"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Memulai pekerjaan.
Raymond dan semua yang berada dalam ruangan terdiam mendengar ucapan Ribka. Tidak seoarang pun yang berani bersuara. Mereka hanya mampu menatap Ribka pergi dibawa Kenny.
Ancaman Ribka terngiang-ngiang di benak ketiganya.
Alisya yang sedari tadi hanya jadi penonton menarik nafasnya panjang.
"Begitulah, jika seseorang telah memendam rasa sakit yang mendalam. Kalian bersiap saja. Ini masih permulaan. Gelombang berikutnya mungkin akan lebih kuat menghantam! Aku melihat aura itu. Aura balas dendam karena selama ini telah tersakiti." guman Alisya seolah kepada dirinya sendiri.
"Kamu ini ngoceh apaan sih!" Bu Nora melempar Alisya dengan bantal. Karena ngeri dengan.perkataan putrinya.
"Ribka tidak memiliki kekuatan itu. Semua itu hanya gertakannya." sahut Raymond anggap remeh.
"Ck ck ck, Abang masih saja meremehkan Kak Ribka. Tadi saja abang dibuat tidak berkutik." dengus Alisya.
Ucapan Alisya membungkam mulut Raymond yang masih hendak bicara.
Benar, tadi dia tidak berkutik. Karena tidak menduga Ribka yang selama ini lembut dan lemah. Mampu berbuat seperti itu. Dia shock!
Namun, kekuatan apa yang dimilikinya, kalau mereka balik menghantam Ribka. Ribka tidak punya uang dan pekerjaan. Kalau sekarang dia sudah bekerja, palingan itu juga cuma jadi babu.
Jelas dia lebih punya kekuasaan dan pengaruh. Raymond membatin.
"Tante, bail-baik saja?" tatap Kenny prihatin setelah mereka duduk di dalam mobil. Kenny begitu mengkhawatirkan keadaan Ribka. Yang masih berusaha menangkan diri, setelah mengamuk di hadapan keluarga suaminya.
Kenny menyodorkan sebotol air mineral. Ribka meminumnya hingga tersisa separuh.
"Tante baik-baik saja. Tidak pernah sebaik ini, sebelumnya." Ribka menghembuskan nafas panjang. "Sejak kapan kamu disana. Bukankah Tante bilang menunggu di mobil saja?"
"Kenny berfirasat tidak enak Tante. Jadi Kenny memutuskan menyusul Tante." Kenny tersenyum lega, mendengar ucapan itu.
Tadi Kenny sempat khawatir. Takut akan terjadi apa-apa ke Ribka.
"Makasih ya. Kalau saja kamu tidak menengahi, mungkin Tante akan khilaf." ungkap Ribka jujur.
"Tidak apa Tante." Kenny melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rimah sakit.
"Kenapa Tante tidak menanyakan keberadaan Jason? Siapa tau jejaknya bisa dilacak." Kenny menyinggung soal Jason, karena dia sempat mendengar tadi nama itu disebut.
"Katanya Jason telah diadopsi keluarga lain. Dan pihak panti merahasiakan keluarga barunya."
"Tante percaya begitu saja? Kalau Jason diserahkan ke Panti Asuhan? Bisa saja itu hanya alasan." sebut Kenny ragu.
"Entahlah. Itu pengakuan suami Tante kepada ibu mertua. Dia menitip Jason disana hanya untuk sementara. Namun, ada keluarga yang mengadopsinya. Itu pengakuan pemilik panti."
"Apa Tante tau nama Panti Asuhan itu? Biar Kenny bantu menyelidikinya. Siapa tau jejak Jason bisa diketemukan."
"Kejadiannya sudah delapan belas tahun, Ken. Bagaimana bisa menelusuri jejak Jason?" ujar Ribka merasa skeptis.
"Kenny akan bantu, Tan. Asal Tante tau nama panti asuhan itu."
Ribka berusaha mengingat. Karena saat menguping pembicaraan suami dan ibu mertuanya waktu itu di rumah sakit. Raymond sempat menyebut nama panti asuhan itu.
Cuma sayang, Ribka hanya mendengar samar saat itu. Karena ibu mertuanya sempat bertanya nama panti asuhan itu.
"Tante kurang jelas mendengarnya waktu itu. Tante hanya ingat sepenggal saja. Ada kata "Bunda" gitu."
"Baiklah Tante. Kenny akan mencoba melacak jejak Jason. Kebetulan Kenny punya kenalan, yang bisa melacak hal-hal seperti itu."
"Tante benar-benar telah merepotkan kamu, Ken. Tante sangat banyak berhutang budi kepadamu." Ribka memandang ke arah Kenny. Kalau saja Jason dapat ditemukan. Dia pasti seumuran Kenny.
