NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.

Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.

Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi

Tok, Tok, Tok...

Suara ketukan itu terdengar di pintu kayu yang sudah lapuk dimakan usia, kayunya mengelupas di beberapa, catnya pudar menjadi abu-abu tak menentu. Namun tak ada yang menjawab dari dalam. Hanya keheningan yang menggantung tebal di balik daun pintu.

Tok, Tok, Tok...

Pria itu mencoba lagi, kali ini lebih keras, lebih lama. Alisnya mulai terangkat tinggi hingga membentuk kerutan di dahinya, matanya melebar hingga putih matanya terlihat jelas di bawah cahaya bulan purnama, mulutnya bergetar. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuh, membuat ujung-ujung jarinya kesemutan.

Masih tidak ada jawaban.

Pria itu mulai mengetuk berulang-ulang kali dengan panik, irama ketukannya kacau, putus asa. Napasnya mulai terengah-engah, membentuk awan-awan kecil di udara malam yang dingin dan menusuk. Tangannya yang memukul pintu mulai memerah, namun ia tak bisa berhenti.

"Vesna! Vesna!" teriaknya sekuat tenaga, suaranya serak dan pecah. Ia menoleh ke samping dengan gerakan tersentak, ke jendela yang tertutup rapat oleh tirai berwarna kuning. Ia kembali mengetuk pintu dengan irama panik yang sama, dengan telapak tangan yang sudah nyeri. "Vesna! Ini aku, Hanz! Tolong bukakan pintunya, aku mohon! Hei, apa kalian di dalam?!"

Ketukannya berhenti tiba-tiba. Tangannya jatuh lemas di sisi tubuh, menggantung tanpa tenaga.

Napasnya terengah-engah, namun masih tak ada yang menjawab dari dalam rumah. Hanya keheningan yang membalas teriakannya, keheningan yang lebih keras dari teriakan, keheningan yang membekukan darah.

Malam itu terasa begitu sunyi. Begitu gelap. Tak ada suara hewan malam, tak ada lolongan serigala dari kejauhan, tak ada suara tetangga—karena rumah ini memang menyendiri, terpencil di dekat hutan, dikelilingi oleh pepohonan yang kini hanya berupa siluet hitam raksasa yang menjulang.

Bulan purnama yang menggantung di langit menjadi satu-satunya sumber cahaya di malam yang amat sunyi itu, menyinari bumi dengan cahaya perak pucat yang menciptakan bayangan-bayangan panjang dan menakutkan yang bergerak perlahan mengikuti hembusan angin.

Karena tak ada jawaban, Hanz menoleh ke belakang dengan gerakan lambat. Ia mengamati kebun yang ia rawat dan tumbuhkan dengan tangannya sendiri selama bertahun-tahun, setiap pohon ia kenali, setiap bunga ia tahu namanya. Bunga-bunga masih mekar di bawah sinar bulan, kelopak-kelopaknya basah oleh sisa hujan sore tadi, mengilap di bawah cahaya bulan. Tanahnya masih becek dan gelap.

Bulu kuduk Hanz tiba-tiba merinding berdiri.

Bukan karena dingin malam yang menusuk tulang.

Tetapi karena perasaan itu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, perasaan primitif yang diwariskan oleh leluhur pemburu sejak zaman purba: perasaan bahwa ada yang mengamati. Seseorang sedang memperhatikannya saat ini juga, dari balik kegelapan di antara pepohonan.

"Apa ada orang di sana?" suara Hanz bergetar, nyaris bisu, hanya hembusan napas yang keluar. Matanya melebar, menyapu dengan cepat setiap sudut halaman rumahnya, setiap celah di antara pepohonan, setiap bayangan yang bergerak.

Bayangan-bayangan pohon bergoyang pelan ditiup angin, menari-nari di bawah cahaya bulan yang pucat, menciptakan ilusi gerakan di mana sebenarnya tak ada apa-apa, menciptakan bentuk-bentuk yang menakutkan dari ketiadaan.

Namun, lagi-lagi hening. Hening yang memekakkan.

Kali ini, hanya ada suara jangkrik yang mengisi kekosongan itu. Angin mulai bertiup lebih kencang, dingin menusuk hingga ke tulang, menyebabkan kanopi-kanopi hijau pepohonan bergoyang secara berirama. Daun-daun kering yang masih tersisa di dahan mulai berjatuhan satu per satu, menari-nari di udara sebentar sebelum akhirnya menyentuh tanah basah.

