harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32.Kenangan.
Hazard yang melihat wajah papanya yang sumringah merasa miris pada nasib istrinya, dia akui dirinya benar-benar bodoh.
Tuan Azam akan memeluk putranya tapi urung melihat darah di tubuh Hazard."uhh, darah wanita menjijikan itu masih ada padamu Hazard, bersihkan dirimu dengan air susu yang akan disediakan pelayan."ujar Tuan Azam tertawa, ia melirik Helena dan Zuma yang diam saja, keduanya yang sadar ikut tertawa meski terdengar tawa yang di paksakan.
Hazard tak mengatakan apapun dan pergi ke kamarnya, ia melepaskan bajunya dan menaruhnya di tempat pencucian.
Ia merendam tubuhnya menggunakan air dingin.ia memejamkan mata, dengan napas yang terdengar berat. kepalanya mengadah ke atas dengan tangan yang menggantung di sisi bak mandi.
" Saya akan menemukan kalian secepatnya, tunggu saya, dan kita bertiga akan hidup bahagia."batin Hazard.
Matanya terbuka pelan, di benaknya terlintas pertama kali ia bertemu dengan Anggi, sekelabat cahaya putih terlihat.
12 tahun lalu
Hazard, pria remaja yang beranjak dewasa di usianya yang 18 tahun, berjalan-jalan di sebuah desa yang menurutnya tentram tapi ternyata penuh manusia yang tidak berakal.
Hazard yang tidak ingin berpenampilan mencolok dan tak ingin menjadi pusat perhatian
memakai baju pelayannya yang terlihat usang, tapi masih bisa di pakai, ia berjalan kaki seorang diri.
Ia kemari karena menjenguk sang kakek yang katanya sakit-sakitan.
Hazard mengerutkan kening kala melihat sekumpulan anak-anak dan tiga orang dewasa tertawa sambil berteriak.
"uuu bau banget kamu, dasar bau!"
Anggiba bau! bau sekali! Anggiba bau! anggiba bau!
Eh lihat anak ini, kenapa ya dia jorok sekali, apa si Nur itu tidak menyuruhnya mandi.
Kemarin aku lihat dia mandi bu,tapi nggak pakai sabun, tapi buah jeruk nipis.
Owalah pantes aja buah jeruk nipis ku nggak pernah kelihatan buahnya, ternyata di pakai sama dia!
ooh jadi kamu yang habiskan jeruk nipis ku, dasar bau, kalau berkeringat kamu baunya melebihi bau daging yang busuk! teriak anak laki-laki itu.
Seorang anak perempuan yang lebih kecil dari pria itu pun tertawa, dia adalah Dela kecil, yang di kenal wangi, cantik, dan begitu di kagum kan warga desa akan kecantikannya.
Sedangkan Anggi sebaliknya dia bau, kusem, kucel, tapi wajahnya sangat cantik bila ia membersihkan diri.
Tapi karena larangan sang bibik membuat ia harus patuh, untuk bertahan hidup di dunia ini.
Anggiba kecil bersembunyi di belakang Dela, sambil menangis tersedu-sedu,Dela yang mencium bau Anggiba berbalik melihat Anggiba yang wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang lepek.
Dela mendorong Anggiba menjauh."kamu ngapain di belakang aku! nempel-nempel lagi! sana jauhan, nanti ikutan bau kayak kamu, terus di cengcengin lagi sama temen-temen!"bentak Dela.
Anggiba yang menangis hanya menjauh, hingga Anggiba merasakan sakit di punggungnya, ia menoleh kala tomat busuk di lempar ke arahnya oleh orang-orang dewasa juga.
"Nih, biar sekalian tomat busukku menempel di bajumu, siapa suruh sering ambil jeruk nipis di halaman ku!" seru ibu- ibu itu, dan akhirnya Dela juga ikutan melemparkan tomat ke arahnya.
Saat tomat busuk itu akan mengenai tubuh Anggiba, Hazard berdiri melindungi Anggi dengan memeluknya, sedangkan Anggi menunduk dengan tubuh bergetar.
"Hentikan!" teriak Hazard.
Mereka semua berhenti dan menatap penuh tanda tanya pada Hazard.
Siapa pemuda itu?
Entah, selama di desa ini belum pernah aku lihat pemuda dengan bola mata hazel.
*******
Hazard menarik Anggiba pergi menjauh, membawanya ke air sungai yang sering ia kunjungi, disana hanya di penuhi pohon tinggi, dan agak jauh dari desa, di sela-sela dedaunan yang lebat di atas pohon terlihat cahaya memantulkan dirinya di air sungai yang berkilau.
