Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Ratih Menjenguk Ibu Mertuanya Di Rumah Sakit
Kini Ratih bersama Raditya tengah menuju ke rumah sakit dimana ibunya tengah dirawat disana, hanya ayahnya yang menemani sang ibu karena Romi ada pekerjaan di luar kota.
"Mas janji kan nanti gak menginap?" Tanya Ratih sekali lagi saat mereka masih di perjalanan.
"Iya, lagian kamu kenapa sih kayak anti banget harus menemani ibuku?" Tanya Raditya.
"Bukannya gitu mas, aku hanya tak mau besok kita tergesa-gesa saat akan pembukaan resto lagi pula kalau kita tidur di apartemen lebih leluasa kan? Aku butuh tidur cukup karena besok harus benar-benar fresh badan dan terutama wajahku" Jawab Ratih.
"Hmm iya, lagian kamu juga selalu perawatan kenapa masih takut muka mu kelihatan kurang fresh?" Tanya Raditya.
"Hmm kan kalau kita tidurnya gak nyenyak memengaruhi kulit wajah kita mas, masak gitu aja kamu gak paham sih" Gerutu Ratih.
Selama ini dia bekerja uangnya hanya untuk memenuhi kebutuhannya saja, untuk makan Raditya harus merogoh tabungannya.
Ratih sama sekali tidak mau membantu dirinya, dia hanya membantu uang yang tempo lalu untuk membeli ruko yang saat ini sudah di bangun menjadi sebuah restoran itu.
"Iya iya, yaudah jangan ngomel aja. Turun sekarang belilah buah buat oleh-oleh ke rumah sakit" Ucap Raditya.
"Uangnya mana?" Ucap Ratih dengan menengadahkan tangannya ke arah Raditya.
"Pakai uang kamu dulu" Jawab Raditya acuh.
"Tapiii..."
Belum sempat Ratih protes Raditya sudah menutup mulut Ratih dengan jarinya agar tak terus-terusan protes.
Ratih yang kesal akhirnya turun, dan menutup pintu mobil dengan kasar.
Dia segera masuk ke toko buah dan membeli sebuah parcel buah untuk dibawa ke rumah sakit menjenguk mertua.
"Satu saja kak parcelnya?" Tanya sang penjual.
"Iya mbak, yang ukurannya sedang saja. Isinya persis kayak itu" Jawab Ratih dengan menunjuk contoh parcel yang ada di etalase.
"Baik kak ditunggu sebentar ya" Jawabnya dan segera menyiapkan pesanan Ratih.
Sembari menunggu pesanannya selesai, Ratih mengirimkan pesan untuk Hendri kalau dia saat ini belum bisa menemuinya karena harus menjenguk sang mertua.
Malam ini sebenarnya Ratih ada janji dengan hendri dan juga rekan model lainnya untuk party karena majalah yang menjadikan mereka modelnya tempo lalu ludes dalam waktu beberapa minggu dengan penjualan tertinggi.
[yaaaah, beneran lu gak bisa nih nongkrong bareng kita?] Tanya Hendri dengan mengirimkan beberapa fotonya bersama dengan teman-temannya di samping kolam yang hanya mengenakan bikini saja.
[sory Hendri, dan tolong sampaikan pada mereka aku gak bisa datang] Jawab Ratih dengan memberikan foto selfie dirinya yang tengah berada ditoko buah itu.
[lu ngapain di toko?] Tanya Hendri.
[beliin oleh-oleh buat mertua lah, emangnya mau ngapain lagi. Masak iyaa cewek secantik gue jualan haha] Jawab Ratih dengan emoticon tertawa.
Saat tengah asik membalas pesan dengan Hendri, Ratih di kejutkan dengan panggilan penjual yang sudah menyelesaikan pekerjaannya membuatkan parcel untuk Ratih.
"Maaf kak kalau kakak kaget, saya sudah memanggil dari tadi tapi ibu tidak menyahut. Mangkanya saya mencolek pundak kakak" Ucapnya dengan sedikit menunduk.
"Iya gak apa mbak, emang saya lagi fokus sama handphone jadi gak ngeh dengan sekitar. Jadi total semuanya berapa?" Tanya Ratih.
"Totalnya dua ratus lima puluh ribu rupiah kak" Ucapnya.
"Ini uangnya terimakasih" Jawab Ratih dan memberikan sejumlah uang yang sudah disebutkan oleh penjual tadi.
Setelah mendapatkan parcel yang dia mau, Ratih langsung masuk ke dalam mobil.