Jantung Hanz mulai berdegup kencang, memukul-mukul tulang rusuknya dari dalam.

Dan tiba-tiba—

Klik.

Suara itu terdengar jelas di belakangnya, memecahkan lamunannya yang tegang, membuatnya berbalik dengan refleks tubuh yang keluar tanpa sadar dan melompat mundur selangkah.

Pintu itu perlahan terbuka dengan suara berderit panjang.

Cahaya kuning hangat dari lampu minyak di dalam menyelinap keluar melalui celah pintu, memecah kegelapan malam yang pekat. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita dewasa dengan seorang gadis kecil yang menempel erat di pinggangnya, jari-jari kecilnya mencengkeram kain gaun ibunya.

Mata wanita dewasa yang hitam itu menyipit dan bibirnya yang tipis mengerucut. Ia memakai gaun tidur putih polos yang sederhana. Rambut hitam panjangnya tergerai berantakan di pundak.

Mata gadis kecil itu melebar, mulutnya yang mungil terbuka membentuk huruf 'O', dan ia memakai kaos tidur berwarna pink lusuh dengan gambar kelinci putih yang sudah pudar.

"K-kalian..." Hanz masih ternganga, dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya masih berdegup kencang. Ia menarik napas dalam-dalam. "Vesna... Laura..."

"Ada apa, Hanz?" Wanita itu maju selangkah keluar dari ambang pintu. Kedua tangannya menyilang di bawah dadanya. Matanya menatap tajam ke arah suaminya.

"Yah, itu..." Hanz menggeleng, mengusap keringat dingin di dahinya dengan punggung tangan yang masih gemetar. "Aku hanya ingin memastikan kalian berdua aman. Aku khawatir, Vesna. Sangat khawatir."

"Aman?" Vesna tertawa sinis. Ia kemudian menunjuk dada Hanz dengan jari telunjuknya, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, napasnya yang panas menerpa wajah Hanz. "Dengar, Hanz. Aku sudah tidak percaya lagi pada omongan busukmu. Tidak setelah apa yang kau lakukan, tidak setelah semua kebohongan yang kau cerita."

"Tapi aku benar-benar khawatir dengan kalian berdua!" Hanz meraih kedua bahu istrinya dengan spontan, mencengkeramnya erat. Matanya mencari-cari mata Vesna di kegelapan malam. "Aku benar-benar khawatir, Vesna. Bukan pura-pura. Sungguh."

Sebuah tarikan kecil di kakinya yang tak terduga membuatnya tersentak.

"Ayah?" Gadis kecil itu memeluk kaki Hanz dengan erat. Kemudian ia mendongak dengan gerakan lambat, wajah bulatnya yang mungil menghadap ke atas, diterangi cahaya bulan. Matanya yang cokelat hazel, warna yang persis sama dengan mata Hanz, berkaca-kaca. "Ayah... aku kangen ayah banget. Ayah jangan pergi lagi, ya? Jangan tinggalin Laura lagi."

Melihat anaknya seperti itu, Hanz merasa dadanya diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat, diremas hingga nyaris hancur. Ia berjongkok dengan gerakan lambat, lututnya menyentuh tanah yang becek, dan menatap wajah putrinya dari jarak yang sangat dekat. Ia tersenyum sambil mengusap air mata yang tak henti mengalir di pipi gadis itu dengan ibu jarinya yang kasar.

"Jangan menangis, nak. Kau ingat, kan, apa yang ayah ajarin? Tentang dunia ini?"

Laura mengangguk pelan, isaknya tertahan di tenggorokan, keluar sebagai desahan-desahan kecil yang menyayat hati. Air matanya terus menetes, jatuh ke tanah becek di bawah, membentuk titik-titik gelap di permukaan yang kering. "Dunia... dunia akan memakan kita... jika kita lemah."

Senyuman Hanz melebar. Matanya juga mulai berkaca-kaca, memantulkan cahaya bulan, namun ia berkedip keras, menahannya dengan sekuat tenaga. Ia mengelus kepala putrinya dengan lembut, merasakan kehangatan rambut halus itu di telapak tangannya yang dingin, merasakan detak kecil kehidupan di ujung jarinya.

"Bagus sekali. Ayah bangga padamu, nak."

"Hanz..."

Suara Vesna memecahkan momen itu dengan lembut. Hanz mendongak dengan gerakan lambat. Istrinya menatapnya dari atas, alisnya masih berkerut halus, bibirnya masih mengerucut.

