Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aron Kritis
“ACA BERHENTI JANGAN GILA ACAAAAA…!!”
Teriakan Papa Hendra menggema keras. Namun semuanya sudah terlambat. Tubuh Aca sudah melompat turun ke bawah.
DEG!
Waktu seolah melambat. Angin malam menerpa wajahnya. Hujan masih turun tipis, membuat semuanya terasa dingin dan buram.
“Aron…” Nama itu yang terakhir terlintas di kepalanya.
BRAKK!
Tubuhnya tidak langsung menghantam tanah.
Beruntung atau mungkin keajaiban ia jatuh tepat di atas pohon besar di samping kamarnya.
Dahan-dahan menahan tubuhnya. Namun bukan tanpa rasa sakit.
“Aghh…!” ringisnya tertahan saat tubuhnya terbentur beberapa cabang sebelum akhirnya merosot turun perlahan.
Tangannya tergores. Kakinya terasa nyeri. Tapi ia gapapa masih hidup dan itu cukup bisa buat dia ketemu Aron dengan cepat.
Dengan napas tersengal, Aca memaksa berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi matanya tetap fokus. Satu tujuan yaitu Aron.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari ke garasi samping. Tangannya dengan cepat meraih helm full face dan kunci motor.
Motor CRF kesayangannya. Mesin menyala keras.
VROOOOM!
VROOOMMM!
Tanpa ragu, Aca langsung melesat keluar dari mansion.
Di lantai atas, Papa Hendra sampai di jendela.
Matanya membelalak seolah syok dengan kejadian barusan.
“Aca…” suaranya nyaris tidak keluar. Ia melihat ke bawah. Tidak ada tubuh putrinya.
Hanya pohon yang bergoyang pelan. Dan suara motor yang semakin menjauh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia benar-benar kehilangan kendali.
“Brengsek!” gumamnya pelan, suaranya bergetar. Namun di balik semua itu ada rasa takut yang jauh lebih besar.
Jalanan malam itu basah. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang licin.
Namun Aca tidak peduli. Kecepatan motornya terus meningkat. Angin menerpa keras. Hujan membasahi jaketnya. Namun matanya tetap fokus ke depan.
“Lo harus hidup, Aron…” bisiknya di balik helm. “Lo gak boleh ninggalin gue.”
Beberapa waktu kemudian motor itu berhenti mendadak di depan markas besar milik Aron.
Dua penjaga langsung siaga.
“STOP!”
Salah satu dari mereka mengangkat tangan.
Aca turun dari motor. Langkahnya cepat, penuh emosi.
“Minggir,” ucapnya dingin.
“Identitas!” bentak penjaga itu.
Aca tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya dan helm full face nya terbuka.
Wajahnya terlihat. Pucat. Basah. Tapi penuh tekad. “Buka gerbangnya,” ucapnya tajam. “Ini Aca.”
DEG!
Kedua penjaga langsung saling pandang.
Terkejut.
“CEPAT!” bentak Aca lagi.
Tanpa berani membantah, gerbang langsung dibuka. Aca langsung berlari masuk.
Di dalam markas, suasana masih tegang. Beberapa anak buah mondar-mandir dan di sana Bara abangnya masih berdiri.
Begitu melihat Aca matanya membelalak. “Aca?!” Langkahnya langsung mendekat.
“Lo ngapain ke sini?!” suaranya setengah marah, setengah panik.
Namun Aca tidak berhenti. “Abang minggir,” ucapnya dingin.
Bara mengernyit. “Dek…”
“GUE BILANG MINGGIR!”
Suasana langsung membeku. Semua orang menatap. Aca menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Ini urusan Aca,” lanjutnya, suaranya bergetar tapi tegas. “Dan abang sama egoisnya kayak Papa.”
DEG!
Bara terdiam. “Aca benci abang,” lanjutnya tanpa ragu. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari apa pun.
Namun Bara tetap menahan dirinya ia menarik napas. “Dek…” suaranya melunak. “Abang cuma takut lo mati.”
Aca tertawa kecil. Hampa. “Lebih baik mati di sini daripada hidup tanpa dia.”
Sunyi.
“Biar abang yang jaga Aron,” lanjut Bara pelan. “Lo pulang ya Papa pasti…”
“Bukan Aca namanya kalau nurut!” Tanpa menunggu jawaban, Aca langsung berlari.
“ACA!” teriak Bara. Namun Aca tidak berhenti.
