NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Malam itu, Jakarta tampak lebih bersahabat. Lampu-lampu kota berpijar seperti berlian yang terserak di atas beludru hitam. Baskara tidak membawa Ziva ke restoran mewah seperti biasanya. Kali ini, ia menyewa sebuah area privat di rooftop sebuah butik hotel tersembunyi yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota.

Hanya ada satu meja, dua kursi, dan alunan musik cello yang melantun lembut. Lilin-lilin kecil menari tertiup angin malam yang sejuk. Begitu Ziva sampai, ia disambut dengan buket bunga lily putih—bunga favorit Kirana yang kini juga menjadi favoritnya—dan sebuah kecupan hangat di kening yang berlangsung cukup lama.

"Untuk keberhasilanmu hari ini, dan untuk ketangguhanmu selama ini," bisik Baskara sambil menarikkan kursi untuk Ziva.

Makan malam itu berlangsung dengan penuh tawa. Ziva menceritakan bagaimana wajah Pak Heru yang biasanya kaku sampai harus menyerah pada datanya. Baskara mendengarkan dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Ziva; ia tampak begitu bangga, begitu memuja wanita yang kini duduk di hadapannya.

"Kak, makasih ya," ucap Ziva sambil menggenggam tangan Baskara di atas meja. "Bukan cuma buat malam ini, tapi buat semuanya. Buat sabarnya lo, buat dukungan lo, dan buat lo yang nggak pernah nyerah nunggu gue siap."

Baskara membalas genggaman itu, mengusap ibu jari Ziva dengan lembut. "Aku akan selalu menunggumu, Ziva. Tidak peduli berapa lama."

Begitu sampai di rumah, suasana hangat perayaan tadi perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih intens. Begitu pintu depan tertutup dan terkunci, keheningan malam seolah menekan mereka berdua. Ziva tidak langsung naik ke atas. Ia berdiri di hadapan Baskara yang baru saja meletakkan kunci mobil di meja lobi.

Ziva menatap suaminya dengan pandangan yang berbeda—bukan lagi pandangan penuh canda, melainkan pandangan yang penuh dengan tekad dan keinginan yang sudah lama tersimpan.

"Kak, gue bilang kan tadi... gue juga punya hadiah buat lo," bisik Ziva. Suaranya sedikit bergetar, namun matanya tetap fokus menatap mata hitam Baskara.

Baskara terdiam, napasnya mulai sedikit memburu. "Hadiah apa, Ziva?"

Ziva tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Baskara, menuntun pria itu menaiki tangga menuju kamar utama mereka. Begitu masuk, Ziva tidak menyalakan lampu utama. Ia hanya menyalakan lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kuning temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dramatis di dinding.

Ziva berjalan menuju lemari, mengambil sebuah bungkusan yang ia sembunyikan di balik pakaian kerjanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia masuk ke kamar mandi.

Sepuluh menit berlalu. Baskara berdiri di dekat jendela, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang terasa seperti dentuman genderang perang. Detik berikutnya, pintu kamar mandi terbuka.

Ziva keluar.

Baskara seolah lupa cara bernapas. Di hadapannya, Ziva berdiri mengenakan lingerie sutra merah marun pemberian Mamanya—baju yang dulu membuatnya malu setengah mati. Kain tipis itu membalut tubuh mungil Ziva dengan sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik blazer kerja atau piyama tertutup. Kulit putihnya tampak bercahaya di bawah lampu temaram.

"Ziva..." suara Baskara terdengar sangat parau, hampir seperti geraman rendah.

Ziva melangkah mendekat, langkahnya pelan namun pasti. "Lo bilang... lo tunggu sampai gue siap. Malam ini, gue siap, Kak. Gue siap jadi milik lo seutuhnya. Bukan cuma di atas kertas, tapi semuanya."

Baskara tidak bisa menahan diri lagi. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, dan menyandarkan Ziva ke pintu lemari. Tangannya yang besar dan sedikit kasar—tangan yang Ziva sebut "gosokan piring"—kini merambat naik dari pinggang ke rahang Ziva, menyentuh kulit lembut itu dengan sangat hati-hati, seolah Ziva adalah porselen yang sangat berharga.

"Kamu yakin?" tanya Baskara, memberikan satu kesempatan terakhir bagi Ziva untuk mundur.

Ziva menjawabnya dengan menarik leher Baskara, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang tidak lagi lembut. Ciuman itu penuh dengan rasa lapar yang tertunda, rasa syukur, dan cinta yang akhirnya menemukan jalannya. Rasa pahit masa lalu seolah menguap, digantikan oleh rasa manis dari kehadiran satu sama lain.

