Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bengkel Tak Boleh Kayak Gantungan Baju Nyetel Mesin Juga Ada Aturannya
Pagi itu matahari baru muncul setinggi gagang cangkul, Faris Hidayat sudah berdiri melipat tangan di depan bengkel, mukanya datar tapi matanya tajam kayak pengawas sawah yang lagi cari tikus. Guntur dan Ali baru keluar mengucek mata, belum sempat cuci muka sudah dengar suara beratnya yang berirama sengklek:
Dengerin baik‑baik… jangan ngelamun kayak kambing kehilangan induknya. Tadi malam ada yang ngelapor motornya disetel orang sampai suaranya greng‑breng‑krek cuma keras di depan hidung, tapi baru jalan 200 meter udah lemes kayak orang habis minum jamu sembarangan. Itu namanya bukan disetel, tapi cuma dijadikan gantungan suara doang, nggak beda jauh sama baju yang digantung di jemuran tapi nggak pernah dipakai!”
Ia langsung melangkah ke GL Herk merah muda, putar kunci kontak pelan: dang… dang… gor‑gor…, suaranya keluar teratur sampai ke ujung jalan 500 meter, nggak meledak, nggak pecah, nggak kayak kerupuk yang digoreng terlalu panas.
Ini baru namanya bernyanyi, bukan teriak kesakitan,” sambungnya sambil menepuk tangki bensin kayak menepuk pundak teman. “Kalau kamu setel mesin cuma biar suaranya nendang di telinga orang yang berdiri di sebelah, hasilnya bakal kayak orang yang teriak di dalam sumur: keras kedengeran di dalam, tapi keluar ke mulut sumur udah nggak jelas lagi! Nanti pas diajak jalan jauh, dia bakal ngeluh sendiri: kret… kret… kayak pintu kandang yang nggak pernah dikasih minyak pelumas.”
Belum selesai bicara, datanglah seorang pemuda naik motor yang suaranya bikin debu ikut bergetar: breng‑breng‑greng‑brumm, seolah mau terbang ke langit tapi roda masih nempel di aspal. Begitu berhenti, asapnya keluar tebal kayak kabut di pagi buta.
Bang Faris Hidayat… ini kenapa ya? Disetel katanya biar kencang, tapi baru jalan 300 meter udah terasa berat kayak bawa karung beras dua ton!” keluhnya sambil menggaruk kepala yang nggak gatal.
Faris Hidayat melirik sekilas, nyalakan rokok Gajah Baru Kertek, tarik napas panjang lalu bicara dengan gaya sengklek khasnya:
Wah… ini kasus klasik nih. Kamu kira mesin itu mulut kerbau yang makin dibuka lebar makin keras suaranya? Salah besar! Ini malah kayak orang makan nasi tujuh centong sekaligus: mulutnya penuh, perutnya sesak, tapi nggak bisa lari jauh malah muntah di tengah jalan! Dengerin dulu perbedaan suaranya… punya kamu: breng‑breng‑breng cuma sampai di depan hidung, nggak tembus sampai jauh. Punya kita: dang‑dang‑gor‑gor, masuk ke tanah, keluar ke udara, sampai 500 meter masih terasa bulat kayak bunyi kentongan di balai desa.”
Ia menyuruh Guntur dan Ali buka karburator, sambil menggerakkan tangannya pelan‑pelan ngasih contoh:
Lihat ini jarumnya… dibuka terlalu lebar kayak pintu warung yang nggak ada batasnya. Bensin masuk banjir, udara nggak kebagian, jadinya bakar setengah matang. Hasilnya? Suara meledak kayak petasan tapi tenaganya cuma numpang lewat doang. Kalau kita atur pelan: tutup dikit, buka dikit, cari titik pas sampai suaranya berubah jadi dang‑dang… gor‑gor… — itu namanya pas, nggak kurang nggak lebih, kayak bumbu masakan yang nggak keasinan nggak hambar!”
Saat dicoba lagi setelah disetel ulang, suara motor itu berubah perlahan dari kasar jadi mantap: dang… dang… gor… gor…, nggak berasap tebal lagi, getarannya halus. Pemuda itu disuruh coba lari sampai ujung jalan 500 meter. Begitu kembali, mukanya melongo kayak orang lihat hujan emas:
Wah… luar biasa Bang Faris Hidayat! Sekarang lari ringan kayak bawa angin, sampai ujung jalan suaranya masih sama enaknya, nggak berubah jadi serak kayak orang habis berteriak seharian!”
Faris Hidayat tersenyum sedikit, matanya menyipit lalu bicara lagi dengan gaya nyeleneh tapi masuk akal:
Ingat ya aturan ini, jangan sampai lupa kayak orang lupa kunci rumah: Mesin yang baik suaranya sampai jauh, bukan cuma keras di dekat — sama kayak bicara: orang yang cuma teriak keras cuma didengar sesaat, yang bicara teratur didengar sampai ke ujung kampung! Kalau disetel asal keras, nanti dia cepat rusak kayak sepatu yang dipakai lari di sawah: luarnya kelihatan gagah, dalamnya sudah hancur nggak keruan!”
Siang harinya, datang lagi Bima yang tadi pagi sudah belajar sedikit, kali ini membawa motor temannya yang suaranya aneh kayak kucing kebakaran: krek‑greng‑kret‑dang. Faris Hidayat langsung menyambutnya dengan candaan yang bikin semua orang di bengkel ketawa:
Wah Bima… kamu bawa motor ini atau bawa mainan angin‑anginan yang rusak? Suaranya kayak kaleng bekas yang digelindingkan di jalan berbatu! Dengerin baik‑baik cara nyetel yang nggak gantung kayak baju di tiang jemuran: awal pelan dang‑dang, naik merata gor‑gor, sampai ujung tetap sama, nggak tiba‑tiba hilang kayak hantu kalau malam datang!”
Ia melanjutkan sambil mengelap tangannya dengan kain bekas yang sudah bersih:
Intinya begini… jangan jadi orang yang kerja cuma kelihatan gagah di mata orang lain, tapi nggak ada isinya di dalam. Sama kayak suara mesin: kalau iramanya dang‑dang‑gor‑gor sampai 500 meter, berarti dia kuat, tahan lama, nggak gampang ngeluh. Kalau cuma keras di depan saja, itu namanya cuma pamer suara doang — sama kayak orang yang bicara banyak tapi nggak ada gunanya, ujung‑ujungnya cuma bikin telinga orang sakit!”
Guntur dan Ali mencatat pelan sambil ketawa mendengar gaya bicara Abang mereka yang makin nyeleneh tapi makin jelas maknanya. Di tengah bengkel, GL Herk merah muda berdiri tegak seolah setuju dengan setiap kata yang keluar dari mulut Faris Hidayat, siap kapan saja menyuarakan irama khasnya yang nggak pernah berubah, nggak pernah gantung, nggak pernah cuma jadi hiasan mata saja.