"Apa maumu sebenarnya sekarang?" tanya Vesna, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Bukankah kau sendiri yang memilih pergi? Bukankah kau sendiri yang mengatakan kau lebih suka... lebih suka bersama wanita lain di luar sana? Kau yang meninggalkan kami."

Mata Hanz membelalak, mulutnya terbuka. "Vesna? Apa maksudmu? Wanita lain siapa?"

Tangan Vesna mengepal erat di sisi tubuhnya, buku-buku jarinya memutih. Giginya terkatup rapat-rapat. "Jangan pura-pura bodoh!" Suaranya tiba-tiba meninggi, menggema di antara pepohonan hutan yang sunyi. Burung-burung malam yang bertengger di dahan-dahan dekat rumah terbangun dengan panik dan terbang dengan suara kepakan sayap yang riuh. "Kau pikir kau bisa membodohiku, Hanz?! Kau pikir aku sebodoh itu?!"

"Vesna, demi apa pun di dunia ini, aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu! Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!"

"Aku tahu, Hanz! Aku tahu semuanya!" Dada Vesna naik turun dengan cepat, napasnya memburu, keluar-masuk dengan ritme yang kacau. Wajahnya yang pucat memerah. Matanya berkaca-kaca. "Kau selingkuh, kan?! Kau punya wanita lain di luar sana, di kota, atau di mana pun itu! Itu sebabnya kau jarang pulang! Itu sebabnya kau selalu punya alasan untuk pergi!"

"M-mama?" Laura menarik diri dari pelukan Hanz dengan gerakan cepat, beralih dari ayah ke ibu dengan matanya yang basah. "Apa itu selingkuh? Apa itu jelek?"

"Sudah kubilang, jangan pura-pura bodoh, Hanz! Jangan—"

"VESNA!"

Hanz memegang bahu istrinya dengan kencang. Ia menggoyang-goyangkan bahu Vesna sedikit, berusaha membawanya kembali ke realitas. "Apa maksudmu sebenarnya? Aku tidak berselingkuh darimu, Vesna! Aku pergi selama ini untuk bekerja! Untuk menafkahi kalian berdua!"

Suasana menjadi hening seketika. Hening yang menyesakkan.

Air mata mulai mengalir dari mata Vesna. Matanya membelalak, tiba-tiba sadar akan sesuatu, tiba-tiba melihat celah dalam cerita yang selama ini ia yakini. "L-lalu... lalu kenapa dia bilang kau berselingkuh?"

"Dia?" Hanz mengerutkan kening dalam-dalam, garis-garis di dahinya semakin jelas. Tangannya mulai melonggarkan cengkeramannya di bahu Vesna. "Siapa maksudmu?"

"E-entahlah..." Vesna menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering. Ia menarik napas dalam-dalam. Suaranya bergetar hebat. "Aku... aku dikirimi surat. Beberapa hari yang lalu, saat kau tidak ada. Seseorang menaruhnya di depan pintu rumah, tanpa nama, tanpa alamat. Isinya... mengatakan kalau kau..." Ia berhenti sejenak. "Mengatakan kalau kau... menikmati tubuh wanita lain di kota."

Seketika, mata Hanz melebar. Mulutnya menganga, tapi tak ada suara yang keluar.

Tangannya terlepas perlahan dari bahu Vesna, jatuh ke samping tubuhnya. Ia mundur selangkah, dua langkah, tatapannya kosong.

"Hanz?"

"Ayah?"

Angin berhembus lagi, kini lebih kencang, lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Daun-daun kering yang masih tersisa di dahan mulai berjatuhan dalam jumlah yang banyak. Pakaian mereka bergoyang ditiup angin, rambut mereka terbang tak beraturan. Putrinya dan istrinya masih menatapnya.

"S-surat...?" Suara Hanz nyaris tak terdengar.

"Iya... Surat." Vesna mengangguk pelan. "Apa kau tak apa-apa, Hanz? Kau pucat sekali. Wajahmu seperti melihat hantu."

"Vesna." Hanz kembali dari lamunannya yang panjang dengan suara yang tiba-tiba berubah drastis. "Kita harus masuk ke dalam rumah. Sekarang juga."

Tanpa menunggu jawaban, tanpa memberi kesempatan untuk bertanya, ia meraih tangan Laura dengan cepat dan menariknya menuju pintu rumah. "Cepat, Vesna! Masuk, cepat!"

