NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepuluh Penghianat

Di tengah arena stadion, Nanda dan Gus adalah badai yang sedang mengamuk hebat. Pertarungan mereka adalah adu tinju yang sangat brutal tanpa ada gerakan kaki yang mewah. Hanya kekuatan murni yang saling beradu.

Bagh! Buagh!

Gus melepaskan pukulan keras ke arah pelipis Nanda. Nanda menerimanya dengan blok, tubuhnya bergetar hebat, namun ia tetap berdiri tegak. Nanda membalas dengan hook rendah yang bertujuan menghancurkan rusuk Gus.

Setelah lima menit pertarungan yang menghabiskan stamina, Gus mulai melambat. Nanda, yang memiliki daya tahan tubuh luar biasa, mulai menguasai jalannya pertarungan. Setiap pukulan Nanda kini mendarat dengan bobot yang jauh lebih besar.

Nanda melihat Gus mulai terhuyung. Ia tidak memberinya kesempatan sedikit pun untuk bernapas. Nanda melepaskan kombinasi pukulan terakhir: sebuah jab cepat ke wajah untuk membuka pertahanan, diikuti oleh uppercut sangat keras yang menghantam dagu Gus dengan telak.

DOOOOOGH!

Gus terlempar ke belakang, tubuh raksasanya menghantam lantai beton dengan bunyi yang sangat keras. Gus mencoba bangkit, namun kepalanya sudah berputar hebat. Nanda berdiri tegak di atasnya, tubuhnya berlumuran darah, namun matanya memancarkan cahaya kemenangan total.

"Gus, komandan lapangan Phantom, KO!" teriak Jeka dari posisi kontrolnya, memastikan kemenangan bagi Kuadran Presisi.

###

Di sisi lain, duel antara Raka vs. Pria A adalah pertarungan yang jauh berbeda sifatnya. Ini adalah adu kelihaian tingkat tinggi—kecerdasan melawan kecepatan murni. Pria A bergerak seperti angin, menyerang Raka dengan kecepatan yang membuat mata biasa sulit untuk mengikuti gerakannya.

Raka, sang Master Strategi, bergerak dengan gerakan yang paling tidak terduga bagi lawan. Ia tidak berusaha keras untuk memukul Pria A. Raka justru menggunakan gerakan tipuan yang tak terhitung jumlahnya, membuat Pria A selalu melepaskan serangan ke ruang kosong yang tidak ada isinya. Raka terus membaca pola serangan Pria A dengan saksama.

"Kamu terlalu cepat," desis Raka saat ia menghindari tendangan memutar yang nyaris menyentuh helai rambutnya. "Tapi kamu terlalu bergantung pada jalur lurus yang membosankan. Kamu sangat mudah ditebak olehku."

Raka menunggu Pria A melancarkan serangan kecepatan tinggi sekali lagi. Saat Pria A melepaskan rentetan pukulan cepat ke arah tubuhnya, Raka tidak menghindar mundur. Sebaliknya, Raka justru maju memotong jalur serangan Pria A. Saat Pria A terkejut, Raka menggunakan kelihaiannya: ia meraih pergelangan tangan Pria A, memutar tubuhnya dengan cepat, dan menggunakan momentum Pria A sendiri untuk memelintir sendi bahunya ke arah belakang.

KLAK!

Pria A berteriak kesakitan dan terpaksa berlutut di depan Raka. Raka mengunci lengan Pria A ke punggungnya dalam posisi kuncian yang sangat menyakitkan.

"Permainan sudah berakhir," ujar Raka dengan napas yang hampir tidak terganggu sama sekali. "Kamu kalah karena kamu membiarkan kecepatan mengalahkan analisismu sendiri." Raka melepaskan kunciannya, dan Pria A pun ambruk dengan bahu yang terkilir parah.

Kuadran Presisi dinyatakan menang total di dalam stadion. Jeka yang melihat Nanda dan Raka menang berteriak dengan sangat lega. Tino pun tersenyum penuh kepuasan.

"Operasi Ambush Reverse sukses seratus persen!" seru Jeka dengan bangga.

Di bawah komando tegas dari Bima, anggota Kuadran Presisi segera bergerak untuk mengikat Gus, Pria A, dan seluruh sisa anggota The Phantom yang menyerah. Nanda dan Raka berjalan ke tengah arena dan saling bertukar tinju sebagai tanda hormat. Nanda memuji kecerdasan Raka, dan Raka memuji kekuatan luar biasa Nanda.

