Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama
“Baik, kalau kamu mau tahu cerita sesungguhnya,” kata Randy pelan. “Nama cewek itu Tatia, dia cewek di kampusku dari fakultas lain.”
Mulan mendengarkan dengan serius dan sesekali melap matanya yang basah dengan tisu.
“Dengan berbagai cara, Tatia coba mendekatiku, dari pura-pura keseleo, dan akhirnya beberapa hari lalu yang di foto itu dia memaksa-maksa aku mengantarkannya pulang, dan di tengah jalan dia memaksa ikut ke Tanah Abang.”
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Rand?” tanya Mulan masih dengan isak tangis. “Buaya selalu bisa cari akal untuk memperdaya mangsanya.”
“Untung aku bukan buaya,” jawab Randy tersenyum. “Aku lagi coba bilang ‘I love you’ ke Bu Mulan.”
Mulan tak bisa menahan tawa walau dia sedang berlinang air mata karena canda Randy.
“Gini aja, ini ponselku, dan silakan baca sendiri, berapa kali Tatia mengirimi aku pesan di WhatsApp,” ujar Randy sambil menyerahkan ponselnya agar dibaca Mulan. “Aku kadang menjawab pesan dia sekenanya, dan kadang aku tidak jawab kalau sedang suntuk atau sibuk.”
Mulan dengan pelan-pelan membaca pesan-pesan Tatia di ponsel Randy. Randy tidak bohong tampaknya, banyak sekali pesan dari Tatia yang kadang dijawab Randy dengan nada basa-basi, dan lebih banyak yang tidak dijawab.
“Ini baru dari Tatia,” kata Randy sambil mengambil napas panjang. “Kamu scrolling aja, ada berapa pesan dari cewek-cewek lain yang sering aku tidak balas, dan belum sempat kuhapus pesannya.”
“Nggak usah, Rand,” kata Mulan dengan senyum walau masih terisak. “Aku percaya kamu.”
Randy tersenyum lega mendengar perkataan Mulan, lalu meneguk es kelapa muda di gelas.
“Aku cuma tidak mau disebut sebagai pelakor,” kata Mulan pelan.
“Pelakor? Dan aku juga tidak mau disebut sebagai pebinor,” ujar Randy sambil tertawa kecil.
“Ih, siapa juga yang bini orang?” kata Mulan sambil mengeplak tangan Randy.
“Aduh-aduh, siapa juga yang bilang kamu bini orang?” tawa Randy. Tampaknya Dewi Aphrodite mulai mengarahkan panah asmaranya kepada dua insan itu. “Aku tidak suka bihun, makanya aku nggak mau disebut sebagai pebinor, Penggemar Bihun Kuah Telor.”
Mulan lalu mencubit tangan Randy sekeras-kerasnya yang buat Randy mengaduh kesakitan tapi ketawa terkikik.
“Jadi apa jawabanmu kalau aku mau sama kamu tadi?” desar Randy setelah tawanya selesai.
“Aku juga mau sama kamu, Rand,” jawab Mulan pelan. “Tapi jangan bohongi dan sakiti aku.”
“Terima kasih, Lan,” jawab Randy pelan. “Aku janji dengan saksi bakso dan es kelapa muda ini, nggak akan bohong dan menyakitimu.”
Mulan tersenyum dengan manisnya, lebih manis daripada segelas kelapa muda yang ada di hadapan mereka.
“Boleh aku minta sesuatu?” tanya Randy dengan senyum penuh arti.
“Apa?” Mulan sedikit bingung dengan pertanyaan Randy itu.
“First kiss,” jawab Randy berbisik di telinga Mulan.
Mulan lalu mengangguk dan memejamkan matanya, dan membiarkan bibir Randy menyentuh bibirnya dengan hangat.
“Mas, masih ini pesanan baksonya yang dibungkus,” tiba-tiba seorang pelayan membuka pintu dan masuk. “Oh maaf-maaf.” Pelayan itu lalu langsung menutup pintu ketika Randy sedang melakukan first kiss-nya tepat di bibir Mulan.
“Letakkan aja di depan kasir,” kata Randy yang seketika menghentikan first kiss-nya itu. Mulan tampak tersipu malu karena ketahuan kissing.
“Buat siapa dibungkus?” tanya Mulan penasaran.
“Buat papa-mamamu, Suwanto, dan papa-mamaku,” jawab Randy. “Omong-omong kayaknya aku nggak bakalan gosok gigi dan cuci muka sebulan nih setelah first kiss ini.”
“Ih, jorok,” tukas Mulan lalu menoyor kepala Randy dengan pelan. “Putus aja kalau gitu, aku nggak mau punya pacar jorok.”
Lalu Mulan dan Randy tertawa bersama-sama, tertawa yang pertama kali sejak mereka resmi sebagai sepasang kekasih.
