NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Tidak Semua Yang Dibutuhkan Seseorang Bisa disampaikan Dengan Kata-Kata.

Perjalanan pulang dari Adinata Medical Center berlangsung lebih sunyi dari biasanya.

Agam yang ambil alih memegang kemudi. Dan ia menyetir tanpa banyak bicara. Tangannya tetap tenang di setir. Pandangannya lurus ke depan. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di jalan.

Penjelasan dokter Zulaika masih tertinggal jelas dalam ingatan.

Bukan pada bagian medisnya.

Tapi pada kalimat terakhir yang diucapkan pelan oleh dokter Zulaika.

"Pastikan ning Shafiya tidak sendiri. Bukan hanya secara fisik. Tapi juga secara… perasaan.”

Agam menarik napas pelan. Kalimat itu yang paling berat dirasakan.

Di kursi penumpang, Shafiya duduk diam. Kepalanya sedikit bersandar.

Beberapa kali ia memejamkan mata. Lalu membukanya lagi.

Agam melirik sekilas.

Wajah cantik itu terlihat tenang.

Tapi dalam ketenangan itu ia menelan beban sendirian. Dan itu menguatkan apa yang dikatakan dokter Zulaika tadi.

Beberapa saat berlalu.

Mobil tetap melaju dengan kecepatan stabil. Hingga akhirnya--Agam membuka suara.

“Nona Shafiya, setelah ini mau ke mana?”

Shafiya menoleh sedikit. Seolah butuh beberapa detik untuk menangkap pertanyaan itu.

“Kita pulang,” jawabnya pelan.

Agam mengangguk.

“Selain itu?”

Shafiya tidak langsung menjawab.

Agam melanjutkan.

“Ada yang ingin dilakukan? Atau… sesuatu yang diinginkan?”

Jeda sesaat. Shafiya masih diam.

“Kalau ada, sampaikan saja, Nona.

Kalau bisa saya wujudkan… saya bantu.”

“Tidak ada, Mas Agam," jawab Shafiya.

“Baiklah." Agam mengencangkan tangannya pada setir.

“Kalau belum tahu sekarang… tidak apa-apa. Tapi kalau nanti sudah terpikir… sampaikan saja.”

Meski berkata demikian, Agam tidak menoleh. Pandangannya tetap fokus ke jalan.

“Terkadang yang dibutuhkan itu bukan cuma hal yang besar. Yang kecil pun… cukup. Asal tidak dipendam.”

Shafiya tidak menjawab.

Namun ucapan Agam itu membuatnya memikirkan sesuatu. Hal itu terlihat dari tatapannya yang tetap lurus. Namun lebih hidup.

Winda menatap Shafiya sesaat. Lalu beralih ke Agam. Dia merasa kalau laki-laki itu sedang memberikan perhatian tak biasa.

Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalan yang menuju ke Adinata Residence.

Namun beberapa menit sebelum mobil berbelok ke jalur utama, Shafiya tiba-tiba membuka suara.

“Saya… ingin ke satu tempat.”

Agam mengalihkan perhatian sejenak dari jalan di depannya.

“Di mana, Nona?”

“Pondok lama saya.”

Agam langsung mengangguk. Tidak bertanya ulang.

“Dulu saya di sana,” lanjut Shafiya, masih dengan nada yang sama. “Setelah lulus dari pesantren, saya mengajar di sana."

“Kalau memang boleh, Saya ingin ke sana sebentar.”

"Tentu boleh, Nona," sahut Agam cepat.

“Nona bisa arahkan jalannya."

"Iya." Shafiya duduk tegak. Pandangannya sekarang lebih berarti. Menandakan betapa bersemangatnya hatinya pada tempat yang dituju saat ini.

Perjalanan berubah arah, dan suasana di dalam mobil itu juga ikut berubah. Safiya kini terlihat lebih bersemangat. Tak hanya sekedar mengikuti ritme yang sudah dibuat.

Tak seberapa lama mereka sampai di tujuan.

Sebuah tempat yang sederhana. Terdiri dari beberapa bangunan asrama santri yang jauh dari kata mewah. Masjid yang tak begitu besar berdiri di tengah--seolah menjadi pusat dari tempat itu.

Sederhana tapi hidup. Jauh dari keramaian tapi hangat.

Suara anak-anak mengaji terdengar samar dari dalam masjid. Berulang. Seolah waktu di tempat itu berjalan dengan ritme yang berbeda.

Shafiya duduk bersama beberapa orang disana. Terlihat sepantaran dengan usianya. Dan di antara mereka wajah Safiya terlihat begitu hidup. Tatapannya berbinar. Bukan karena apa yang ditemukan. Tapi apa yang dirasakan.

Sesekali ia tersenyum. Menanggapi cerita yang mungkin sederhana. Hal-hal yang dulu pernah menjadi bagian dari harinya. Ringan tapi bermakna. Di sana ia tersenyum lepas. Sesekali tertawa ringan. Canda tawa mengalir tanpa khawatir keluar batas.

Dan Agam menyaksikan semua itu dari jarak cukup jauh. Berdiri menyandar pada mobil. Membaca pemandangan di depannya dengan menyeluruh.

Meski waktu berlalu cukup jauh, ia tak ingin mengakhiri senyum di wajah Shafiya, juga binar terang pada tatapannya.

Agam tidak memanggil. Ia memutuskan untuk menunggu sampai Shafiya sendiri yang memilih mengakhiri.

Kegelisahan justru datang dari Winda. Berkali ia menahan napas menatap Shafiya di kejauhan, lalu beralih melihat Agam.