Namun, perhatian mereka semua segera beralih kepada Misca. Misca kini sedang menghadapi ancaman tak terlihat yang baru saja mendeklarasikan perang total terhadap aliansi mereka. Nanda menatap Jeka dengan serius. "Cepat hubungi Misca! Kita harus segera bersatu kembali! Perang yang sebenarnya baru saja dimulai malam ini!"

###

Pertarungan antara Vino dan Dian telah berubah menjadi bentuk kekerasan yang sama sekali tidak terkendali. Ini bukan lagi sekadar duel untuk mempertahankan kehormatan wilayah; ini adalah luapan kebencian pribadi yang mendalam dan hasrat membara untuk sebuah pembalasan dendam.

Brak! Krash!

Vino, yang hatinya didorong oleh penghinaan keji Dian terhadap Ibu Misca dan Raya, bertarung dengan amarah. Ia sepenuhnya mengabaikan perhitungan matang yang biasa ia pelajari dari Misca, dan memilih untuk fokus pada kekuatan murni yang meledak-ledak. Dian, yang merasa putus asa karena kegagalan rencana besarnya dan rasa malu akibat mengkhianati Nanda, melawan balik dengan sangat ganas. Setiap gerakannya diwarnai oleh insting bertahan hidup yang liar.

Dian melompat dengan sisa tenaganya, mencoba melayangkan tendangan memutar ke arah kepala Vino. Namun, Vino dengan sigap menangkap kaki Dian, lalu dengan kekuatan penuh membanting tubuh Dian ke dinding bata di belakang mereka. Dinding tua itu retak. Dian terhuyung, namun sebelum Vino sempat melancarkan pukulan penyelesaian, Dian menarik kerah jaket Vino dengan kasar dan mengunci kepalanya menggunakan lutut, mencoba mencekik napas Vino.

Vino mengeram rendah, melepaskan tenaga yang luar biasa dari otot-ototnya, mematahkan kuncian maut itu, dan mendorong Dian hingga jatuh tersungkur di atas aspal.

Pertarungan terus berlanjut. Mereka berguling-guling, saling mencekik, dan saling menghujamkan tinju ke wajah serta tubuh masing-masing. Tidak ada lagi kata menahan diri. Setiap pukulan yang mendarat adalah upaya nyata untuk mengakhiri nyawa lawan. Darah, keringat, dan debu jalanan kini mewarnai tubuh mereka yang sudah babak belur.

Setelah perjuangan yang sangat melelahkan, keunggulan fisik Vino akhirnya mulai terlihat jelas. Vino berhasil mengunci leher Dian, memaksanya melepaskan cengkeraman tangan. Vino kemudian menarik Dian ke posisi duduk paksa, lalu melayangkan rentetan pukulan keras ke wajah Dian tanpa ampun.

DUG! DUG! DUG!

Dian terkapar tak berdaya, tubuhnya lemas seperti kain perca. Napasnya terengah-engah, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa sakit yang luar biasa dan pahitnya kekalahan. Ia tahu, hantaman terakhir Vino akan segera datang untuk mengakhirinya. Vino mengangkat tinjunya tinggi-tinggi, matanya dipenuhi kabut merah amarah. Inilah pembalasan yang selama ini ia impikan.

Namun, di momen krusial itu, sebuah bayangan bergerak dari balik kegelapan.

Srak!

Vino merasakan sengatan tajam, panas, dan luar biasa menyakitkan di betis kirinya. Sebuah pisau lipat yang sangat tajam telah menancap dalam di sana. Vino menjerit kesakitan, seluruh kekuatannya lenyap seketika. Ia kehilangan keseimbangan dan ambruk ke samping, tangannya mencengkeram kaki yang kini bersimbah darah.

Di hadapannya, berdirilah seorang pria dari Wilayah Selatan yang sangat ia kenal. Itu adalah Fadli, pengikut Nanda yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.

"Bodoh kau, Vino!" desis Fadli sambil menarik pisau itu keluar dari betis Vino, memercikkan darah segar ke wajahnya. "Kamu pikir Dian sendirian di sini? Kamu mengira pengkhianatan ini hanya dilakukan oleh satu orang saja?"

Fadli mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, siap menghujamkannya ke dada Vino. "MATI KAU!"

Tepat saat pisau itu hendak turun, sebuah bayangan melompat dari balik tempat sampah dan menendang wajah Fadli dengan telak.

Bugh!

Fadli terhuyung dan pisau itu terlepas dari tangannya. Kala telah tiba. Kala, yang merasa ada yang tidak beres, segera menyusul keluar dan menemukan Vino dalam kondisi kritis.