"Kok lama?" Tanya Raditya.
"Kan masih di buatkan dulu gak langsung ready" Jawab Ratih
Raditya tak lagi menjawab Ratih, kini dia mengendarai mobil dengan kecepatan yang sedikit sedang. Karena macetnya sudah mulai berkurang.
Tak butuh waktu yang lama kini mobil yang dikendarai oleh Raditya sudah sampai di rumah sakit dimana tempat ibunya di rawat.
"Yuk turun" Ajak Raditya pada Ratih.
Ratih hanya berdehem saja dan mulai membuka seat belt yang ada ditubuhnya, kini mereka berjalan beriringan ke ruang rawat ibunya.
Ceklek....!!
"Ayah.." panggil Raditya yang melihat sang ayah tengah duduk di samping brangkar istrinya.
"Ehh kamu, baru selesai menyiapkan untuk besok?" Tanya Rusdi.
"Iya yah, maaf kami baru bisa kesini" jawab Raditya.
"Iya gak apa, duduklah. Ibumu baru saja minum obat jadi tertidur karena efek obatnya" Ucap sang ayah.
"Ayah sudah makan?" Kini Ratih yang bertanya.
"Sudah tadi, kamu apa masih menjadi model Tih?" Tanya ayah.
"Masih yah, lusa Ratih ada job juga diluar kota. Oh ya ini ada buah buat ibu dan ayah" Ucap Ratih dan menaruhnya diatas meja.
"Bukannya restoran baru buka? Kok sudah ditinggalkan?"
"Kan ada mas Raditya yang mengurusnya yah. Aku sudah kontrak jadi gak bisa dibatalkan begitu saja" jawab Ratih.
"Ohh gitu, yaudah kamu hati-hati. Makasih ya buahnya" Jawab sang ayah.
"Iya yah sama-sama, udah ayah istirahat saja biar Ratih yang menjaga" Ucap Ratih dengan lembut.
Padahal di dalam hatinya tengah jengkel karena harus menunggu sang mertua, harusnya dia saat ini tengah party bersama dengan teman-temannya.
"Yaudah ayah tinggal kesana" Ucap sang ayah dengan menunjuk sofa yang berada di ruangan itu.
"Iya yah, ayah tidur saja. Nanti malam kami tidak bisa menginap soalnya" Kini Raditya yang menjawab.
"Kenapa?" Tanya Rusdi.
"Besok kami harus grandopening pagi-pagi yah, kalau berangkat dari sini harus bolak balik ke apartemen untuk siap-siap dulu" Jawab Raditya.
"Hmm yasudah terserah kalian saja, kemungkinan nanti Romi juga sudah pulang" Jawab Rusdi.
Kini Rusdi melangkah kearah sofa dan merebahkan tubuhnya disana, dia tak menyangka jika dimasa tuanya akan seperti ini.
Keluarga kecilnya berantakan, anak perempuannya sudah tidak bisa diatur bahkan dengan terang-terangan menjajahkan dirinya.
Istrinya sakit stroke, anak sulungnya sampai saat ini belum juga menikah dan anak keduanya rumah tangganya hancur serta malah menikah dengan wanita yang jelas-jelas tidak bisa menjadi istri serta ibu rumah tangga yang baik.
Rusdi sangat tahu bagaimana kelakuan Ratih diluar sana, bahkan dia dengan terang-terangan menolak keras hubungan mereka. Tapi apalah daya Raditya susah di nasehati.
Oleh sebab itu di depan Rusdi, Ratih bersikap lembut dan sok manis agar sang mertua simpatik kepada dirinya.
"Tih, aku mau cari makanan ke kantin dulu. Kamu disini saja menemani ibu, siapa tahu dia sebentar lagi bangun kasihan ayah baru saja tidur" Ucap Raditya pada Ratih.
"Iya mas, aku belikan sekalian" Jawab Ratih.
"Kamu mau makanan apa?" Tanya Raditya.
"Terserah asalkan ada nasi, aku laper banget tadi siang hanya makan cemilan saja" jawab Ratih.
"Gak diet?" Tanya Raditya.
"Enggak untuk malam ini, lagian kalau aku gak makan malam kamu protes ngapain diet. Giliran aku mau makan malah ditanya gak diet" Gerutu Ratih.
"Ya kan aku cuma tanya, yaudah lah aku ke kantin sebentar" Jawab Raditya dan langsung keluar dari ruangan rawat sang ibu.