Vesna, meski masih bingung dan penuh pertanyaan, mengikuti mereka ke dalam dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, Hanz segera menguncinya dengan balok kayu tebal. Keringat mulai bercucuran di wajahnya yang pucat, mengalir di pelipis, di leher, membasahi kerah bajunya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia kemudian berkeliling ruangan dengan langkah cepat, memeriksa setiap jendela satu per satu, memastikan semua tertutup rapat oleh tirai.

"Hanz, tolong jelaskan!" Vesna mulai menarik-narik kerah baju Hanz . "Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau panik seperti ini? Apa surat itu benar? Apa kau benar-benar—"

"Tenanglah, Vesna." Hanz meraih tangannya yang mencengkeram kerah bajunya dengan lembut. "Untuk sekarang, aku mohon, tunjukkan surat itu padaku. Aku harus melihatnya."

Vesna ragu sejenak, matanya menatap dalam-dalam ke mata suaminya. Dengan enggan, ia melepaskan kerah Hanz dan berjalan menuju meja kayu tua di sudut ruangan. Ia membuka laci dengan tangan gemetar, mengeluarkan secarik kertas yang sudah kusut, lalu menyerahkannya pada Hanz.

"Ini. Ini suratnya."

Hanz mengambilnya dengan jari-jari yang gemetar hebat. Ia membuka lipatan kertas dengan hati-hati dan membaca di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, matanya bergerak cepat dari baris ke baris.

Tulisan tangannya cepat, terburu-buru, namun tetap rapi dan jelas. Dan semakin ia membaca, semakin pucat wajahnya, semakin kering bibirnya, semakin dalam kerutan di dahinya.

Tulisan ini... pikirnya. Ini mirip dengan surat-surat sebelumnya. Kenapa? Kenapa dia masih meneror kami?! Kenapa tidak berhenti?!

"Ayah?" Laura mendekatinya dengan langkah kecil. "Apa ada sesuatu yang seru di kertas itu? Cerita apa?"

Hanz menunduk, menatap putrinya. Ia memaksakan senyum. "Tidak, nak. Tidak ada yang menarik di sini." Ia kemudian meremas kertas itu menjadi bola kecil dengan cengkeraman yang kuat. "Ini sudah sangat larut. Mari kita tidur, oke? Ayah akan menemani kalian."

"Tapi, Hanz—" Vesna memotong dengan nada mendesak.

"Ssstt..." Hanz meletakkan jari telunjuknya yang dingin di bibirnya, tersenyum padanya. "Tak apa-apa, Vesna. Tenanglah. Ini hanyalah surat dari orang iseng yang ingin membuat kita bertengkar. Kau lihat sendiri kan? Kita hampir bertengkar hebat karenanya."

"Benarkah?" Vesna mengamati wajah suaminya dengan saksama.

"Benar, sayang." Hanz mengelus pipinya yang basah dengan lembut, ibu jarinya mengusap tulang pipi yang masih berkilau oleh sisa air mata. "Mari kita tidur. Aku akan menjaga kalian berdua."

Vesna menatapnya lama, sangat lama, matanya menyelidik. Lalu, perlahan, ia mengangguk dengan pasrah. "Baiklah. Aku percaya padamu."

Akhirnya mereka kembali ke kamar yang gelap. Lilin-lilin di ruang tamu dipadamkan satu per satu, meninggalkan jejak asap tipis yang mengepul ke langit-langit, menyisakan kegelapan yang hanya diterobos oleh cahaya bulan yang menyelinap di celah-celah tirai jendela.

Lampu minyak di kamar juga dimatikan dengan embusan napas. Suasana menjadi sunyi dan gelap, hanya ada garis-garis tipis cahaya perak yang melukis pola-pola abstrak di lantai kayu yang sudah usang, bergerak perlahan mengikuti ayunan tirai.

Kasur itu berderit pelan ketika Hanz dan Vesna merebahkan diri di atasnya, suara yang familiar namun kali ini terasa asing. Laura, yang sudah setengah tertidur sejak tadi, tak terbangun oleh suara itu. Ia hanya bergumam pelan, memeluk boneka kelincinya yang sudah usang, dan kembali ke alam mimpinya yang damai.

Di atas kasur, di bawah selimut wol yang tebal dan hangat, tubuh Hanz dan Vesna berdekatan, saling mencari kehangatan. Erangan lembut dan napas yang terengah-engah terdengar pelan di antara mereka, hanya cukup keras untuk didengar oleh telinga yang paling dekat, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa mereka masih hidup, masih bersama.