"Vino! Bangun! Kita harus pergi dari sini sekarang!" seru Kala sambil berusaha menopang tubuh Vino yang gemetar.

Namun, Kala dibuat terkejut. Di belakang Fadli, sepuluh sosok pria muncul secara perlahan. Mereka semua mengenakan jaket identitas Wilayah Selatan.

"Kala... kamu pikir bisa menolongnya?" Dian, yang masih terkapar, tertawa tercekik dengan mulut berdarah. Ia berhasil duduk meski wajahnya lebam parah. "Aku tahu kau setia, Kala. Tapi aku jauh lebih pintar daripada Nanda yang ototnya lebih besar dari otaknya."

Kala menatap sepuluh wajah familiar itu—rekan-rekannya sendiri di Selatan yang kini berdiri tegak sebagai musuh. "Kalian... kalian semua juga pengkhianat?" tanya Kala dengan suara yang bergetar karena rasa tidak percaya.

Salah satu dari mereka maju selangkah. "Kami hanya melihat masa depan yang lebih masuk akal, Kala. Selatan tidak akan pernah bisa menang jika terus berada di bawah aturan kaku konyol itu. Bersama Dian, kita akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar!"

Kala dan Vino saling bertukar pandang. Dengan kaki Vino yang terluka parah dan Kala yang harus menghadapi sepuluh lawan sekaligus, mereka tahu ini bukan lagi pertarungan adil. Ini adalah perangkap berdarah yang dirancang untuk membunuh.

"Vino, dengar," desis Kala sangat rendah. "Kita harus mundur. Sekarang juga. Ini bukan lagi pertarungan yang bisa kita menangkan di sini."

Dian tertawa sinis saat Fadli dan dua orang lainnya membopong tubuhnya yang hancur untuk pergi. "Ini baru permulaan, Vino! Pengkhianatan yang sesungguhnya bahkan belum dimulai!" teriak Dian sebelum menghilang ke dalam pekatnya kegelapan malam.

Kala, dengan hati yang hancur melihat teman-temannya berkhianat, membopong Vino yang kesakitan. Mereka mundur perlahan, menghilang ke arah yang berlawanan, meninggalkan gang berdarah itu.

###

Misca, bersama Eko dan Joni, kembali memasuki stadion. Di dalam, Nanda dan Raka sedang memeriksa sisa-sisa anggota The Phantom yang terikat, sementara Bima mengatur anak buahnya untuk pembersihan area. Saat Misca melangkah masuk, wajahnya tampak sedingin es, tanpa ekspresi sedikit pun. Kehadirannya yang tenang seolah membekukan sisa-sisa euforia kemenangan di udara.

Nanda, Raka, Jeka, dan Tino segera berkumpul menghampiri Misca.

"Raka!" Misca berseru dengan raut wajah sangat serius. "Dua orang tadi—Arsen dan Kris—mereka secara resmi mendeklarasikan perang terbuka. Kita harus segera menyusun strategi pertahanan total, memanggil semua anggota inti kita, dan mencari tahu apa maksud mereka soal 'wilayah yang terganggu'!"

Nanda mengangguk setuju dengan emosi yang meledak-ledak. "Kita tidak boleh memberi mereka waktu sedetik pun, Misca! Kita harus menyerang mereka lebih dulu sebelum mereka sampai ke gerbang kita!"

Tino menyandarkan punggungnya di kursi penonton, matanya penuh dengan analisis. "Mereka sangat cerdas. Mereka menyerang psikologis kita tepat saat kita baru saja bersatu. Kita harus memanfaatkan momentum ini dengan bijak."

Misca mendengarkan mereka semua tanpa memotong. Ia mengamati sorot mata rekan-rekannya: Nanda yang penuh amarah, Raka yang penuh perhitungan matang, Tino yang penuh analisis, dan Jeka yang diliputi ketegangan. Ia tahu, semuanya sudah berada di puncak batas kelelahan mereka.

Misca menyudahi perdebatan yang mulai memanas itu dengan satu kata yang sangat tegas.

"Cukup."

Seketika, semua orang terdiam seribu bahasa.

"Saat ini, kemampuan berpikir dan koordinasi tubuh kalian semua sudah sangat menurun. Menyusun rencana penyerangan dalam kondisi seperti ini hanya akan menghasilkan keputusan yang cacat dan penuh lubang."

