NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketukan Palu Terakhir

Setelah berbulan-bulan drama hukum yang melelahkan, saat yang dinanti akhirnya tiba. Bara duduk di kursi kayu jajaran depan, tepat di belakang pagar pembatas ruang sidang. Punggungnya tegak, namun kedua tangannya yang saling bertaut di atas lutut nampak memutih karena cengkeraman yang kuat. Ia sengaja memakai kemeja hitam polos, warna yang sama dengan duka yang ia simpan selama ini.

Setiap kali jaksa membacakan detail sabotase, rahang Bara mengeras. Sorot matanya yang tajam mengunci sosok Brotojoyo yang duduk hanya beberapa meter di depannya. Hakim ketua mengetukkan palunya tiga kali.

​"Menetapkan, terdakwa Brotojoyo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana melalui sabotase, serta pemufakatan jahat..." ​suara hakim menggema di ruangan yang mendadak hening sepekat kuburan.

Bara tidak berteriak kegirangan. Ia justru memejamkan mata sesaat. Di balik kelopak matanya, ia seolah melihat bayangan sang ayah tersenyum tipis sebelum akhirnya memudar bersama angin. Beban berat yang selama ini membuat pundaknya kaku, perlahan meluruh. Brotojoyo dijatuhi pasal berlapis. Begitu pula dengan Malik, namanya ikut terseret.

Mama Bara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat, namun kali ini bukan karena beban penderitaan. Itu adalah tangis kelegaan yang paling murni. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kehinaan, dicap sebagai istri dari seorang mekanik yang lalai dan menyebabkan kematian orang terhormat. Bara segera merangkul ibunya erat. Cowok tegap itu tak mampu menyembunyikan genangan di pelupuk matanya.

Ia berbisik lirih di telinga sang mama, "Akhirnya Papa bisa tenang ya Ma. semuanya sudah selesai. Nama Papa sudah bersih."

Nama Seno—ayah Bara—yang selama ini diseret ke dalam lumpur fitnah, kini kembali suci di mata hukum. Laras melihat bapaknya bangkit dari kursi. Bapak Laras menatap istrinya sejenak, lalu memberikan kode pada Laras untuk ikut melangkah. Mereka berjalan mendekati barisan kursi keluarga Bara. ​Langkah Bapak Laras melambat saat jarak mereka hanya tersisa dua meter. Ia berdiri tepat di hadapan Mama Bara yang masih mengusap air matanya. Keheningan tiba-tiba menyergap area itu. Bapak Laras membungkukkan badannya dengan sangat dalam—sebuah gestur penghormatan dan permohonan maaf yang sangat tulus dalam budaya mereka.

​"Ibu Seno..." suara Bapak Laras bergetar, serak oleh emosi yang tak lagi bisa ditahan.

"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala penderitaan, fitnah, dan luka yang ditimbulkan oleh keluarga kami selama ini."

Mama Bara terpaku, matanya yang masih sembap menatap pria di hadapannya dengan campur aduk.

​"Kami tahu permintaan maaf tidak akan pernah bisa mengembalikan almarhum Pak Seno," lanjut Bapak Laras, kini ia menegakkan tubuh namun matanya berkaca-kaca.

"Tapi sebagai bentuk tanggung jawab awal, saya sudah menginstruksikan pengacara kami. Seluruh uang denda dan ganti rugi yang dulu dibayarkan Pak Seno akan kami kembalikan utuh, beserta bunga dan kerugian aset yang hilang. Itu hak kalian, dan tidak seharusnya satu rupiah pun dari uang itu ada di tangan kami."

Ibu Laras ikut mendekat, ia meraih tangan Mama Bara dan menggenggamnya erat.

"Maafkan kami, Bu. Kami benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Kami sangat menyesal."

Laras melirik Bara, dan cowok itu memberikan anggukan kecil—sebuah tanda bahwa perjuangan mereka membuahkan hasil yang manis. Kabut fitnah telah hilang, meninggalkan seberkas harapan bahwa hidup yang baru bisa dimulai dari sebuah kata maaf.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

Malam itu terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Laras merebahkan tubuhnya di kasur, menatap layar ponsel yang menampilkan wajah Bara. Sebuah senyum tak lepas dari bibirnya.

​"Aku lega sekarang, Bar," gumam Laras, memecah keheningan dengan nada suara yang begitu tenang.

"Iya, Sayang. Aku juga."

​"Sekarang rencana kamu apa?" tanya Laras.

​"Aku mau cari tempat, buat buka bengkel lagi," jawab Bara mantap.

Laras mendengarkan dengan seksama, tak ingin satu kata pun terlewat.

"Nanti aku ajak Om Adi buat kerja sama mengelolanya."

Laras mengangguk pelan, setuju sepenuhnya. Kemudian, keheningan menyergap sesaat.

Tiba-tiba, seolah ada frekuensi rahasia yang terhubung di antara mereka.

​"Aku kangen," kata mereka bersamaan.