Setelah cukup lama mereka berada di ruangan VIP restoran bakso itu, Randy segera menyelesaikan semua pesanan. Setelah keluar dari restoran, dia tidak langsung mengajak Mulan pulang, melainkan berjalan-jalan di sekitar Glodok yang ramai dengan orang-orang yang jomblo maupun yang sudah berpasangan diiringi lampu jalan yang temaram namun menambah romantis suasana.
“Kita jalan dulu ya, Lan,” ajaknya pelan dengan setengah berbisik. “Sambil ngobrol-ngobrol, biar kita saling kenal lebih dekat.”
Mulan memandang wajah Randy, dan pipinya masih sedikit bersemu merah karena masih malu akibat ciuman yang tadi ketahuan pelayan restoran bakso tadi. “Kita jalan ke mana?”
“Sekuatnya kami melangkah, asal berdua sama kamu.”
Mereka lalu berjalan menyusuri trotoar yang agak sepi, sambil bergandengan tangan dan kepala Mulan menyandar ke dada Randy. Tangan Randy memegang erat kepala Mulan, seolah takut terlepas dari dekapannya. Sesekali Randy mengelus punggung tangan Mulan dengan jari jemarinya. Gerakan sederhana, namun Mulan merasakan kehangatan sampai ke hatinya dan kini merasa ada seseorang yang melindunginya.
“Tahun ini kamu lulus SMA,” kata Randy sambil berjalan menyusuri trotoar. “Rencana bagaimana?”
“Aku akan kuliah di jurusan tata boga,” jawab Mulan. “Kalau tidak keterima aku ikut kursus memasak saja. Mimpiku aku punya bisnis catering.”
“Suka masak rupanya?” jawab Randy antusias. “Sayang di kampusku nggak ada jurusan tata boga.”
“Kalau kamu bagaimana?” tanya balik Mulan. “Aku lihat kamu suka sekali fotografi.”
“Ya, Instagramku isinya foto-foto semua,” jawab Randy. “Dan sebagian ada yang aku jual di Shutterstock. Lumayan, hasilnya bisa untuk jajan dan jalan-jalan hunting foto.”
“Kenapa nggak jadi fotografer profesional aja?” tanya Mulan lirih.
“Itu keinginanku,” ujar Randy setengah berbisik. “Siapa tahu ada model yang minta difoto seronok.”
“Ih, nakal,” kata Mulan lalu mengeplak tangan Randy yang mendekapnya. “Aku jadi curiga banyak foto-foto cewek di kameramu.”
Randy diam saja, namun tangannya dengan lembut merengkuh jari jemari Mulan, menggenggamnya dengan erat dan lembut, seolah tak mau kehilangan kekasihnya yang baru itu. Tak lupa Randy mengalungkan kamera DSLR-nya di leher dan sesekali mengambil foto wajah Mulan.
“Foto cewek kurang laku di Shutterstock, kecuali foto-foto unik kayak foto wanita berleher panjang yang ada di Myanmar,” jawab Randy. “Dan kamu adalah model cewek pertamaku, kapan-kapan aku share di Instagram.”
“Eh, jangan,” jawab Mulan. “Aku kurang suka terekspos, apalagi di medsos. Malu.”
“Ya udah, buat koleksi pribadi aja,” tukas Randy. “Nanti aku cari fotomu yang paling bagus, aku cetak besar dan digantung di kamarku.”
“Omong-omong papa-mamamu tidak keberatan punya pacar seperti aku?” tanya Mulan. “Kita banyak perbedaan, dan aku cuma seorang anak penjual kue.”
“Papa-mamaku moderat, aku yakin mereka setuju-setuju aja,” jelas Randy. “Terus kalau penjual kue kenapa? Yang penting punya anak baik dan cakep kayak kamu.”
“Ah gombal,” tukas Mulan. “Jangan-jangan aku salah memilih tukang ngegombal kayak kamu.”
Randy tertawa mendengar perkataan Mulan. “Eh itu bukan gombalan, kamu memang baik dan cakep.”
Mulan hanya menunduk dan pipinya memerah karena gombalan Randy, dan mereka terus berjalan pelan menyusuri malam yang tak ada bintang itu.
“Kita pulang yok,” ajak Mulan. “Udah malam, ntar mama dan papaku bingung, dikira dibawa lari sama kamu.”
“Lah, ada motor kok, ngapain dibawa lari? Nyapek-nyapekin aja,” jawab Randy sekenanya. “Ayo deh kita pulang.”
Saat mereka mengambil motor Randy yang diparkir di depan restoran bakso tadi, ada seseorang yang mengamati dari motor yang digunakannya. Ketika Randy memacu motornya pelan ke rumah Mulan di Petak Sembilan, dia mengikuti Randy dan Mulan dari jauh, tanpa disadari oleh Randy dan Mulan.