Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *32
"Jangan cemas. Kan aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja, Bayu."
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan dari aku. Aku baik-baik saja." Rin berucap lagi dengan wajah yang sangat meyakinkan.
Bayu melepaskan napas berat. "Baiklah. Aku percaya kamu baik-baik saja. Tapi, ingat ya, jangan lupa, langsung katakan padaku jika kamu merasa tidak nyaman."
Rin mengangguk pelan. Hatinya bahagia karena perhatian dari pria tersebut. "Iya-iya. Aku akan katakan jika aku merasa tidak nyaman. Jika aku demam, atau sakit, tentu saja aku akan langsung merenggek padamu."
"Aku tunggu renggekan mu itu." Sesaat kemudian Bayu sadar akan apa yang baru saja ia ucap. Cepat pria itu memperbaiki kata yang sudah dia lepaskan.
"Ah, maksud aku, aku menunggu kamu merenggek. Tapi, bukan menunggu kamu sakit. Aku tidak bermaksud begitu."
Wajah takut itu membuat Rin merasa geli hati. Senyum kecil langsung terlihat. "Iya aku tahu apa yang kamu maksudkan. Tenang saja, aku tidak salah tanggap kok dengan apa yang telah kamu katakan."
"Iya ... iya syukurlah kalau gitu."
Sesaat kemudian, Bayu pun langsung bersiap-siap untuk ke sawah. Sedikit enggan di hati Bayu untuk meninggalkan istrinya di rumah. Maklum, perasaan khawatir itu tidak bisa dia hilangkan. Sedikit saja ia tahu Rin tidak baik-baik saja, hatinya mulai ikut gelisah.
Entahlah. Mungkin rasa takut akan orang yang dia cintai kenapa-napa itu terlalu berlebihan. Namun, perasaan itu datang begitu saja. Tidak dia undang, tidak pula bisa ia singkirkan. Sepertinya, cintanya itu terlalu berlebihan.
"Rin, aku berangkat sekarang. Ingat! Langsung kabari aku jika kamu merasa tidak enak badan ya."
"Iya-iya. Bawel ih."
"Aku cemas tau?"
"Iya. Aku tahu kamu cemas. Tapi aku gak papa kok. Aku baik-baik saja."
"Baiklah. Aku pergi sekarang."
"Hm. Iya. Jangan banyak pikiran. Apalagi mikir yang tidak-tidak tentang aku."
Bayu menjawabnya dengan anggukan. Setelahnya, pria itu langsung beranjak untuk meninggalkan rumah. Namun, langkah itu dia hentikan setelah bergerak beberapa tapak.
"E ... Rin."
"Iya?"
"Istirahat saja saat aku tidak ada di rumah. Tidak perlu mengerjakan pekerjaan apapun. Tunggu aku pulang saja."
"Ha?"
"Jangan membantah. Jangan masak atau berberes rumah lagi. Tunggu aku pulang saja baru aku kerjakan semua itu. Kamu di rumah, istirahat saja."
"Tapikan, aku gak papa, Bayu."
"Dengar saja apa yang aku katakan. Istirahat saja ya."
Rin menatap lekat wajah yang saat ini sedang menatapnya juga dengan tatapan lekat. Pria ini terlalu memanjakan istrinya. Baru juga di bilang sedang lelah, tapi hasilnya malah merembet ke mana-mana. Sungguh luar biasa perhatiannya itu.
"Rin."
"Iya-iya. Aku akan dengarkan apa yang kamu katakan."
"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat sekarang."
"Iya."
Bayu pun langsung beranjak. Tapi Rin yang menatap punggung itu menjauh tidak bisa menahan bibir untuk berucap lagi.
"Ee ... hati-hati, mas Bayu."
Sontak, langkah Bayu langsung tertahan. Perlahan tapi pasti, tubuh Bayu bergerak memutar arah hanya untuk melihat Rin yang baru saja melontarkan panggilan yang asing si telinga.
"Barusan ... kamu panggil aku apa? Bisa di ulang lagi?"
Rin terlihat malu-malu. "Mm ... mas Bayu."
"Coba sekali lagi."
"Mas Bayu." Kali ini, nada panggilan Rin lebih keras dari yang sebelumnya.
"Mas Bayu. Mas Bayu. Mas Bayu."