​Keduanya tersentak, lalu tertawa kecil.

​"Flip!" seru mereka lagi, tepat pada detik yang sama.

​"Flop!" sambung mereka, kembali bersamaan.

​Tawa mereka pecah memenuhi ruang kamar masing-masing.

​"Yaah... nggak bisa make a wish dong. Bareng mulu dari tadi," keluh Laras sambil mengerucutkan bibirnya gemas.

​Bara hanya tersenyum tipis, menatap wajah Laras yang tampak begitu menggemaskan di layar ponselnya.

"Memangnya kamu mau harapan apa?"

​Laras mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari, berpikir sejenak dengan wajah yang dibuat serius.

"Hmmm... apa ya? Emmm... rahasia!"

​Bara terkekeh melihat tingkah Laras yang mulai manja.

"Sabtu besok jalan yuk," ajak Bara tiba-tiba.

​"Kemana?"

"Nonton."

"Emm, aku ajak Danendra ya? Biar aku bisa keluar," pinta Laras.

"Iya, Sayang," jawab Bara lembut, membuat jantung Laras berdesir hebat.

"Oke, aku matikan ya. Aku mau telepon Danendra dulu buat minta tolong," kata Laras sambil bersiap menekan tombol merah.

​Bara mengangguk, namun sebelum koneksi itu terputus, ia menyela, "Eh, bentar Sayang."

​"Kenapa, Bar?" Laras kembali mendekatkan wajahnya ke layar, menatap Bara dengan polos.

​Bara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia sedikit memajukan wajahnya dan mengerucutkan bibirnya ke arah kamera—sebuah kode klasik. Namun, Laras yang sedang terlalu bersemangat justru gagal paham. Dengan polosnya, Laras malah mengikuti gerakan bibir Bara, Bara yang melihat itu langsung memejamkan mata, merasa gemas yang luar biasa sekaligus malu karena rencananya gagal total.

"Aduh!" serunya sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.

​"Eh, kenapa?" tanya Laras sedikit panik

​"Nggak apa-apa..." gumam Bara pelan.

Wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia menutupi mulutnya, berusaha menahan tawa sekaligus malu yang merayap di dadanya.

​"Yaudah, bye-bye Bara sayang!" Laras menekan tombol merah.

Hening. Kamar Laras kembali sepi. Namun, selang dua detik kemudian, ia terpaku. Ia mengingat kembali ekspresi Bara tadi. Kode bibir itu...

​"Astaga!" Laras memekik pelan, menjatuhkan ponselnya ke atas kasur dan langsung menelungkupkan wajahnya di bantal.

"Dia minta cium!"

​Wajah Laras seketika memerah sempurna, panasnya merambat hingga ke leher. Ia berguling-guling di atas tempat tidurnya, menendang-nendang udara saking gemasnya dengan kepolosan dirinya sendiri dan tingkah Bara yang ternyata bisa se-manis itu.

1
Wawan
Sekuntum mawar merah buat story nya ✍️
Wawan
Mauuuu... 🤣
Wawan
Dua tangkai mawar merah buat Laras 😄
Wawan
Hadir
penavana: thingkiuuuu
total 1 replies
Carzenogenik
Hehehehehehehehehhe senyum2 sendiri dari tadi🌝
Carzenogenik
Bau2nya.... Tipuan yg gagal menipu😅
Carzenogenik
Jawab dengan singkat. "Gpp, sans"😶 Belom nyari buku juga, wkwk
Carzenogenik
Hmm... Segitunya kah? Bara lu baru aja guling2 di aspal?😭
Carzenogenik
CK. Iya2! Darah lo lebih kotor dari darah ayam! Cepet pakek dan jangan ngedumel!🙂
Carzenogenik
Hmm... Yahh, gw pun masih percaya sampe sekarang kalo bogem lebih manjur buat nunjukin berandalan dan sejenisnya. wkwk😌
Carzenogenik
Woooohh~😯
Carzenogenik
...Baru selangkah menuju kebebasan, tapi rasanya kebebasan itu makin jauh 🙂
Carzenogenik
Ugh... Tiba-tiba diriku cemas. Nggak akan ada apa-apa kan ini????😵‍💫
Carzenogenik
G-Gila... Apalah diriku yg suka bangun tengah malem dan bikin mie gegara keroncongan😅
Carzenogenik
Waah... Pasti nggak enak banget tuh bangun gragapan kek gini😅
Carzenogenik
Tiran... Eyangnya kayak TIRANN!! Ngeri banget! 😭😭
Carzenogenik
Se-Sebaiknya jangan gegabah 😵‍💫
Carzenogenik
Yah. Bagian ini mungkin dia juga salah. Kita nggak boleh ngediemin panggilan orang, apalagi ortu. Tapi... kalo tiap telpon isinya ngeselin, yaa...😶
Faeyza Al-Farizi
lah... bakul kunci kamu Den 🤣🤣🤣
Faeyza Al-Farizi
mana setuju pula, ketahuan gawat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!