Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam itu, Pasar Agung tidak tidur karena mereka ingin membangun ulang tempat itu, orang-orang saling membantu, lapak diperbaiki bahkan di tambah. Ada juga makanan yang di bagikan untuk para pekerja.
Seorang anak mendekati Yun Ma, menyerahkan roti. “Untukmu.”
Yun Ma terdiam sejenak, lalu menerimanya. “Terima kasih.”
Xuan melihat pemandangan itu dari jauh.
Shen Yu berdiri di sampingnya. “Kau sadar sekarang?”
“Sadar apa?” tanya Xuan.
“Kau bukan lagi simbol,” jawab Shen Yu. “Kau bagian dari mereka.”
Xuan tersenyum tipis. “Dan itu lebih berat dari mahkota.”
"Dan aku tidak salah memilih dia untuk menjadi pewaris sesungguhnya" lanjut Shen Yu
—
Keesokan paginya,
Debu di kejauhan tidak jadi mendekat.
Ia berhenti.
Seolah pasukan itu sengaja menahan diri.
Shen Yu mengamati lama, lalu berkata pelan, “Mereka tidak menyerang.”
Ye mengerutkan kening. “Itu aneh.”
“Bukan,” jawab Yun Ma. “Itu undangan.”
Xuan menoleh cepat. “Undangan?”
“Dewan Bayangan tidak datang untuk menang hari ini,” lanjut Yun Ma. “Mereka datang untuk bicara.”
Seolah menjawab kata-katanya, satu penunggang kuda keluar dari barisan debu.
Sendirian.
Tanpa senjata terhunus.
Ia berhenti di jarak aman dan mengangkat gulungan hitam.
“Atas nama Dewan Bayangan,” suaranya menggema, “kami mengajukan tantangan.”
Kerumunan pasar langsung gaduh.
“Tantangan apa?!” tanya salah satu orang disana
“Kurang ajar!” maki yang lain
Xuan mengangkat tangan, meminta tenang. “Baca.”
Utusan itu membuka gulungan. “Pertempuran penentuan kepemimpinan. Satu medan. Satu keputusan.”
“Di mana?” tanya Yun Ma datar.
Utusan itu tersenyum tipis. “Bukan di dunia manusia.”
Hening jatuh.
Shen Yu menegang. “Dunia Sunyi…”
“Itu wilayah terlarang,” gumam Lin Que.
“Tempat hukum manusia tidak berlaku,” tambah Ye.
Utusan itu mengangguk. “Karena dunia manusia terlalu rapuh untuk perang ini.”
Xuan melangkah maju. “Apa taruhannya?”
Utusan itu menatap langsung ke matanya. “Hak untuk memimpin arah dunia.”
Beberapa orang terkejut.
“Gila.”
“Mereka ingin jadi penguasa terbuka.”
Yun Ma tertawa kecil, tanpa humor. “Akhirnya mereka berhenti bersembunyi.”
Utusan itu melanjutkan, “Jika Dewan Bayangan menang, kalian berhenti. Pasar Agung ditutup. Saksi dibungkam.”
“Dan kalau kami menang?” tanya Xuan.
Utusan itu tersenyum lebih tipis. “Dewan Bayangan mundur. Selamanya.”
Semua orang tahu.
Janji itu berbahaya.
Tapi juga kesempatan.
Xuan terdiam lama.
Yun Ma menoleh padanya. “Ini yang mereka inginkan sejak awal.”
“Arena tanpa rakyat,” kata Shen Yu. “Tanpa saksi.”
“Atau,” balas Yun Ma, “arena di mana mereka tidak bisa bersembunyi di balik rakyat.”
Xuan menghela napas panjang.
Lalu berkata tegas, “Aku terima.”
Kerumunan terkejut.
“Yang Mulia—!”
Xuan mengangkat tangan. “Tapi dengan syarat.”
Utusan itu menyipitkan mata. “Katakan.”
“Bukan pasukan penuh,” kata Xuan. “Pemimpin dan inti.”
Utusan itu tersenyum. “Disepakati.”
“Dan,” Xuan melanjutkan, “hasilnya diumumkan ke dunia manusia.”
Utusan itu tertawa kecil. “Kalau kalian masih hidup.”
Yun Ma melangkah maju satu langkah. Tekanan halus menyebar.
“Kalau kalian kalah,” katanya dingin, “nama Dewan Bayangan akan jadi cerita horor untuk anak kecil.”
Utusan itu menahan napas, lalu menunduk. “Tiga hari. Gerbang Dunia Sunyi akan dibuka.”
Ia berbalik dan pergi.
—
Malam itu, Pasar Agung tegang.
Bukan panik.
Tapi berat.
Xuan mengumpulkan semua inti di ruangan tertutup.
“Tidak semua ikut,” katanya.
“Aku ikut,” kata Yun Ma langsung.
“Itu sudah pasti,” jawab Xuan.
“Aku juga,” kata Shen Yu.
Ye menyeringai. “Kau pikir aku akan nonton?”
