Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Skandal Sialan
"Gila ya netizen! Muka bokap gue seganteng ini dibilang om-om girang?!"
Sienna Rose menghempaskan ponselnya ke atas sofa marmer kantor manajemen. Napasnya memburu. Gaun merah rancangan desainer Paris yang melekat di tubuh indahnya sampai ikut naik turun menahan emosi.
"Sienna, tenang dulu. Duduk," sahut Maya, manajer Sienna, yang sibuk memijat pelipisnya di depan laptop.
"Tenang gimana, Mbak?! Lihat nih!" Sienna menyambar kembali ponselnya, membacakan komentar dengan suara melengking. "'Oh, jadi ini rahasia body goals Sienna Rose, dapat asupan dana segar dari sugar daddy kearifan lokal.' Kurang ajar banget nggak sih?! Itu bokap gue! Vincent DuBois! Bukan om-om yang bisa mereka sewa pake duit!"
"Iya, gue tahu. Tapi masalahnya, identitas bokap lo itu nggak bisa dibongkar, Sienna. Lo mau besok kepala kita semua hilang karena musuh mafia bokap lo tahu dia punya anak supermodel di Indonesia?"
Sienna bungkam. Dia menghentakkan kakinya kesal. "Ya tapi nggak gini juga! Kontrak kosmetik global gue terancam batal gara-gara gosip simpanan ini!"
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi masuk dengan wajah tegang. Itu Bram, pemilik agensi yang menaungi Sienna.
"Bram? Gimana? Ada solusi?" tanya Maya cepat.
Bram menghela napas berat, lalu melemparkan sebuah map dokumen ke atas meja. "Ada satu cara. Gila, tapi ini satu-satunya jalan buat menyelamatkan saham agensi dan nama baik Sienna dalam waktu tiga bulan."
Sienna menyipitkan matanya curiga. "Cara apa?"
"Gue udah nego sama agensi sebelah. Kita bakal bikin proyek settingan. Lo bakal masuk ke acara reality show 'We Got Married'."
Sienna langsung melotot. "Pernikahan palsu? Di depan kamera? Sama siapa? Ogah ya, kalau sama model-model baru yang mau pansos!"
"Bukan model baru," potong Bram tegas. "Sama Declan Bryer."
Ruangan itu mendadak hening. Sienna membeku. Telinganya seperti salah mendengar nama.
"Siapa? Declan? Declan Bryer yang mukanya sok ganteng dan baru pulang dari Italia itu?"
"Iya. Dia juga lagi kena skandal diduga gay gara-gara foto pelukan sama model pria di Milan kemarin. Agensinya juga lagi pusing. Jadi, kita sepakat buat nikahin kalian di layar kaca. Netizen bakal lupa sama isu sugar daddy lo, dan fans Declan bakal percaya kalau dia masih doyan perempuan." Bram menjelaskan panjang lebar tanpa jeda.
Sienna langsung berdiri, memukul meja. "Nggak! Nggak mau! Nyari mati apa?! Dari jutaan cowok di dunia ini, kenapa harus si kutub utara itu?!"
"Sienna, ini demi karier lo—"
"Mbak Maya, lo nggak tahu aja! Dia itu musuh bebuyutan gue dari zaman main tanah! Gue mending pensiun jadi model daripada harus akting jadi istri dia!"
Tepat setelah Sienna menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan kembali terbuka.
Seorang pria tinggi dengan jaket kulit hitam dan kacamata gelap melangkah masuk. Dia melepas kacamatanya, menampilkan sepasang mata tajam yang menatap Sienna dengan tatapan meremehkan.
"Sama. Gue juga mendadak mual begitu tahu harus akting mesra sama cegil kayak lo," ucap Declan dingin. Suaranya berat, ketus, dan langsung membuat darah Sienna mendidih.
"Lo ngomong apa tadi? Cegil?!" Sienna langsung maju selangkah, menunjuk wajah Declan tepat di depan hidungnya.
Declan bahkan tidak berkedip. Dia menepis jari Sienna dengan santai. "Kenapa? kesindir lo? Lagian, selera lo rendah banget ya sekarang. Dari zaman SMA ketipu taruhan cowok, sekarang malah kena gosip sama om-om. Benar-benar nggak berkembang."