Semu di wajah Bayu langsung terlihat semakin jelas. Mas Bayu. Kata itu dulunya pernah di dengar oleh telinga. Tapi efeknya tidak sama dengan sekarang. Karena dulu, panggilan itu hanya sebuah ejekan saja. Tapi sekarang, panggilan hangat dari seorang istri untuk suaminya.
Senyum manis tersipu-sipu tidak bisa Bayu tahan. "Panggilan itu, terdengar indah," ucapnya pelan. "Aku, suka."
Rin pun ikutan terbawa suasana. Wajahnya ikut bersemu. "Itu ... mulai sekarang, aku akan mengubah panggilan ku untukmu. Kamu, tidak keberatan, bukan?"
"Tentu saja tidak. Aku, malahan suka dengan panggilan itu."
"Ba-- baiklah. Mungkin ... ke depannya, aku akan belajar lebih romantis lagi," ucap Rin semakin terlihat malu-malu.
Bayu yang awalnya berjarak cukup jauh, kini malah bergerak semakin mendekat. Lalu, semakin mendekat hingga hanya menyisakan sedikit saja jarak di antara mereka berdua.
Bayu mendekatkan bibirnya ke telinga Rin.
"Aku tunggu itu, istriku." Bisikan hangat yang membuat wajah Rin merona.
Entahlah. Kata-kata itu terdengar sangat sederhana. Tapi dengan kata-kata sederhana, mereka bisa merasakan hal yang luar biasa. Cinta memang berbeda dari hal yang normal pada umunya.
Saat Rin tidak tahu harus bicara apa. Bayu malah menyerangnya lagi dengan sebuah ciu*man singkat yang ia jatuhkan ke bibir.
"Jangan nakal istriku. Aku berangkat sekarang," ucap Bayu setelah menggoda istrinya habis-habisan.
Rin pun hanya terdiam. Jujur saja, jantungnya sedang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Maklum, cinta yang sudah mekar, kini berkembang dengan sangat subur. Padahal, mereka sudah meresmikan hubungan sebelumnya. Tapi, hal-hal kecil itu malah masih bisa membuat hati terguncang.
*
"Mama. Aku ... ingin berkunjung ke desa tempat kakak tinggal."
Ucapan Yara barusan sontak membuat kedua orang tuanya terdiam. Mereka yang sedang makan siang bersama langsung memperlihatkan wajah terkejut. Reflek dari keterkejutan itu, gerakan kedua orang tua Yara langsung tertahan.
Sejenak lamanya mama dan papa Rin terdiam dengan mata yang saling bertukar pandang. Setelahnya, si papa langsung mendegus kesal.
"Ngapain kamu ke sana? Ingin mengganggu ketenangan hidup kakakmu?"
"Pa. Ngomong apa sih? Jangan bicara begitu sama anak."
Yara yang di bela oleh mamanya langsung menundukkan wajah. "Pa, Ma. Aku tidak ingin menganggu kak Rin. Aku hanya ingin melihat kondisinya saat ini."
"Dia baik-baik saja. Kamu tidak perlu melihatnya," ucap papa Rin dengan nada ketus.
"Tapi, Pa."
"Pa. Sudahlah. Apakah salah Yara ingin berkunjung untuk melihat keadaan kakaknya. Mereka adalah saudara. Tidak ada salahnya seorang adik datang untuk menjenguk kakaknya."
"Adik seperti dia, tentu saja salah jika ingin melihat kakaknya. Karena dia sudah menyakiti hati kakaknya."
Yara menundukkan wajahnya. Air matanya jatuh perlahan. "Aku tahu aku salah, Pa. Karena itu aku ingin bertemu kak Rin untuk minta maaf secara langsung. Aku ingin minta maaf, Pa."
Saat papa Rin ingin menjawab lagi apa yang telah anak bungsunya katakan. Tangan sang istri langsung menahan niat bibir untuk melepaskan kata. Ucapan orang tua itupun tidak jadi keluar.
"Baiklah, Yara. Ara boleh pergi. Jika ingin, mama bisa ikut untuk menemani kamu buat bertemu kakakmu. Bagaimana?"
Yara mengangkat wajah cepat. "Tidak, Ma. Tidak perlu. Aku akan datang sendiri saja."
"Kamu yakin?"
"Hm. Aku yakin, Ma. Aku akan datang seorang diri untuk bertemu kak Rin."
"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Mama akan dukung apapun keinginan mu, Ara."
"Terima kasih, Ma."
Dia takut kehilangan lagi