Hui menghentakkan kaki depannya. “Aku tidak bisa masuk dunia sunyi dengan tubuh penuh, tapi rohku bisa.”
Xuan mengangguk. “Cukup.”
Lin Que terdiam. “Aku?”
“Kau tinggal,” kata Xuan. “Jaga Pasar Agung. Apa pun hasilnya.”
Lin Que mengepalkan tangan, lalu menunduk. “Perintah diterima.”
—
Dua hari kemudian, mereka berangkat.
Bukan lewat gerbang kota.
Tapi lewat celah lama di pegunungan, tempat udara terasa mati.
Di sanalah Gerbang Dunia Sunyi dibuka.
Langit kelabu.
Tanah hitam tanpa bayangan.
Tidak ada angin.
Hanya keheningan yang menekan telinga.
“Setiap luka di sini,” kata Shen Yu, “langsung ke jiwa.”
“Tidak ada mundur,” tambah Ye.
“Bagus,” jawab Yun Ma. “Aku tidak berniat.”
Di tengah dataran sunyi itu, pasukan Dewan Bayangan sudah menunggu.
Tidak banyak.
Sekitar seratus orang.
Tapi auranya berat.
Di depan mereka berdiri seorang pria berjubah hitam pekat.
Wajahnya tidak tua.
Tidak muda.
Matanya kosong.
“Xuan,” katanya. “Akhirnya.”
“Kau pemimpinnya?” tanya Xuan.
“Aku suara Dewan,” jawab pria itu. “Namaku Zhao Tian.”
Yun Ma menyipitkan mata. “Bukan Zhao Ren.”
“Dia pion,” jawab Zhao Tian datar. “Seperti banyak yang lain.”
Xuan melangkah ke depan. “Mulai saja.”
Zhao Tian tersenyum tipis. “Seperti raja sejati.”
Ia mengangkat tangan.
Tanah bergetar.
Bayangan bangkit dari tanah—bukan manusia, bukan roh penuh.
Fragmen jiwa.
“Jangan biarkan mereka menyentuhmu,” teriak Shen Yu. “Itu pengikat!”
Pertempuran pecah.
Tidak ada teriakan perang.
Hanya benturan energi.
Ye melompat, menebas satu fragmen, tubuhnya tersentak saat energi dingin menyentuh lengannya. “Sial!”
Hui menghantam dari udara, bentuk roh besarnya menjatuhkan tiga sekaligus. “HA!”
Shen Yu berduel langsung dengan komandan bayangan.
Xuan menerobos ke depan, pedangnya bertabrakan dengan senjata hitam Zhao Tian.
Dentangan ininya tidak bersuara.
Hanya getaran di dada.
“Kau lemah,” kata Zhao Tian. “Masih peduli manusia.”
“Justru itu,” balas Xuan, “yang membuatku kuat.”
Sementara itu, Yun Ma berdiri di tengah medan.
Ia menutup mata.
Simbol-simbol menyala di udara sunyi.
Bukan serangan.
Pemutusan.
Satu per satu fragmen jiwa runtuh, kembali ke tanah.
Zhao Tian menoleh tajam. “Kau…”
Yun Ma membuka mata. “Aku bukan senjatamu.”
Ia melangkah.
Dunia Sunyi bergetar.
“Dewan Bayangan hidup dari ketakutan,” katanya lantang. “Dan hari ini—”
Ia mengangkat tangan.
Tekanan meledak.
Seluruh medan tempur terhenti sejenak.
Bahkan Zhao Tian tersentak mundur setengah langkah.
“—ketakutan itu berakhir.”
Xuan menyerang.
Satu tebasan penuh.
Zhao Tian menahan, tapi lututnya menghantam tanah.
Retakan menjalar di tanah sunyi.
Zhao Tian tertawa pelan. “Kalau aku jatuh… dunia akan kacau.”
“Tidak,” jawab Yun Ma dingin. “Dunia akan bernapas.”
Dengan satu dorongan terakhir, Xuan menjatuhkan Zhao Tian.
Tubuhnya hancur menjadi debu hitam.
Senyap.
Pasukan Dewan Bayangan tersisa terdiam.
Beberapa berlutut.
Beberapa melarikan diri ke kabut sunyi.
Pertempuran selesai.
—
Gerbang Dunia Sunyi menutup perlahan.
Mereka kembali ke dunia manusia dengan luka, tapi hidup.
Di Pasar Agung, rakyat menunggu.
Ketika Xuan muncul, sorak pecah.
Bukan sorak kemenangan.
Sorak lega.
Yun Ma berdiri di sampingnya.
“Sudah berakhir?” tanya seorang anak kecil.
Xuan berlutut. “Untuk sekarang, ya.”
Yun Ma menatap langit.
Dewan Bayangan runtuh.
Bukan karena pedang.
Tapi karena mereka memilih medan yang tidak bisa mereka kendalikan.
Dan dunia…
akhirnya memilih pemimpinnya sendiri.
—
Bersambung.