Baskara mengangkat tubuh Ziva dengan mudah, membawanya menuju ranjang. Di atas sprei satin yang dingin, kehangatan tubuh mereka bertemu. Baskara memperlakukan Ziva dengan kombinasi antara ketegasan seorang pria yang tahu apa yang ia inginkan dan kelembutan seorang suami yang sangat menghargai istrinya.

Setiap sentuhan, setiap bisikan nama yang terucap di antara deru napas yang memburu, menjadi sebuah janji baru. Malam itu, di bawah langit kamar yang sunyi, Zivanya Aurora dan Baskara tidak lagi bicara tentang audit, laporan kantor, atau kasus kriminal. Mereka bicara melalui sentuhan yang mengikat jiwa mereka lebih erat daripada hukum mana pun.

Gairah itu meledak dalam harmoni yang indah, sebuah perayaan yang jauh lebih megah daripada kembang api atau makan malam mewah. Mereka saling memiliki, saling memberi, dan akhirnya... saling menemukan kedamaian di dalam dekapan satu sama lain.

Pagi harinya, cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden membangunkan Ziva. Ia merasakan sebuah lengan yang kokoh melingkar di pinggangnya, menariknya erat ke dalam pelukan yang hangat. Ziva menoleh dan mendapati Baskara masih terlelap dengan raut wajah yang sangat damai—sesuatu yang sangat jarang terlihat pada wajah sang Inspektur.

Ziva tersenyum, mengusap pipi Baskara dengan ujung jarinya. Pria ini telah menjaganya dengan segala cara, dan semalam adalah cara Ziva mengatakan bahwa ia tidak akan pernah pergi.

Baskara perlahan membuka matanya, tersenyum kecil saat melihat wajah Ziva adalah hal pertama yang ia lihat. Ia mengecup kening Ziva dengan lembut. "Selamat pagi, Istriku."

"Selamat pagi, Pak Polisi Mesum," goda Ziva dengan suara serak khas bangun tidur, namun kali ini ada nada cinta yang tak terbantahkan di sana.

***

Pagi itu, suasana di kantor firma finansial terasa sedikit berbeda, setidaknya bagi siapa pun yang berpapasan dengan Zivanya Aurora. Jika biasanya Ziva masuk dengan langkah tegap dan wajah serius yang seolah siap melahap tumpukan dokumen audit, hari ini ia tampak seolah sedang berjalan di atas awan.

Ziva mengenakan blus berwarna soft peach yang membuat kulitnya tampak lebih bersinar. Rambutnya digerai bebas, dan ada lengkungan senyum yang tidak hilang dari bibirnya sejak ia melangkah masuk ke lobi.

Maya, yang sedang asyik menyesap kopi paginya di kubikel, sampai nyaris tersedak saat melihat Ziva meletakkan tasnya dengan gerakan yang begitu ringan, hampir seperti menari. Maya menyipitkan mata, meneliti setiap inci wajah sahabatnya itu.

"Busyet, Ziv... Muka lo cerahan banget hari ini. Glowing-nya nggak santai, menembus batas kewajaran," celetuk Maya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Ziva. "Lo pake susuk ya? Atau abis dapet durian runtuh semalam?"

Ziva tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus dan renyah. Ia membuka laptopnya dengan tenang. "Oh, iya kak... abis skincare-an tadi malem soalnya. Maskerannya kelamaan jadi efeknya baru keliatan sekarang," jawab Ziva asal, meski pipinya mendadak berubah warna menjadi senada dengan blusnya.

"Skincare apa yang bisa bikin mata lo berbinar-binar kayak gitu? Kasih tahu gue mereknya sekarang, gue mau borong satu toko!" tagih Maya tidak percaya. "Biasanya lo dateng dengan muka 'jangan-sentuh-gue', sekarang kok malah kayak abis menang lotre?"

Ziva hanya mengedipkan sebelah mata, lalu kembali fokus pada layarnya. Ia teringat kejadian semalam, saat ia akhirnya memutuskan untuk melipat semua keraguan dan menjadi milik Baskara seutuhnya. Rasa hangat yang menjalar di hatinya jauh lebih efektif daripada serum kecantikan termahal mana pun di dunia.

Di tempat lain, tepatnya di ruang unit Jatanras, suasana justru jauh lebih bising. Baskara masuk ke ruangan dengan seragam yang sangat rapi, namun ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Ketajaman matanya yang biasanya mengintimidasi kini tampak lebih teduh, meski ia berusaha tetap terlihat kaku.

Rio dan Arga, yang memang sudah "standby" sejak pagi, langsung saling lirik saat melihat Baskara duduk di kursinya. Rio menyenggol lengan Arga dengan siku, lalu mereka berdua melangkah mendekati meja sang Inspektur.

"Bas, lo sehat?" tanya Rio dengan nada yang dibuat-buat khawatir.

Baskara mendongak, menatap Rio datar. "Sehat. Kenapa?"