"Heh! Mulut lo dijaga ya! Itu bukan—"
"Sienna! Declan! Cukup!" bentak Bram, membuat kedua megabintang itu menoleh serempak dengan wajah masam.
Manajer Declan, seorang pria berkacamata bernama Rian, ikut menengahi. "Kalian berdua ini udah dewasa, posisinya lagi di ujung tanduk. Declan, saham agensi kita turun lima persen sejak foto lo di Milan kesebar. Sienna, tiga brand besar udah siapin surat penalti. Mau egois terus?"
Declan mendengus, melipat kedua tangannya di dada. Dia melirik Sienna dari atas ke bawah. "Gue terpaksa. Kalau bukan karena bokap gue di Italia ngancem bakal motong aliran dana investasi agensi, gue nggak bakal sudi berdiri di ruangan yang sama kayak cewek ini."
"Pikir lo gue sudi?!" semprot Sienna. "Gue juga kepaksa ya! Jangan kegeeran!"
Bram menggeser dua lembar kontrak di atas meja. "Kamera bakal mulai rolling besok pagi. Konsepnya live broadcast untuk episode pertama pas kalian ketemu di rumah baru. Di depan kamera, kalian harus kelihatan kayak pasangan yang udah lama pacaran diam-diam tapi terpaksa go public karena skandal ini. Paham?"
Sienna dan Declan saling melempar pandangan tajam. Kalau pandangan mata bisa membunuh, ruang rapat itu sudah dipenuhi darah.
"Ada aturan tambahan," ucap Declan tiba-tiba sambil menyambar pulpen. "Di luar jangkauan kamera, jangan pernah sentuh gue. Jangan campurin urusan pribadi gue. Dan yang paling penting... jangan berisik."
Sienna tertawa sinis, merebut pulpen dari tangan Declan kasar. "Lo pikir lo siapa? Pangeran Inggris? Tenang aja, Declan Bryer. Gue juga ogah nyentuh cowok sekaku kanebo kering kayak lo. Begitu kamera mati, lo itu cuma angin lalu buat gue!"
Sienna langsung menandatangani kontrak itu dengan coretan besar yang agresif. Declan menyusul di bawahnya dengan tanda tangan yang tajam dan tegas.
"Selesai. Besok jam tujuh pagi, tim produksi jemput kalian," kata Bram lega.
Keesokan paginya, di depan sebuah rumah mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Tiga kamera besar sudah siap menyorot. Sutradara memberi aba-aba dengan jarinya. Three, two, one... Action!
Pintu mobil Alphard terbuka. Sienna turun dengan senyum paling manis yang pernah dia miliki. Wajah galaknya hilang total, digantikan binar mata penuh cinta yang tampak sangat meyakinkan.
Declan sudah berdiri di dekat pintu pagar, mengenakan kemeja kasual yang sengaja dibuka dua kancing teratasnya. Saat melihat Sienna berjalan mendekat dengan koper, Declan langsung melangkah maju.
Di depan kamera yang menyala, Declan mengambil alih koper Sienna, lalu mengacak rambut Sienna dengan sangat lembut.
"Kamu telat sepuluh menit, Sayang," bisik Declan dengan suara yang begitu seksi, membuat kru di belakang kamera langsung menahan jeritan baper.
Sienna mengerucutkan bibirnya manja, memeluk lengan Declan erat-erat. "Maaf ya, macet banget tadi. Kamu udah nunggu lama?"
Namun, begitu tubuh mereka merapat dan wajah mereka saling berdekatan di bawah sudut yang tidak tertangkap mikrofon dengan jelas, Sienna berbisik lewat sela-sela senyum paksa pribadinya.
"Awas lo ya, sengaja banget ngacak-ngacak rambut gue. Ini hairstyle mahal, babi!" bisik Sienna penuh dendam.
Declan tetap tersenyum tampan ke arah kamera sambil membalas berbisik di telinga Sienna, "Akting lo murahan banget. Kurangin manjanya, geli gue dengernya."
Selamat datang di pernikahan palsu paling penuh dendam abad ini.