"Usia kamu berapa tahun, Ken?" Kenny terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Mungkin duapuluh tiga atau duapuluh lima Tante, kenapa?" Kenny melirik sekilas.
"Kok gak pasti."
"Kenny kan anak adopsi Tan. Kata Papa, Kenny korban tabrak lari. Trus Papa menemukan Kenny dan dibawa ke rumah sakit. Trus diadopsi jadi anak beliau. Karena tidak ada orang yang mencari keberadaanku."
"Usia kamu waktu itu berapa tahun?" Ribka kaget mendengar kisah Kenny.
"Gak tau Tan. Kata Papa lagi, lukaku saat itu sangat parah. Mungkin itu sebabnya Kenny gak ingat masa lalu, Kenny. Siapa ayah dan ibuku. Namaku juga asal tempat tinggalku."
"Kasihan sekali. Nasibmu juga tragis ya. Tapi kamu beruntung juga ditemukan oleh Papa kamu dan dijadikan anak beliau." Ribka merasa simpatik mendengar kisah Kenny.
"Betul sekali Tan. Makanya Kenny sayang sekali kepada Papa. Jasa beliau gak akan bisa aku tebus. Kenny sangat dekat kepada Papa. Walaupun sikapnya tampak dingin dan acuh. Tetapi beliau sangat menyayangiku. Mungkin karena aku satu-satunya anak beliau."
"Beda dengan Mama yang terlihat lembut. Tapi lebih sering mengabaikan Kenny. Namun, Kenny tetap sayang pada Mama. Karena merekalah orang tua yang membesarkan Kenny."
"Apakah Mama Kenny gak suka mengadopsi kamu?"
"Pada awalnya memang iya.Tapi seiring waktu Mama bisa menerimaku juga. Setelah terjadi pertengakaran hebat antara mereka. Mama ternyata salah paham. Mengira Kenny adalah anak selingkuhan Papa. Karena memutuskan sendiri mengadopsi aku. Itu yang membuat Mama marah." Kenny tersenyum lucu mengingat kisah orang tuanya.
"Trus orang tua kamu punya masalah, sehingga tidak memiliki anak selain kamu?" ucap Ribka hati-hati. Kenny mengangguk. Karena lebih fokus mengemudi. Jalanan agak padat, membuatnya harus berhati-hati.
Setelah terlihat aman, Kenny menyahut.
"Kandungan Mama bermasalah. Itulah penyebabnya." Kenny kembali fokus ke jalanan. Ribka juga tidak bicara lagi. Dia ikut menatap ke jalanan yang ramai.
*
*
Keesokan harinya. Ribka terlihat sibuk merapikan ruangan Pak Mario. Setelah Mira mengarahkan beberapa hal yang menjadi tugas Ribka sebagai asisten pribadi Pak Mario.
Menyiapkan teh atau kopi di pagi hari, beserta sarapan. Makan siang dan termasuk merapikan kamar pribadi Pak Mario. Karena Pak Mario tinggal di kantornya.
Termasuk juga menyiapkan kebutuhan Pak Mario kalau tugas ke luar kota. Seperti mengepak pakaiannya. Dan yang terpenting jangan lupa, mengingatkan minum obat suplemen.
Pak.Mario punya riwayat penyakit lambung. Sehingga makanannya harus dikontrol.
"Katakanya ada riwayat sakit lambung. Kenapa masih rutin minum teh dan kopi?" sela Ribka heran.
"Pak Mario keras kepala. Susah diingatkan. Merasa kuat sendiri, padahal sudah pernah hampir kolaps karena aslamnya kambuh." ucap Mira.
"Apa tidak bisa kebiasaan itu diganti? Misalnya minum jamu, seperti ekstrak jahe atau kunyit?"
"Eh, Bu Ribka jangan coba-coba ganti ya. Bisa-bisa Bu Ribka nanti cuma sehari kerja disini?" Mira mengingatkan watak Pak Mario yang keras.
"Jadi belum pernah dicoba ya? Kalau bentuk jamu memang banyak orang yang gak suka. Tapi kan ada metode lain. Ramuan itu kita racik sendiri. Sehingga tidak terlihat seperti jamu."
Di dalam kepala Ribka, timbul ide bagaimana cara untuk menaklukkan hati Bos nya, supaya mau minum jamu racikannya sendiri.
Tapi memang dengan resiko besar. Semisal Pak Mario tidak suka. Dia akan dipecat hati itu juga. Seperti kata Mira.
Tapi, kan belum tau suka atau tidak kalau belum dicoba? Walaupun resikonya besar. Ribka tetap bertekad mengantikan sajian kopi dan teh dengan jamu racikannya sendiri.yang telah disukai oleh seluruh anggota keluarganya.***
Dan aku rasa Mirza itu anaknya Raymond dengan Kathy.