"Soalnya dari tadi gue liatin lo pake parfumnya agak kebanyakan, terus... lo lupa kancingin kerah paling atas tadi pas turun dari mobil?" Rio menahan tawa sekuat tenaga. "Dan yang paling aneh, lo nggak marah pas gue nggak sengaja numpahin sedikit air di meja lo tadi. Biasanya lo udah ngajak duel."

Arga tertawa pelan sambil menepuk bahu Baskara. "Udah, Bas, nggak usah ditutup-tumpetin. Muka lo itu nggak bisa bohong. Aura pengantin baru yang sesungguhnya baru keluar hari ini ya?"

Baskara berdehem, mencoba mengalihkan perhatian ke tumpukan berkas. "Jangan mulai, Ga. Ini kantor, kita banyak kerjaan."

"Kerjaan bisa nunggu, tapi gosip nasional ini nggak bisa!" seru Rio sambil duduk di pinggir meja Baskara. "Gue tahu ya, kemaren sore gue emang ganggu 'latihan fisik' kalian. Tapi kayaknya semalam interogasinya lancar jaya ya? Sampai-sampai Pak Inspektur kita ini senyum-senyum sendiri pas liat HP."

Baskara refleks membalik ponselnya ke bawah, menyembunyikan foto Kuromi yang masih setia di sana. Namun, terlambat, Rio sudah melihatnya.

"Ciyeee! Udah nggak kaku lagi nih? Udah cair ya kutub utaranya?" goda Rio habis-habisan sampai beberapa anggota lain ikut menengok dan tertawa.

Baskara akhirnya menyerah, sebuah senyum tipis yang tak tertahankan muncul di wajahnya. "Berisik lo, Rio. Jaga malam di gudang barang bukti masih berlaku ya buat lo."

"Nggak apa-apa! Gue ikhlas jaga gudang sebulan asal lo bahagia begini terus, Bas!" sahut Rio sambil memberikan hormat pramuka yang asal-asalan.

Menjelang jam makan siang, Ziva sedang duduk di kantin kantor bersama Maya. Ponselnya bergetar, menampilkan nama "Kak Baskara". Kali ini, Ziva tidak lagi merasa malu atau ingin sembunyi. Ia mengangkatnya dengan santai di depan Maya.

"Halo, Kak?"

"Sudah makan siang?" suara Baskara di seberang sana terdengar sangat lembut, membuat Ziva tanpa sadar melunakkan raut wajahnya.

"Ini lagi mau makan sama Kak Maya. Kamu sendiri udah makan? Jangan telat ya, nanti kamu sakit maag lagi kalau kebanyakan kopi," ucap Ziva.

Maya yang mendengar kata "Kamu" keluar dari mulut Ziva langsung menjatuhkan sendoknya ke piring. Matanya melotot seolah baru saja melihat keajaiban dunia kedelapan.

"Aku sudah makan tadi dibelikan Arga. Pulang jam berapa nanti? Mau aku jemput lagi?" tanya Baskara.

"Jemput ya? Soalnya aku mau mampir beli sesuatu buat makan malam kita nanti. Kamu mau makan apa? Nanti aku masakin yang spesial," jawab Ziva, benar-benar mengabaikan Maya yang sudah megap-megap di depannya.

"Apa saja yang kamu masak, aku pasti suka. Ya sudah, lanjut makannya. Sampai ketemu nanti sore, Ziva."

"Iya, sampai ketemu nanti sore, Kak. Hati-hati ya kerjanya."

Ziva menutup telepon dan mendapati Maya sedang menatapnya dengan mulut menganga.

"ZIV! Lo tadi bilang apa?! 'Aku-Kamu'?! Sejak kapan 'Gue-Lo' lo yang legendaris itu pensiun?!" teriak Maya histeris sampai orang-orang di kantin menoleh.

Ziva tertawa, kali ini ia tidak menutupi wajahnya. Ia justru tersenyum lebar ke arah Maya. "Iya, Kak. Sejak semalam. Kayaknya lebih enak dipanggil begitu, lebih... pas aja di telinga."

Maya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Fix, skincare lo semalem itu namanya 'Cinta', Ziv. Sumpah, gue merinding liat lo jadi se-uwu ini!"

Ziva hanya tersenyum simpul sambil melanjutkan makannya. Ia merasa hidupnya kini benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi tembok yang ia bangun tinggi-tinggi untuk menutupi luka. Bersama Baskara, ia telah menemukan cara untuk berbicara dengan hati, cara untuk memanggil "Kamu" dengan penuh kasih, dan cara untuk menatap masa depan dengan wajah paling ceria yang pernah ia miliki.

Malam nanti, ia akan kembali ke rumah—rumah yang bukan lagi sekadar bangunan, tapi tempat di mana cintanya bermuara.

1
Mey Latika
kok gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!