"Pak." Akhirnya ia beranikan diri bersuara. "Bu Ratri sudah tiga kali menghubungi saya."

"Terus?"

"Tidak saya angkat."

"Bagus. Itu sudah tepat."

"Saya pasti akan disalahkan."

Agam baru menoleh. "kamu takut?"

Winda tak menjawab. Tapi tatapannya jelas.

"Saya yang tanggung jawab semuanya. Kamu tenang saja."

"Baik, Pak."

Dan Agam tidak berkata apa-apa lagi. Ia memilih diam sambil melihat interaksi Shafiya dengan rekan-rekannya di kejauhan.

Dan dalam diam itu, Agam menemukan sesuatu. Bahwa tidak semua yang dibutuhkan seseorang bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dan tidak semua perjalanan… harus berakhir di tempat yang sama.

...

...

Sore sudah benar-benar turun ketika mobil itu akhirnya mendarat di halaman Adinata Residence tiga.. Shafiya turun diikuti Winda. Wajahnya nampak lelah, sekaligus juga terlihat ringan. Seolah ia sudah meletakkan suatu hal yang selama ini disandang dalam diam.

Mereka melangkah tenang menuju pintu utama. Di ruang itu Ratri sudah menunggu. Tersenyum menyambut Shafiya. Namun tatapan tajam mendarat pada Winda.

"Bu Ratri." Agam yang melangkah dengan jarak terukur di belakang Shafiya.

"Ini semua tanggung jawab saya."

Ratri diam sejenak. Seperti ada hal yang masih ingin disampaikan. Namun ia pilih diam, dan akhirnya mengangguk.

Agam berbalik, pandangannya kini berhenti di Shafiya. "Nona, untuk kontrol selanjutnya ke dokter, saya jadwalkan."

"Terima kasih, Mas Agam." Shafiya tersenyum. "Maaf, jadi merepotkan."

"Tidak. Ini memang harus diatur sesuai.

Hanya saja.. seharusnya ini bukan saya."

Shafiya diam.

Ratri mengangkat pandangannya ke Agam

Karena ucapannya itu.

"Kalau nanti jadwal pak Sagara sudah lebih longgar.." lanjut Agam.

"Lebih baik jika dia antar langsung."

Shafiya tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk dan mengucap satu kata singkat. "Iya." Namun hatinya tak seyakin itu.

Shafiya kemudian menoleh ke Winda.

"Saya mohon diri, Mas Agam," ucapnya kemudian. "Dan terima kasih untuk semuanya."

Agam tersenyum. "Jika ingin apa-apa lagi, sampaikan saja. Saya berusaha atur."

"Nanti saya pikirkan."

"Baik. Saya tunggu."

Shafiya mengangguk. Ia menarik tangan Winda untuk langsung ke kamar. Namun baru dua langkah mereka berhenti.

Entah sejak kapan, seseorang sudah hadir di ruangan itu. Dan dengan kehadirannya suasana mendadak jadi kaku.

Winda bahkan mundur dua langkah. Seolah berdiri sangat dekat dengan Shafiya adalah hal yang salah.

Agam diam.

Shafiya juga diam.

Hanya Ratri yang bergerak. Menyisih ke sisi ruang untuk lebih memberi tempat.

1
Amalia Siswati
nunggu lama2 agak kecewa di bab ini,malah terlalu banyak menceritakan karakter sagara,di awal2 sudah di ceritakan bagaimana karakternya tapi selalu di ulang2 bukan fokus ke kisah dengan elaranya.
iqha_24
gercep kan Sagara 👍, lanjut
Ayuwidia
Baca bab ini, berasa deg-degan. Takut Elara dan calon bayinya kenapa-napa 🥺
Nofi Kahza
Iya, Sagara manis juga ternyata🤭
Nofi Kahza
lho.. dh mulai manis ni perhatiannya...🥰
Nofi Kahza
sikap Anjani yg ini gue suka😎
Ayuwidia
Baru sadar kalau kamu suaminya? Kalau mengaku suami, harusnya paham dong tanggung jawab dan kewajibannya apa...
Nofi Kahza
masih bertanya? teman kok suka suudzhon..
Nofi Kahza
Cetaasss! bagus. Satriya itu bibirnya lembut tp diwaktu tertentu tajamnya setajam silet😆
Nofi Kahza
Anjani yang di sini dengan Anjani yang di sana beda ya🤭
Nofi Kahza
Anjani mah, yg dipikirin cuma penerus keturunannya aja. itu Shafiya anak orang loh, rela kasih penerus. ih😒
Nofi Kahza
Yes! harusnya dr kemarin2 kayak gitu, Gar....
Nofi Kahza
Eaaakk .. mulai berkembang nih si Sagara. Suka suka..🥰
Nofi Kahza
tetaplah berpijak di batas wajar aja ya, Gam. Aku tahu, Sagara kakunya nyebelin, tapi aku tetep pinginnya Shafiya itu sama Sagraa🤭
Nofi Kahza
woah. centilnya centil banget🤭
Nofi Kahza
aku suka jika Sagara terusik. kalau bisa buat dia kelimpungan dg gengsinya Kak Othor🤣
Nofi Kahza
Lagi menghibur diri ya, Gar?
Nofi Kahza
Sagara lama2 kalah waktu dan momen dengan Shafiya lho. Meski dia lebih menang di status🤭 kan sedih..
Ayuwidia
Wkkkk, bagus, Shafiya. Pasti Sagara kefanasan 😄
zee
sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!