam rencana asasinasi dari sekte musuh di bawah lautan rasa kantuk yang abadi.

1
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣💪
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣🤭
Gege
idenya keren tiduran saja bisa ngalahin para ahli...epic dan apik..
Gege
temanya menarik..makin malas makin sakti...belom lagi hadiah hadiah yang diluar nalar... nabok nyilih tangan menang tanpo ngasorake sugih tanpo kerjo...🤣
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!