Anggiba berhenti berjalan, membuat Hazard menoleh. "kamu mau apa?"tanya gadis yang baru menginjak usia 13 tahun.
Hazard tersenyum tipis." saya ingin kamu membersihkan dirimu disini, tenang saja, aku tidak akan mengintip janji,"tutur Hazard lembut.
Anggi mendongak menatap wajah Hazard yang terlihat tulus.
"Terima kasih, sudah membantu ku, tapi aku sudah terbiasa di perlakukan seperti ini, Bibik juga melarang ku mandi menggunakan sabun," kata Anggiba dengan suara rendah.
"sesekali melanggar aturan itu tidak salah, lagi pula, nanti kamu juga akan bau lagi, tinggal oleskan saja, jeruk nipis itu saat kamu pulang," bujuk Hazard. "Tunggu disini, saya akan pulang bawakan sesuatu untukmu, jangan ke mana-mana oke."
Hazard pergi ke rumah kakeknya dengan berlari sekuat tenaga, agar gadis itu tak menunggu lama, hingga ia bertemu dengan neneknya.
"Nenek!" Panggil Hazard menumpu tangannya di lutut dengan punggung membungkuk dan napas yang terengah-engah.
Nenek Anelaphus melihat cucunya."Hazard, kenapa pakai baju kucel seperti itu?"
Bukannya menjawab Hazard malah bertanya balik."Nenek punya baju kecil tidak yang tingginya segini,"kata Hazard menaruh tangannya di bawah dada, dimana tinggi Anggi sebatas dadanya."Dan juga sabun Floral yang sering nenek pakai."
Nenek Anelaphus hanya menggeleng pelan."Madami,ambilkan cucuku apa yang dia minta,"madami pelayan senior di kastil itu mengambilkan apa yang di minta Hazard, gaun putih tulang dengan motif bunga-bunga kecil di gaun itu beserta sabun Floral yang berbentuk love di bungkus menggunakan kotak cantik warna coklat dan motif pink dan emas.
Hazard langsung mengambilnya dan membawanya pada Anggiba.
Anggiba sendiri merasa nyaman di tempat sepi yang sesekali di sertai bunyi-bunyi burung yang hinggap di pepohonan.
Anggiba memainkan air sungai yang jernih berwarna biru saking jernih nan dinginnya.
"ini," Hazard menyerahkan gaun dan juga kotak sabun yang cantik.
Anggiba menganga beberapa saat, matanya membulat lebar, membuat Hazard merasa gemas dengan ekspresi itu. "Cantik sekali, ini pasti mahal, kakak ambil dimana?"
Hazard mengerutkan kening melihat gaun di tangannya lagi."Mahal? tidak ini tidak di beli, Nenek yang membuatnya saat adik saya meminta gaun cantik, tapi karena adik saya sudah ada satu, jadi ini untukmu, saya yang berikan, dan sabun ini, juga tidak di beli, Neneknya yang membuatnya khusus untuk dirinya."
Anggi mengangguk pelan mengerti."Dan ini shampo buatanku, wanginya memang bukan untuk perempuan, tapi tidak apa, kan."
Anggiba menunduk dalam sambil memilin bajunya yang sobek dan kucel.
"Ada apa?"
"Kata Dela, Iba tidak cocok memakai baju bagus, dan Iba tidak cocok mandi pakai sabun, katanya Iba terlahir sebagai anak yang bau, karena bibik sering menaruh Anggiba di tong sampah saat bayi."
Hazard mengepalkan tangannya, ia tersenyum lebih lebar dan manis, membungkuk mensejajarkan tingginya dengan Anggi, lalu berkata dengan lembut,"Kamu itu cantik, sekalipun kamu kusam, si Dela itu hanya takut kamu jauh lebih sempurna darinya, jadi, pakailah, jangan banyak tanya, disini, hanya ada kamu dan saya, kita akan menjadi teman oke."
Anggiba menatap Hazard, baru kali ini ada yang mau berteman dengannya.
Hmmm pertemuan yang manis bukan😁kemarin nggak update, soalnya wifinya gagal tersambung mulu, author jadi Frustasi kemarin🙃
Maaf ya kalian pasti nungguin, btw like dong kalau emang suka, masa kalian minta update tapi nggak di like,nggak di kasih bintang lima😗
Please lah, jangan pelit😌