Lorong rumah sakit markas kembali terlihat.
Dingin sepi. Namun kali ini langkah Aca menggema cepat di sana.
Napasnya tersengal. Matanya langsung tertuju pada satu tempat yaitu ruangan ICU.
Tanpa ragu, ia langsung mendorong pintu.
BRAK!
Semua orang di dalam terkejut. “NONA! TIDAK BOLEH MASUK!”
Namun Aca sudah tidak peduli. Matanya langsung mencari dan di sana. Aron. Terbaring lemah pucat dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya.
BEEP…
BEEP…
Suara mesin itu terasa seperti pisau di telinganya. Langkah Aca melambat. Air matanya jatuh lagi.
“Aron…” bisiknya lirih. Ia mendekat. Tangan gemetarnya perlahan menyentuh tangan Aron yang dingin.
“Gue di sini…” suaranya pecah. “Lo denger gue kan?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin. Aca menggenggam tangannya lebih erat.
“Lo jahat banget kalau ninggalin gue…” lanjutnya, menangis. “Lo bilang mau jaga gue.”
Napasnya tersendat. “Sekarang bangun tolong jangan punya niatan buat mati dulu. Gue cinta sama lo bodoh.”
Sunyi. Namun tiba-tiba.
BEEP…
BEEP…
Grafik monitor berubah. Salah satu dokter langsung menoleh. “Tunggu….”
Semua mata tertuju ke layar. Detak jantung Aron sedikit meningkat.
DEG!
Aca membeku matanya membesar. “Aron…?”
Tangannya makin erat menggenggam.
“Aca aku di sini.” dan untuk pertama kalinya sejak malam itu ada harapan kecil yang muncul.
Di luar ruangan, Bara berdiri diam. Ia melihat dari balik kaca. Matanya tertuju pada adiknya.
Tangannya mengepal.
Namun kali ini ia tidak menghentikan ia hanya menghela napas panjang. “Lo menang, dek…” gumamnya pelan.
Karena mungkin yang dibutuhkan Aron bukan hanya dokter. Tapi juga Aca adiknya.
Sementara itu, jauh di tempat lain Papa Hendra berdiri sendirian di ruang kerjanya.
Tangannya masih gemetar. Pikirannya kacau.
Namun satu hal yang pasti Putrinya sudah memilih dan kali ini ia tidak bisa lagi menghalanginya lagi.
“Aca…” bisiknya pelan. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar kalah.
Kembali ke ICU.
Aca masih di sana tidak bergerak bahkan tidak pergi juga. Tangannya tetap menggenggam Aron. Seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh.
“Lo harus balik.” bisiknya pelan. “Karena gue gak akan ke mana-mana. Gue cuma buat lo aja.”
Dan malam itu di Di antara suara mesin dan harapan yang rapuh seseorang mulai berjuang untuk kembali.
BEEP…
BEEP…
BEEP…
Suara itu masih terdengar, namun kini sedikit lebih stabil. Aca menahan napas. Matanya tidak lepas dari wajah Aron.
“Lo denger gue kan…?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Jari Aron bergerak sangat kecil bahkan hampir tidak terlihat.
DEG!
“A—Aron…?” suara Aca langsung bergetar. Ia menggenggam tangan itu lebih erat. “Dokter! Dia gerak! Aron gerak!”
Salah satu dokter langsung mendekat. Mengecek kondisi dengan cepat.
“Tanda respon mulai ada,” ucapnya serius. “Terus ajak bicara, Nona.”
Air mata Aca jatuh lagi. Namun kali ini bukan hanya karena takut. Ada harapan ia menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke Aron.
“Ini gue Aca…” bisiknya. “Lo gak sendirian gue di sini.”
Kelopak mata Aron bergetar tipis. Napasnya masih berat. Namun tubuhnya mulai merespon.
Di luar kaca, Bara membeku. Rahangnya mengeras, tapi matanya menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat yaitu lega.
“Bangun, bego…” gumamnya pelan. “Jangan bikin adek gue nangis terus.”
Di dalam ruangan, Aca tersenyum di tengah tangisnya. “Lo denger kan semua nunggu lo bangun.” bisiknya lembut.
Dan untuk pertama kalinya sejak kritis Aron benar-benar mulai kembali. “Kalau lo bangun gue janji bakal mau nikah sama lo Ar.” ucap Aca tiba tiba.
“Aku pegang ucapan kamu baby girl.”
DEG!