Vesna menatap suaminya dari bawah dengan mata yang berat oleh kantuk, namun masih ada keraguan yang mengambang di sana, keraguan yang tak bisa hilang begitu saja. "Hanz... Nanti Laura bisa bangun, dia masih kecil..."

"Tenang saja, Vesna." Hanz menatapnya dari atas, tersenyum. "Putri kita tukang tidur paling berat di dunia. Kau tahu itu."

Vesna tersenyum tipis. Ia mengeluarkan erangan kecil yang segera ia tutup sendiri dengan tangannya akibat gerakan Hanz yang semakin berani. Tubuh mereka bergerak dalam irama yang pelan, sunyi, hanya ditemani oleh derit kasur yang berirama dan desahan napas yang sengaja diredam.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Hanz terjatuh di sampingnya dengan tubuh lemas, dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdegup kencang. Vesna segera merapat ke sisinya, memeluknya erat, menempelkan kepalanya di dada Hanz yang bidang.

Vesna perlahan menutup matanya yang berat. Napasnya melambat, tubuhnya rileks sedikit demi sedikit, otot-otot yang tegang mulai mengendur. Senyuman tipis masih menghiasi bibirnya saat ia akhirnya tertidur, terbuai oleh kehangatan tubuh suaminya dan ilusi keamanan yang ia ciptakan sendiri.

Hanz memeluknya erat, lengannya melingkar di pinggang istrinya yang ramping, menariknya lebih dekat. Namun matanya masih terbuka lebar di kegelapan kamar itu, menatap langit-langit yang tak terlihat.

Ia menatap wajah tenang Vesna yang tertidur di lengannya. Wajah ibu dari anaknya. Wajah yang baru saja ia selamatkan dari pertengkaran yang hampir menghancurkan mereka berdua, dari kebohongan yang hampir merenggut segalanya.

Siapa di balik semua ini? pikirnya, matanya yang lelah terus menatap langit-langit kayu yang gelap. Kenapa mereka mengincar keluargaku? Apa yang mereka inginkan? Apa yang harus kulakukan?

Ia menarik Vesna lebih dekat ke dadanya, merasakan kehangatan tubuhnya, mendengar napasnya yang teratur dan tenang. Laura terlelap nyenyak di samping mereka, tidak jauh, dalam pelukan boneka kelincinya yang setia.

"Tenang saja, Vesna," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada istrinya yang sudah tertidur. Matanya yang lelah terus menatap langit-langit yang gelap. "Aku akan melindungi kalian berdua. Apa pun yang terjadi."

Di luar, angin bertiup lebih kencang, menderu di antara pepohonan. Pohon-pohon bergoyang liar, dahan-dahannya berderak. Dan di antara gemerisik itu, jika didengarkan dengan saksama, jika telinga cukup peka, ada sesuatu yang lain—sebuah suara samar, seperti langkah kaki yang menjauh perlahan.

1
kenzi moretti
saya senang karena membaca novel ini sebagai bacaan pertama di platform ini. novel ini sangat bagus. kalian mau baca novel dari segi apa? plot? character? worldbuilding? action? gaya bahasa yang bagus? semuanya ada di sini.

tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.

novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.

tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.
Kaelits: okay, kenzi. aku lg banyak tugas sekolah. cuma novel ini gak bakal nge gantung kok.
total 3 replies
kenzi moretti
wahh gak expectt...
kenzi moretti
bab ini gelap bgt. tapi bab ini akhirnya memberikan flashback keluarga iago. adegan di pegunungan yang muncul di bab 2 pun dilanjutkan. keren thor👍
Kaelits: makasihh
total 1 replies
kenzi moretti
siapa ini?? salah satu penasihat gereja cahaya kahh? hmm...
kenzi moretti
apakah klo iago menerimanya maka dirinya yang sekarang akan lenyap dan digantikan iago lama?🤔
rinn
pantas aja ayahnya stella gak kelihatan dari awal
rinn
gacorr otto🔥
rinn
gilaa plot twist-nyaaa
rinn
sumpah gelap bgt ceritanya thor/Cry/
rinn
kasian juga eliana
rinn
akhirnya mereka bertemu kembali🔥
rinn
hmm, apakah pria tua ini synel?
rinn
nyesek bgt baca bab ini/Sob/
rinn
huhuu/Cry/
rinn
aww gentle man bgt otto😍
rinn
ahahaha kasian otto
rinn
wah licik bgt gereja cahaya
kenzi moretti
🥶
kenzi moretti
kejam kali bab ini thor😢
kenzi moretti
astaga😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!