Misca menunjuk ke arah arena yang sedang dibersihkan. "Semua orang di sini sudah kelelahan. Kita telah menghabiskan energi yang luar biasa besar malam ini. Istirahat adalah prioritas tertinggi saat ini. Raka, Nanda, Bima—pastikan stadion ini bersih dan semua tawanan aman. Tidak boleh ada informasi sekecil apa pun yang bocor ke luar. Sisanya, bubar."

Keputusan Misca yang didasarkan pada logika murni itu tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Nanda dan Raka, meskipun merasa belum puas, menyadari bahwa apa yang dikatakan Misca adalah kebenaran yang pahit.

Namun, suasana tenang itu kembali pecah saat Kala muncul dari lorong stadion dengan langkah terhuyung, membopong Vino yang wajahnya sangat pucat. Darah segar tampak terus merembes keluar dari betis kiri Vino yang tertusuk pisau.

"Misca! Nanda! Vino terluka parah!" teriak Kala dengan napas tersengal-sengal.

Nanda yang baru saja mencoba tenang, meledak kembali saat melihat sahabatnya terluka. "Vino! Siapa bajingan yang berani melakukan ini padamu?!"

Vino, dengan gigi terkatup menahan rasa sakit yang luar biasa, menceritakan pengkhianatan di gang tadi dengan suara yang terputus-putus. "Dian... dia ternyata punya sepuluh anggota Selatan yang berkhianat bersamanya. Fadli yang menusukku dari belakang saat aku sedang menghajar Dian. Mereka melindungi pengkhianat itu, dan Dian... berhasil melarikan diri."

BRUK!

Nanda menjatuhkan dirinya ke lantai stadion, tinjunya menghantam lantai dengan suara yang sangat keras. Matanya dipenuhi api amarah. Ini bukan lagi sekadar persaingan antar wilayah; ini adalah pengkhianatan dari orang-orang yang ia anggap sebagai keluarga.

"Pengkhianat! Bajingan tidak tahu diri!" Nanda berteriak murka dengan suara parau. "Sepuluh orang dari wilayahku sendiri! Mereka akan membayar mahal untuk darah ini! Aku bersumpah akan menyeret mereka semua ke hadapanmu, Misca."

Raka segera memegang bahu Nanda. "Nanda, tenanglah! Prioritas kita sekarang adalah mengobati luka Vino sebelum kondisinya semakin memburuk!"

Misca, dengan wajah yang tetap sedingin es namun tatapannya menunjukkan perhatian yang mendalam, segera mengeluarkan perintah terstruktur. "Jeka, bawa Vino ke area medis sementara di sini. Kala, terima kasih sudah membawanya kembali dengan selamat. Eko, Joni—kalian berdua bantu obati Tino, dia juga membutuhkan perawatan setelah duel tadi. Setelah itu, kalian semua harus istirahat."

Misca memandang luka di kaki Vino. "Kau tidak bisa dibawa ke rumah sakit umum malam ini. Jika dokter melaporkan luka tusuk, orang tuamu pasti akan tahu dan ini akan menjadi masalah besar bagimu."

Vino mengangguk lemah. "Aku bisa mengobati kakiku di rumah. Orang tuaku sedang tidak ada di luar kota selama beberapa hari ini. Rumahku aman."

Misca segera mengambil keputusan final. Ketegasan kepemimpinan menuntutnya untuk tetap menjaga rekan dan sahabat terdekatnya. Misca tidak akan membiarkan Vino yang terluka berada sendirian dalam kondisi terancam.

"Baiklah. Aku akan ikut pulang bersamamu," kata Misca dengan tatapan yang tidak bisa diganggu gugat. "Aku sendiri yang akan mengamati perkembangan lukamu dan memastikan tidak ada infeksi. Jeka, kau juga ikut. Kita harus memastikan tidak ada pengkhianat lain atau mata-mata The Phantom yang mengikuti kita hingga ke rumah."

Jeka langsung menyambut tawaran itu dengan sigap, merasakan sedikit kehangatan persahabatan di tengah kekacauan yang terjadi. "Tentu, Misca! Aku akan membawa kotak P3K lengkap dan semua peralatan medis yang kita punya!"

Di tengah puing-puing sisa pertempuran dan ancaman perang besar yang baru saja dimulai oleh Unit Execution, tiga sahabat itu—Misca sang pemimpin, Vino yang kini sedang terluka, dan Jeka yang selalu setia mengurus perlengkapan—berkumpul untuk saling melindungi. Mereka berjalan keluar menuju kegelapan malam yang berbahaya, bersiap untuk menginap di satu tempat yang sama agar bisa saling menjaga dari kemungkinan serangan musuh atau pengkhianatan yang mengintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!